Bab 8 : Sudah berusaha

1109 Words
"Tuan, kita mau ke mana?" tanya Bella. "Nanti kamu juga tahu sendiri." Bella memandang kaca mobil yang menampilkan pemandangan pepohonan rimbun. Perutnya yang besar terus bergerak membuatnya sedikit kesakitan. Aslan memandang nya dan mengelus perut Bella. Bella malu-malu, tangan Aslan juga menarik kepala Bella supaya bersandar pada pundaknya. Semoga saja Mas Aslan tulus padaku dan tidak ada maksud lain. Bella terpejam sambil menikmati aroma maskulin Aslan. Benar-benar memabukkan, Bella tersenyum kecil lalu mendongak ke arah wajah Aslan yang tampan. "Rencana aku akan memberimu rumah, minggu depan kamu bisa tinggali. Maaf, kamu tidak bisa tinggal satu rumah dengan anak-anakku. Ku harap kamu bisa mengerti," ucap Aslan. Bella paham namun air matanya menetes. "Tenang saja, 3 hari sekali aku akan bergantian di tempatmu dan Kanya," sambung Aslan. "Ya, terima kasih sudah mau peduli denganku." Aslan tersenyum lalu mengecup kepala kening Bella. Mereka bercengkerama sepanjang perjalanan menikmati waktu bersama. Setelah menempuh perjalanan kurang lebih 2 jam, mereka sampai pada villa di sebuah pegunungan. Bella tidak pernah datang ke sini sebelumnya. "Bell, kita menginap di sini," ucap Aslan sembari keluar dari mobil. Bella berjalan di samping Aslan, Aslan menggandeng tangannya sambil masuk ke villa kecil itu. Bella masih bingung kenapa Aslan membawanya datang kemari. Aslan membuka pintu dan menyalakan lampu. "Jika aku sedang ada masalah, aku akan datang ke sini." Aslan menarik pinggul Bella lalu mereka bertatapan. Pria 40 tahun itu mencium bibir istri mudanya, mereka berciuman dengan mesra sampai benar-benar merasa puas. Tangan Bella meremas baju Aslan, gejolaknya kian membara. Apalagi suhu dingin di pegunungan itu membuat hawa nafsu menjadi besar. Setelah berciuman, Aslan melepas jaket dan kaosnya. Hari ini ia sangat menginginkan Bella, itulah sebabnya Bella di larang pergi dan hanya menjadi pelampiasan Aslan. Gadis 19 tahun itu benar-benar masih polos, yang ia tahu saat ini adalah Aslan sudah mau berubah. "Bella, layani aku!" ucap Aslan dengan nada penuh s*****l. Aslan menggandeng Bella menuju ke kamar, ia melakukan serangan pada Bella. Bella membalasnya seperti yang diajarkan oleh Aslan. Setengah jam kemudian. Aslan dan Bella sudah selesai melakukan hubungan intim. Aslan mengambil selimut dan meraih ponselnya. Kanya menelponnya dan ia menjelaskan jika tidak pulang malam ini supaya menghindari putranya yang membuat emosi. Kanya mengizinkan, ia juga tahu jika ada Bella di sana. Setelah itu Aslan menutup telpon dan memperhatikan Bella yang juga sudah berbalut selimut. "Kamu sudah pandai memuaskanku. Jika kamu selalu memuaskanku maka aku akan memberimu hadiah," ucap Aslan. "Saya hanya minta supaya Tuan Aslan selalu baik dan menyayangiku." Aslan mendekatinya dan mengecup pipi Bella. "Aku akan menyayangimu." Aku akan berusaha walau itu sangat susah. Aslan beranjak dari tempat tidur lalu menuju ke kamar mandi untuk membersihkan diri. Di dalam kamar mandi, ia tersenyum kecut mengingat permainannya dengan Bella. Gadis itu sangat bodoh saking bodohnya mau melakukan gaya apapun yang di pinta Aslan. Di sisi lain, Bella malu mengingat permainan tadi. Dia sadar jika Aslan hanya bernafsu padanya. Bella berkaca pada cermin, dadanya penuh dengan bekas ciuman Aslan. Maafkan aku Nyonya Kanya, saya benar-benar mencintai Tuan Aslan. Aslan keluar dari kamar mandi, ia tersenyum melihat Bella yang sedang bercermin. "Itu akan hilang dalam beberapa hari." Bella menutup bajunya, ia mengangguk. Aslan mendekatinya dan menciumnya lagi namun Bella menghindar. "Saya lelah," ucap Bella. "Baiklah, kamu boleh istirahat. Aku dengan Pak Ibnu mau ke supermarket dekat sini untuk membeli makanan sekalian membeli baju ganti," ucap Aslan. Bella mengernyitkan dahi, ini daerah pegunungan mana ada supermarket di sekitar sini? Aslan mengambil jaketnya dan menuju ke luar dengan Bella yang mengekor padanya. Pak Ibnu sedari tadi di mobil, ia langsung keluar membukakan pintu melihat majikannya sudah keluar. "Bell, kamu tunggu sini. Aku akan cepat pulang. Sebelum petang aku akan datang ke mari lagi," ucap Aslan sebelum masuk ke mobil. "Janji, tuan?" tanya Bella dengan perasaan tidak enak. Aslan mengangguk. Dia mengecup kening Bella lalu masuk ke mobil. Bella melihat kepergian mobil mewah itu yang lambat laun hilang dan menyisakan pemandangan hutan yang sangat sunyi. Bella masuk ke villa kecil itu dan tak lupa menutup pintu. Walau ini masih siang namun di sana sangat sunyi dan sepi. *** Kanya makan siang bertiga dengan kedua anaknya. Makan siang yang bisa di bilang cukup terlambat karena sudah pukul 3 sore. Terdengar suara mobil Aslan datang dan tak lama berselang ia menghampiri keluarganya. "Baru makan?" tanya Aslan. Kanya menarik kursi untuk Aslan dan mengambil makanan untuk sang suami. "Iya, kami baru saja makan. Bella mana?" "Oh, dia masih ada di villa," jawab Aslan. "Mas tinggalkan dia sendirian?" "Kenapa? Dia sudah besar dan lagi pula nanti malam aku akan ke sana lagi." Dinda menatap sang papa, ia menarik tangan papanya dan menggenggamnya dengan kuat. "Pah, antar aku untuk mengantri membeli BTS meal." Aslan menatap Dinda, putrinya itu memang fans Kpop garis keras. Aslan mengangguk sedangkan Dani sedari tadi diam tidak mau memandang sang papa. Mereka makan dengan lahap, Aslan cukup senang karena tidak ada Bella di sini. Dia yakin untuk membuat Bella pindah dari rumahnya adalah keputusan yang tepat mengingat keluarganya akan terluka dengan keberadaan Bella. **** Jam 11 malam. Aslan tak kunjung datang, Bella sangat kelaparan dan sedari tadi hanya meminum air putih. Aslan sangat tega dengan Bella, meninggalkan gadis malang itu sendirian di villa tanpa makanan. Sedangkan Aslan tak tau di mana. Bella juga tidak membawa ponsel membuatnya tidak bisa menghubungi siapapun. Aku percaya pada Mas Aslan tapi memang mulut lelaki tidak bisa di percaya. Bella menangis sesegukan di atas ranjang. Dia ingin pulang namun di luar sana sangat gelap dan sepi, tak mungkin ia menerobos hutan sendirian. Berselang menit kemudian. Suara mobil menggema, ia mendengarkan seksama dan mendengar suara pintu terbuka. Bella menarik selimut sampai kepala, ia masih sangat kecewa pada Aslan. "Bella, kamu sudah tidur? Aku bawa makanan. Makan dulu!" ucap Aslan khawatir. Tak ada sahutan dari Bella, Aslan mendekat dan menarik selimut Bella. Dia melihat istri kecilnya menangis sesegukan. "Bell, aku minta maaf. Aku tadi mengantar Dinda dulu ke suatu tempat. Maaf," ucap Aslan. "Tuan sangat tega, tuan meninggalkan saya hampir 10 jam di sini tanpa makanan. Aku mungkin kuat menahan lapar tapi bayi-bayiku ..." "Sssst ... makanlah! Aku minta maaf, kamu tahu 'kan sifat Dinda bagaimana? Dia akan marah padaku jika aku tidak menurutinya," jelas Aslan. "Tuan Aslan selalu menyakitiku, tolong lepaskan saya aja! Saya tidak akan menganggu keluarga kalian lagi." "Bell, tolong jangan buat aku pria yang tidak punya pendirian! Aku punya keluarga, aku seorang suami dan seorang ayah. Kamu tidak bisa memilikiku seutuhnya, aku harus membagi waktu dengan kalian. Tolong jangan kekanakan! Aku sudah menjadi suami yang baik dan seorang ayah yang baik. Tapi kenapa di mata kalian aku seperti sampah? Aku hanya punya 1 tubuh, tolong jangan buat aku memotong tubuhku menjadi beberapa bagian supaya bisa terus bersama kalian!" ucap Aslan.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD