“Tapi tuan tetap tega denganku, bayi-bayiku pasti kelaparan,” ucap Bella.
“Jika lapar segera makan! Aku sudah membawakan makanan dan baju untukmu! Tolong masalah ini jangan di perpanjang lagi! Jika aku tidak peduli denganmu pasti tidak akan datang ke sini. Aku dari rumah jam 8 malam dan sampai sini jam 11 karena jalanan macet,” jelas Aslan tidak mau berdebat.
Dari rumah? Ternyata Mas Aslan berbohong, katanya ia hanya pergi ke supermarket.
Aslan mengambil piring di dapur, lalu kembali ke kamar dan menaruh ayam bakar dengan nasi yang sudah mendingin di atas piring. Rupanya, makanan itu yang memasak adalah Kanya. Tak ada waktu lama Bella menghabiskannya, ia benar-benar sangat lapar, sementara itu Aslan masih berkutat pada laptopnya. Besok ia harus berangkat menemui calon pembelinya lagi, semoga saja kebun teh milik orang tuanya akan cepat laku.
“Kamu bisa bahasa Inggris?” tanya Aslan.
Bella yang sedang minum air putih berhenti sejenak. “Tidak, tuan.”
“Wajahmu sangat kebulean tapi tidak bisa bahasamu sendiri?”
Bella sedikit malu, wajahnya sangat bule namun logatnya sangat kental dengan bahasa Jawa. Tentu saja, sedari kecil dia sudah tinggal di Jawa bersama neneknya. Ibu nya meninggal saat dia berumur 6 tahun dan ayah biologisnya tidak tahu di mana.
“Bella, setelah ini layani aku lagi!”
Bella terdiam, baru tadi siang Aslan meminta jatahnya tapi malam ini ia meminta lagi. Aslan menoleh ke arah istri kecilnya yang tidak merespon ucapannya. Bella melamun membuat Aslan menyentil kening Bella.
“Akh ...” Bella kesakitan, ia mengusap keningnya.
“Jangan melamun!”
“Tuan, perut saya semakin besar, saya sering kesakitan jika Tuan terus meminta.”
Aslan memasang wajah kecewa, padahal Aslan baru meminta 4 kali ini setelah menikahi Bella. Entah mengapa Aslan juga menjadi candu menyentuh tubuh gadis itu. Padahal sebelumnya Aslan enggan untuk mendekati bahkan menyentuh Bella. Semenjak Kanya sedikit acuh pada Aslan membuat Aslan mulai mendekati Bella walau ia belum mencintainya.
“Tuan Aslan hanya bernafsu padaku,” lirih Bella sambil mengusap air matanya.
“Aku sebagai pria memang serba salah, diacuhkan dibilang tidak peduli, diperhatikan namun dibilang hanya modus. Apa sih mau kalian sebagai wanita?” tanya Aslan yang tak habis pikir pada kedua istrinya itu.
Bella menggelengkan kepala, ia memberanikan diri menatap Aslan yang menatap tajam padanya. Wajah tampan itu memperhatikan wajah cantik Bella yang masih muda. Benar-benar polos tanpa tersentuh make up.
“Bell, aku ingin serius denganmu. Tolong percaya padaku!” pinta Aslan sambil menggenggam tangan Bella.
Wanita mana yang tak luluh dengan ucapan manis para pria? Tak dapat di pungkiri jika Bella sangat menaruh hati pada Aslan, pria yang merenggut kehormatannya dengan paksa sudah membuat ABG itu jatuh cinta. Tak memerlukan waktu lama, Bella mengangguk. Aslan tersenyum lalu memeluknya, tak hanya memeluk, dia juga menciumi leher Bella dan meninggalkan jejak merah pada leher putih itu.
Keesokan harinya.
“Sayang, bangun!” lirih Aslan memanggil nama Bella.
Bella sempat kaget karena Aslan mulai memanggilnya dengan sebutan ‘Sayang’. Bella membuka mata dan Aslan mengecup keningnya.
“Kita akan segera beragkat ke kebun teh lagi.”
Bella mengangguk, dengan perut yang semakin terasa berat, ia berusaha bangkit dari tempat tidur. Aslan membantunya dan menuntun istrinya untuk ke kamar mandi. Bella menggosok gigi dan mencuci mukanya, sementara Aslan masih mengendus tengkuk leher Bella.
“Tuan ...”
“Bella, lehermu sangat manis sekali.”
Bella mendorong pelan tubuh Aslan, ia sedikit risih dan membuat Aslan cemberut. Bella tertawa kecil, ia menggelitiki tubuh Aslan membuat mereka tertawa bersama-sama. Sungguh, momen seperti inilah yang diinginkan Bella, ia bisa merasakan sosok kehangatan suami yang tak didapatnya berbulan-bulan semenjak mereka menikah.
***
Pagi hari, Kanya dan kedua anaknya makan bersama. Dinda dan Dani melihat mata sang mama sembab, mungkin saja karena sang mama sehabis menangis. Semenjak hadirnya Bella, keluarga kaya itu menjadi tidak harmonis apalagi sikap Dinda dan Dani mendadak berubah ketika ada Aslan.
“Papa dan Mama tidak akan bercerai ‘kan?” tanya Dinda yang menatap nanar sang mama.
Kanya yang menyantap makanannya seketika tersedak. “Uhuk ...”
Dinda memberinya minum dan masih menunggu jawaban dari sang mama. Kanya meletakkan gelas pada meja dan memandangi kedua anaknya yang masih menatapnya.
“Apa maksud kalian? Papa dan mama tidak akan bercerai.”
Dinda tersenyum kecut. “Oke, aku percaya ucapan mama namun suruh Papa untuk mentalak Bella, mereka hanya menikah sirih ‘kan? Sangat mudah menceraikan Bella.”
Dinda berdiri, ia segera berangkat kuliah, sedangkan Dani masih menatap sang mama, ada rasa kasian dengan sang mama yang menyimpan kesakitan sendirian.
“Jangan menyimpan rasa sakit sendiri! Mama juga perempuan dan pastinya boleh egois. Jangan baik lagi pada gadis bule itu! Itu akan membuat mama tambah terluka,” ucap Dani.
Dani juga ikut meninggalkan sang mama dan bersiap untuk berangkat sekolah. Kanya segera menghabiskan makanannya, ia juga akan menuju ke rumah sakit. Dia berangkat bersama anak-anaknya dan mereka sedari tadi hanya terdiam. Setelah mengantar Dani dan Dinda, mobil bergerak menuju ke rumah sakit tempat Kanya bekerja. Kanya sedari tadi hanya melamun tak jelas sampai tak terasa sudah sampai rumah sakit.
Di ruangannya.
Tok ... tok ...
“Kan, sudah sarapan? Ayo makan di kantin!” ucap Wina, ia rekan Kanya.
Kanya mengangguk, walau ia sudah sarapan tapi ia ingin meminum teh hangat. Mereka berjalan ke kantin dan setelah sampai mereka memesan makanan dan minuman. Wajah Kanya begitu tidak bersemangat, ia sedari tadi melihat ponselnya dan berharap Aslan mengabarinya.
“Kanya, ada apa? Masalah bocah itu lagi? Jika menurutku lebih baik suruh pergi dan biar dia tinggal sendiri. Dia masih muda dan cantik, suatu saat Aslan akan ...”
“Itu yang memang aku harapkan, Win. Selama ini Mas Aslan tidak peduli dengannya. Dia juga perempuan, sering kali tak tega melihatnya diacuhkan dalam keadaan hamil,” ucap Kanya.
Wina mengelus punggung temannya itu, Kanya adalah perempuan kuat nan hebat, mungkin hanya dia saja yang rela di madu walau sebenarnya tidak mau. Namun lain halnya dengan khasus Bella, Bella adalah korban p*********n dari Aslan dan membuat Bella harus mengandung di usianya yang masih belia.
“Dan aku sepertinya mendapat karma, dulu aku sempat memisahkan Mas Aslan dengan seorang wanita yang sangat ia cintai dan ternyata itu adalah ibu kandung Bella,” ucap Kanya sambil meneteskan air mata.
“Maksudmu?”
“Aku dapat karma, Win. Mungkin ini yang namanya karma dibayar kontan, tak main-main, Tuhan menegur kesalahanku dengan mendatangkan orang ketiga yaitu anak dari Alisa, dia calon istri Mas Aslan yang sebenarnya sebelum Mas Aslan mengalami hilang ingatan,” ucap Kanya mulai menangis sesegukan. “Dasabella, dia anak kandung dari Alisa. Dia datang seolah membawa karma untukku,” sambungnya.