Bab 10 : Semakin manis

1075 Words
Aslan dan Bella sudah siap untuk menuju ke kebun teh yang membutuhkan waktu perjalanan satu jam saja. Aslan menggenggam tangan Bella dan sesekali mengelus perutnya yang bergerak. Bella merasakan kehangatan dari Aslan, ia bisa senang bisa merasakan hangatnya sebuah keluarga. “Doakan supaya kebun tehku laku! Nanti aku akan membelikanmu berlian sama seperti milik Kanya,” ucap Aslan. Bolehkah aku merasa senang? Apa aku boleh merasakan seperti ini mengingat aku hanyalah istri kedua? Aku tidak enak dengan Nyonya Kanya namun aku tak munafik jika menyukai momen seperti ini. Bella mengangguk, ia mencoba untuk egois. Hal seperti ini yang ia inginkan, mendapat perhatian lebih dari Aslan, sang suami yang dulu tak menganggapnya sedikitpun. “Orang mana yang akan membeli kebun teh milik tuan?” tanya Bella. “Dia orang Inggris namun tinggal di Italia dan ia masih kerabat dekat dari Arthur.” Bella hanya manggut-manggut, ia akan lebih memilih diam karena tak bisa berbahasa Inggris. Dia juga tak mau membuat pembeli kabur seperti waktu itu. Sesampainya di kebun teh, mobil mewah keluaran Eropa sudah terparkir di sana. Aslan keluar dari mobil sambil menggandeng Bella. Bule tampan dengan warna rambut hitam kecoklatan dan memiliki brewok halus menjabat tangan Aslan, mereka berbicara dalam bahasa Inggris membuat Bella tak paham. Saga Wilson Knight, dari namanya saja sudah sangat berkelas, tampilannya juga necis walau usianya 1 tahun lebih tua dari Aslan. Dia bukan duda namun seorang perjaka tua, sampai di umurnya 41 tahun namun ia masih betah menyendiri. Mereka berbincang di tempat yang sama, sedari tadi Saga melirik Bella yang memegang lengan Aslan. “Wait, dia istrimu?” tanya Saga. “Kamu bisa bahasa Indonesia?” tanya balik Aslan heran. “Of course, aku sempat tinggal di Indo 3 tahun.” Cih ... susah-susah berbahasa Inggris ternyata bisa bahasa Indonesia. Batin Aslan. “Oh begitu? Perkenalkan, dia Dasabella. Istriku.” Saga menaikkan alisnya namun ia segera mengulurkan tangan pada gadis yang masih malu dengan bule tampan itu. Mau tak mau Bella membalas jabat tangan Saga. “Bella,” ucapnya lirih. Bella segera melepas jabat tangannya dan kembali menggenggam tangan Aslan. Bella memang malu dengan orang yang baru di kenalnya apalagi tatapan Saga sangat kurang nyaman bagi Bella. “Bolehkah kita mulai melihat-lihat kebun teh ini?” tanya Saga yang sudah pegal berdiri. Aslan mengangguk namun sebelumnya menyuruh Bella untuk menunggu di mobil, kali ini ia tidak mau sang calon pembeli enggan untuk membeli karena Bella. Bella menunggu di mobil bersama Pak Ibnu, perutnya juga sudah tidak bisa diajak berkompromi untuk berjalan jauh. Aslan dan Saga mulai berjalan menyusuri jalan setapak, Aslan menjelaskan secara detail namun nampaknya Saga malah lebih tertarik dengan Bella. Manik mata Bella seolah mengingatkannya pada seseorang dan senyuman tipisnya mengingatkan pada sosok yang pernah menjadi tambatan hatinya. “Istrimu, umur berapa?” Aslan terhenti menjelaskan dan menatap bule di depannya. “Maaf, kenapa?” “Oh tidak, sepertinya masih 20 an?” tanya Saga. Mimik wajah Aslan seakan tidak senang dan Saga menyadarinya. “Maafkan aku! Aku bukannya sok tahu.” “Tak masalah, ia akan genap 20 tahun di tahun depan,” jawab Aslan. Saga manggut-manggut, ia tersenyum dan menyuruh melanjutkan Aslan menjelaskan detail kebun teh itu. Mereka mengelilingi kebun teh dan Saga seolah akan berniat membelinya. Saga sangat kaya raya dan dengan harga yang cukup tinggi ia mampu membelinya. “Aku akan membelinya, kamu siapkan surat-suratnya dan satu lagi, aku melihat masih ada sampah berserakan di sisi utara, aku ingin kamu mengurusnya,” ucap Saga. Aslan senang, pada akhirnya kebun teh milik orang tuanya laku juga setelah bertemu dengan calon pembeli yang sudah ke 6 kalinya ini. Aslan menjabat tangan Saga, mereka deal untuk menjadi penjual dan pembeli. Setelah kembali ke tempat awal, mereka akhirnya berpisah, lagi-lagi Aslan melihat tatapan Saga yang tak biasa pada Bella. Entah mengapa hatinya sangat sakit namun ia tak mau membuat calon pembelinya melihat kecemburuannya. “Oh ya Aslan, aku ingin mengundangmu dan istrimu akhir pekan ini untuk menghadiri pesta makan malam di apartemenku. Ku harap kalian hadir,” ucap Saga. “Baiklah, sebisa mungkin kami akan datang,” jawab Aslan ramah. Mereka masuk mobil masing-masing dan meninggalkan kebun teh itu. Di dalam mobil, Aslan melirik Bella. Entah mengapa ia juga sangat kesal pada Bella yang terus melempar senyum malu-malu pada Saga. “Kamu suka dengannya? Dia seleramu?” tanya Aslan. Bella tak mengerti arah pembicaraan Aslan namun ia tahu jika pertanyaan Aslan menyangkut bule tampan itu. Aslan menangkup wajah Bella. “Jangan tersenyum pada pria lain! Aku tidak suka,” tegas Aslan. Tuan Aslan cemburu? Bolehkah aku merasa senang? Disisi lain. Saga melihat lembar foto perempuan Indonesia yang selama ini ia cari. Alisa Syakib, perempuan Jawa Tengah yang membuatnya jatuh hati. Selama kurang lebih 21 tahun ini ia terus mencari keberadaan Alisa, mulai dari di Hongkong sampai di Indonesia pun ia masih tidak berjumpa. Alisa Syakib bukan nama aslinya bahkan Saga sendiripun hanya tahu nama itu dan alamat tempat tinggal Alisa selama menetap di Jakarta. Yang Saga tahu, Alisa adalah orang Jakarta. Dia tidak tahu jika Alisa hanya merantau di Jakarta. “Alisa, bersembunyi di mana kamu? Kamu sembunyikan di mana anakku?” ucap Saga. Saga meremas foto itu lalu melemparnya, ia sangat kesal pada wanita yang dikabarkan tengah mengandung anaknya setelah malam penuh tragis itu. “Mister, are you okay?” tanya asisten pribadinya. “Im not okay, my heart is broke. Im sick, not feeling well.” (Aku tidak baik-baik saja, hatiku hancur. Aku sakit, perasaanku tidak baik) “Aku hanya ingin menemukan anakku, dia pasti menderita mempunyai ibu yang egois,” sambung Saga sambil mengambil foto yang sudah ia remas lalu melihat wanita Indonesia yang sedang menggendong bayi bule nan lucu dan bisa di pastikan jika itu adalah bayi perempuan dilihat dari pakaiannya. *** Aslan dan Bella sudah sampai di rumah, rumah masih dalam keadaan sepi mengingat Kanya pasti berada di rumah sakit serta anak-anak Aslan yang sedang ada sekolah maupun kampus. Aslan masuk ke kamarnya dan mencoba untuk menghubungi Kanya, sehari saja tak berjumpa dengan Kanya membuatnya sangat rindu. Waktunya bersama dengan Kanya memang berkurang namun cintanya pada Kanya tidak akan berkurang. “Kanya, aku sudah ada di rumah. Kebun teh sudah terjual,” ucap Aslan menelpon Kanya. “Benarkah, Mas? Aku turut senang.” “Kamu mau apa, Sayang? Mas akan menuruti semuanya,” ucap Aslan. “Tanya Bella saja, Mas! Dia ingin apa?” Aslan menghela nafas. “Jika kita bicara berdua, tolong jangan menyebut nama Bella!” pinta Aslan yang mulai kesal. 
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD