Haris melangkahkan kaki menuju ke kamar Nisa kembali setelah Dimas dan yang lainnya pergi. Perlahan tangannya memutar knop pintu. Dan betapa terkejutnya dia saat pintu dibuka terlihat Nisa yang tengah menangis tersedu-sedu. "Sayang, kamu kenapa?" Haris segera mendekat dengan panik. Membawa Nisa ke dalam pelukannya. "Kenapa, hm?" tanyanya lagi. Kali ini Haris berbicara dengan lembut. Tangannya mengelus punggung Nisa perlahan. Nisa masih enggan berbicara. Wanita cantik itu terus terisak di d**a Haris sambil memegang sebuah foto. Haris sedikit menundukkan kepalanya untuk melihat foto tersebut. Namun alisnya mengernyit saat mendapati gambar seorang anak kecil bersama seorang wanita yang tak dia kenal. "Mas," lirih Nisa. Cup! Haris mengecup puncak kepala Nisa lembut. "Kenapa, hm? Suda

