Tetangga

324 Words
"Ya ngga gimana-gimana bu, cincin saya yang batunya merah delima kan hilang, saya batin tuh, balikin dong..." "Terus?" "Alhamdulillah, dibalikin," "Gimana caranya?" "Nggak tahu, sekelebat liat bayangan tuh cewe, tiba-tiba cincinnya ada di meja sebelah tempat tidur saya, padahal, kemarin saya ubek disitu nggak ada." Kami semua yang mendengar cerita kak Azis cuma bisa meringis. "Kak Azis berani banget," "Nggak kok, ada takut juga, tapi kakak ngajiin aja, bismillah, semua atas lindungan Allah SWT." Sejak ada kak Azis dan kawan-kawan, cerita tentang si baju merah tak lagi santer terdengar. Denger-denger, 'dia' suka pada kak Azis. Jadi tidak pernah lagi bikin 'sensasi', biar kak Azis nggak takut dan pergi. Sayang, tak lama, kak Azis di pindah tugaskan ke Jakarta. sejak kak Azis pindah, kami jadi takut lagi lewat depan rumah itu. Seolah menjadi momok jika lewat di depannya. Ada resah dari orang-orang yang rumahnya harus melewati rumah itu setiap hari. Bukan apa-apa, rumah kosong itu terletak di gang buntu, dan rumah itu berada di tengah. Masih mending rumahku ada di depan gang. Tapi tetap saja, tembok kami bersebelahan. Suatu hari, seorang teman yang kebetulan bisa melihat mereka yang tak kasat mata, mengatakan sesuatu, saat main ke rumah. Kebetulan dia tidak masuk, hanya berdiri di depan rumah. Dari situ, dia mengarahkan pandangan ke rumah kosong itu. Dia berkata, "Ka, sini deh aku kasih tunjuk," "Apaan?" "Itu rumah yang kamu bilang serem?" "Kok tahu?" "Itu dia di depan, di atas," celetuknya. "Hah? serius lu!" "Sini aku tunjukin," jawabnya tenang. Antara penasaran dan takut aku menurut. Dia memegang pundakku. Kemudian memintaku mendongak, tepat di atas rumah itu, dimana terdapat semacam tembok pembatas yang belum selesai. Pelan-pelan aku membuka mata, takut! "Buka mata," "Takut njir," "Ngga papa," Kuberanikan membuka mata, aku melihatnya membelakangi kami. Dia duduk diatas, gaunnya berwarna merah, berkibar, rambutnya panjang...... aduh aku takut! "Udah ah!" rengekku. Dia segera menutup mataku dengan telapak tangannya dan membaca sesuatu. Setelah itu aku tak bisa melihat perempuan merah itu lagi.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD