
Rumah tetangga di sebelahku sudah puluhan tahun tak ditinggali. Dulu, sebelum kosong, rumah tersebut adalah rumah kost untuk pegawai yang kantornya terletak tak jauh dari situ. Banyak cerita seram selama ini yang beredar tentang tempat itu. Menjadi urban legend khusus di daerah sekitar tempat tinggalku.
Semuanya karena cerita dari si penghuni kost itu sendiri. Sebenarnya, memang ada yang kurang beres dari rumah itu.
Aku tahu dari apa yang ayah alami dulu. Namun ayah tak pernah menceritakannya dengan jelas ke yang lain, disimpannya sendiri peristiwa itu, kecuali ke mama.
Waktu itu, rumah sebelah sempat kosong beberapa bulan. Ayah diberi tugas oleh pemilik rumah untuk memperbaiki lotengnya.
Letak loteng itu benar-benar bersebelahan dengan loteng rumahku. Bahkan, aku bisa berjalan di atap rumah itu, untuk masuk ke dalam lotengnya.
Dulu, saat masih suka main layang-layang, aku lebih suka memainkannya di loteng tetangga sebelah. Karena bebas jemuran. Memang, sedikit ada hawa tak biasa, namun, namanya anak kecil, lebih mikirin main. Lagian masih belum sadar tentang hal-hal itu. Diantara semua saudaraku, hanya aku yang berani masuk ke dalam loteng, lainnya lebih memilih duduk saja di tembok loteng.
Saat memperbaiki loteng itu, ayah pernah melihat bungkusan di atas plafon loteng. Kakek bilang jangan sentuh. Tapi ayah penasaran dan membukanya. Ternyata ada seperti sebuah kain putih yang membungkus sesuatu serupa tulang kelingking manusia. Kakek menyuruh ayah membungkusnya seperti semula dan meletakkannya kembali. Aku tahu, karena saat itu, aku mengintip yang ayah dan bapak lakukan lewat loteng rumahku.
Suara sandal diseret padahal tidak ada orang, cincin bermata merah delima yang selalu hilang dan keran air yang terbuka dengan sendirinya di waktu malam, menjadi sesuatu yang 'biasa' di rumah itu. Kabar yang santer terdengar, si baju merah adalah penunggu rumah itu. Seperti yang di katakan kak Azis, salah satu anak kost di rumah tersebut, pada mama pagi itu,
"Semalam si merah datang bu,"
"Emang beneran bajunya merah?"
"Iya bu, cewe,"
"Waduh, terus gimana?"

