bc

Tetangga

book_age18+
2
FOLLOW
1K
READ
mystery
like
intro-logo
Blurb

Rumah tetangga di sebelahku sudah puluhan tahun tak ditinggali. Dulu, sebelum kosong, rumah tersebut adalah rumah kost untuk pegawai yang kantornya terletak tak jauh dari situ. Banyak cerita seram selama ini yang beredar tentang tempat itu. Menjadi urban legend khusus di daerah sekitar tempat tinggalku.

Semuanya karena cerita dari si penghuni kost itu sendiri. Sebenarnya, memang ada yang kurang beres dari rumah itu.

Aku tahu dari apa yang ayah alami dulu. Namun ayah tak pernah menceritakannya dengan jelas ke yang lain, disimpannya sendiri peristiwa itu, kecuali ke mama.

Waktu itu, rumah sebelah sempat kosong beberapa bulan. Ayah diberi tugas oleh pemilik rumah untuk memperbaiki lotengnya.

Letak loteng itu benar-benar bersebelahan dengan loteng rumahku. Bahkan, aku bisa berjalan di atap rumah itu, untuk masuk ke dalam lotengnya.

Dulu, saat masih suka main layang-layang, aku lebih suka memainkannya di loteng tetangga sebelah. Karena bebas jemuran. Memang, sedikit ada hawa tak biasa, namun, namanya anak kecil, lebih mikirin main. Lagian masih belum sadar tentang hal-hal itu. Diantara semua saudaraku, hanya aku yang berani masuk ke dalam loteng, lainnya lebih memilih duduk saja di tembok loteng.

Saat memperbaiki loteng itu, ayah pernah melihat bungkusan di atas plafon loteng. Kakek bilang jangan sentuh. Tapi ayah penasaran dan membukanya. Ternyata ada seperti sebuah kain putih yang membungkus sesuatu serupa tulang kelingking manusia. Kakek menyuruh ayah membungkusnya seperti semula dan meletakkannya kembali. Aku tahu, karena saat itu, aku mengintip yang ayah dan bapak lakukan lewat loteng rumahku.

Suara sandal diseret padahal tidak ada orang, cincin bermata merah delima yang selalu hilang dan keran air yang terbuka dengan sendirinya di waktu malam, menjadi sesuatu yang 'biasa' di rumah itu. Kabar yang santer terdengar, si baju merah adalah penunggu rumah itu. Seperti yang di katakan kak Azis, salah satu anak kost di rumah tersebut, pada mama pagi itu,

"Semalam si merah datang bu,"

"Emang beneran bajunya merah?"

"Iya bu, cewe,"

"Waduh, terus gimana?"

chap-preview
Free preview
Tetangga
"Ya ngga gimana-gimana bu, cincin saya yang batunya merah delima kan hilang, saya batin tuh, balikin dong..." "Terus?" "Alhamdulillah, dibalikin," "Gimana caranya?" "Nggak tahu, sekelebat liat bayangan tuh cewe, tiba-tiba cincinnya ada di meja sebelah tempat tidur saya, padahal, kemarin saya ubek disitu nggak ada." Kami semua yang mendengar cerita kak Azis cuma bisa meringis. "Kak Azis berani banget," "Nggak kok, ada takut juga, tapi kakak ngajiin aja, bismillah, semua atas lindungan Allah SWT." Sejak ada kak Azis dan kawan-kawan, cerita tentang si baju merah tak lagi santer terdengar. Denger-denger, 'dia' suka pada kak Azis. Jadi tidak pernah lagi bikin 'sensasi', biar kak Azis nggak takut dan pergi. Sayang, tak lama, kak Azis di pindah tugaskan ke Jakarta. sejak kak Azis pindah, kami jadi takut lagi lewat depan rumah itu. Seolah menjadi momok jika lewat di depannya. Ada resah dari orang-orang yang rumahnya harus melewati rumah itu setiap hari. Bukan apa-apa, rumah kosong itu terletak di gang buntu, dan rumah itu berada di tengah. Masih mending rumahku ada di depan gang. Tapi tetap saja, tembok kami bersebelahan. Suatu hari, seorang teman yang kebetulan bisa melihat mereka yang tak kasat mata, mengatakan sesuatu, saat main ke rumah. Kebetulan dia tidak masuk, hanya berdiri di depan rumah. Dari situ, dia mengarahkan pandangan ke rumah kosong itu. Dia berkata, "Ka, sini deh aku kasih tunjuk," "Apaan?" "Itu rumah yang kamu bilang serem?" "Kok tahu?" "Itu dia di depan, di atas," celetuknya. "Hah? serius lu!" "Sini aku tunjukin," jawabnya tenang. Antara penasaran dan takut aku menurut. Dia memegang pundakku. Kemudian memintaku mendongak, tepat di atas rumah itu, dimana terdapat semacam tembok pembatas yang belum selesai. Pelan-pelan aku membuka mata, takut! "Buka mata," "Takut njir," "Ngga papa," Kuberanikan membuka mata, aku melihatnya membelakangi kami. Dia duduk diatas, gaunnya berwarna merah, berkibar, rambutnya panjang...... aduh aku takut! "Udah ah!" rengekku. Dia segera menutup mataku dengan telapak tangannya dan membaca sesuatu. Setelah itu aku tak bisa melihat perempuan merah itu lagi.

editor-pick
Dreame-Editor's pick

bc

The Alpha Wears Number Nine

read
8.1K
bc

The Rejected Luna Strikes Back

read
8.0K
bc

Cheated Mate: I Bonded with a Comatose Alpha

read
3.8K
bc

Ex-Luna's Revenge

read
41.3K
bc

A Second Chance: My Twin Mates

read
11.2K
bc

A Female Alpha’s Revenge

read
74.4K
bc

The Last Blackthorne Heir Returns

read
13.0K

Scan code to download app

download_iosApp Store
google icon
Google Play
Facebook