Bab 1
Bagi Elixane Thorne, kiamat itu tidak datang dengan suara trompet yang menggelegar atau hujan meteor yang dramatis. Kiamat itu datang dalam bentuk notifikasi pop-up di layar laptopnya yang sudah panasnya bisa buat manggang roti:
"Revisi Bab 4 ditolak. Temui saya besok jam 8 pagi dengan data baru. – Pak Bambang."
"Data baru?! Pak, ini data sudah saya peras dari keringat dan air mata, masa masih kurang?!" Elixane menggerutu, membenturkan jidatnya ke meja kayu kosan yang malang.
Di bawah temaram lampu bohlam 5 watt yang berkedip-kedip segan, Elixane menatap tumpukan kertas drafnya dengan pandangan kosong.
Untuk menyelamatkan sisa-sisa kewarasannya yang tinggal seujung kuku, ia memutuskan melakukan ritual pelarian yaitu membaca novel action-thriller favoritnya, The Silver Bullet Ledger.
Ceritanya sangat tipikal, ada bos mafia kaku bin kejam bernama Dante Moretti yang hobi membantai musuh di tempat-tempat bersejarah.
Elixane baru sampai di Bab 5, adegan di mana Dante menyergap musuh di sebuah perpustakaan tua.
Di sana, ada figuran malang seorang pustakawan tanpa nama yang nasibnya cuma satu yaitu mati tertembak supaya Dante punya alasan untuk mengamuk di bab selanjutnya.
"Kasihan banget si Mbak Pustakawan ini," gumam Elixane sambil menguap lebar. "Tapi kalau dipikir-pikir, mati tertembak mungkin lebih tenang daripada harus menghadapi revisi Bab 4 lagi bareng Pak Bambang. Rest in peace, Mbak. Gue juga mau 'istirahat' bentar."
Elixane pun terlelap, menjadikan tumpukan kertas revisinya yang berbau kopi sasetan sebagai bantal darurat.
***
Sensasi pertama yang dirasakan Elixane bukanlah kenyamanan kasur, melainkan lantai marmer yang dinginnya menembus daster rumahannya.
Hidungnya yang biasa menghirup bau parfum laundry murah kini diserbu aroma yang jauh lebih tajam sebuah bau belerang, besi panas, dan sekelebat wangi kayu cendana yang sangat maskulin.
Elixane mengerjap. Ia mencoba membetulkan kacamatanya yang miring. Pandangannya perlahan fokus pada deretan rak buku raksasa yang tingginya mencapai langit-langit.
"Gue... ketiduran di perpustakaan kampus?" bisiknya linglung. Namun, sedetik kemudian ia sadar. Perpustakaan kampusnya tidak seindah ini.
Rak ini terbuat dari mahoni tua yang dipahat tangan, dan jendelanya adalah kaca patri gotik yang membiarkan cahaya bulan masuk seperti lampu sorot panggung.
Lalu, ia melihat mereka. Tiga orang pria berjas terkapar di lorong buku filsafat dengan genangan merah di bawah tubuh mereka.
"Oke, Elix. Ini pasti mimpi. Mimpi buruk akibat overdosis kafein," gumamnya, mencoba mencubit pipinya sendiri.
TAP. TAP.
Suara langkah kaki yang berat namun berirama terdengar dari balik rak. Seorang pria muncul dari kegelapan.
Tubuhnya tinggi tegap, dibalut setelan jas hitam tiga potong yang sangat pas di badannya. Wajahnya? Sebut saja dia definisi dari ketampanan yang berbahaya.
Rahangnya tegas seperti dipahat kapak es, dan matanya berwarna abu-abu baja yang tidak memancarkan emosi manusia sama sekali.
Di tangannya, sebuah pistol Beretta hitam mengarah tepat ke dahi Elixane.
"Jangan bersuara jika kau masih ingin melihat matahari besok," suara pria itu rendah, bariton yang kaku, dan sangat berwibawa. Persis seperti deskripsi Dante Moretti yang baru saja ia baca.
Elixane membeku. Otaknya yang sudah lelah mendadak hang. Namun, saat ia melirik ke tangannya, ia menyadari sesuatu yang membuatnya lebih syok daripada todongan pistol, ia masih memegang draf skripsinya.
Dan di tengah-tengah kertas itu, ada sebuah lubang peluru nyasar yang menghanguskan tabel data yang baru saja ia perbaiki tadi sore.
Rasa takut Elixane yang tadinya sudah di ubun-ubun, mendadak berubah menjadi rasa jengkel yang luar biasa. Enam bulan revisi diledakkan oleh satu peluru nyasar? Tidak bisa dibiarkan.
"Aduh, Moretti... serius deh?" Elixane mendesah panjang, suaranya bukan lagi ketakutan, melainkan suara orang yang sudah capek sama hidup. Ia mengangkat kertas bolong itu tepat ke depan wajah Dante.
"Lo lihat ini? Ini data penelitian gue. Gue butuh waktu berbulan-bulan buat dapet pola distribusi ini, dan lo dengan gaya action lo yang sok keren itu baru aja bikin lubang di tengah-tengahnya? Lo tahu nggak, Pak Bambang bakal gantung gue kalau dia lihat revisi gue bolong begini?!"
Dante Moretti tertegun. Pistolnya masih menempel di dahi Elixane, tapi matanya yang biasanya sedingin es kini memancarkan kebingungan yang hakiki.
Ia sudah menghadapi banyak orang mulai dari mata-mata, pembunuh, hingga pengkhianat tapi belum pernah ada yang memarahinya soal kertas saat nyawa berada di ujung tanduk.
"Siapa kau?" tanya Dante, suaranya sedikit lebih tajam. "Bagaimana kau tahu namaku?"
"Nama gue Elixane Thorne, mahasiswi tingkat akhir yang lagi di ambang gangguan jiwa!" jawab Elixane sambil menurunkan pistol Dante dengan telunjuknya secara perlahan sebuah tindakan nekat yang ia lakukan murni karena otaknya sudah terlalu lelah untuk peduli.
"Dan soal nama lo? Ya tahu lah! Lo—maksud gue kamu... kamu pakai suppressor tambahan di pistol itu," Elixane malah memajukan wajahnya sedikit, memfokuskan mata pada senjata di depan dahinya.
"Itu nambah berat moncong sekitar 300 gram. Kalau kamu nembak dari sudut 15 derajat tadi, pelurunya bakal meleset ke kiri bawah karena kamu nggak ngimbangin beratnya pakai pergelangan tangan yang stabil. Cacat metodologi itu namanya. Malu-maluin reputasi kamu di novel aja."
Hening menyelimuti perpustakaan tua itu.
Dante Moretti, pria yang ditakuti seluruh sindikat bawah tanah Eropa, untuk pertama kalinya merasa bingung. Di depannya ada seorang gadis sipil yang nyawanya berada di ujung tanduk, tapi justru asyik mengkritik teknik menembaknya seolah sedang menguji sidang skripsi.
"Kamu..." Dante menekan ujung pistolnya lebih keras hingga kulit dahi Elixane memerah. "Siapa kamu sebenarnya? Intelijen?"
Elixane menarik napas panjang, mengabaikan fakta bahwa satu gerakan jari Dante bisa mengakhiri hidupnya. "Kan tadi gue udah bilang nama gue Elixane Thorne. Dan kalau lo—eh, kamu niat bunuh gue, seenggaknya lakuin pakai teknik yang bener. Posisi kaki kamu terlalu lebar, Moretti. Itu nggak efisien. Secara data, posisi kayak gitu bikin keseimbangan kamu gampang goyang kalau ada serangan balik."
Dante tidak menarik pelatuknya. Ia justru menurunkan senjatanya perlahan, menatap Elixane dengan tatapan predator yang baru saja menemukan spesies paling aneh yang pernah ia temui.
"Elixane Thorne," Dante mengeja nama itu. Lidahnya yang kaku terasa asing saat mengucapkan nama yang terdengar begitu modern dan berani. "Sepertinya aku baru saja menemukan variabel yang tidak seharusnya ada dalam rencana ini."
Elixane mendadak sadar. Ia baru saja mengomeli bos mafia paling kejam di dunia literatur. "Eh, sori. Jangan ditembak ya. Gue belum dapet tanda tangan ACC dari kampus."
Dante tidak menjawab dengan kata-kata. Ia menatap Elixane dengan tatapan yang sulit diartikan. Di mata pria itu, Elixane bukan lagi sekadar makhluk pengganggu, melainkan sebuah variabel aneh yang tidak masuk dalam perhitungannya.
"Moretti, dengerin gue," Elixane tiba-tiba memasang wajah serius. "Gue denger suara mesin mobil di luar. Bukan satu, tapi dua. Ritmenya berat, knalpotnya nggak standar. Itu mobil full armor. Musuh lo bukan cuma tiga orang yang lo beresin di lorong filsafat itu. Mereka punya tim sapu bersih yang lagi menuju ke sini. Lo mau selamat atau mau mati konyol bareng skripsi gue yang bolong ini?"
Dante diam sejenak, lalu ia sedikit memiringkan kepala, mendengarkan suara di kejauhan. Detik kemudian, matanya berkilat tajam. Analisis gadis ini tepat sasaran.
"Enzo!" Dante memanggil asistennya tanpa melepaskan pandangan dari Elixane.
Seorang pria berjas abu-abu muncul dari balik bayangan rak buku. "Tuan, musuh menerobos gerbang barat!"
Dante kembali menatap Elixane. Ia menurunkan pistolnya sepenuhnya, lalu menarik lengan Elixane dengan gerakan yang sangat dominan namun tidak sekasar sebelumnya.
"Kau ikut aku," ucap Dante pendek.
"Eh? Ke mana? Gue ada revisian besok pagi!" Elixane protes, tapi kakinya tetap dipaksa melangkah mengikuti langkah panjang Dante yang cepat.
"Ke tempat di mana kertas-kertasmu aman dari peluru," balas Dante kaku. Ia melirik draf skripsi bolong di tangan Elixane sekali lagi. "Dan tempat di mana kau bisa menjelaskan padaku... dari mana kau belajar tentang audit taktis seperti itu."
Elixane menghela napas panjang saat diseret menuju mobil Bentley hitam yang sudah menunggu di luar. "Yah, seenggaknya kabur bareng mafia lebih ada petualangannya daripada nungguin chat Pak Bambang yang cuma di-read doang."
Pertemuan paling tidak estetik dalam sejarah mafia pun dimulai. Bukan dengan peluru di dahi, tapi dengan omelan soal posisi kaki. Elixane belum tahu saja, bahwa hidupnya baru saja beralih dari satu neraka revisi ke neraka lain yang jauh lebih... mewah.
***