Bab 2

1218 Words
Duduk di kursi belakang sebuah Bentley berlapis baja dengan seorang bos mafia yang baru saja menghabisi tiga orang bukanlah cara yang Elixane bayangkan untuk menghabiskan malam Minggunya. Biasanya di jam-jam segini, kegiatan paling ekstrem yang ia lakukan adalah berdebat dengan tukang nasi goreng soal jumlah kerupuk atau menangisi kodingan yang error. ​Sekarang? Di sampingnya duduk Dante Moretti. Pria itu duduk sangat tegak, seolah-olah tulang belakangnya dipasang penggaris besi. Aroma kayu cendana bercampur bau mesiu tipis dari jasnya memenuhi kabin mobil yang kedap suara. ​"Moretti," panggil Elixane. ​Dante tidak menoleh. Dia hanya melirik lewat sudut matanya yang abu-abu. Dingin. "Apa?" ​"Lo tahu nggak kalau AC mobil lo ini dingin banget? Gue cuma pakai daster rumahan, Moretti. Kalau gue mati kedinginan di sini sebelum sampai markas lo, audit keamanan lo bakal tetap ampas selamanya." ​Enzo, asisten Dante yang sedang menyetir, terdengar tersedak ludahnya sendiri. Dante perlahan menoleh, menatap Elixane seolah gadis itu adalah spesies asing yang perlu diteliti di laboratorium. ​"Kau baru saja diculik dari lokasi pembantaian," suara Dante berat dan datar. "Dan masalah utamamu adalah suhu ruangan?" ​"Ya iya! Masuk angin itu nyata, Moretti! Lebih bahaya daripada peluru nyasar lo tadi," balas Elixane tanpa beban. "Dan satu lagi... gue laper. Jadi, kalau di rumah lo nggak ada makanan enak, mending lo turunin gue di depan minimarket sekarang." ​Dante terdiam sebentar, mungkin sedang menimbang apakah harus melempar Elixane keluar atau mengagumi keberaniannya yang tidak logis. "Naikkan suhunya, Enzo. Dan siapkan makanan setibanya di kediaman." ​"Baik, Tuan." ​Setibanya di mansion utama Moretti terlihat sebuah bangunan raksasa yang lebih mirip benteng militer daripada rumah tinggal. Elixane langsung digiring masuk. Matanya yang jeli mulai bekerja. Dia tidak melihat pajangan emas atau lukisan mahal tapi matanya langsung tertuju ke sudut-sudut plafon. ​"Moretti, ini markas mafia atau museum teknologi tahun 2000-an?" celetuk Elixane saat mereka melewati koridor utama. “Inikan memang tahun 2000an”, ucap Dante datar, mengernyit heran. “Oh iya, gue lupa novelnya tema 2000an”, batin Elixane menepuk jidatnya. ​Dante berhenti melangkah mendadak, membuat Elixane hampir menabrak punggungnya yang keras seperti tembok. "Jadi?" ​"CCTV lo," Elixane menunjuk sebuah kamera di sudut atas dengan dagunya. "Itu model jadul yang masih pakai kabel. Resolusinya pasti buram. Kalau gue lari agak cepet, muka gue di monitor lo bakal kelihatan kayak kumpulan piksel game 8-bit. Dan itu panel kontrolnya? Sumpah, sistem enkripsinya gampang banget ditembus. Anak SD yang baru belajar internetan sambil makan cireng juga bisa ngeretas ini dalam lima menit!" ​Dante menyipitkan mata. Dia memberikan kode pada para penjaga untuk menjauh, lalu menarik Elixane masuk ke dalam ruang kerjanya yang luas. Ruangan itu didominasi warna gelap, monitor-monitor besar, dan aroma kopi mahal. ​"Tunjukkan padaku," tantang Dante. Dia menarik sebuah kursi kulit mewah dan menyuruh Elixane duduk di depan komputer utamanya. ​"Oke, minggir. Biar yang ahli yang turun tangan," ujar Elixane. Dia meletakkan draf skripsi bolongnya di meja, lalu jemarinya mulai menari di atas keyboard. ​Suasana ruangan itu berubah seketika. Elixane yang tadinya terlihat seperti mahasiswi culun yang kelelahan, mendadak berubah sangat fokus. "Moretti, gue butuh kopi. Hitam, tanpa gula. Biar otak gue nggak lag." ​Dante memberikan isyarat pada pelayan. Tak lama, secangkir kopi mengepul tersedia. Elixane menyeruputnya sekali, meringis karena rasanya terlalu elit lalu mulai membongkar firewall markas Moretti. ​"Gila... ini mah bukan firewall, ini mah pagar tanaman," gumam Elixane. "Lihat nih, Moretti. Data aktivitas lo nggak dikunci bener-bener. Siapa pun yang masuk ke Wi-Fi lo bisa tahu lo habis pesan pizza atau amunisi." ​Dante berdiri di belakangnya, membungkuk sedikit untuk melihat layar. Jarak mereka sangat dekat hingga Elixane bisa merasakan napas Dante di dekat telinganya. "Berapa lama kau bisa memperbaikinya?" ​"Kasih gue sepuluh menit buat nutup lubang utamanya. Tapi buat ngerombak total... gue butuh akses penuh." *** ​Tepat saat Elixane sedang asyik memandangi koleksi senjata Dante yang muncul di salah satu folder rahasia, sebuah kilatan cahaya biru transparan mendadak muncul hanya di depan matanya. Elixane tersentak, hampir menjatuhkan cangkirnya. ​"Eh, apa-apaan nih?!" ​"Ada apa?" tanya Dante refleks memegang senjatanya. ​"Lo... lo nggak lihat ini?" Elixane menunjuk udara kosong di depannya. Dante menatap ruang kosong itu, lalu menatap Elixane seolah gadis itu baru saja kehilangan kewarasannya. ​Di hadapan Elixane, sebuah jendela status digital melayang dengan tulisan neon yang sangat jelas. ​[MISI UTAMA: REVISI TAKDIR] ​Subjek: Dante Moretti (Status: Akan Mati di Bab 100). Tugas: Pastikan Dante Moretti tetap hidup melewati Bab 100. Reward: Ijazah Sarjana Teknik (IPK 3.99) & Tiket Pulang ke Dunia Nyata. Penalti: Jika Subjek mati, tubuh aslimu akan mengalami kegagalan organ (Status: Mati saat tidur). ​Elixane membaca baris demi baris dengan mulut ternganga. "IPK 3.99?! Gila, ini mah lebih worth it daripada bimbingan sama Pak Bambang sampai kiamat!" ​Dante mengerutkan kening. "Siapa Pak Bambang? Dan apa itu IPK?" ​Elixane tidak mendengarkan. Dia fokus pada bagian 'Reward'. IPK sempurna tanpa perlu revisi berdarah-darah? Ini adalah tawaran surga. Tapi penaltinya... tewas saat tidur? Ancaman sistem ini ternyata lebih galak daripada ancaman putus kontrak dari ibu kos. ​"Moretti," Elixane berbalik, menatap Dante dengan pandangan yang sangat serius, seolah dia baru saja mendapatkan wahyu. "Gue mutusin buat tinggal di sini." ​Dante mengangkat alis. "Kau tidak punya pilihan sejak awal." ​"Beda! Tadi gue tinggal karena terpaksa, sekarang gue tinggal karena... dedikasi akademik," Elixane nyengir lebar. "Tapi ada syaratnya. Gue butuh akses internet kencang, camilan yang nggak habis-habis, dan jangan pernah todongin pistol ke dahi gue lagi. Itu ganggu konsentrasi gue buat nyelametin nyawa lo." ​Dante terdiam lama. Dia menatap gadis yang baru saja membedah sistem keamanannya dalam hitungan menit. Gadis yang bicaranya sembarangan tapi otaknya bekerja seperti mesin. ​"Enzo," panggil Dante. ​"Ya, Tuan." ​"Siapkan kamar paling aman untuknya, dan pastikan semua kebutuhannya terpenuhi." Dante menatap Elixane tajam. "Jika kau benar-benar bisa menutup celah di organisasi ini, kau akan mendapatkan apa pun. Tapi jika kau berkhianat..." ​"Iya, iya, gue tahu. Dasar mafia, peluru di kepala, bla bla bla," potong Elixane sambil kembali menghadap layar. "Udah sana lo istirahat. Gue mau beresin sistem ini dulu. Dan tolong, bilang sama koki lo, gue mau pizza pepperoni. Tanpa nanas. Jangan bikin gue harus audit selera makan juga." ​Dante hanya bisa menggelengkan kepala. Dia berbalik dan keluar, meninggalkan Elixane sendirian dengan komputer canggih dan jendela sistem yang masih melayang. ​Elixane menyandarkan punggungnya ke kursi empuk itu. "Oke, sistem... lo bilang gue harus jagain si kaku itu sampai Bab 100? Baik. Mari kita mulai revisi takdir paling gila ini." ​Dia memandangi folder senjata Dante di layar. "Tapi serius, Moretti... koleksi senjata lo keren, tapi cara lo nyimpen data... bener-bener ampas." *** ​Malam itu, di tengah kemewahan mansion mafia yang dingin, Elixane Thorne resmi memulai perannya. Bukan lagi sebagai figuran yang mati di Bab 5, melainkan sebagai analis yang akan memastikan si bos mafia tetap hidup demi sebuah ijazah dengan nilai impian. ​"IPK 3.99... tunggu gue, ijazah tersayang!" serunya penuh semangat, mengabaikan fakta bahwa di luar sana, musuh-musuh Dante mungkin sedang menyiapkan serangan baru. ​Di sudut matanya, jendela sistem memberikan notifikasi kecil: ​[UPDATE] Kepercayaan Dante Moretti: 12% (+2% karena berani ngatur menu pizza). Kesehatan Mental Elixane: 40% (Butuh tidur dan piza). ​"Sistem rese," gerutu Elixane, lalu dia lanjut mengetik kodingan pelacak dengan kecepatan penuh. ***
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD