Mansion Moretti di jam tiga pagi terasa seperti set film horor beranggaran besar, minus hantu, tapi penuh dengan pria-pria berjas gelap yang tatapannya lebih kosong daripada dompet mahasiswa di akhir bulan.
Koridor-koridornya panjang, sunyi, dan berbau polesan kayu mahal yang terlalu steril. Elixane berjalan mengekor di belakang Enzo menuju ruang makan raksasa yang luasnya mungkin setara dengan tiga kali luas kamar kosannya.
"Ini pizza anda Nona," ucap Enzo sambil meletakkan sebuah kotak karton panas di atas meja marmer panjang yang sanggup menampung dua puluh orang.
"Panggil Elix aja, Zo. Pizza adalah bahasa cinta universal, nggak perlu formal banget," sahut Elixane langsung membuka kotak pizza itu.
Matanya berbinar melihat lelehan keju dan potongan pepperoni yang melimpah. "Wah, tanpa nanas. Koki lo lulus sensor. Gue kasih nilai A untuk pemilihan topping."
Enzo hanya menatapnya heran. "Kau adalah orang pertama yang berani memesan makanan khusus di malam pertama penculikan. Biasanya orang-orang akan menangis atau mencoba menyuap penjaga."
"Nangis itu butuh energi, Zo. Suap penjaga butuh duit. Gue nggak punya dua-duanya sekarang," Elixane menggigit pizzanya dengan nikmat.
Ia tidak mungkin bilang kalau motivasi terbesarnya adalah ijazah IPK 3.99 dari cahaya biru yang melayang di depan matanya.
Bagi semua orang di sini, cahaya itu tidak ada. Elixane harus menelan fakta pahit itu sendirian nyawanya kini terikat pada detak jantung pria kaku bernama Dante Moretti.
"Zo, laptop militer tadi mana? Gue nggak bisa kerja cuma pake insting lapar," pinta Elixane.
Setelah laptop berada di depannya, Elixane kembali menjadi sosok yang berbeda. Jarinya menari dengan ritme stabil di atas keyboard.
Di layar ribuan baris data logistik organisasi Moretti mengalir dari penyelundupan amunisi hingga biaya operasional dapur.
Selama dua jam berikutnya, Elixane tenggelam dalam dunia angka dan enkripsi. Suasana di ruang makan itu berubah menjadi ruang kerja dadakan.
Kotak pizza sudah kosong, digantikan oleh tumpukan kertas catatan yang ia pinjam dari pelayan. Elixane mulai membandingkan log pengiriman amunisi dari pelabuhan ke gudang pusat.
Secara kasat mata, semuanya terlihat seimbang. Namun, bagi mahasiswa yang terbiasa membedah data palsu demi skripsi, Elixane mencium sesuatu yang busuk.
"Ketemu," Elixane menyandarkan punggungnya, menyeringai puas. "Logistik sektor 4. Pengiriman amunisi kaliber 9mm selalu berkurang 0,5% setiap minggu. Secara statistik, itu dianggap penyusutan biasa. Tapi kalau dikumpulin selama enam bulan... itu cukup buat persenjataan satu batalyon kecil."
Ia menoleh ke arah Enzo. "Zo, panggil bos lo. Bilang ada pengkhianat kecil yang lagi main-main sama tabungan masa tuanya."
Tak butuh waktu lama, Dante Moretti muncul. Ia sudah tidak mengenakan jas tiga potongnya, hanya kemeja hitam dengan lengan yang digulung, menampakkan otot lengan yang kokoh.
Rambutnya sedikit acak-acakan, memberikan kesan maskulin yang lebih ‘manusiawi’ namun tetap mengintimidasi.
"Kau menemukan sesuatu?" suara Dante bergema di ruangan yang sunyi.
"Duduk dulu, Moretti. Jangan kaku-kaku banget, nanti punggung lo encok," Elixane menggeser laptopnya.
"Lihat tabel ini. Ini namanya anomali statistik. Seseorang di bagian logistik lo sangat pintar. Dia nggak nyuri banyak sekaligus, tapi dikit-dikit secara konsisten. Kayak lo nyubit pipi bayi tiap hari, lama-lama pipinya habis."
Dante menyipitkan mata, memperhatikan angka di layar. "Sektor 4 adalah tanggung jawab Marco. Dia sudah bersamaku selama sepuluh tahun."
"Yah, sepuluh tahun adalah waktu yang cukup buat orang ngerasa bosen dan pengen punya sampingan," sahut Elixane santai. "Gue udah tracking alamat IP yang ngelakuin input data ini. Dia nggak pake komputer markas, tapi laptop pribadi yang terhubung ke Wi-Fi publik di kafe sekitar pelabuhan setiap Selasa jam lima sore."
Dante menatap Elixane lama. Ada keheningan yang tegang. "Kau yakin?"
"Data nggak pernah bohong, Moretti. Yang bohong itu cuma janji manis mantan atau janji revisi terakhir dosen pembimbing," Elixane mengangkat bahu. "Kalau lo mau bukti fisik, suruh orang lo cek loker Marco di pelabuhan. Gue berani taruhan IPK gue, di sana ada catatan pengiriman ilegal."
Dante terdiam, lalu memberikan isyarat pada Enzo. "Lakukan."
Sambil menunggu kabar, Dante tetap tinggal di ruang makan. Ia menarik kursi di seberang Elixane, menatap kotak pizza yang kosong.
"Kau suka pizza itu?" tanya Dante tiba-tiba. Pertanyaan yang sangat tidak 'mafia' sekali.
"Enak kok. Pepperoninya melimpah. Makasih ya," Elixane tersenyum tipis. "Gue nggak nyangka lo bakal beneran nurutin permintaan pizza gue."
"Aku butuh kau fokus," Dante bersedekap. "Jika kau benar soal Marco, kau baru saja menyelamatkan organisasi dari pengkhianatan yang bisa menghancurkan dari dalam."
Dante menatap Elixane dengan intensitas yang seolah-olah ingin membedah apa yang ada di dalam kepala gadis itu.
"Kenapa kau membantuku?" tanya Dante rendah.
Matanya yang abu-abu baja mengunci pandangan Elixane. "Kau bisa saja diam dan menunggu kesempatan untuk kabur."
Elixane menopang dagunya, menatap balik mata Dante dengan berani tanpa sedikit pun keraguan.
"Kabur ke mana, Moretti? Keluar dari sini tanpa perlindungan cuma bakal bikin gue jadi sasaran empuk orang-orang kayak Marco. Gue ini realistis. Gue butuh tempat aman buat nyelesain... urusan gue," ujarnya, merujuk pada skripsi dan misi rahasianya tanpa berniat membongkar jati diri sistem.
"Anggap aja gue ini konsultan nyawa lo buat sementara," tambah Elixane dengan senyum miring yang sedikit menantang. "Gue bantu lo tetep hidup dan tetep kaya, lo kasih gue fasilitas bintang lima dan keamanan. Fair, kan?"
Dante memperhatikan bibir Elixane yang bergerak saat bicara. Ada ketegangan aneh yang mulai merayap di antara mereka bukan ketegangan murni karena bahaya, tapi sesuatu yang lebih dalam.
"Kau bukan mahasiswi biasa," bisik Dante. Tangannya yang besar bergerak sedikit di atas meja, hampir menyentuh jemari Elixane. "Keberanianmu... tidak alami."
"Mungkin gue cuma udah terlalu capek sama hidup, Moretti," balas Elixane, suaranya sedikit merendah, membuat atmosfer di ruang makan itu mendadak terasa lebih berat. "Orang yang nggak punya beban itu biasanya orang paling berbahaya, kan?"
Tepat saat tangan Dante hampir menyentuh kulit Elixane, suara ledakan kecil terdengar dari arah gerbang depan mansion. Suara sirine keamanan mulai melolong kasar, menghancurkan momen yang baru saja terbangun.
Dante langsung berdiri, senjatanya sudah berada di tangan dalam sekejap. "Marco bergerak lebih cepat dari perkiraanku."
"Tuh kan! Gue bilang apa!" Elixane menyambar laptop dan draf skripsinya. "Moretti, rute pelarian lo yang biasa itu udah ketebak! Jangan lewat jalur utama!"
Dante menarik tangan Elixane, jemarinya yang kuat melingkar di pergelangan tangan gadis itu dengan protektif. "Lewat mana?"
Elixane melirik layar laptopnya yang menampilkan denah digital mansion. Di sudut matanya, sistem berkedip merah menampilkan peringatan kematian Dante.
"Belok kiri di persimpangan depan! Ada tiga orang nunggu di lorong kanan. Gue bisa ngerasain posisi mereka dari sensor keamanan yang baru aja gue bajak!" teriak Elixane.
Dante langsung mengikuti arahan Elixane, melepaskan tembakan ke arah lampu lorong untuk menciptakan kegelapan. Di tengah desingan peluru, Elixane berpegangan erat pada jas Dante.
"Lo harus tetep hidup, Moretti!" Elixane berteriak di tengah kebisingan.
Dalam hati, ia menyambung: Karena kalau lo mati, ijazah impian gue melayang dan gue tewas saat tidur!
Dante sedikit menyeringai, sebuah ekspresi haus darah yang bercampur ketertarikan. "Tetaplah di belakangku, Elixane. Aku belum selesai menginterogasimu."
Diplomasi pizza mungkin sudah berakhir, tapi perang untuk memastikan Dante melewati 'Bab 100' baru saja dimulai dengan ledakan yang nyata.
***