Bab 4

1833 Words
Dini hari itu, markas besar Moretti tidak lagi terasa seperti mansion mewah, melainkan sebuah sirkuit elektronik yang sedang mengalami overload. Suasana mencekam. Bau mesiu yang tajam masih tertinggal di udara koridor bawah tanah, bercampur dengan aroma detergen mahal dan bau keringat dingin. ​Dante Moretti baru saja memerintahkan pembersihan total di lantai atas. Suara sepatu bot para penjaga yang berlari di atas lantai marmer terdengar seperti detak jantung yang tak beraturan. Di tengah kekacauan itu, Elixane justru terduduk lemas di sebuah kursi ergonomis di dalam Panic Room sebuah bunker teknologi yang tersembunyi di balik dinding ruang kerja Dante. ​"Gila... ini beneran gila," Elixane bergumam sambil menyeka keringat di pelipisnya. Jantungnya masih berdegup kencang, sisa adrenalin dari aksi lari-larian menghindari peluru tadi. ​Ia melirik ke samping. Di sana, di atas meja logam yang dingin, tergeletak draf skripsinya yang malang. Kertas-kertas itu kini tidak hanya bolong terkena peluru, tapi juga sedikit ternoda darah entah darah siapa, Elixane tidak ingin tahu. ​"Moretti," panggil Elixane. ​Dante sedang berdiri di depan deretan layar monitor besar, memperhatikan rekaman CCTV perimeter luar. Kemeja hitamnya kini kotor, dan dua kancing teratasnya sudah hilang, memperlihatkan gurat otot leher yang tegang. Ia menoleh perlahan, tatapan abu-abunya masih setajam silet. ​"Apa lagi? Kau mau pizza lagi?" suara Dante terdengar serak, namun ada nada sarkasme yang mulai muncul sebuah tanda bahwa pria kaku ini mulai terbiasa dengan keberadaan Elixane. ​"Bukan pizza. Gue butuh koneksi internet yang stabil dan kabel LAN," Elixane mengangkat laptop militer yang tadi diberikan oleh Moretti dan mungkin akan menjadi miliknya untuk ke depannya. "Gue harus lanjut ngerjain Bab 4 skripsi gue. Besok pagi jam delapan itu deadline kirim draf ke Pak Bambang. Kalau gue nggak kirim, gue bisa dianggap mengundurkan diri dari semester ini." ​Dante berjalan mendekat, langkahnya pelan dan mengintimidasi. Ia berdiri di depan meja Elixane, membungkuk hingga wajah mereka hanya berjarak beberapa sentimeter. Aroma tubuhnya campuran antara tembakau mahal dan keringat terasa begitu menyesakkan sekaligus membangkitkan insting waspada Elixane. ​"Kita baru saja diserang, Elixane. Marco baru saja mencoba membunuh kita, dan kau... kau mengkhawatirkan tugas sekolahmu?" bisik Dante. Suaranya rendah, bergetar di dekat telinga Elixane. ​"Ini bukan tugas sekolah, ini masa depan, Moretti!" Elixane tidak mundur. Ia justru menatap balik mata abu-abu itu dengan keberanian yang muncul dari rasa putus asa tingkat dewa. "Lagian, lo juga butuh gue tetep waras. Dan satu-satunya cara gue tetep waras adalah dengan ngerasa 'normal'. Ngerjain skripsi itu normal buat gue." ​Dante menatap bibir Elixane yang sedikit gemetar namun tetap melontarkan kata-kata pedas. Ada keheningan yang cukup lama, di mana udara di antara mereka terasa seolah bisa memercikkan api. Dante perlahan mengulurkan tangannya, bukan untuk mencekik, melainkan untuk mengambil selembar kertas skripsi Elixane yang ternoda. ​"Bab 4: Analisis Efisiensi Enkripsi pada Jaringan Infrastruktur Kritikal," Dante membaca judulnya dengan aksen yang berat. Ia menatap Elixane lagi. "Kau menulis tentang ini, dan kau bilang sistemku 'bapuk'?" ​"Sistem lo itu ibarat pintu gerbang emas, tapi kuncinya pake gembok lemari plastik," Elixane merampas kembali kertasnya. "Sekarang, kasih gue akses ke jaringan utama lo. Gue mau pake server lo buat rendering data simulasi skripsi gue. Sekalian, gue bakal pasang trap biar orang-orang Marco nggak bisa masuk lewat pintu belakang lagi." ​Dante menarik napas panjang, lalu mengangguk singkat pada Enzo yang berdiri di sudut ruangan. "Berikan apa yang dia butuhkan." ​Satu jam berlalu. Suasana di dalam bunker itu menjadi sangat kontras. Di satu sisi, Dante dan para petingginya sedang merencanakan pembalasan berdarah terhadap Marco. Di sisi lain, Elixane duduk meringkuk dengan headphone terpasang, jari-jarinya menari di atas keyboard dengan kecepatan yang menakutkan. ​"Ayo... ayo... dikit lagi upload," gumam Elixane. ​Ia sedang menjalankan skrip simulasi enkripsi untuk skripsinya. Namun, karena ia menggunakan server utama Moretti yang terhubung ke satelit komunikasi ilegal, sesuatu yang tidak terduga terjadi. Elixane terlalu fokus pada variabel looping kodingannya hingga ia tidak sadar bahwa skrip 'pengacau' yang ia buat untuk simulasi akademisnya justru mulai merayap keluar dari jaringan internal. ​BEEP. BEEP. BEEP. ​"Eh, kok ada notifikasi masuk?" Elixane mengerutkan kening. Di layarnya, muncul aliran data asing yang tidak ia kenali. "Ini bukan data simulasi gue... ini... loh? Ini kan frekuensi radio taktis?" ​Tanpa sengaja, algoritma 'Revisi_Maut_V1' yang ia buat tadi malam telah melompat ke jaringan komunikasi musuh yang mencoba melakukan jamming di sekitar mansion. ​"Wah, gila. Gue malah nggak sengaja masuk ke folder rahasia musuh," bisik Elixane, matanya berbinar. "Ini mah bukan cuma dapet data buat skripsi, ini mah dapet bahan buat bikin Marco pensiun dini." ​Di sisi lain ruangan, Dante menyadari perubahan suasana. Monitor-monitor utamanya mendadak menampilkan wajah-wajah pria yang sedang panik di dalam sebuah truk kontainer. ​"Elixane, apa yang kau lakukan?" Dante berjalan cepat ke arahnya. ​"Gue... gue nggak sengaja meretas mereka, Moretti," Elixane menoleh dengan cengiran tanpa dosa. "Gue cuma mau rendering tugas, eh tapi algoritma gue malah nemu lubang di firewall truk komunikasi Marco. Sekarang gue punya akses ke kamera kabin dan log obrolan mereka." ​Dante menatap layar laptop yang ditampikan Elixane, lalu menatap gadis itu dengan pandangan yang sulit dijelaskan. Ada kekaguman yang mulai bercampur dengan rasa takjub yang murni. ​"Kau meretas salah satu unit komunikasi paling canggih di dunia bawah... hanya karena ingin mengerjakan skripsi?" tanya Dante, suaranya terdengar tidak percaya. ​"Ya habisnya mereka pake protokol yang mirip sama kasus di bab 4 gue, jadi ya gampang aja ketebak," Elixane mengangkat bahu. "Lihat nih, mereka lagi nunggu instruksi di pelabuhan lama. Lokasinya di sektor 7, koordinat 45.22. Lo bisa sergap mereka sekarang kalau mau." ​Dante segera memberikan perintah pada tim taktisnya. Suasana bunker yang tadi tenang kembali memanas. Namun, Dante tidak langsung pergi. Ia berdiri di belakang kursi Elixane, memperhatikan jemari gadis itu yang masih sibuk memindahkan data musuh ke dalam folder bertajuk 'REFERENSI_TAMBAHAN_SKRIPSI'. "Kau benar-benar variabel yang tidak terduga, Elixane Thorne," Dante membungkuk. Gerakannya lambat, terukur, namun mematikan seperti macan tutul yang sedang mengamati mangsa yang terlalu menarik untuk langsung diterkam. ​Kedua tangannya bertumpu di sandaran kursi Elixane, mengurung gadis itu di antara tubuhnya dan meja kerja yang penuh dengan kabel LAN. Jarak mereka kini begitu dekat hingga Elixane bisa merasakan suhu panas dari tubuh Dante yang kokoh. Aroma tembakau mahal dan sisa mesiu yang melekat di jasnya terasa begitu nyata, menyerang indra penciuman Elixane yang selama ini hanya terbiasa dengan bau kopi sasetan. Ia menatap Elixane dengan mata abu-abunya yang dingin namun kini berkilat dengan intensitas yang berbeda. Ia seolah sedang membaca setiap inci ekspresi di wajah Elixane, mencari titik lemah atau mungkin... mencari kebenaran di balik keberanian gadis ini. ​"Kadang aku ingin tahu," suara Dante merendah, menjadi bariton yang sangat dalam hingga terasa menggetarkan meja di bawah jemari Elixane. "Apa yang lebih berbahaya? Pistol di tanganku, atau otak di dalam kepalamu yang bisa mengacaukan seluruh sistemku hanya dalam sehari?" ​Elixane menelan ludah. Jantungnya berdebar, tapi harga dirinya sebagai mahasiswa teknik yang sudah mati rasa karena revisi membuatnya tetap tegak. Ia tidak mundur. Ia justru sedikit mencondongkan tubuhnya ke depan, memangkas sisa jarak di antara mereka hingga ia bisa melihat pantulan dirinya di manik mata Dante. ​"Otak gue lebih bahaya, Moretti," balas Elixane dengan bisikan yang sama tajamnya. "Karena pistol lo cuma bisa mengakhiri hidup orang, tapi otak gue... otak gue bisa bikin lo menang, atau bikin lo gila karena nggak bisa nebak apa yang bakal gue lakuin selanjutnya." ​Dante tidak membalas. Ia hanya menatap bibir Elixane selama beberapa detik yang terasa seperti selamanya. Tidak ada gerakan impulsif. Dante justru menarik napas panjang, menikmati ketegangan yang tercipta di antara mereka seolah itu adalah minuman keras yang mahal. Ia sedang menikmati perlawanan halus Elixane. ​Ketegangan itu terasa begitu pekat, seolah oksigen di dalam bunker mendadak menipis. Elixane merasa dunia di sekitarnya sedikit kabur, fokusnya terkunci total pada pria di depannya. ​Namun, tepat saat suasana itu mencapai titik di mana satu gerakan kecil saja bisa meruntuhkan segalanya, suara Enzo terdengar dari interkom di dinding, memecah kesunyian dengan nada yang sangat profesional. ​"Tuan, tim taktis sudah berada di posisi sektor 7. Helikopter siap lepas landas dalam tiga menit." ​Dante tidak langsung menjauh. Ia tetap pada posisinya selama beberapa detik lagi, seolah ingin menunjukkan bahwa dialah yang memegang kendali atas kapan interaksi ini berakhir. Perlahan, ia menegakkan tubuhnya kembali, merapikan lengan kemeja hitamnya yang tergulung dengan gerakan yang sangat tenang seolah tensi panas tadi tidak pernah terjadi. ​"Selesaikan skripsimu," perintah Dante tanpa nada kompromi. Ia menatap Elixane sekali lagi, tatapan yang penuh dengan janji akan kelanjutan interogasi ini. "Dan pastikan kau masih ada di kursi ini saat aku kembali. Jika kau mencoba menghilang... ijazahmu bukan satu-satunya hal yang akan kurobek." ​Dante berbalik dan melangkah pergi dengan langkah tegap yang berwibawa, meninggalkan aroma maskulin yang masih tertinggal kuat di sekitar Elixane. ​Elixane baru bisa mengembuskan napas panjang saat pintu bunker tertutup rapat. Kakinya mendadak terasa seperti jeli. "Gila... itu tadi apa? Dia mau makan gue atau mau bimbingan akademik sih?" ​Ia kembali menatap layar laptopnya yang masih menampilkan data koordinat musuh. Di sudut mata, jendela sistem muncul dengan peringatan kecil. ​[MISI UTAMA: REVISI TAKDIR - UPDATE] Progres: Dante selamat dari jebakan awal Marco. Status Subjek (Dante): Ketertarikan Taktis meningkat (40%). Catatan Sistem: Subjek adalah pria dengan kontrol diri tingkat tinggi. Jangan berharap dia akan melunak dalam waktu dekat. ​"Gue tahu, sistem sialan! Gue juga nggak mau dia melunak sekarang, bisa mati gaya gue kalau dia tiba-tiba jadi manis!" seru Elixane frustrasi, sambil mengipasi wajahnya yang sedikit merona dengan draf skripsi yang bolong. ​Ia kembali meraih mouse-nya, mencoba mengalihkan gejolak hormon yang tidak diundang itu ke dalam barisan kodingan. Elixane harus tetap pada jalurnya, dia butuh logika dingin untuk bertahan di dunia yang tidak masuk akal ini. Dante Moretti mungkin pria paling menarik yang pernah ia temui, tapi bagi mahasiswi teknik yang sedang berada di bawah ancaman kegagalan organ, nyawa tetap prioritas nomor satu. ​Di layar laptopnya, baris-baris kode mulai mengalir kembali. Dokumen bertajuk DRAF_SKRIPSI_BAB4_FINAL_V2.docx kini bersanding dengan jendela transmisi data ilegal dari pelabuhan. ​"Oke, Moretti. Lo urus musuh lo di lapangan," gumam Elixane dengan tatapan tajam yang tersembunyi di balik kacamatanya. "Biar gue yang kunci pintu belakangnya. Kalau lo mati sebelum Bab 100, gue bakal beneran ngeretas neraka buat nyeret lo balik lagi ke sini." ​Jendela sistem muncul dengan tenangnya, memberikan notifikasi terakhir sebelum Elixane tenggelam dalam konsentrasi penuh. ​[MISI UTAMA: REVISI TAKDIR] Kondisi: Subjek (Dante) menuju zona tempur. Peluang Bertahan Hidup: Meningkat (Berkat koordinat dari Anda). Saran: Segera selesaikan 'Bab 4'. Stres akademik yang berkurang akan meningkatkan performa otak Anda dalam membantu Subjek. ​"Iya, iya! Bawel banget sih," gerutu Elixane. ​Malam itu, di dalam bunker yang kedap suara, hanya terdengar suara ketikan keyboard yang cepat dan napas Elixane yang perlahan mulai stabil. Di luar sana perang mafia sedang berkecamuk, tapi di dalam sini, pertempuran melawan deadline dan takdir baru saja mencapai puncaknya. ​Dante mungkin bos di dunia bawah, tapi di depan layar monitor ini, Elixane-lah yang memegang kendali atas nasib mereka berdua. ***
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD