Bab 12 Gelora Amarah

1222 Words
Terpaksa Berjodoh 12 Dinar sedang memainkan undangan dalam genggamannya. Matanya nanar manatap lantai dengan pikiran menerawang jauh entah kemana. Undangan itu seharusnya tertera namanya dan nama sang kekasih. Tetapi musibah yang datang sekedip mata itu membuat semuanya porak poranda. Dinar duduk di atas sofa kecil di sudut kamarnya. Pikiran yang terbang melayang entah kemana itu mengabaikan sesosok laki-laki yang tengah duduk di bibir ranjang dengan ponsel di tangannya. Sesekali pandangan lelaki itu terarah pada Dinar. Melihat sang istri yang tampak melamun itu membuat Arya tersenyum miring padanya. Betapa hati wanita begitu rapuh dan mudah patah. Sudah terhitung beberapa hari tetapi Dinar masih suka melamun sendiri. Padahal jika ditanya jawabannya selalu mengatakan bahwa dirinya baik-baik saja. "Lebih baik di kita balik saja," ujar Dinar dengan pandangan tak lepas dari jendela kamar yang terbuka. Dia berujar tanpa melihat Arya di sampingnya. "Yakin kamu tak mau datang? Kalau kamu minta kita balik, aku malah seneng. Tapi sebenarnya aku penasaran dengan pernikahan mereka," balas Arya. Tubuhnya beringsut dari bibit ranjang dan berjalan menuju meja rias. Tubuh tegap lelaki tampan itu bersandar pada meja rias yang tepat berada di depan sofa yang ditempati oleh Dinar. Arya memasukkan kedua tangannya ke dalam saku celana bahan yang dikenakannya. Kakinya ia lipat menyilang. Sorot matanya menatap wajah Dinar dengan santainya. Seperti ia tengah memandang Dinar dengan tatapan meremehkan. "Aku tak mau tau lagi tentangnya," jawab Dinar ketus. "Waahh, dengan begini perempuan itu merasa menang." Arya tersenyum miring. "Aku sudah tak peduli." Dinar menjawab dengan nada datar. Matanya menerawang jauh seperti tengah memunguti serpihan masa lalu yang kini sudah jadi kenangan. "Tapi masih berharap ini mimpi," seloroh Arya sambil memalingkan wajah. Ia seperti sedang mengejek Dinar yang tampak terpuruk. Dinar terdiam. Ucapan Arya bak panah yang tepat menancap pada sasarannya. Perlahan hati yang bergejolak itu semakin bergemuruh dan menyebabkan rasa hangat berubah menjadi panas di kelopak matanya. "Jangan membohongi diri. Kalau mau membuatmu yakin dia bukan jodohmu, mari datang ke pernikahan mereka. Tunjukkan kalau kamu bisa berdiri tegak sekalipun mereka tengah duduk di atas pelaminan." "Mas yakin mau nemeni ke sana?" "Mengapa enggak? Sebenarnya aku penasaran motif Sitta mengundangmu ke pernikahannya. Apa yang mau dia tunjukkan padamu sampai rela datang ke rumah sendirian." "Apalagi motifnya selain merebut Mas Dhana dariku?" "Ya, tapi kurasa ada maksud lain. Mungkin dia dendam denganmu? Atau Dhana pernah menolak cintanya?" Tiba-tiba saja Dinar teringat kejadian beberapa tahun silam. Dimana saat itu Sitta datang pada Dhana untuk menyatakan cinta. Di depan beberapa pengunjung kafe dijam istirahat sekolah, Sitta datang bersama seorang temannya untuk bertemu dengan Dhana. "Mas, aku datang hanya untuk bertemu denganmu," ujar Sitta pada Dhana. Ia menarik tangan Dhana untuk duduk di hadapannya setelah meminta izin pada pemilik kafe itu. "Aku sedang bekerja," elak Dhana. Ia menepis pegangan tangan Sitta yang cukup erat. Pemuda yang disukai Sitta itu memang bekerja paruh waktu untuk membiayai kuliahnya sendiri. Jiwa mandiri dan pekerja kerasnya membuatnya harus menghabiskan seluruh waktunya untuk mencari biaya kuliah. "Aku sudah minta izin pada pemiliknya untuk bicara sejenak denganmu," ujar Sitta membela diri. Ia kembali meraih jemari Dhana usai memaksa lelaki yang dicintainya duduk di atas kursi. "Seringkali aku datang dan melihatmu tengah sibuk melayani pengunjung. Mataku tak bisa lepas dari wajahmu yang sudah menjadi candu bagiku. Sekarang aku tak lagi sanggup untuk jauh darimu, mau kah kamu menjadi kekasihku?" ujar Sitta sambil mengusap jemari Dhana dalam genggamannya. Dhana membalas tatapan Sitta dengan malasnya. Setelahnya kepala itu celingukan mencari seseorang yang sejak tadi menjadi pusat perhatiannya. Tampak oleh mata Dhana gadis di meja sampingnya sedang mengamati apa yang dilakukan Sitta padanya. Gadis lugu nan cantik yang memiliki rambut panjang itu menancapkan pusat perhatian pada lelaki yang tangannya tengah digenggam Sitta itu. Raut wajah kesal terpancar dari sorot mata kecokelatan milik gadis berambut panjang itu. Bibir yang mengatup rapat tidak seperti biasanya ketika dua pasang mata itu saling beradu. Pemandangan di depan Dhana itu membuatnya merasa bersalah. Rasa yang sepertinya bersambut tak sepantasnya melihat apa yang sedang dilakukan oleh Sitta. "Maafkan, aku. Aku ngga bisa nerima kamu karena seluruh ruang dalam hatiku sudah terisi penuh oleh gadis berambut panjang di sebelah sana," ujar Dhana sambil mengarahkan pandangan pada Dinar. Sitta mengikuti arah pandangan mata Dhana. Betapa terkejutnya ia ketika melihat Dinar yang tengah duduk di meja itu. Rasa yang menggebu-gebu pada Dhana membuat matanya tak melihat sosok cantik yang sejak tadi duduk di meja itu. Dada Sitta berdebar hebat. Ia tak bisa menerima jawaban Dhana yang menurutnya cukup menyakitkan. Rahang gadis berambut pendek sebahu itu mengeras seiring dengan kepalan tangannya yang kian erat. Sebuah pukulan keras ia daratkan di atas meja yang terdapat dua minuman dalam gelas kaca. Sorot mata tajam bak singa menemukan mangsanya persis seperti sorot mata Sitta pada Dinar. Gemerutuk giginya yang mengeras menciptakan getaran dalam bibir yang berbalut liptint pink itu. "Gimana bisa? Gimana bisa kamu nolak aku?" umpatnya sebal. "Aku harus lakukan ini daripada aku menerimamu tapi tak ada cinta dariku untukmu," jawab Dhana. Sebenarnya apa yang dilakukan Dhana sudah tepat menurutnya. Hanya saja, rasa malu dan emosi yang sudah merasuki badan Sitta membuat akal sehatnya tak mampu bekerja dengan baik. Dhana berdiri dari tempat duduknya lalu berjalan menghampiri Dinar. Ia benar-benar mengabaikan Sitta yang masih duduk di bangkunya. Di depan mata Sitta, Dhana berjongkok dan meminta Dinar menjadi kekasihnya. Hal seperti itu yang membuat Sitta makin iri pada Dinar. Riuh suara beberapa pengunjung kafe kian menambah gelora amarah dalam diri Sitta. Bak bensin yang tersulut api dan menciptakan kobaran amarah hingga ubun-ubun. Berbanding terbalik dengan jawaban Dhana untuk Sitta, Dinar menerima permintaan Dhana untuk menjadi kekasihnya. Rasa bahagia menyelimuti dua insan yang saling memendam rasa satu sama lain itu. Bunga-bunga itu telah bermekaran dalam taman hati. Dinar pun tak kuasa menyembunyikan kebahagiaannya. Benih cinta itu tumbuh karena Dinar kerap kali menunggu jemputan di depan kafe yang kebetulan tepat berada di depan gerbang sekolahnya. Sekilas, mata Dinar tak sengaja melihat Sitta yang sedang memendam amarah. Seketika Dinar menghentikan senyumnya dan kembali mengatupkan bibir. Sitta pergi dengan langkah kaki yang sedikit dihentakkan. Siapa yang tak sakit hati melihat pemandangan romantis seperti itu ketika dirinya menyatakan cinta?. Ah Sitta, malang sekali nasibnya. Hubungan Dhana dengan Dinar berjalan mulus hingga keduanya sama-sama dewasa. Sama dengan hubungan mereka berdua, emosi dan dendam dalam diri Sitta pun terus terpupuk seiring dengan pemandangan yang kerap kali menghantuinya. Postingan Dhana dalam media sosial miliknya cukup membuat Sitta bisa melihat bagaimana kondisi hubungan dua insan itu. Dendam yang sudah mengakar kuat itu membuat Sitta memiliki niat ja hat yang kini telah ia lakukan. "Hei, kok ngelamun sih! Kebiasaan kamu!" kesal Arya saat ingatan Dinar kembali menelusuri masa lalu mereka. "Ah ya, Mas benar. Ada kisah masa lalu antara kami yang mungkin membuat Sitta dendam pada ku," ujar Dinar setelah ingatannya kembali ke masa kini. "Lalu?" jawab Arya sambil mengerutkan kening. "Ya, aku harus datang." "Waah dalam sekejap sudah berubah pikiran," seloroh Arya mengejek Dinar. "Mas benar. Jika aku tak datang maka Sitta akan merasa dirinya menang dan mengira jika aku terpuruk atas keadaan ini." Arya mencebik. "Telat." "Biar, dari pada tidak sama sekali?" jawab Dinar asal. Ia lantas berdiri dari tempatnya duduk dan melangkah dengan santainya menuju ranjang tidur miliknya. Ia bahkan mengabaikan Arya yang terpaku mengikuti langkahnya. "Hei, diajak ngobrol malah tidur?" omel Arya. "Melamun dan meratapi nasib ternyata cukup menguras energi. Aku mau tidur biar punya banyak stok kekuatan untuk membuat Sitta panas," jawab Dinar asal.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD