Bab 11 Menang Banyak

1127 Words
Sitta menggerak-gerakkan kelopak matanya yang terasa berat. Jemari lentiknya terulur memijat keningnya yang terasa pening. Plafon yang bercat putih menjadi satu-satunya pemandangan yang terlihat olehnya saat mata itu kembali terbuka. Perlahan kesadarannya terkumpul sempurna. Ia lalu mengubah posisinya menjadi miring sebelum tubuhnya duduk bersandar pada headboard ranjang empuk yang ditempatinya. "Dimana ini? Kenapa kepalaku terasa berat sekali?" lirihnya. Ada hawa dingin yang merasuki tubuhnya, lalu satu tangannya menyingkap bed cover yang membalut sekujur tubuhnya. "Badanku? Mengapa begini?" Sitta memekik. Ia lantas menarik ujung bed cover itu untuk semakin rapat membungkus badannya yang po los tanpa sehelai benang pun. Kepala Sitta celingukan melihat kondisi kamar yang ditempatinya. Lalu matanya menangkap sesosok lelaki yang dikenalnya sedang mengulum sebatang rokok dalam selipan jemarinya. Lelaki itu menatap Sitta dengan santainya. "Kamu? Kamu apakan tubuhku?!!" hardik Sitta emosi. Ia berteriak dengan kencang hingga sekujur tubuhnya bergetar. "Tenanglah, Sayang. Kan kamu yang minta untuk hamil beneran?" tanya Jeffry santai. Ia mematikan rokok ke dalam asbak yang ada di depannya. Juga ada beberapa botol minuman kaleng dan roti berjajar di atas meja itu. "Iya! Tapi bukan sama kamu juga!! Sia lan kamu!!" hardik Sitta lagi. Kilatan amarah dalam wajahnya terpancar dari sorot matanya yang tajam seperti elang. Embusan napasnya terlampau tak beraturan membuat dadanya naik turun tak berirama. Tangan Sitta mencengkeram erat bed cover yang mambalut tubuhnya untuk meluapkan kekesalannya. Jeffry berjalan mendekat ke bibir ranjang. Ia lalu meraih badan Sitta untuk dipeluknya. Sorot mata penuh kasih terpancar menatap wajah Sitta dengan dalamnya. Namun Sitta menghindar. Rasa kesal yang terlampau sangat membuat Sitta beringsut mundur. Ia menatap wajah Jeffry dengan bibir yang terus bergetar karena menahan tangis. "Kalau kamu jebak Dhana lagi buat bikin kejadian kayak kemarin, kamu ngga akan berhasil! Percaya sama aku! Lebih baik kita nikmati hari ini tapi kamu tetap bisa hamil! Aku janji akan tutup mulut! Dan kamu bisa tetap menikah dengan Dhana," ujar Jeffry bernegosiasi. Ia duduk di bibir ranjang sambil menatap Sitta yang berada di sisi yang lain. "Aku mau anak Dhana, bukan anak kamu!" teriak Sitta lagi. "Semuanya sudah terjadi." Jeffry menyandarkan punggungnya ke headboard ranjang. Ia meluruskan kakinya lalu meletakkan kedua tangannya di atas pangkuannya. "Aku akan bertanggung jawab jika terjadi apa-apa denganmu dan anak kita," sambung Jeffry santai. "Tapi aku ngga mau sama kamu!" teriak Sitta lagi. Kepalanya menunduk di atas lutut yang ditekuk. Rasa sesal kian menderanya. Pun rasa bersalah datang silih berganti. "Aku benci sama kamu!" teriak Sitta lagi. Ia terus menangis membuat Jeffry pun iba padanya. Jeffry turun dari atas ranjang dan mengumpulkan pakaian milik Sitta yang terececer. Rasa cintanya untuk Sitta membuatnya merencanakan kejadian itu. Ia bahkan tak menyangka jika reaksi Sitta akan sedemikian sedihnya. "Aku pikir bisa membantumu untuk cepat hamil. Ngga ada salahnya, kan? Toh sandiwara ini sudah kamu mainkan sejak kemarin sampai membuat pernikahan mereka batal. Kupikir aku juga harus mendapatkan sedikit saja balasan rasa terima kasih karena sudah membersamaimu melancarkan rencana kamu." Jeffry kembali duduk di sofa tempatnya semula. Ia duduk bersandar dengan kaki yang ia letakkan di pinggir meja. "Balasan rasa terima kasih dengan membuatku seperti ini? Apa maksudmu?" tanya Sitta dengan mata memicing. "Ngga ada maksud apapun. Aku cinta sama kamu. Aku bener-bener sayang sama kamu. Bahkan kalau benih itu benar-benar jadi janin dan Dhana tak mau menerima, aku siap menikahi kamu," jawab Jeffry. "Kalau kamu tutup mulut, ngga akan ada yang tahu soal ini. Sama seperti aku tutup mulut untuk membuat bapak si Dinar kehilangan nyawanya." Mendengar ucapan Jeffry, Sitta langsung menoleh ke arahnya. Wajah kaget mendengar Jeffry mengungkit perbuatanya beberapa waktu lalu. "Jaga ucapanmu!" "Iya. Aku pasti menjaga. Tapi kamu juga jangan sok jadi yang paling tersakiti. Lebih baik kita nikmati saja hari ini. Aku sudah membayar mahal apartemen ini untuk menikmati hari bersamamu. Jangan sampai membuatku merasa kecewa." Sitta tak peduli lagi dengan apa yang diucapkan oleh Jeffry. Ia tetap menangis tergugu melihat kondisi badannya yang seperti sekarang ini. Hingga beberapa saat, Sitta masih menangis di atas ranjang dalam balutan selimut tanpa baju. Ia tak menyangka jika rencananya yang hanya pura-pura hamil menjadi kejadian dalam bentuk nyata kali ini. Jeffry memandang Sitta sambil menikmati minuman yang telah ia beli dari minimarket sebelum berangkat. Matanya terus saja menikmati badan Sitta yang masih terbungkus selimut tebal. "Sudah lah, Sayang. Jangan begini. Ngga ada gunanya kamu menyesali. Lebih baik kita nikmati saja." Jeffry tak henti merayu Sitta. Penolakan yang diberikan oleh Sitta saat ia mengungkapkan perasaannya membuatnya sedikit memiliki sebuah rasa tersimpan yang terus terpupuk dengannya yang selalu ada di sisi Sitta. Kepala Sitta mencerna ucapan Jeffry. Benar juga. Jeffry selalu ada di sisinya saat ia membutuhkan sesuatu. Bahkan selalu berkorban untuknya dalam hal apapun. Ia terlalu sibuk mengejar cinta Dhana yang ternyata bertepuk sebelah tangan. "Sudahlah, jangan menangis terlalu lama untuk menyesali ini semua. Aku tahu kamu tak semenyesal itu. Aku juga janji tak akan buka mulut. Jadi jangan terlalu lebay!" "Sebusuk-busuknya aku, ini hal yang paling menyakitkan buatku! Melakukan hubungan badan dengan orang yang tidak kuharapkan di saat aku akan menikah dengan orang yang kucintai! Kamu paham?" sengit Sitta sambil berjalan ke dalam kamar mandi. "Apa kamu kira membunuh orang itu bukan perbuatan jahat? Jahat sama dengan busuk bukan? Bahkan kita sama." Sitta melirik Jeffry dengan sorot mata penuh kilatan amarah. Ia mengabaikan wajah Jeffry yang tampak santai itu dan kembali melanjutkan langkah kakinya. Sitta menangisi kejadian hari ini dibawah guyuran air. Ia tak menyangka kejadian buruk ini menimpa dirinya. Bahkan ia tak percaya jika penolakannya pada Jeffry berujung pada kejadian ini. Jeffry menatap wajah Sitta yang terlihat segar meskipun tetap terlihat bengkak usai menangis. Wajah itu tampak lebih tenang dari sebelum ia masuk ke kamar mandi. Ia pun menatap wajah itu dengan seulas senyum yang membuat Sitta mencebikkan bibirnya. "Kamu cantik," ujar Jeffry. "Ngga usah gombal! Aku benci sama kamu!" Sitta melengos. Ia berjalan dan berhenti di depan kaca untuk merias wajahnya dengan beberapa mekap yang tersedia di dalam tasnya. Jeffry menatap Sitta dengan wajah yang sumringah. Ia berjalan menuju pintu utama dan menguncinya. Lalu ia masukkan kunci itu ke dalama saku celananya. "Aku mandi dulu, kamu tunggu di sini, jangan kemana-mana. Ada banyak makanan di meja itu, kamu bersantailah sejenak sambil menungguku," ujar Jeffry di dekat telinga Sitta. "Isshh!! Apaan sih!" pekik Sitta sambil mengibaskan tangannya di dekat telinga. "Mandi sana, nyelem sekalian ngga usah keluar-keluar!" Jeffry memandang santai wajah Sitta yang masih kesal. "Duh kalau marah cantik deh!" "Iyalah cantik! Kan sudah mau nikah tapi sayang bukan sama kamu!" "Tapi ada benih milikku dalam rahimmu!" seloroh Jeffry penuh rasa kemenangan. Tangan Sitta meraih sisir di atas meja rias itu dan melemparkannya ke badan Jeffry. "Diam kamu!" umpatnya. Wajah Sitta kembali sebal setelah Jeffry membahas soal benih itu. Sisir itu jatuh di atas lantai. Lalu Jefrry memungutnya dan melemparkannya di atas ranjang. "Aku menang banyak meskipun kamu selalu mengelak untuk menerimaku."
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD