Bab 10 Rencana Dadakan

1250 Words
"Sudah undangannya?" tanya Jeffri pada Sitta yang baru saja masuk mobil dengan wajah yang ditekuk. "Sialan mereka! Bukannya marah, malah meledekku!" kesal Sitta penuh emosi. Ia duduk dengan membanting badannya ke atas kursi. Kepalanya lalu bersandar di sandaran kursi. "Ya sudah dong! Yang penting kan mereka sudah gagal menikah! Apalagi memang?" bela Jeffry. Ia memandang Sitta dengan tatapan yang penuh arti. Sebenarnya dalam hati ia menyesali perbuatan Sitta, tapi dalamnya perasaan membuat Jeffry hanya mampu diam menurut saja. "Aku mau bener-bener hamil! Aku mau bener-bener ada bayi dalam rahimku! Aku mau bikin Dinar sakit lihat perutku yang membuncit!" cicit Sitta lagi. "Hei ... kamu pikir bikin anak sama kayak bikin kue? Setelah nikah kan kamu bisa bikin sama Dhana? Bukannya sudah cukup dengan kamu bisa menikah dengan Dhana?" "Ya tapi aku mau anak itu benar-benar ada sebelum pernikahan. Gimana pun caranya! Aku mau bikin Dhana mabuk lagi biar aku bisa bikin dia nyentuh aku! Carikan obat perangsang buat bikin Dhana ngga bisa nahan nafsu sama aku!" "Gila kamu! Ada aja maunya! Ogah ah!" tolak Jeffry keras. "Ck! Kamu emang ngga bisa diandalkan!" sungut Sitta. Ia keluar dari mobil milik Jeffry dengan cepat tanpa permisi. Jeffry hanya mampu melihat tubuh langsing Sitta itu berjalan kian menjauh dari mobilnya. Ia tak sanggup menuruti lagi kemauan Sitta yang terkadang kelewat ke jam. Namun otak Jeffry kembali berpikir keras. Ucapan Sitta itu benar-benar memantik ide dalam kepalanya. Kaki Sitta melangkah dengan cepat berjalan di ujung gang tempat tinggal Dinar. Perempuan yang sedang merajuk itu berdiri di trotoar dekat gang. Tangannya merogoh ponsel dalam tas jinjingnya lalu mencari kontak milik Dhana. "Halo, Sayang, jemput aku dong! Aku lagi ada di pinggir jalan habis antar undangan ke rumah Dinar." Sitta berbicara dengan nada suara yang manja pada Dhana setelah sambungan telepon terhubung. "Ngapain kamu kasih undangan ke rumah Dinar? Sengaja bikin huru-hara lagi? Iya?!" pekik Dhana lantang. "Enggak, Yang. Aku ngga bikin huru hara kok! Aku datang baik-baik, sopan dan ramah. Kalau ngga percaya kamu bisa telepon Dinar sendiri," jawab Sitta menantang dan membela diri. "Lalu buat apa kamu minta jemput aku? Bukannya kamu bisa datang sendiri ke sana? Harusnya juga bisa balik sendiri!" ujar Dhana dengan malas. "Emm itu-" ucap Sitta sambil celingukan. Ia sibuk mencari alasan yang masuk akal untuk Dhana. "Apa? Alasan apa lagi?" "Enggak, Yang! Aku tadi diantar sama temenku! Terus dia pergi, ngga mau nungguin aku! Terus sekarang aku ngga bisa pulangnya!" "Kamu bisa aja cari taksi online! Ngapain minta jemput aku!" "Kan aku maunya dijemput sama kamu," jawab Sitta manja. "Apa kamu ngga kasihan sama anak yang ada dalam kandunganku?" sambung Sitta sambil mengusap perutnya yang rata. "Ck!" dengus Dhana sebal. "Anak aja yang dipakai alasan! Itu bukan anak aku!" "Bukan anak kamu gimana sih? Masak kamu habis ngelakuin udah lupa gitu aja!" "Terserah kamu!" pekik Dhana lalu mematikan sambungan telepon. Sitta menghentakkan kakinya dengan kesal. Dhana tak mau mengikuti kemauannya. Ia lalu diam sejenak untuk berpikir. Namun ekor mata Sitta melihat mobil Jeffry hendak melaju kembali. Dengan keras Sitta berteriak memanggil Jeffry dalam mobil itu. "Heyy tunggu!" teriak Sitta sambil berjalan menyusul mobil Jeffry yang masih berjalan perlahan. Sitta terus berlari mengejar mobil itu dengan berlarian kecil. Tak lagi ada yang bisa diharapkan selain Jeffry yang ada di dekatnya. Baginya mudah saja merayu Jeffry untuk menuruti segala keinginannya. "Tega banget sih!" gerutu Sitta usai berhasil masuk kembali ke dalam mobil Jeffry. Jeffry tersenyum miring melihat tingkah Sitta. Ia merasa diatas angin bisa membuat Sitta kembali lagi ke dalam mobilnya karena keinginannya sendiri. Lelaki berkaos navy itu lantas kembali melajukan mobilnya dengan perlahan. "Kan kamu yang pergi keluar sendiri? Aku ngga nyuruh kamu keluar kan?" elak Jeffry. Ia terkekeh melihat Sitta yang tengah kelelahan usai berlarian. "Ya tapi ngga ditinggal juga! Jahat banget sih!" gerutu Sitta lagi sambil mengibas-ngibaskan telapak tangannya. Bulir keringat terlihat muncul di kening mulus miliknya. Jeffry tertawa pelan. "Capek ya?" "Nggak!" sengit Sitta. Bibirnya mencebik karena rasa jengkelnya. Jeffry lagi-lagi tertawa melihat tingkah Sitta yang terkadang terlalu kekanak-kanakan menurutnya. Tetapi sifat keras kepala yang dimilikinya membuat Jeffry hanya mampu geleng-geleng kepala. "Antar ke tempat Dhana ya?" ujar Sitta merajuk. Ia berbicara dengan manjanya pada Jeffry. Sitta yang merasa kehadiran Jeffry selalu berhasil membantunya, kini kembali lagi memanfaatkan kehadiran laki-laki yang diam-diam mengharapkannya itu. Jeffry mencebikkan bibir. Tetapi matanya berkedip memberikan isyarat pada Sitta bahwa ia akan bersedia mengantarnya. Sitta tersenyum senang. Ia kembali merasa di atas angin. "Makasih ya?" ucapnya sambil mengusap punggung tangan Jeffry yang berada di atas gagang perseneling. Jeffry mengangguk pelan. Ia lalu kembali fokus pada jalanan yang mulai padat. "Mampir apotek bentar ya?" ujar Sitta saat mobil melaju dengan kecepatan sedang. "Yupp." Jeffry menjawab seadanya. Sitta benar-benar melakukan apa yang tadi ia bilang. Sebuah obat kecil sudah berada dalam genggamannya. Entah alasan apa yang ia katakan pada petugas apotek hingga obat itu bisa diberi dengan mudahnya. Padahal biasanya harus menggunakan resep dokter untuk mendapatkannya. "Nih minum dulu," ujar Jeffry setelah memberikan segelas minuman pada Sitta. Ia pun keluar dari mobil untuk membeli minuman diwaktu yang bersamaan dengan Sitta ke apotek. "Makasih ya? Kamu tau aja aku lagi haus. Ternyata ngomel sejak tadi juga butuh tenaga," jawab Sitta seraya terkekeh pelan. "Aku tahu apa yang kamu butuhin," jawab Jeffry santai. Ia pun turut menikmati minumannya sejenak sebelum kembali mengendalikan kemudi kendaraannya. "Kamu memang terbaik," jawab Sitta. Ia lalu meneguk isi gelas itu hingga tandas. Setelah isi gelas itu habis, Jeffry beberapa kali melirik Sitta dengan ekor matanya. Ia lalu menepikan mobilnya di depan mini market yang ada di pinggir jalan. "Kamu tunggu sini bentar ya? Aku cari rokok dulu," pamit Jeffry sebelum mobilnya benar-benar berhenti. "Iya, aku tunggu sini aja. Kepalaku rasanya berat. Mungkin efek ngomel-ngomel bikin pening kepala! Sialan si Dinar itu! Sampai bikin aku pusing gini!" tuduhnya asal. "Iya. Bentar ya?" ucap Jeffry sambil mengusap pucuk kepala Sitta pelan. Seulas senyum terkembang dari bibir Jeffry sebelum ia benar-benar turun dari mobilnya. Jeffry masuk ke dalam minimarket untuk membeli beberapa cemilan dan rokok. Tak lupa juga ia membeli dua minuman kaleng bersoda untuk teman kencannya nanti. "Terima kasih, Kak. Silahkan datang kembali," ujar petugas kasir itu setelah memberikan kembalian pada Jeffry. Mata penjaga kasir itu sedikit tercengang melihat wajah Jeffry yang keren itu hingga lelaki yang ditatapnya menghilang dibalik pintu kaca yang menjadi pembatas ruangan. Jeffry mengangguk ramah. Ia membawa kantung belanjannya itu keluar dari dalam area minimarket. Sebelum kembali ke dalam mobil, Jeffry mengambil ponselnya untuk menghubungi seorang teman. Ia duduk di teras minimarket untuk sejenak berbicara pada seseorang diujung panggilan tersebut. Sebuah senyum nakal menjadi penutup dari pembicaraan mereka berdua. Jeffry lalu kembali berjalan ke dalam mobilnya. Sinar matahari yang mulai terasa menyengat membuat Jeffry kian mempercepat langkah kakinya untuk segera berlindung di dalam kabin mobil. Tangan Jeffry membuka pintu mobil dengan semangatnya. Matanya terbelalak kaget saat mendapati Sitta yang sudah terpejam dalam duduknya karena menunggu beberapa saat. "Hei, kok tidur?" sapa Jeffry sambil menepuk bahu Sitta sedikit keras. Tak ada reaksi apapun dari Sitta dan itu berarti ia telah tertidur dengan nyenyak. Senyum simpul terbit dari bibir Jeffry yang kemerahan. Ia bersiul dengan riangnya setelah memastikan bahwa Sitta telah terlelap dengan sempurna. Lelaki itu lantas meletakkan belanjaannya ke kursi belakang dan bersiap untuk melajukan kendaraannya kembali. Beberapa kali Jeffry tersenyum puas saat matanya melihat wajah Sitta yang tidur dengan nyenyak. Tangan kekarnya sesekali mengusap pipi Sitta dengan usapan yang lembut. Hatinya bersorak gembira karena rencana dadakannya berjalan dengan lancar. "Beruntung ada obat tidur yang selalu tersedia dalam dasbor," ujar Jeffry dengan senyum terkembang. "Mari kita bersenang-senang, Sayang," gumamnya lagi.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD