Bab 9: Panas Membara

1107 Words
"Pagi," ucap Sitta saat Dinar baru saja membuka pintu rumahnya. Sitta tersenyum miring melihat ekspresi Dinar yang tampak kaget dengan kehadirannya. Undangan yang ada dalam genggaman tangannya sengaja ia hadapkan ke Dinar agar terlihat nama kedua mempelai. "Mau apa lagi kamu? Belum puas sudah rusak acara pernikahanku?" hardik Dinar penuh penekanan. Matanya menatap wajah Sitta dengan tajam dan menusuk. "Santai, jangan emosi. Cinta yang kalian bangun bisa hancur dan berantakan hanya dengan satu malam yang aku habiskan dengan Dhana." Sitta berucap dengan yakin. Ucapan Sitta itu berhasil memantik emosi Dinar. Dadanya bergemuruh saat mengingat kembali penyebab hancurnya pernikahannya dengan Dhana. "Dasar kamu! Cinta ditolak ganti jual badan! Murah sekali," sindir Dinar dengan d**a naik turun menahan kesal. "Bukan masalah murah, tapi bagaimana pengorbanan yang harus dilakukan untuk mendapatkan orang yang kita cintai," sahut Sitta dengan pongahnya. "Pengorbanan? Yang kamu lakukan itu bukan pengorbanan! Tapi tapi secara ngga langsung kamu menunjukkan pada kami bahwa kamu adalah w************n!" cecar Dinar. Emosi yang menguasai dirinya membuat ucapannya lepas kendali. "Jaga mulutmu!" kesal Sitta sambil mengangkat tangannya hendak menampar pipi Dinar. Sayangnya tangan itu ditahan oleh satu tangan kekar yang menyelamatkan pipi Dinar dari tamparan jemari lentik milik wanita dengan rambut bergelombang itu. "Jangan asal tampar orang lain ya!" pekik Arya lantang. Usai berucap demikian, tangan Sitta itu ia hempaskan ke udara. Arya berdiri di samping Dinar. Seketika badan Sitta terhuyung kebelakang. Ia hampir saja jatuh jika tak berpegangan pada tiang teras yang ada tepat di depan pintu utama. "Awas kamu ya!" kesal Sitta. Ia lantas kembali berdiri tegak seperti posisinya semula. Wajahnya tetap angkuh meskipun telah tangannya telah dihempaskan oleh Arya dengan kasar. "Jangan asal main tampar saja! Kamu harus ingat sedang berada di rumah siapa!" kesal Dinar yang hampir saja menjadi korban amarah Sitta. "Makanya jaga bicara kamu!" sengit Sitta tak mau disalahkan. "Kamu datang untuk memberikan undangan itu, kan?" "Iya. Aku mau memberikan undangan pernikahanku dengan calon bapak dari anakku. Jangan lupa datang ke acara pernikahan kami. Ajak pasangan kamu juga biar bisa melihat betapa serasinya kami di atas pelaminan nanti," ucapnya dengan mimik wajah yang dibuat secentil mungkin. Sengaja dibuat seperti itu untuk membuat Dinar merasa cemburu atas pernikahan mereka. Mendengar ucapan Sitta, Arya makin mendekatkan badannya ke badan Dinar. Tangannya hampir memeluk tubuh langsing istri sah-nya itu. Tetapi dengan sigap Dinar menggeser tubuhnya. Arya memandang Dinar dengan tatapan penuh arti. Lalu tangan kekar Arya memeluk Dinar tanpa aba-aba. Mendapati tingkah Arya itu membuat isi kepala Dinar berpikir keras. Matanya menatap wajah Arya dan Sitta bergantian. "Diam dan ikuti permainanku," bisik Arya yang gemas pada Dinar karena tak memahami apa yang Arya maksud. Terpaksa Dinar pun menuruti kemauan Arya. "Jelas kami akan datang, aku ingin melihat bagaimana serasinya kamu dengan mantan calon suami istriku ini. Aku bisa bayangkan wajah calon suamimu ketika kami datang dengan senyum bahagia dan pelukan mesra." Arya berkata dengan lantang. Ia membalas apa yang diucapkan Sitta dengan yakin dan mantap. Perempuan yang mengaku hamil itu merasa tersudut dengan ucapan Arya. Sekilas wajahnya merasa kaget, tapi dia berhasil mengontrol ekspresi wajahnya agar kembali seperti sedia kala. Sayangnya Arya bisa melihat hal itu. "Pernikahanmu pasti akan terasa sempurna dengan hadirnya bayi dalam rahimmu itu ...." "Tentunya," sahut Sitta bangga. Ia bak terbang melayang mendengar ucapan Arya. "Sayangnya itu anak haram!" sambung Arya lagi. Wajah Sitta seketika merah padam mendengar ucapan Arya yang sedang menyindir kehamilan pura-puranya. "Jaga mulutmu!" pekik Sitta menahan kesal. "Apalagi memangnya?" sambung Arya kembali. "Ada siapa sih kok berisik aja!" Bu Widyawati datang menghampiri putrinya yang sedang dipeluk oleh sang suami. Mata Bu Widyawati melotot melihat tangan kekar Arya sudah berada di pinggang Dinar. Ia senang mendapati anaknya yang menikah secara paksa sudah bisa menerima Arya. "Eh ngapain dia di sini? Belum puas ya sudah bikin gara-gara?" sindir Bu Widyawati dengan raut wajah yang sudah penuh dengan amarah. Ia pun kesal setengah mati pada Sitta, karena ulahnya yang nekat itu sampai membuat keluarganya menahan malu. "Ah ada Ibu juga, Ibu boleh datang diacara pernikahan kami nanti. Ini undangannya," ucap Sitta sambil mengulurkan undangan di tangan Bu Widyawati. Tangan wanita paruh baya itu meraih undangan dalam genggaman Sitta lalu membaca nama kedua mempelai dengan alis yang saling bertaut. "Oohh akhirnya kamu menikah juga? Selamat, tapi saya tidak akan datang. Buat apa datang di pernikahan orang yang sudah membuat pernikahan anakku kacau balau!" ucap Bu Widyawati sambil mencebik. "Yang lalu biar berlalu lah, Ibuu! Anggap saja putri Ibu memang tidak berjodoh dengan Mas Dhanaku," ujar Sitta dengan santainya. "Memang kamu bisa mengembalikan jodohku yang telah mati karena ulahmu?" sahut Bu Widyawati dengan tatapan tajam menusuk mata bulat nan hitam milik Sitta. Sitta terperanjat mendengar ucapan Bu Widyawati. Ia salah tingkah karena memang ia yang telah merencanakan itu semua. Padahal maksud Bu Widyawati adalah yang lalu biar berlalu dan waktu tak akan bisa mengembalikan jodohnya itu. "Jodoh Ibu bukan urusan saya. Yang jelas ini undangan khusus untuk Ibu saja. Nanti kami akan menjamu Ibu sekeluarga dengan sebaik mungkin agar kalian merasa nyaman di pesta kami nanti. Termasuk Dinar, kamu harus merasa nyaman di sana nanti," ucap Sitta. "Jelas Dinar akan merasa nyaman. Karena dia mempunyai suami yang baik, yang tidak merusaknya dengan menghamilinya lebih dulu. Lihatlah betapa mesranya dia dan suaminya yang penuh cinta ini." Mendapati ucapan Bu Widyawati, Arya merasa tertampar. Ia telah memasang tembok pembatas antara dirinya dan Dinar tapi Ibunya menganggap hubungan keduanya adalah hubungan yang mesra. Sayangnya rangkulan yang diberikan Arya adalah rangkulan kepura-puraan. Sitta mencebik melihat Dinar dan Arya yang tampak mesra. Ia memang berhasil merebut Dhana dari Dinar tetapi ia telah gagal merebut kebahagiaan yang Dinar rasakan saat ini. Walau kebahagiaan itu hanya tampaknya saja tapi cukup membuat hati Sitta cenat cenut. Mendapati wajah Sitta yang kesal, Arya makin semangat mengerjai Sitta. Ia tak peduli dengan perasaan Dinar yang merasa bingung dengan sikap Arya yang menurutnya berubah-ubah. Tangan Arya makin erat merangkul pinggang Dinar. Bahkan senyum bahagia dan wajah yang berseri sengaja ia pasang di wajahnya untuk menutupi kepura-puraan itu. Dada Dinar berdebar mendapati rangkulan Arya di tubuhnya yang makin intens. Selama pacaran dengan Dhana ia tak pernah mendapati Dhana berlaku demikian. Pacaran yang dilakukan Dinar dengan Dhana adalah pacaran yang sama-sama menjaga diri dari sentuhan lawan jenis. Makanya Dinar tak percaya jika yang dikandung Sitta adalah anak Dhana karena ia paham bagaimana gaya pacaran Dhana. "Lihat, kan? Bagaimana mesranya kedua anakku? Terima kasih kamu sudah membuat pernikahan ini terjadi dan memberikan kebahagiaan untuk anak-anakku," ujar Bu Widyawati mantap. Hati Sitta makin kerut-kerut melihat tingkah Arya pada Dinar dan ucapan Bu Widyawati. Ia mau membuat Dinar benar-benar sakit hati pada Dhana dengan benar-benar menghadirkan seorang bayi dalam rahimnya. Ah sayangnya pura-pura hamil saja tak cukup membuat Dinar menderita.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD