Bab 8: Surat Undangan

1248 Words
Dinar terperangah menatap tubuh Arya yang berjalan menjauh. Ucapannya bak dua mata pisau yang bisa menusuknya dari arah manapaun. Sebenarnya ucapannya itu hanya untuk menggertak Arya saja tapi ternyata ucapan itu ditanggapi serius. Bibir Dinar mengembuskan napas kasar sebagai ungkapan kekesalannya. Ia tak habis pikir dengan kelakuan sang suami itu. Ya sudahlah, tak ada yang bisa ia lakukan selain menerima semua ini dan benar-benar belajar menjadi istri yang baik. Sekalipun ia harus memaksa hatinya untuk adaptasi di tempat dan lingkungan yang baru. "Segera berkemas, kita akan berangkat besok pagi. Aku sudah tak bisa lama-lama meninggalkan pekerjaanku di sana." Arya kembali lagi melintas di hadapan Dinar yang masih mengikuti gerak tubuh lelaki tegap itu berjalan. Sebuah ponsel yang baru saja ia ambil di atas nakas dibawanya keluar dari kamar tidurnya. Dinar mengangguk pasrah. Pandangan matanya tak sengaja melihat cincin yang tersemat di jari manisnya sebagai lambang ikatan pernikahan yang belum lama dilangsungkan. Ia memainkan cincin itu dengan jari lainnya. Betapa ia merasa tengah dipermainkan oleh takdir. Dinar membuang napas kasar sambil berjalan meninggalkan kamar tidurnya. Hatinya sedang berkecamuk, hendak marah tapi tak tahu marah kepada siapa. Koper besar yang berada di atas rak dalam gudang menjadi tujuan Dinar masuk ke dalam ruangan yang terletak di belakang rumah. Sebuah kursi plastik ia bawa untuk meraih koper itu. Tubuh Dinar yang hanya 155 senti meter membuatnya kewalahan untuk mengambil barang tersebut tanpa bantuan alat. Istri Arya itu mendesah kesal sebab koper yang berada di atas dan dipenuhi banyak debu. Rasanya ia tak sanggup menarik koper itu tanpa bantuan orang laki-laki. Ada satu laki-laki tetapi ia enggan meminta bantuannya. Gengsi. "Ambil apa, Nduk?" tanya Bu Widyawati saat melihat pintu gudang itu terbuka. Ia berdiri di ambang pintu sambil mengamati tingkah Dinar di dalam gudang yang sedang mengambil ancang-ancang untuk naik ke atas kursi. Mendengar pertanyaan Bu Widyawati membuat Dinar urung naik ke atas kursi itu. Ia menoleh ke arah Bu Widyawati untuk menjawab pertanyaannya. "Mau ambil koper, Bu. Mas Arya minta aku buat siap-siap kembali besok pagi." "Ya bagus itu. Kamu harus patuh dan nurut selama perintahnya untuk kebaikan bersama." Dinar mencebik mendengar ucapan Bu Widyawati itu. Mudah untuk memerintah tetapi bagi yang melakukannya, hal itu terasa berat. Dinar pun kembali mengambil ancang-ancang untuk segera naik. Tak banyak waktu untuk bersiap, hanya ada waktu setengah hari sampai malam nanti ia harus memilah dan memilih barang-barang yang harus dibawanya ke rumah yang baru. Saat kaki Dinar sudah berada di atas kursi, salah satu kaki kursi itu meleyot sehingga kursi itu roboh ke sisi kanan. "Aaarrgghh." Dinar berteriak. Seketika tubuh Dinar terbang dan jatuh di atas dua tangan kekar yang dengan sigap menahan tubuh Dinar agar tak jatuh ke atas lantai. Kedua telapak tangan Dinar menutupi mukanya. Ia tak berani menatap langit-langit ruangan. Dalam bayangannya ia akan jatuh terjerembab ke dasar lantai yang jelas akan terasa sakitnya. Namun setelah beberapa saat terjatuh ia tak juga merasakan kerasnya lantai. Ia pun melepas tangannya yang menutupi wajahnya. Pandangan mata Dinar dengan seorang lelaki yang menahan tubuhnya itu beradu. Sorot mata keduanya saling terpaku menatap wajah tampan dan ayu yang ada dihadapan masing-masing. Perlahan debar jantung di d**a Dinar bergerak semakin cepat dan tak beraturan. "Berat banget sih!" Arya menggerutu. Ia salah tingkah mendapati pandangannya bersambut dengan Dinar. Dinar pun segera bangkit dari pelukan lelaki yang beberapa hari lalu telah mengambil alih tanggung jawab dari ayahnya. "Ya, maaf. Namanya juga kecelakaan," balas Dinar malu-malu. Ia segera berdiri dari pelukan Arya yang tanpa aba-aba melepas pegangan tangannya dari tubuh Dinar. "Mau ambil apa memangnya? Ibu suruh aku bantu kamu," ketus Arya sambil berjalan mendekati kursi yang jatuh. Tangannya meraih kursi yang roboh itu untuk diberdirikan kembali. "Itu mau ambil koper di atas situ," ujar Dinar takut-takut. Ia menunjuk koper yang ada di atas lemari kayu usang milik almarhum neneknya. "Ambil gini aja nggak bisa! Manja amat!" gerutunya sambil menarik koper itu dari atas lemari tanpa bantuan kursi. Debu-debu beterbangan karena gerakan kasar yang dilakukannya. "Uhuk-uhukk!" Dinar terbatuk. Tangannya mengibas-ngibaskan debu yang beterbangan didekatnya. Satu tangannya yang lain menutup mulutnya agar tak kemasukan debu yang sedang beterbangan. Koper itu diletakkan di atas lantai oleh Arya. Ia segera pergi usai membantu Dinar mengambil koper itu atas perintah Bu Widyawati. Arya benar-benar tidak peduli pada Dinar yang kepayahan membersihkan koper itu dari debu yang menutupinya. "Dasar laki-laki ngga peka! Sudah tahu ada wanita kesusahan ambil koper malah pergi gitu aja!" gerutu Dinar usai Arya berjalan menjauh. Wajahnya menggerutu kesal dengan bibir yang maju lima sentian. "Apa kamu bilang?" ujar Arya yang ternyata belum terlalu jauh dari Dinar. Ia berjalan mundur untuk menampakkan dirinya dihadapan Dinar. Istri Arya itu kaget melihat badan Arya diambang pintu. Dikiranya sosok yang dikesalinya itu sudah pergi menjauh. Tapi ternyata tubuh tegap itu masih berada di sekitarnya. Perlahan rasa malu menyelimuti diri Dinar. Sinar mentari mulai menerobos masuk ke dalam celah kamar Dinar yang masih tertutup jendela. Kebiasaannya bangun pagi tak berlaku untuk hari ini. Rasa malas menghinggapi tubuhnya dan semakin erat memeluk guling ke dalam dekapannya. Mendengar suara bising di dapur membuat Dinar tak tega membiarkan perempuan yang telah melahirkannya itu berkutat seorang diri. Dengan langkah yang berat, Dinar terpaksa membantu Bu Widyawati yang sedang kewalahan dengan kompor dan wajannya. "Masak apa, Bu?" tanya Dinar mendekati ibunya. Matanya melirik ke dalam wajan dan panci yang ada di hadapan Bu Widyawati. "Ini masak sup brokoli sama ayam kecap. Ini bisa buat bekal kamu diperjalanan nanti." Bu Widyawati berbicara tanpa mengalihkan pandangannya dari wajan yang didalamnya terdapat ayam yang sedang ia goreng. "Ngga usah repot-repot lah, Bu. Banyak yang jual makanan di pinggir jalan nanti." Dinar mengelak. Ia lalu duduk di atas kursi meja makan yang tepat berada di samping meja dapur yang terbuat dari keramik itu. "Eee, ngga boleh sering-sering jajan di luar, Nduk! Jadi istri itu harus bisa berhemat. Jangan apa-apa beli, butuh ini langsung beli, butuh itu juga langsung beli. Kamu harus bisa mengatur keuangan sehemat mungkin." Dinar mulai malas mendengarkan ibunya berceloteh. Ia pun berpindah posisi ke atas sofa yang terletak di depan televisi. "Nduk dibilangi kok malah kabur, loh!" Bu Widyawati sedikit kesal terhadap Dinar. Dalam hatinya terbersit sedikit rasa was-was melihat tingkah Dinar yang acuh pada nasihatnya. Ia ragu Dinar bisa menjadi istri yang baik dalam bahtera yang dibangun tanpa cinta itu. Wanita paruh baya itu hanya mampu geleng-geleng kepala melihat sikap abai Dinar. Tak lagi mau memeprdulikan Dinar, Bu Widyawati segera menyelesaikan pekerjaannya. Ia mau anak dan menantunya segera sarapan pagi ini. Kesan baik harus diberikan sebelum sang menantu kembali ke kediamannya di Surabaya. "Sudah selesai, Bu?" tanya Dinar saat ia tak lagi mendengar suara bising letupan minyak yang digunakan untuk menggoreng ayam. "Sudah selesai. Dah sana panggil suamimu ajak makan," titah Bu Widyawati. Dinar mencebik. Ia malas kalau sudah diminta untuk sesuatu yang berhubungan dengan Arya. "Hei, sama suami sendiri kok begitu?" "Biarin aja lah, Bu. Nanti juga bangun sendiri!" gerutu Dinar. "Kamu itu sudah jadi istri kok gitu sama suaminya! Sudah sana buruan bangunin!" perintah Bu Widyawati seraya mendorong badan Dinar menjauh. Dinar akhirnya menurut. Ia berjalan dengan malasnya ke dalam kamar. Dengan berat hati ia menggoncang-goncangkan bahu Arya yang masih terbuai oleh mimpi. Usai sarapan dan bersiap, terdengar bunyi ketukan di pintu depan. Kamar Dinar yang berada di ruangan paling dekat dengan ruang tamu membuatnya segera berjalan mendekati pintu utama. Dinar membuka anakan kunci dan segera menarik hendel pintu itu untuk melihat siapa yang datang pagi ini. Mata Dinar membulat saat mendapati seorang perempuan yang tak asing datang dengan membawa selembar undangan sambil menatap Dinar dengan senyum miring.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD