Bab 7: Keyakinan

1133 Words
Widyawati berjalan dengan tergesa menuju kamar Dinar. Dengan cepat ia membuka pintu kamar Dinar tanpa mengucapkan salam. Hatinya sudah tak sabar untuk menuntut jawaban dari Dinar atas kesepakatan yang sudah mereka buat itu. "Ibu! Bikin kaget aja!" pekik Dinar saat tiba-tiba Widyawati duduk di sebelah Dinar yang tengah berdzikir. "Ibu mau bicara sama kamu! Tapi di kamar Ibu." Dinar menatap ibunya dengan kening mengernyit. Tak biasanya ia melihat wajah sang ibu begitu kesal saat bicara kepadanya. Anak tunggal Widyawati itu pun segera melepas mukena yang tengah dipakainya lalu melipatnya. "Tumben sih, Bu? Ada apa?" tanya Dinar dengan tatapan selidik. Tetapi yang ditatap malah melengos dan segera bangkit dari duduknya. Widyawati kembali keluar ruangan tanpa permisi. Tubuhnya berjalan dengan cepat karena menghindari Arya yang bisa masuk kapan saja di kamar mereka. Dinar meletakkam mukena yang sudah dilipat di atas nakas. Ia segera merapikan rambutnya yang sedikit acak-acakan karena terkena mukena. Wanita yang baru menikah itu pun mengikuti langkah sang ibu untuk masuk ke kamarnya dengan hati penuh tanya. "Mau kemana?" tanya Arya saat keduanya berpapasan di ambang pintu. Dinar menoleh sejenak. Ia menatap wajah sang suami dan melihat gurat cemas dalam sorot mata kecokelatan milik Arya. Kening Dinar pun turut mengerut. "Mau ke kamar ibu, kenapa?" Dalam hati Dinar sudah bisa menebak obrolan dalam telepon tadi pasti berakhir dengan pertengkaran. Sebab keduanya masih sama-sama proses menerima keadaan yang menyulitkan. Tetapi Dinar pun tak bisa berbuat banyak. Ia lalu kembali berjalan meninggalkan Arya dengan kekesalan yang membalut hatinya. "Ada apa, Bu?" tanya Dinar usai membuka pintu kamar ibunya. Ia melihat sang ibu tengah duduk di bibir ranjang dengan ponsel berada dalam genggamannya. Wanita paruh baya itu mendongak menatap wajah Dinar yang tengah memaku pandangan pada dirinya. Tak ada senyuman atau keramahan sedikitpun pada wajah wanita itu. "Masuklah, ibu mau bicara." Nada suara yang datar dan terkesan dingin membuat Dinar segera menuruti perintah sang ibu. Ia pun penasaran hal apa lagi yang akan disampaikannya. "Ada hal penting yang mau Ibu sampaikan?" tanya Dinat memulai obrolan. Ia meraih satu bantal yang berada dekat Bu Widyawati untuk diletakkan di atas pangkuannya. Bu Widyawati meletakkan ponsel ke sebelah tempatnya duduk. Ia lalu memantapkan pandangan pada wajah Dinar yang polos tanpa mekap sedikitpun. "Kesepakatan apa yang sudah kalian buat?" tanyanya langsung. Sorot mata itu mengunci wajah Dinar. Ia tak bisa leluasa bergerak mendapati tatapan tajam milik ibunya. "Maksud Ibu?" tanya Dinar pura-pura tak paham. "Ibu dengar obrolan Arya barusan ditelepon. Dia bilang sudah membuat kesepakatan dengannya, apa dengannya itu yang dimaksud adalah kamu?" Dinar tak lagi bisa mengelak. Ia pun lantas menunduk pilu mengingat kembali kejadian sebelum Magrib datang menyapa. "Dinar masih belum bisa menerima pernikahan ini. Dinar butuh waktu. Mas Arya mengajak Dinar untuk membuat kesepakatan bahwa kita sama-sama akan memutuskan untuk berpisah. Awalnya Dinar menyanggupi tetapi setelah aku bicara dengan Mas Dhana, ia pun akan mengalami hal yang sama dengan Dinar. Benar kata Ibu, Mas Dhana juga akan menikahi Sitta," papar Dinar. Dadanya bergeral melambat seiring dengan rasa nelangsa dalam hatinya. Bagi gadis manapun, lelaki yang diharapkan menjadi pasangan halalnya adalah lelaki yang sangat dicintainya. Tetapi bagi Dinar, ia tak mendapatkan kesempatan itu. Keadaan memaksanya mendapati takdir yang menyesakkan. Ditambah fakta yang menyakitkan atas diri sang kekasih. "Sudah Ibu bilang untuk menerima pernikahan ini dengan lapang d**a. Pernikahan bukan mainan yang bisa seenaknya kawin cerai. Menikah dengan siapapun pasti akan mengalami masalah yang sama. Tinggal dari diri kamu sendiri, siap menerima keadaan suamimu atau tidak. Buat apa membuat kesepakatan untuk berpisah? Padahal kamu tahu sendiri Dhana sedang menanggung aib besar." "Tapi Dinar belum bisa melupakan Mas Dhana, Bu! Dinar masih cinta!" "Cinta saja tak cukup untuk bekal hidup berumah tangga, Nak. Dengan siapapun kamu menikah dan tinggal bersama, kalau hatimu terbuka dan mau menerima keadaan pasangan, cinta itu akan hadir dengan sendirinya. Yang harus kamu tahu adalah asal usul keluarganya dan jaminan masa depannya." "Tapi hati manusia tak bisa dipaksakan, Bu!" Dinar terus mengelak. Ia masih belum bisa menerima takdir yang menghampirinya. Bu Widyawati memegang jemari Dinar dengan lembut. Ia membingkai wajah Dinar dengan dua bola matanya yang sudah banyak berkurang nikmat pandangannya. "Percaya pada Ibu. Arya adalah lelaki yang baik, hanya saja pertemuan tanpa perkenalan kalian membuat keduanya sama-sama merasa asing." Bu Widyawati menjeda ucapannya. Ia melepas pegangan tangannya pada jemari Dinar lalu berganti mengusap rambut Dinar yang sedang tergerai indah. "Jadilah istri yang baik untuk Arya, rebut hatinya dari kekasihnya. Kamu adalah istri sahnya, kamu lebih berhak atas diri Arya. Jangan biarkan wanita lain merebut apa yang telah Allah limpahkan padamu." Dinar berulang kali membuang muka. Tetapi remasan lembut tangan Bu Widyawati membuatnya kembali mengarahkan pandangan pada wanita yang telah melahirkannya itu. "Nak," panggil Bu Widyawati pada Dinar yang sedang membuang muka. Sesekali kepalanya mendongak untuk menghalau air yang akan menetes dari sudut matanya. "Lihat Ibu," pinta Bu Widyawati. Dengan ragu Dinar menatao wajah sang ibu. "Ibu paham bagaimana perasaanmu. Tapi yang harus kamu ingat, dalam rahim wanita itu ada benih dari Dhana. Kamu rela mengambil hal calon bayi itu dan membuat bayi itu lahir tanpa ayah?" tanya Bu Widyawati dengan tatapan tajam. Dinar terperangah. Sorot matanya tak lepas dar raut senja Bu Widyawati. Pikirannya mulai menimbang-nimbang ucapan ibunya. "Kamu tega mengambil hak calon bayi itu? Sementara kamu tahu bagaimana rasanya kehilangan bapak?" tanya Bu Widyawati lagi dengan mata penuh serpihan kaca. Ucapan Bu Widyawati berhasil menembus sisi terdalam dalam segumpal daging dalam d**a Dinar. Rasa kehilangan adalah hal yang paling menyakitkan. Bagaimana ia tega mengambil hak sesuatu yang menjadi milik orang lain sementara dia sendiri tahu rasanya kehilangan. Dinar sesenggukan. Hatinya membenarkan apa yang ibunya ucapkan. Perlahan ia mengusap sisa air dari sudut matanya. Embusan napasnya teratur seiring dengan tangisnya yang mereda. "Baik, Bu. Dinar akan berusaha," ucap Dinar yakin. "Jangan menyerah sebelum berjuang. Kamu belum berusaha menjadi istri untuknya, jangan asal memutuskan untuk berpisah. Bagaimana pun kami menang banyak karena kamu mendapatkan restu kami," sambung Bu Widyawati lagi. Ia berusaha tetap meyakinkan Dinar agar tak goyah akan wejangan yang ia berikan. Kesedihan terdalam bagi orang tua adalah melihat perpisahan yang terjadi pada putra dan putrinya. Meskipun perceraian dibolehkan tetapi itu terasa menyakitkan bagi orang tua. Dinar kembali ke dalam kamarnya dengan perasaan yang lebih tenang dan baik. Ia sudah memantapkan hati untuk melanjutkan pernikahan ini. Langkah Dinar melambat saat melihat Arya sedang memegang kepalanya dengan raut kesal yang tak pudar sejak kepergiannya ke kamar sang ibu. "Ada apa dengan ibumu? Mengapa mengajakmu bicara? Apa ada hal penting?" tanya Arya cepat. Ia berharap ada keajaiban yang membuat orang tua Dinar turut memberi izin untuk keduanya berpisah. "Tidak ada apa-apa. Hanya saja Ibu memintaku untuk belajar menjadi istri yang baik buatmu." Dinar menjawab dengan nada suara yang datar dan santai. Arya menatap wajah Dinar dengan kesal. Seketika pikirannya terbersit ide yang tak biasa. Ia berjalan mendekat ke tubuh Dinar. "Oke, kita pulang ke rumahku besok siang."
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD