Mata Dinar menatap lamat foto yang ada dalam layar ponselnya. Wajah oval dengan mata cokelat yang dihiasi dengan bulu mata tebal. Alisnya tebal dan rambutnya hampir menyambung denganalis sebelahnya. Kulitnya tidak terlalu putih membuat wajahnya terkesan manis.
Puas menatap wajah tampan dalam layar itu, Dinar menghela napas dalam.
Wanita yang baru saja sah menjadi istri Arya itu menangis tersedu di halamann belakang seorang diri. Jawaban Dhana atas ajakannya untuk bersatu kembali membuat hatinya terpukul. Benar ucapan ibunya, Widyawati, Dhana akan menyusulnya untuk menjalin sebuah ikatan pernikahan tanpa cinta, sama seperti dirinya.
Bedanya, anak menjadi pengikat paling kuat antara Dhana dan Sitta. Sedangkan antara Arya dan Dinar, hanya sebatas pernikahan tanpa harapan indah yang terajut bersama.
"Bagaimana aku akan menyampaikan hal ini pada Mas Arya?" gumam Dinar bingung. Tangannya meremas ponsel yang sedang dipegangnya. Giginya menggigit bibir bawahnya sedikit keras karena rasa cemas yang berlebihan.
Matahari semakin bergerak ke ufuk barat. Langit yang cerah sudah berubah warna menjadi kekuningan. Senja telah datang. Dinar yang sedang terpekur menimbang-nimbang segala kemungkinan dan menyiapkan hati juga pikirannya untuk menghadapi masa depan terpaksa harus masuk ke dalam rumah karena malam hampir menyapa.
Langkah kakinya terasa berat seiring dengan keputusan terbesar dalam hidupnya. Tak bisa ia mengelak atau berjuang untuk sebuah perpisahan yang halal namun sangat dibenci oleh Allah. Dalam hatinya berbisik, "Niatkan ibadah, semata-mata karena Allah."
"Bismillah," ucap Dinar memberi semangat pada dirinya sendiri.
Perlahan tangan Dinar membuka pintu kamarnya yang tak terkunci. Berulang kali ia membuang napas kasar untuk menata hatinya agar bisa bicara dengan tenang pada sang suami.
"Gimana? Sudah dapat keputusannya?" tanya Arya setelah Dinar keluar dari kamar mandi. Ia hendak salat di dalam kamar.
Mata sayu milik Dinar menatap Arya dengan pandangan nanar. Ia takut untuk mengatakan pada Arya fakta yang baru saja didapatinya. Berulang kali ia kembali menghela napas dalam, barangkali sesak dalam hatinya bisa terurai.
Dinar diam saja. Ia tak merespon ucapan Arya. Lidahnya kelu untuk mengatakan yang sebenarnya.
"Jangan bilang kamu ngga jadi menerima perpisahan ini?" tebak Arya dengan mata memicing. Satu sudut bibirnya terangkat.
Mendapati Arya dengan wajah demikian membuat nyali Dinar semakin menciut. Ia kembali mengingat ucapan sang ibu untuk bisa menerima pernikahan ini. Perempuan yang telah berwudhu itu berusaha menetralkan debar dalam dadanya.
"Maaf, Mas. Tapi, Mas Dhana sudah akan menikah dengan wanita yang dihamilinya. Aku tak mungkin merebut ayah dari bayi yang dikandung wanita itu. Tapi kalau Mas Arya masih tetap ingin berpisah, silahkan saja bicara pada orang tua kita. Saya tidak akan mempersulit."
Plong.
Dada Dinar terasa lapang setelah kalimat itu keluar dari bibirnya. Meskipun dalam hati ia berat untuk mengatakannya. Bagaimana status janda yang akan disandangnya tetap membutuhkan mental yang kuat sekalipun ia tak pernah disentuh. Perawan.
Arya mengusap rambutnya kasar. Jawaban Dinar cukup jelas dan membuatnya tak lagi punya kesempatan untuk sama-sama memutuskan berpisah. Alasan yang kurang logis jelas ditolak oleh sang ayah. Dan ia enggan berdebat dengan lelaki yang telah membesarkannya itu.
"Ah sial!" Arya mengumpat kesal.
"Aku tak mungkin memutuskan untuk berpisah jika kita tidak sama-sama memiliki alasan yang jelas." Arya berucap sambil memegang kepalanya dengan kedua tangan. Pandangan matanya menatap lantai yang beralaskan karpet untuk salat.
"Maaf, Mas. Tapi jika aku tak bisa bersama Mas Dhana, buat apa aku memilih berpisah. Menikah atau tidak, aku sudah tak b*******h lagi. Sebaiknya kita lanjutkan saja pernikahan ini. Aku akan tetap melayani Mas Arya sebagaimana seorang istri melayani suami." Dinar memainkan ujung bordiran mukena yang hendak dipakainya. Ia berdiri dan memandang Arya dengan takut-takut.
Arya membuang napas kasar. Ia lalu berdiri dan berjalan mondar-mandir di sisi ruangan yang masih kosong. Kedua tangannya terlipat di pingang. Sesekali tangan itu mengacak rambutnya dengan kasar.
"Maafkan aku, Sayang," gumam Arya lirih.
Namun telinga Dinar masih cukup jelas mendengar apa yang diucapkan oleh Arya.
"Mas Arya bilang apa?" tanya Dinar sengaja.
Arya menoleh ke arah Dinar. Keningnya mengerut menatap Dinar yang kepo dengan apa yang diucapkannya.
Dering ponsel milik Arya dalam sakunya membuatnya mengalihkan perhatiannya kepada benda pintar itu. Ia abaikan Dinar yang masih berdiri di belakangnya. Lelaki itu lantas keluar rumah sambil menempelkan ponselnya ke telinga kanannya.
"Gimana, Sayang? Kapan kamu akan balik? Aku sudah rindu," rengek Rieka dalam sambungan telepon.
Kepala Arya celingukan untuk memastikan tak ada satupun orang yang berada di sekitarnya. Lelaki itu ragu hendak memanggil dengan panggilan yang sama.
"Sama. Aku juga rindu. Sayangnya aku belum tahu kapan bisa balik." Arya menjawab dengan lirih.
"Kok bisa sih? Inget ya, kamu jangan sampai pegang-pegang perempuan itu! Awas aja kalau sampai dia hamil anak kamu," balas Rieka sengit. Ucapannya bak perintah bos pada bawahannya yang tak bisa ditolak.
"Enggak, Yang. Kamu tenang saja. Kita sudah buat kesepakatan," kata Arya lagi. Ia tengah menenangkan Rieka yang masih manja.
"Beneran ya? Usahain besok sudah balik, aku sudah ngga sabar pengen ketemu sama kamu."
"Aku ngga bisa janji, tapi tetep aku usahain," sambung Arya lagi.
"Jangan ngga janji, dong! Kamu udah batalin janji buat ngelamar aku tahun ini, masak sekarang batalin janji buat pulang juga!" rengek perempuan diujung panggilan itu.
"Kamu harus ngerti posisi aku! Keadaannya sudah ngga bisa kayak dulu lagi. Papa maksa aku buat ini, kamu maksa aku buat itu, pusing kepalaku!" cecar Arya tak bisa bila dipaksa harus melakukan apa yang Rieka mau.
"Kamu jahat!" Tangis Rieka makin menjadi. Ia tak bisa menahan rasa kesalnya dengan tidak menangis.
"Yang, jangan marah, dong! Aku beneran sayang sama kamu, tapi aku ngga bisa ngapa-ngapain sekarang!"
"Kalau sayang harusnya kamu berkorban buat aku!" Rieka makin tersedu. Ia merasa hubungannya sedang diujung tanduk. Jalinan cinta yang sudah dirakit sejak setahun yang lalu kini terancam hancur.
"Ngga semudah itu, Yang. Kondisinya sudah berbeda!" pekik Arya tertahan. Ia tak bisa bicara dengan leluasa di rumah mertuanya.
"Yang bikin beda ya kamu sendiri! Sudah tahu punya kekasih yang mau dilamar, masih mau saja menerima perjodohan itu!" sengit Rieka tak terima dengan keputusan Arya.
"Astagaa, Yang! Keadaannya terjepit, sulit buat dijelaskan!"
"Sulit gimana?!! Tinggal jelaskan saja apa susahnya! Kamu emang ngga pernah ngertiin aku!"
"Susah, Yang. Ngga bisa dijelasin ditelepon! Sebaiknya kalau aku sudah balik, kita bicara berdua ya? Aku bakal jelasin semuanya sama kamu. Janji, aku ngga akan ingkar lagi!"
"Jangan bikin janji kalau ujung-ujungnya kamu sendiri yang ingkar!" ketus Rieka sambil menahan emosi.
Tanpa permisi Rieka menutup panggilannya begitu saja. Ia kesal dengan Arya yang sudah dua kali tak menepati janji tapi masih membuat janji lagi.
Sedangkan Arya semakin frustasi saat Rieka tak bisa mengerti posisinya yang serba sulit. Usai menutup panggilannya, Arya meletakkan ponselnya di atss meja ruang tamu.
"Si al!"
Arya meremas rambutnya dengan keras. Ia bingung harus bagaimana sekarang ini. Kembali ke rumahnya pun tak bisa ia lakukan karena masih berkabung. Bertahan di rumah itu juga sama artinya dia menyakiti hati kekasih yang dicintainya.
Arya bangkit dari duduknya. Pandangannya mengelilingi ruang tamu tempatnya bicara dengan Rieka barusan. Ia harus memastikan tak ada satu orang pun yang mendengar pembicaraannya barusan.
Sayangnya, seorang perempuan sudah berada dibalik pintu pembatas ruang tamu dan mendengar semua obrolan Arya. Ia segera pergi begitu Arya selesai menutup panggilannya.