"Nduk, Ibu tahu pernikahan ini bukan pernikahan impianmu. Tapi pernikahan ini tetap sah dimata Allah. Ibu minta agar kamu belajar menerima takdir yang telah Allah gariskan untukmu. Berusahalah menjadi istri yang baik untuk suamimu bagaimana pun sikapnya padamu." Widyawati berujar kepada Dinar. Keduanya sedang duduk di meja makan setelah menyelesaikan sarapan pagi ini.
Dinar terdiam menunduk. Bagaimana pun perasaannya untuk Dhana masih utuh tak berubah sedikitpun. Ia masih ragu apakah bisa menjalani pernikahan terpaksa ini dengan baik. Hati dan pikirannya berkecamuk mencari pembenaran.
Widyawati bisa merasakan apa yang Dinar rasakan. Ia menatap wajah sang putri dengan penuh kasih. Tangannya terulur memegang jemari milik Dinar. Digenggamnya tangan itu dengan lembut seakan ia sedang memberi kekuatan untuk Dinar bisa menerima takdir ini.
"Jangan bersedih terus menerus. Ini kan seharusnya jadi momen bahagia kamu. Kamu harus mulai belajar menyenangi apa yang ada dalam diri suamimu. Dia sudah mengambil alih tanggung jawab ayahmu atas dirimu. Jangan bebani ia dengan dosa dengan sikap kamu yang buruk," sambung Widyawati lagi. Ia tak henti memberikan wejangan pada Dinar untuk legowo menerima takdir.
"Tapi Dinar masih cinta dengan Mas Dhana, Bu. Dinar takut ngga bisa menjalani pernikahan ini dengan baik." Air mata Dinar bercucuran mengalir dari sudut matanya. Dadanya naik turun tak beraturan seiring dengan nada bicaranya yang tersengal.
"Pernikahan kamu ini sudah disaksikan oleh almarhum bapakmu. Bagaimana mungkin kamu tak bisa menerima ini semua sementara ini pernikahan yang direstui oleh bapakmu sebelum beliau meninggal. Ingat, Nak. Tanggung jawab Dhana sudah besar sekarang. Ia sudah akan menjadi calon bapak. Dan itu bukan darah daging kamu. Belajarlah menerima ini semua, Nak."
Dinar menghela napas berat. Sungguh takdir ini begitu menyiksa batinnya. Kebahagiaan yang sudah di depan mata tiba-tiba saja musnah begitu saja. Tanpa direncanakan, tanpa ada kejadian menyakitkan antara dirinya dan calon suami, tiba-tiba saja semuanya batal.
Berulang kali Dinar menghela napas berat. Sesak masih terasa saat dadanya naik turun mengambil oksigen untuk melegakan rongga dadanya. Nyatanya meskipun napas sudah terasa lancar, takdirnya tetap tak berubah.
"Ini berat untuk Dinar, Bu." Dinar menyahut. Ia menatap wajah Widyawati dengan tatapan penuh rasa nelangsa.
"Percayalah, tak lama lagi Dhana pun akan menyusul untuk menikah juga. Perut wanita itu semakin lama akan semakin membesar, tak mungkin ditutupi terlalu lama."
Mata Dinar seketika menatap wajah Widyawati dengan tajam. Tak pernah terpikirkan dalam benaknya bahwa pernikahan yang sama pun akan terjadi pada Dhana dan Sitta.
"Anak akan jadi pengikat antara keduanya. Kamu jangan lupakan itu." Widyawati kembali menyahuti.
Mata Dinar mengerjap beberapa kali. Sinyal-sinyal terpaksa menerima mulai bermunculan dalam kepalanya. Tetapi hati kecilnya masih terus menolak apa yang diucapkan oleh Widyawati.
"Dinar harus bicarakan ini pada Mas Dhana, Bu!" lirih Dinar.
"Tak perlu, Nak. Dia sudah bukan menjadi urusanmu lagi. Seluruh tanggung jawab atas dirimu sudah beralih ke tangan suamimu. Baik dan buruknya sikapmu sudah bukan lagi menjadi tanggung jawab Ibu, bapakmu ataupun Dhana. Maka berhati-hatilah dalam bersikap. Kamu harus bisa memilah dan memilih mana yang baik dan buruk untuk kamu dan keluargamu kelak.
Kebahagiaan dalam rumah tangga itu tergantung dari sikap istri. Meskipun sebenarnya sikap istri juga tergantung pada sikap suami. Tetapi sadarilah bagaimana pernikahan ini bermula. Maka kamu yang harus belajar untuk menerima dan memperlakukan dia lebih dulu dengan sebaik mungkin. Ambil hatinya agar suamimu mau membuka hati untukmu."
Dinar terisak. Tak lagi mampu ia membalas ucapan sang ibu yang dia sendiri pun membenarkannya.
Dinar berlari menuju kamar tidurnya yang masih tercium aroma bunga sedap malam khas pengantin. Matanya menyapu sekeliling ruangan. Kakinya tertatih berjalan menuju ranjang besar yang masih terbalut sprei baru yang indah.
Perlahan tubuhnya meringkuk di atas ranjang pengantin. Dinar menatap ranjang yang ditempatinya dari sudut matanya yang basah. Hatinya remuk mengingati takdir menyakitkan datang padanya. Tak pernah sedikitpun terbersit dalam pikirannya semua ini akan menimpa dirinya dan keluarganya.
Aroma maskulin tercium dari sprei bekas badan Arya. Aroma itu hilang dan datang menghampiri hidung Dinar. Saat aroma itu datang padanya, ia menikmati bau wangi itu dengan semakin mendekatkan hidungnya pada sprei sumber aroma itu muncul.
Perlahan hati Dinar mulai berpikir untuk menerima pemilik aroma maskulin itu. Hatinya enggan menerima tetapi ucapan sang ibu terus terngiang di telinganya. Wejangan yang diberikan oleh ibunya rupanya masih belum bisa diterima dengan baik oleh Dinar.
"Kamu sedang apa begitu? Kalau tidak mau melanjutkan pernikahan ini ya sudah, kamu bisa mengajukan gugatan ke pengadilan. Selesai urusan! Ngga perlu sok menderita begitu." Arya tiba-tiba datang dan berucap dengan ketusnya.
Dinar langsung bangkit dari tidurnya. Air mata yang membasahi pipi itu diusapnya dengan kasar menggunakan punggung tangan kanannya.
"Aku ... Aku cuma ...." Dinar tergagap. Badannya beringsut turun dari ranjang dan berjalan mendekati dimana Arya berdiri dengan takut-takut. Kepalanya menunduk, tak berani menatap wajah lelaki yang berdiri di depannya itu.
"Saya menikahi kamu atas dasar rasa kasihan karena apa yang sudah menimpa kamu. Kalau kamu sendiri tidak berkenan lebih baik selesaikan saja pernikahan ini. Saya masih punya kekasih yang sedang menanti saya menjadi single," jelas Arya lagi. Ia bersandar pada dinding dekat pintu yang baru saja ia tutup. Kedua tangannya dimasukkan ke dalam saku kanan dan kirinya. Pandangan matanya menatap Dinar dengan santainya.
"Saya ... Saya cuma ragu," ujar Dinar lirih.
"Ragu? Yakin cuma ragu? Wajah kamu menunjukkan kalau kamu tidak berkenan dengan pernikahan ini. Kalau kita sama-sama tak berkenan, lebih baik memutuskan untuk mengakhirinya saja. Daripada sama-sama tersiksa dengan pernikahan yang tak kita kehendaki," cecar Arya lagi. Tak henti ia mencoba bicara pada Dinar agar memutuskan pernikahan ini secepatnya.
Dinar terdiam membisu. Pikirannya mulai ditelusupi oleh ucapan Arya yang meminta segera untuk mengakhiri pernikahan ini. Tetapi dalam batinnya ada yang berteriak. Ia bimbang.
"Apa Mas Dhana masih bersedia menerimaku jika aku telah sendiri?" batin Dinar bertanya-tanya. Kepalanya menunduk tetapi batinnya saling bersahutan.
"Apa saya bisa memikirkan hal ini sebelum benar-benar mengambil keputusan?" tanya Dinar lirih.
"Pikirkan lebih dulu, jangan sampai setelah mengambil keputusan kamu masih memiliki keraguan atas keputusan kamu," ujar Arya santai.
"Apa ini artinya Mas mengajak saya membuat sebuah kesepakatan?" tanya Dinar. Ia memberanikan diri memandang wajah lelaki yang telah sah menjadi suaminya itu.
"Boleh jadi. Jika dua manusia tak menghendaki adanya pernikahan, buat apa dilanjutkan? Bersepakat untuk mengakhiri lebih baik bukan?"
Dinar terdiam membenarkan. Mungkin ini bisa jadi jalan untuknya kembali menjalin hubungan dengan Dhana lagi. Perlahan hati Dinar dipenuhi dengan harapan-harapan indah kembali.
"Pikirkan lagi, setelah sama-sama memutuskan untuk sendiri kita harus menghadap ke orang tua kita masing-masing. Kalau perlu kita bicara berdua dengan mereka biar mereka yakin."
Dinar mengangguk setuju. Ia berjalan menuju meja rias untuk mengambil ponsel miliknya. Setelah benda itu berada dalam genggamannya, Dinar keluar dari kamar menuju sebuah taman kecil di halaman belakang.
Kabar baik ini sudah tak sabar untuk ia sampaikan pada Dhana. Harapan-harapan untuk kembali menjalin kasih mulai bermunculan dalam benak Dinar.
Dengan lincahnya ia mencari kontak milik Dhana dan segera melakukan panggilan untuk membahas masalah ini.
"Maafkan aku, Sayang. Ibu memintaku untuk bertanggung jawab pada Sitta dan pernikahan akan segera digelar," jawab Dhana usai Dinar menceritakan keputusam yang akan diambilnya.