"Hai Sayang," ujar Sitta mengagetkan Dhana. Tanpa permisi tangannya melingkar di leher jenjang milik lelaki yang tengah menyeruput cappucino hangat di depannya itu.
"Apaan sih!" kesal Dhana sambil menepis tangan Sitta kasar.
"Auuwww!" pekik perempuan berrambut blonde itu.
Dhana tak memperdulikan pekikan perempuan di depannya. Ia masih asik dengan minuman yang digenggamnya.
Tak peduli dengan sikap cuek Dhana, Sitta langsung saja menarik kursi di depannya untuk duduk. Ia meraih satu tangan Dhana yang sedang memijit keyboard laptop dihadapannya.
"Sayang, kapan kita menikah?" rengek Sitta. Suaranya dibuat semanja mungkin agar Dhana luluh. Ia bahkan tak peduli kondisi kafe yang sedang ramai. Tangan itu ia genggam dengan erat.
"Apaan sih kamu! Aku nggak merasa berbuat apapun denganmu! Aku masih tak percaya dengan semua tuduhan yang kamu lontarkan padaku!"
"Apa semua bukti yang sudah kuberikan masih belum cukup buatmu? Haruskah kucari sprei yang sudah kubuang untuk kutunjukkan bercak darah pe rawan ku padamu?"
Dhana memicing mendengar perkataan Sitta. "Aku tak percaya!"
Dhana segera pergi meninggalkan Sitta di cafe tersebut dengan membawa laptop miliknya. Ia berjalan menuju mobil di parkiran tanpa mempedulikan teriakan Sitta yang makin kencang.
"Sayang, tunggu," teriak Sitta sambil berjalan cepat menyusul Dhana. Ia bahkan tak peduli dengan sepatu hak tinggi yang dipakainya. Kaki jenjangnya itu terus saja berlari menyusul lelaki pujaan hatinya.
"Aku ikut!" ujar Sitta saat jarak sudah terpangkas. Tanpa aba-aba ia langsung membuka pintu mobil sisi kiri untuk ikut bersama Dhana.
"Ngapain kamu ikut? Pergi sana! Aku tak mau semobil denganmu!" hardik Dhana keras. Ia tak peduli bagaimana hancurnya hati Sitta.
Dengan kesal Sitta turun dari mobil Dhana. Ia menghentakkan kakinya sambil memberenggut. "Awas aja kamu! Kupastikan minggu depan pernikahan kita akan terlaksana."
Sitta lantas pergi meninggalkan kafe tempatnya bertemu dengan Dhana. Ia memanggil taksi yang baru lewat di depannya menuju sebuah alamat.
"Tidak mungkin anak saya melakukan itu, kamu jangan asal nuduh!" ujar Airin keras. Ia menekuk kedua tangannya kedalam pinggang dan menunjuk wajah Sitta dengan jari telunjuknya.
"Tapi kenyataannya saya sudah hamil, Bu. Ini anak Mas Dhana." Wajah Sitta memelas. Ia berusaha meyakinkan Airin agar percaya dengan sandiwara yang sedang diperankannya.
"Saya tahu bagaimana sifat dan sikap anak saya, kamu jangan asal nuduh!"
"Tapi ini benar, Bu. Apa perlu saya tunjukkan buktinya?" tantang Sitta. Ia mengeluarkan ponsel miliknya yang menyimpan gambar-gambar buatannya untuk memainkan peran ini.
Sitta membuka galeri di ponselnya. Ia menunjukkan gambar dirinya dengan Dhana yang direkayasa. Kondisi Dhana yang tertidur membuatnya leluasa mengatur segala posisi untuk membuat gambar yang sempurna. Yang jelas siapapun yang melihat pasti percaya bahwa mereka berdua telah melakukan perbuatan keji.
Dada Airin naik turun melihat gambar yang ditunjukkan oleh Sitta. Matanya melotot tajam dengan telapak tangan memegang kening. Ia tak habis pikir dengan kelakuan anak lelakinya itu.
"Ibu percaya kan?" Sitta tersenyum miring. Ia merasa berhasil mengelabuhi orang tua Dhana.
Airin tak bisa berkata-kata. Ia hanya mampu mengeluarkan air matanya dengan hati pilu. Sebenarnya ia tak percaya, anak yang dibesarkan dengan tangannya sendiri bisa berbuat demikian tetapi bukti yang dimiliki oleh Airin membuatnya tak bisa mengelak. Dalam foto itu benar anaknya. Anak yang dilahirkannya.
Sitta lantas keluar dari rumah Airin dengan hati bangga. Ia merasa menang telah berhasil mengelabui orang-orang. Bahkan ia berhasil membuat satu orang telah kehilangan nyawa akibat sifat ja hatnya itu.
"Rasakan pembalasanku kamu, Mas. Kamu tolak cintaku, maka hidupmu akan hancur berkeping-keping. Sudah kubuktikan bukan?" gumam Sitta dalam hatinya. Ia berjalan keluar rumah Dhana dengan senyum yang terkembang dari bibir merahnya yang ranum.
Sitta tak peduli tangisan pilu dari suara milik Airin dari dalam rumah. Masa bodoh dengan tangis mereka, yang dipikirnya hanya bagaimana dendamnya terlampiaskan.
Dhana bersujud dikaki Airin saat Airin memarahinya. Kondisinya yang tertidur membuatnya tak mampu berkata-kata sebab ia pun tak tahu apa yang sebenarnya terjadi malam itu.
"Dhana minta maaf, Bu. Dhana ngga sengaja," lirih Dhana dalam isakan. Ia terus saja bersimpuh dikaki Airin hingga tangan halus Airin memegang lengannya untuk bangkit. Air matanya jatuh membasahi kaki keriput milik wanita yang melahirkannya.
"Kamu tega mempermalukan Ibu, Nak," lirih Airin. Ia mengusap lembut rambut Dhana. Meskipun tengah marah dan terluka tak membuatnya memperlakukan Dhana dengan kasar. Ia dengan lembut membelai rambut anak lelakinya yang tertelungkup dipangkuannya. Hal itu membuat Dhana makin merasa bersalah.
"Maafkan Dhana, Bu. Dhana salah. Dhana sudah bikin Ibu malu," ujar Dhana.
"Ibu tak mengapa kamu menikah dengan siapapun, tapi kenapa harus dengan cara seperti ini, Nak?" Airin mengusap pipinya yang basah dengan punggung tangannya sebelum melanjutkan ucapannya.
"Semua sudah terjadi, tak ada jalan lain untuk menyelamatkan kehormatan keluarga kita kecuali dengan menikahi perempuan itu. Bagaimana pun kamu harus bertanggung jawab, Nak."
"Tapi, Bu. Dhana tak merasa melakukan apapun. Itu bukan salah Dhana, bukan darah daging Dhana!" elaknya. Ia bangkit dari pangkuan ibunya itu. Tatapan matanya lurus menghadap mata sayu sang ibu yang sedang terluka.
"Jangan semakin mempermalukan dirimu dengan sikap egoismu itu, Nak! Seserahan pernikahan dan lainnya sudah siap, pernikahanmu yang batal kemarin cukup untuk mencoreng muka Ibu. Jangan semakin menambah malu Ibu dengan penolakanmu," lirih Bu Airin memohon.
"Tidak, Ibu! Dhana tak bisa menikah dengan Sitta. Okelah kalau Dhana harus kehilangan Dinar tapi jangan paksa Dhana untuk menikahi perempuan itu!" Dhana memohon. Ia kembali bersimpuh di kaki ibunya.
"Sudah lah, Nak! Jangan banyak alasan! Menikah dengan siapa pun sama saja! Nasi sudah menjadi bubur, tak mungkin kamu merubah segalanya. Anak dalam kandungan perempuan itu butuh bapak!"
"Tapi itu bukan anak Dhana, Bu!" Dhana kembali mengelak. Ia berusaha meyakinkan ibunya.
"Tapi dia sudah menunjuk mukamu sebagai bapak dari janin dalam rahimnya! Bisa apa kamu? Dia punya bukti yang kuat!" Bu Airin menaikkan nada bicaranya. Ia tak lagi mau mendengar bantahan anak lelakinya itu.
"Buu," lirih Dhana dengan air mata berderai. Ia tak peduli pada ibunya dengan membiarkan air matanya meluncur bebas. Hatinya sudah remuk tak berbentuk. Rasa sakitnya bukan karena tuduhan Sitta, melainkan karena air mata ibunya yang sejak dulu selalu ia jaga untuk tak mengalir.
Pernikahan Dhana yang batal kemarin sudah cukup membuat aBu Airin tak berani keluar rumah. Ia malu kepada tetangga yang sudah datang membantu menyiapkan semuanya.
Dhana tertunduk lesu. Ia menghela napas dalam dan panjang untuk menghilangkan sesak dan perih yang hadir secara bersamaan.
Tanpa pamit Bu Airin berdiri dan masuk ke kamarnya. Ia masih saja menangis merasai nasibnya yang tragis. Anak yang di didiknya bukannya membuat bangga tapi malah mencoreng mukanya dengan sebuah kejadian tak disengaja.
Dhana memandang tubuh ibunya hingga sosok itu hilang dari hadapannya. Ia pun akhirnya turut masuk ke dalam kamar pribadinya. Kamar yang menjadi saksi kejadian terkutuk yang merubah impiannya untuk menjadi pasangan halal wanita yang dicintainya.
Dhana meremas rambutnya keras. Ia berteriak kencang dengan mulut ditutupi bantal di atas ranjang tidur miliknya. Rasa kesal dan amarah yang menumpuk dalam dadanya tak lagi bisa ia tahan. Apalagi setelah melihat air mata wanita yang sudah melahirkannya itu.
[Siapkan tanggal pernikahan kita.]
Sebuah pesan masuk ke dalam ponsel Dhana. Ia membaca pesan itu dengan kening mengerut dan mata memicing. "Perempuan gi la," gumam Dhana kesal.
Bukannya membalas pesan itu, Dhana malah membanting ponsel miliknya ke atas kasur. Ia lantas berbaring dengan bersandar kedua lengannya hingga mata sayu itu terpejam menyusuri alam mimpi.