bc

Natasya (Indonesia)

book_age16+
4.4K
FOLLOW
51.5K
READ
family
love after marriage
goodgirl
student
drama
bxg
EXO
like
intro-logo
Blurb

Cerita ini mengisahkan tentang sepasang remaja yang terikat persepupuan dan terpaksa menikah karena kesalahpahaman.

"Tasya berani bersumpah. Tasya masih utuh belum tersentuh. Belum diapa-apain. Tanya aja sama dia." Gadis itu memberikan penjelasan sambil melirik penuh kemarahan ke arah pemuda yang sedari tadi diam tak berkata apapun.

" Kamu pikir kami percaya. Nih Om Diki saksinya." Dany tampak marah dan kesal.

" Kalian harus menikah. Jangan bikin malu keluarga. Mama kecewa sama kamu." Heni menatap anak gadisnya sambil menangis.

"Ma..Pa...Tasya kan baru 18 tahun masa sih harus nikah muda. Ga mau...!!!" Tasya lalu menangis.

"Pokoknya besok lusa kalian menikah. TITIK." Bu Ratih memberikan keputusan yang tidak dapat diganggu gugat.

" Oma..!" Tasya semakin stres.

chap-preview
Free preview
Satu

"Pa...pa...cepetan dong nanti aku kesiangan." Tasya berteriak memanggil ayahnya. Mukanya tampak cemberut menahan kesal.

" Jangan teriak-teriak! Udah jadi anak SMA juga masih manja. Oh iya, nanti pulangnya ikut Erik aja ya." Ujar sang ibu yang sudah berada di teras depan mengantarnya. Wanita itu tampak menggendong Dhira. Salah satu anak kembarnya.

" Iya, Ma." Tasya mengangguk.

" Bentar dong, ini Dhifa malah rewel pengen ikut." Dany keluar dengan Dhifa yang masih berada di gendongannya. Berbeda dengan Nadhira yang tenang, Nadhifa sangat lincah dan selalu nempel dengan Dany. Setiap pagi pasti terjadi kehebohan karena anak berusia 2 tahun itu merengek minta ikut ke kantor dengan ayahnya.

" Adik sama Mbak Tini dulu ya, Kak Dhifa sama Mama." Heni menyerahkan Dhira kepada pengasuhnya. Kemudian mengambil alih Dhifa yang sedari tadi terus menangis.

" Ga mau...pa..pa..aku mau it..u..t, papa..." Anak itu terus menangis. Tidak mau lepas dari gendongan sang Papa.

" Nanti, Ya sayang. Papa kerja dulu ya. Nanti Kak Tasya terlambat. Nanti pulangnya papa beliin boneka. Udah jangan nangis. Tuh  Adik juga ga nangis." Sebenarnya Dany tidak tega melihat Dhifa menjerit-jerit. Namun karena hari ini hari pertama Tasya masuk sekolah dan Pak Ading sedang pulang kampung ke Sukabumi makanya ia yang bertugas mengantarnya.

" Ga ada yang ketinggalan kan?" Dany bertanya kepada Tasya yang sudah siap.

" Ga ada." Jawab Tasya yang mengenakan pita merah putih berkuncir dua khas siswa baru.

" Dah sayang...Assalamualaikum." 
Dany memberikan kecupan kepada Heni dan kedua anak kembarnya. Tasya pun tak ketinggalan mencium tangan ibunya. Dan menjembel pipi adik-adiknya yang tembem

" Atiiitt, Kaka.." Dhifa menjerit.

Waalaikumsalam. Udah dong Kak jangan gangguin adiknya. Hati-hati ya..Dah Papa, Dah Kakak..." Heni melambaikan tangannya.

Setelah kepergian Ayah dan Kakaknya, Nadhifa terlihat tenang. Ia bahkan mau turun dari gendongan sang ibu. Kakak kembar Nadhira itu memang manja. Sebenarnya kalau Dany sudah pergi ia tidak lagi rewel.

****

Tiba di sebuah SMA mobil yang dikendarai Dany berhenti. Tasya kini menjadi murid baru di SMA Kelas X. SMA Anak Cerdas.

" Dah Papa ...Assalamualaikum." Tasya mencium tangan Dany lalu keluar dari mobil.

Waalaikum salam. Hati-hati."

Jam menunjukkan pukul 06.40 pagi saat Tasya tiba di sekolah. Sebenarnya itu sudah terlambat karena seharusnya setengah tujuh ia harus sudah tiba.

Tasya berjalan tergesa-gesa.

" Murid baru ya?" Tanya seorang siswa yang mengenakan tanda pengenal Panitia.

" Iya Kak, aku kesiangan. Gimana nih." Tasya terlihat panik. Ini gara-gara Dhifa.

" Ayo Cepetan bareng aku." Katanya.

Mereka kini berjalan beriringan.

" Makasih Kak." Tasya tersenyum ramah.

" Nama kamu siapa?" Siswa berwajah tampan itu mengajak kenalan.

" Natasya, panggil saja Tasya. Ini di Nametage ada." Tasya tersenyum lucu. Anak OSIS itu jadi salting.

" Kenalin nama aku Fahmi." Siswa itu tampak pede  memperkenalkan dirinya.

Kini keduanya berjalan beriringan menuju AULA.

" Cie..cie..." Fahmi dan Tasya langsung mendapat sambutan ketika mereka melintas di sebuah koridor kelas XI. Sekumpulan anak-anak SMA menggoda mereka. Kemungkinan besar mereka adalah teman sekelas Fahmi.

***
Sesampainya di Aula Tasya langsung mencari barisannya. Tasya berada di barisan kelas X IBB atau kelas Bahasa. Barisannya terlihat lebih pendek daripada kelas lainnya. Jika dihitung mungkin kurang dari 20 Siswa. Tasya sendiri berdiri paling belakang. Tasya memilih kelas tersebut berdasarkan hasil psikotest dan ia juga sangat berminat di dunia sastra. Orang tuanya juga sangat mendukungnya.

" Hai, kamu Natasya kan anak SMP Ar-Rahman kelas IX B." Seorang siswa dari barisan sampingnya setengah berbisik menyapa Tasya. Tasya tampak mengingat- ingat. Ia tidak mengenalinya. Tapi siswa itu terlihat mengenal baik Tasya. Tentu saja karena di SMPnya dulu Tasya cukup terkenal.

" Iya." Tasya tersenyum.

" Aku Rifki dulu kelas IX A" Katanya.

" Seneng ketemu kamu lagi." Tasya berpura-pura mengingatnya. Padahal dulu mereka tidak saling kenal.

" Aku kelas X MIA1. Kamu di IBB ya?" Tanyanya.

" Iya."

Semua murid baru yang terdiri dari 10 kelas itu berbaris rapi. Lalu mereka semua digiring ke lapangan untuk mengikuti upacara bendera sekaligus penyambutan siswa baru oleh kepala sekolah tentunya sekalian perkenalan guru-guru.

***
" Lama banget sih..." Seorang siswa berwajah indo duduk di samping sopir terlihat mengomel begitu Tasya masuk ke mobil itu.

Waktu sudah menunjukkan puku 4 sore. Selama 3 hari siswa baru itu melaksanakan masa orientasinya sehingga pulang agak sore.

" Sorry, harus nunggu." Tasya meminta maaf.

" Aku udah nunggu 15 menit." Ujarnya dengan nada kesal.

" Iya..iya..maaf Erik. Aku tadi ngobrol dulu sama teman SMP aku." Sekali lagi Tasya meminta maaf.

" Dasar cewek..."

" Udah, ga usah marah gitu." Tasya manyun.

Tasya berada satu mobil dengan Erik, sepupunya.  Erik adalah anak Diana kakak kandung Dany yang tinggal di Belanda. Ia ingin bersekolah di Jakarta. Ia sudah lama tertarik tinggal di Indonesia dan mempelajari budaya Indonesia. Tasya dan Erik satu sekolah. Erik berada di kelas X MIA1.

" Kamu sekelas sama Rifki ya." Di perjalanan Tasya mencoba mencairkan suasana.

" Emang kenapa? Dia pacar kamu ya?" tanya Erik .

" Idih, sembarangan aja. cuma nanya doang. Dia dulu satu SMP sama aku."

" Kirain..."

" Apa? Jangan asal nuduh." Tasya ga suka dengan sikap Erik.

Keduanya sudah saling akrab mengenal sejak 3 minggu yang lalu. Saat ini Erik tinggal bersama Bu Ratih dan Pak Yusuf.

Setengah jam kemudian Mobil itu sampai di pintu gerbang rumah Tasya. Gerbang otomatis terbuka dan mobil pun masuk.

" Makasih ya Erik udah ngasih tumpangan." Seru Tasya. Namun Erik tidak menjawab hanya menganggukkan kepala.

" Besok aku jemput. Jam 6 Tunggu di gerbang. Jangan telat. Nanti aku tinggalin." Remaja blesteran Belanda yang fasih berbahasa Indonesia itu memberi peringatan.

" Iya Siap. Ga mampir dulu?" Tanya Tasya berbasa-basi.

" Udah sore. salam aja buat Tante dan Om."

" Ok. bye.."

****
TBC


editor-pick
Dreame-Editor's pick

bc

Bukan Ibu Pengganti

read
508.7K
bc

Kawin Paksa (Adams Family #3)

read
373.8K
bc

Marry The Devil Doctor (Indonesia)

read
1.2M
bc

Suamiku Bocah SMA

read
2.6M
bc

Chandani's Last Love

read
1.4M
bc

KELAM (Bahasa Indonesia)

read
673.6K
bc

My Unique Wife

read
219.9K
dreame logo

Download Dreame APP

download_iosApp Store
google icon
Google Play