Dua

953 Words
" Gimana hari pertama sekolahnya?" Heni mewawancara Tasya ketika anak gadisnya baru saja tiba. " Lumayan menyenangkan Ma. Kakak kelasnya juga pada baik. Dan yang cowok ganteng-ganteng." Tasya tersenyum ceria. Membayangkan situasi tadi. Ia langsung betah dengan lingkungan sekolahnya. Walaupun baru sehari berada di sekolah, Tasya sudah langsung punya banyak teman. Bukan hal yang sulit bagi Tasya untuk beradaptasi. Tasya yang Cantik, supel, ramah dan juga dermawan karena paling hobby mentraktir teman-temannya atau berbagi bekal makanannya sudah lebih dari cukup membuat teman barunya ingin menjalin persahabatan dengan gadis itu.  " Udah sana kamu mandi dulu. Bau...Ntar Papa keburu pulang." Perintah sang ibu. " Bentar Ma, laper banget nih..." Tasya malah mendudukkan bokongnya di sofa ruang tengah. Ia melemparkan tasnya asal. Tangannya langsung sibuk mengambil beberapa potong cake keju yang berada di atas meja. " Ih jorok banget. Kamu kan belum cuci tangan." Heni tidak suka dengan perilaku Tasya yang kurang memperhatikan kebersihan tangannya. " He..he..tanggung Ma." Tasya terkekeh. " Assalamualaikum." Dari arah ruang tamu terdengar suara Dany. " Aduh, Papa pulang tuh. Aku ke atas dulu ya Ma...mau mandi." Tasya buru-buru kabur berlari menuju tangga. Sebelum Dany tiba di ruang tengah. " Ha..ha.. Mama bilang juga apa. Ini hampir setengah jam malah sibuk ngemil." Heni menertawakan tingkah Tadya. " Hai sayang, anak-anak mana?" Dany mencium kening istrinya. Di tangannya sudah ada dua buah boneka gajah. " Si kembar di teras belakang lagi makan sama Tini. Tasya baru datang, sekarang lagi mandi." Beritahu Heni. Pria itu pun lalu menuju bagian teras belakang diikuti oleh istrinya. *** Tiba di ruangan kamarnya yang serba ungu. Tasya memang paling suka sama warna ungu. Ia langsung menuju kamar mandi. Dari dulu ia paling ga suka diomelin ayahnya gara-gara belum mandi atau ganti baju seragam. Udah seger. Berarti udah bisa nongkrong. Gadis itu lalu melirik arah jam dinding. Sudah hampir pukul setengah 6 sore. Saatnya berkumpul dengan keluarga sambil nunggu adzan maghrib. " Dhifa, Dhira...aduh yang punya boneka baru. Lho punya kaka mana ya?" Tasya menghampiri kedua adiknya yang berada di ruang keluarga lantai atas. Mereka ditemani Tini pengasuhnya, sedang asyik bermain boneka baru  yang tadi dibelikan ayahnya. " Ini.." Dhifa memberikan boneka jerapahnya ke tangan Tasya. " Ga mau ah...mau gajah." Tasya malah mencoba merebut boneka gajah berwarna abu-abu di tangan Dhifa. " Ga boyeh kaka...tu punya Pipa." Dhifa dengan bicaranya yang cadel merebut kembali boneka gajah yang diambil kakaknya. " Ni badus ka.." Dhira memperlihatkan boneka gajah miliknya. Dua adik kembar Tasya itu lucu-lucu. Keduanya bertubuh gemuk dengan pipi gembil. Wajahnya sangat sulit dibedakan karena kembar identik. Nadhifa sosok ceria, cerewet, tapi mudah menangis dan agak pelit. Senangnya Bernyanyi. Dia paling lengket dengan ayahnya. Sementara Nadhira sosok agak pendiam, terlihat lebih dewasa dan pintar. Bicaranya lebih fasih dibanding kakak kembarnya Nadifha. Hal yang dusukainya mewarnai. Nadhira dekat dengan Tasya. *** " Selama seminggu ini kamu pulang dan pergi ke sekolahnya bareng Erik ya sampai Pak Ading balik dari Sukabumi. Besok sampai lusa Mama sama  Papa mau ke Bali." Dany memberi informasi. Mereka bertiga sedang berada di ruang makan menikmati makan malamnya. " Iya Pa." Jawab Tasya pendek. " Erik ada di kelas mana Kak?" ibunya lalu bertanya tentang keponakannya. " X MIA1 Ma, kelasnya sih di samping kelas Tasya." " Erik tuh anaknya jenius banget. Tante Diana bilang hampir semua nilai raportnya 100." ujar Heni sambil menyendok makanannya. " Wajarlah dia kan anak profesor, Mama." Tasya terlihat enggan dibanding-bandingkan dengan orang lain. " Nanti kamu les matematikanya sama dia aja." Saran Dany. " Ga mau ah. Erik bikin bete. Aku mau nyari guru les lain aja. Lagian dia tuh kalau udah ngomel mirip banget Papa. Like uncle like nephew " Tasya tidak setuju. **** " Dila mau bobo ama kaka.." Tiba-tiba Dhira mendekat ke arah sang kakak. Dengan manjanya ia naik ke pangkuan Tasya ketika semuanya sedang menonton acara TV. " Oke, yuk ah bobo sekarang ya." Tasya menggendong Dhira hendak ke kamarnya. Bukan perkara yang sulit bagi Tasya untuk menidurkan adiknya. Sejak mereka masih bayi Tasya sering menidurkan adik-adiknya. Membuatkan s**u bahkan mengganti popoknya. " Sun dulu Mama sama Papa" Perintah Tasya. Lalu gadis cilik mematuhi perintah sang kakak. " Dada..h " Ujar Dhira dengan melambaikan tangannya. Ia lalu berjalan dituntun sang kakak. " Dah cantik, tidur nyenyak ya." Heni balik mengecup kening putrinya. Sementara Dhifa masih asyik berada di pangkuan Dany. Biasanya dia akan tertidur di pangkuan ayahnya. *** Pukul  setengah enam pagi Tasya sudah sarapan. Ia tidak ingin datang terlambat. Hari ini ia berangkat bersama Erik sepupunya. Pukul 7 nanti orang tua dan kedua adiknya akan pergi ke Bali selama dua hari menghadiri acara peresmian kantor baru Pak Yusuf sekalian kumpul keluarga Hadiwijaya. Tasya kini berdiri di depan pintu gerbang rumahnya menunggu jemputan sepupunya. Layaknya penumpang yang menunggu angkot atau taksi lewat. Tidak lebih dari  lima menit mobil yang ditumpangi Erik van Vollenhoven berhenti tepat di hadapan Tasya. " Seandainya tadi kamu ga ada aku tinggalin aja." " Dasar Mister Tega." " Oma sama Opa berangkat bareng ya sama ortu kamu." Tanya Erik sambil menoleh jok belakang yang diduduki Tasya. " Iya." " Coba kalau aku bukan siswa baru. Aku ingin sekali ikut." Pemuda itu tampak menyesal. *** " Pagi Tasya...." Suara seorang siswi menyapa Tasya yang baru saja berpisah dengan Erik. " Hai Gina, Silvi.." Tasya balik menyapa mereka yang menunggu Tasya. " Eh Tasya ada hubungan apa kamu sama Erik? Pake pergi sekolah barengan?" Tanya Silvi judes. Sepertinya tadi ia melihat Tasya turun dari mobil Erik. " Dia sepupu aku." jawab Tasya. Mereka mengobrol sambil berjalan menuju Aula. " Wa..h, yang bener." Gina setengah tidak percaya. " Masa aku bohong sih. Dia anak tante aku." " Kamu keren punya sepupu bule. Kebetulan dong...jodohin aku sama Erik ya. please..." Silvi yang dari kemarin ngecengin Erik langsung terlihat agresif. Silvi emang punya cita-cita kalau udah dewasa mau nikah sama bule makanya rajin les bahasa asing sana sini. Sampai masuk kelas IBB juga. " Haah? Kenalan aja belum." Seru Tasya. " Ya udah kenalin dulu dong." Rengek Silvi. " Aku juga ya...ntar jam istirahat." Gina juga memaksa Tasya. " Iya kawan-kawanku. Nanti kita serbu si Erik." Jawab Tasya kalem. Kedua teman barunya itu emang lebay banget. **** TBC
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD