“ Benarkah? Bagaimana kalau saya bisa membantu mencari mamamu.”
Mama?
Sejenak Eka berdiri didepan pintu setengah terbuka, mencerna arti kalimat yang baru dia dengar, kemudian kembali menutup pintu besar itu dan menatap pria yang bernama Bumi dengan tajam.
Hanya sedikit orang yang tahu masalah ini dan pria satu ini lewat detective sewaannya berhasil menemukan celah itu.
“ Apa yang anda katakan tadi?”
“ Saya bisa bantu mencari mamamu, Aditama.” Bumi tersenyum tipis sebelum duduk disofa single dan mengajak Eka kembali duduk didepannya lewat tatapan mata.
“ Saya yakin bukan tawaran gratis yang anda berikan.” Yakin sekali, pria licik sepertinya tidak akan memberikan bantuan cuma- cuma, itulah yang Eka pelajari selama hidup.
“ Pintar sekali. Kamu tahu maksudku dengan cepat.”
“ Katakan apa syaratnya!”
“ Cukup mudah.” Pria itu menyeriangai berbahaya. “ Jadilah simpananku.”
Sudah bisa ditebak dan Eka juga yakin tawaran yang diberikan hanyalah basa- basi saja.
“ Terima kasih atas tawaran anda.” Wanita itu berdiri dari sofa, membuka kembali pintu besar itu saat suara Bumi dengan santai berkata ,” Kamu tahu kemana harus mencari bantuan disaat- saat terakhir.”
Dalam mimpimu, pria busuk! Batin Eka dengan membanting pintu keras. b******k sekali pria satu itu, andai situasinya berbeda Eka pasti sudah menghajar pria itu sampai babak belur dan melemparnya di sarang Buaya!
Eka kembali ke ruang produksi dan memakai kembali alat QC-nya, sebuah tepukan hinggap dipundaknya dengan perlahan.
“ Eka, Apakah benar Tuan Bumi memangilmu langsung tadi? Apa yang beliau katakan?” Supervisor QC menatapnya khawatir.
“ Beliau hanya meminta keterangan tentang kejadian tadi, hanya itu.”
“ Syukurlah. Sekarang kerjalah lagi!” wanita itu menepuk Pundak Eka sebelum pergi kembali ke meja kerjanya. Seulas senyum sinis terpatri di wajah ayu itu, Pria seperti Bumi tidak akan menanyakan hal seperti itu.
Bel pulang berbunyi nyaring, seperti biasa hampir seluruh karyawan produksi masih tinggal di tempat kerja mereka tapi Eka tidak peduli hal itu. Wanita satu itu melepas atribut kerjanya dan menghadap langsung Supervisor QC dan berkata ,” Saya harus ke rumah sakit memastikan kondisi Rere dan memastikan adiknya di rumah.”
“ Saya tahu situasinya Eka, tapi kita tidak bisa seperti itu. Target hari ini belum terpenuhi dan quota eksport mingguan juga masih banyak.”
Sialan, bahkan disituasi seperti ini tidak bisa!
“ Maaf kalau saya boleh bicara, target dari Line QC tersendat karena barang output dari line yang tidak memenuhi target harian jadi kami sebagai QC bisa pulang tepat waktu apabila tidak ada penumpukan stock di tempat kerja kami.”
“ Eka kembali ke tempat kerjamu!”
Sial!
Secepatnya system kerja yang merugikan karyawan seperti ini harus dirombak!
Dering nyaring dari intercom yang berada didepan sang Supervisor QC itu berbunyi, memutus perdebatan keduanya.
“ Ya saya Supervisor QC ada apa?” wanita itu mendengarkan dengan terkejut sebelum menutup jaringan telepon.
“ Baiklah khusus hari ini, semua bagian bisa pulang lebih awal.” Hanya itu yang dikatakan supervisor pada Eka sebelum pergi mengumumkannya pada Supervisor yang lain. Sinar matahari sore baru hari ini bisa dirasakan karyawan produksi Wrap.co, suara lenguhan lega terdengar sepanjang perjalanan Eka keluar dari area perusahaan.
Eka berdiri didekat pos security menunggu ojek pesanannya datang, dia harus ke rumah sakit lalu memaastikan keadaan Deka.
“ Bagaimana kondisimu? Apa masih sakit?” Eka meletakkan parcel buah yang dia beli dijalan tadi lalu duduk di samping bankar Rere. Ya bisa dibilang satu ruangan ini berisi karyawan Wrap.co, bisa dilihat dari orang yang menjenguk mereka kini.
“ Sudah lebih baik. Tadi mereka menguras lambungku! Terima kasih kamu sudah menolongku. Andai kejadian ini tidak ada yang menyadarinya, mungkin akan ada lebih banyak korban yang berjatuhan.” Suara itu lemah diiringi senyum yang terkembang di bibirnya yang pucat.
“ Baguslah kalau begitu. Semoga cepat sembuh!”
“ Ya.” Gadis satu itu bergumam lemah dengan mata mulai meredup. Sepertinya gadis ini mulai mengantuk, efek obat yang baru diberikan perawat padanya.
“ Makanlah buah ini kalau kamu lapar lagi, sekarang aku akan melihat Deka.”
“ Ya. Terima kasih, Eka!” Dalam sekejap mata itu tertutup dan dengkuran halus terdengar. Eka langsung berdiri dari duduknya, meninggalkan ruangan itu setelah melambaikan tangannya pada yang lain.
Deka, anak yang berusia 7 tahun itu mengintip lewat jendela tatkala pintu rumahnya diketuk, perlahan dia memutar kunci pintu dan membukakan pintu untuk wanita yang dia ketahui sebagai teman kakaknya itu.
“ Kak Rere kemana?” bocah itu mengerjap polos, membuat Eka mengangkat paper bag restaurant ternama, menunjukkannya pada anak itu. “ kamu pasti lapar. Ayo kita makan!” Eka menggiring bocah itu masuk kedalam lalu mengeluarkan isi paper bag.
“ Kak Rere kemana?” untuk kedua kalinya bocah itu bertanya.
“ Kakakmu salah satu orang yang paling dipercaya atasan untuk memegang hasil produksi jadi Rere akan lembur untuk sementara waktu.” Mana mungkin Eka berbicara sebenarnya pada anak usia 7 tahun itu, dia tidak setega itu.
“ kakak jadi orang penting?” mata itu berbinar, “ Berarti setelah ini uang kakak akan banyak dan bisa memindahkanku ke sekolah yang lebih bagus!” ucapnya semangat.
“ Iya. Sekarang Makanlah.” Patuh, bocah itu langsung makan dengan lahap, sepertinya dia belum makan. Keduanya makan dalam diam sampai akhirnya jam berdentang tengah malam yang sunyi, Deka, bocah itu sudah sangat mengantuk.
“ Tidurlah, kalau kamu takut sendiri. hari ini Kakak akan menginap.” Eka mengelus surai itu dan menuntun Deka masuk ke dalam kamarnya sedangkan Eka, wanita itu masuk kedalam kamar kecil yang ditempati Rere.
Mata abu itu berpendar, mengamati sekitar, dengan segera dia membuka beberapa laci yang ada disana, sedapat mungkin dia harus mendapat beberapa berkas mengenai dua orang asing yang kini berada disekitarnya itu, memastikan dua orang ini bukanlah sesuatu yang mengancam dirinya.
Sangat ceroboh sekali Rere ini karena Eka menemukan berkas keduanya dengan cepat, manic abu itu membaca data- data yang didapatnya. Dari sana Eka tahu, dua orang ini sudah tidak memiliki kedua orang tua serta bukan berasal dari keluarga berada dan catatan keduanya bersih dari hukum.
Baiklah apa yang dia dapat ini rasanya sudah cukup.
Rere dan Deka. Clear.
Tapi tunggu dulu!
Eka yang hendak berbaring dipembaringannya itu menemukan sesuatu diatara tumpukan buku. Sebuah buku usang, dia membukanya.
Beberapa buah kliping dari koran yang terlihat sudah usang ditempel membentuk rangkaian peristiwa. Berbagai tajuk berita yang menyorot tentang kebakaran sebuah Rumah mewah yang juga digunakan sebagai sebuah pabrik roti berskala sedang.
Ada banyak kliping disana termasuk beberapa opini public yang menyorot beberapa orang yang diduga lalai dalam kebakaran itu. Dan salah satu foto usang yang terpampang disana adalah orang yang kini berada di meja Rere.
Kalau dilihat kejadian ini sudah hampir 6 tahun yang lalu terlihat dari tanggal yang tertera disalah satu tajuk berita.
Rere sedang mencari sesuatu, sama seperti dirinya?