Tamu Tak Diundang

1201 Words
Bumi sangat serius membaca salinan kerja sama dengan pihak buyer sampai- sampai dia mengacuhkan Winona yang sedari tadi menatapnya sebal dari sofa. “ Apakah sekarang pekerjaan itu lebih menarik dariku?” suara itu mulai menggema setelah hampir 30 menit kedatangannya. “ Kalau tidak menarik, untuk apa saya kerjakan.” Jawaban menohok itu membuat Winona sebal. “ Aunty, lihat itu putramu!” adunya pada wanita paruh baya yang sibuk dengan majalah fashion. “ Lelaki memang seperti itu sayang. Mereka akan mengacuhkan kita kalau menemukan sesuatu yang lebih menarik. Jadi sebagai wanita sebisa mungkin kita harus paling menonjol dan paling menarik untuk mempertahankan milik kita. Tahu sendirikan jaman sekarang seperti apa.” Sahut Annisa Khalifa, mama Bumi. “ Awas saja kalau berani!” ancam Winona dengan kepalan tangan mungilnya. “ Tenang saja, Sayang! Bumi itu seperti papanya.” Wanita itu mengelus lengan Winona lembut. “ Saya masih banyak pekerjaan, apakah kalian akan tetap disini sampai saya selesai dengan semua ini?” tunjuknya pada beberapa berkas diatas meja. “ Ini akan lama dan membosankan!” keluh Winona dengan menarik nafas panjang, mendramatisir. “ Apakah ini cukup?” Bumi menarik salah satu credit card dari balik dompetnya, dan benar saja mata itu berbinar. Seperti mendapat jackpot. “ Jangan khawatir, tidak akan sampai limit!” ucap gadis itu. “ Sekarang kalian berdua pergilah!” Usirnya. “ Kami akan cepat pergi!” balas Aunty Annisa dengan menggandeng lengan Winona sebelum keduanya menghilang dari balik pintu. Baiklah sekarang Bumi kembali membuka emailnya, membalas beberapa pesan saat suara intercom masuk. “ Tuan Bumi, nona Eka ingin bertemu dengan anda.” “ Bawa dia masuk.” Baiklah mari kita lihat apa yang akan dilakukan Aditama satu itu sekarang. Pintu terbuka dan Eka, wanita itu datang tidak mengenakan seragam produksinya, nafasnya sedikit memburu dan ada kemarahan dalam manic abu itu. “ Saya terima tawaran anda.” 7 jam sebelumnya, Kondisi Rere sudah mulai membaik, gadis satu itu pulang keesokan harinya dan disambut Deka dengan senyum lebarnya. “ Apa kakak sekarang sudah bawa uang yang banyak?” itu adalah kata pertama yang keluar dari bibir bocah satu itu. “ Hah?” Rere tak paham dan langsung menatap Eka minta penjelasan. “ Kak Eka kemarin bercerita kalau Kakak sekarang sudah jadi orang penting jadi Kakak sekarang sudah punya banyak uang, kan?” kejar sang Adik membuat Rere bingung. “ Aku bisa pindah ke sekolah yang lebih bagus, kan?” mata itu masih berbinar, menarik- narik lengan Rere dengan antusias. “ Biarkan Kakakmu istirahat dulu, dia lelah Deka. Sebaiknya sana kamu main!” usir Eka dengan menunjuk mainan yang berserakan diatas lantai. “ Ok!” tak ada bantahan dengan patuh bocah itu menghampiri mainannya lagi setelah mendapat jaminan kalau mulai sekarang uang kakaknya sudah banyak uang dan akan memindahkannya kesekolah yang bagus. “ Katakan padaku, apa yang sedang kamu cari.” Tak ada basa- basi, Eka mengambil buku yang dia dapat kemarin dan menyodorkannya. Gadis satu itu tersentak sebelum akhirnya dia menarik nafas panjang. Menatap Eka dengan mata mulai berkaca. " Kamu melihatnya.” “ Seperti itulah.” Rere meraih buku itu dan membuka halaman demi halaman. Gadis itu tersenyum lirih diatara air matanya yang mulai menetes. “Apa kamu sudah membaca semuanya?” “Ya.” “ Apa menurutmu, pria ini pelakunya?” tunjuknya pada sebuah foto pria paruh baya yang tersenyum lelah pada camera. “ Entahlah.” Sejak membaca rangkaian kliping itu, Eka tidak yakin. “ Bukan dia pelakunya, Eka. Aku sebagai anaknya yakin itu!” sentak Rere keras, air mata yang mulai mengalir. “ Dia tidak bersalah!”Rere berusaha menghapus air matanya saat Deka menoleh, anak itu terlihat penasaran. “It’s Ok Deka.” Eka menjawab tatapan mata Deka dengan suara tenang. “ Itulah yang kucari, Keadilan atas kematian Ayahku.” Ada gurat marah dalam mata itu. “Lalu kamu?” “ Mamaku. Sudah 14 tahun berlalu,bahkan gundukan tanah yang kuyakini tempat mama bersemayam ternyata milik orang lain. ” Suara itu dingin membuat Rere dengan segera memeluk tubuh wanita itu dan menangis dalam pelukannya. “ Tenanglah sekarang kita akan bersama mencari apa yang menjadi tujuan kita!” “ Iya.” Gadis itu terus menangis memancing Eka menitikkan air matanya. Tidak Eka sudah cukup kamu membuang air mata berhargamu! “ Cukup. Hentikan tangisanmu, ingat Deka belum tidur. Kamu akan kesulitan menjawab pertanyaannya nanti.” “ Iya.” Gadis itu menghapus air matanya dengan kasar berulang kali meskipun pada akhirnya air mata itu tetap mengalir. “ Dia tidak mau berhenti! Dia terus keluar!” isaknya tak bisa berhenti membuat Eka memukulnya dengan sebal. “ Jangan jahat pada Kak Rere!” bocah yang mereka maksud datang dan menyerang Eka bertubi- tubi, Bukannya kesakitan, wanita satu itu tertawa terbahak- bahak mengingat serangan yang diterimanya tidak ubahnya seperti gelitikan orang dewasa. “ Cukup Dek!” Eka langsung menggenggam tangan kecil itu dan memindahkan tubuh kecil yang menindihnya itu keatas sofa. “ kamu harus tumbuh lebih besar dan kuat untuk bisa menyerang lawan yang menyakiti kakakmu. Sekarang sudah malam, kita harus tidur!” ucapnya tegas pada Deka. Kini ketiganya tidur dengan menggabungkan dua kasur di ruang tengah. Suara dengkuran halus keluar saling bersahutan diantara ketiganya, mengalahkan suara jangkrik yang terus berbunyi di sekitaran rumah. Dan manic abu itu langsung terbuka,matanya mengedar keseluruh ruangan yang sunyi itu. Langkah kaki terdengar jelas ditelinganya kini. Wanita itu tidak bergerak barang seinchipun, dia harus memastikan apa yang telinganya dengar. Dan pintu ruang depan terbuka secara perlahan diiringi suara langkah kaki yang mengendap masuk. Manic abu itu masih terbaring dengan mengamati 2 orang berbaju hitam yang terlihat berjalan mendekat. Secepat kilat Eka menutup kembali matanya saat kedua orang itu mendekat. Dan bibirnya dibekap dengan cepat begitu juga dengan Rere. Gadis satu itu langsung membuka matanya dan berteriak tertahan. Buk! Eka langsung melayangkan kakinya yang bebas pada titik vital pria itu dan memukulnyaa dengan keras dibagian wajah. Sebelum beralih membebaskan Rere. Dengan cepat Rere membawa Deka yang menangis kedalam pelukannya dan membawanya menjauh dari Eka yang sibuk dengan dua orang yang entah siapa itu. Kedua kakak beradik itu menangis ketakutan. Done! Nafas Eka terengah, menatap dua orang yang pingsan itu. Sangat beruntung sekali dua orang ini tidak membawa senjata serta lemah dalam berkelahi. “ Ambil tali!” “ Ya!” dengan cepat Rere berlari ke kamar Deka, mengobrak- abrik barang- barang Deka, untuk mencari tali pramuka. “ Ini!” Eka menerimanya dan mengikat dua orang itu menjadi satu dengan simpul kuat. “ Eka siapa mereka?” suara itu ketakutan. “ Entahlah. Apa sebelum ini pernah terjadi sesuatu?” “ Aku tidak tahu.” Gadis itu menangis. Eka yakin ini bukan perampokan karena mereka tidak membawa senjata apapun, ini lebih seperti gertakan. Tapi gertakan apa dan pada siapa? Eka tidak punya musuh disini. Eka menatap dua orang tak sadarkan diri itu, menendang kakinya berulang kali, sebelum berdecak. Penjahat amatir! Jam berjalan dengan cepat, kedua wanita itu tidak memejamkan matanya barang sedikitpun. Sedangkan Deka, bocah itu masih tidur lelap dalam buaian Rere setelah tadi terus menangis karena ketakutan. “ Apa kita lapor pada Pak RT saja?” “ Untuk saat ini jangan, mereka bukan perampok.” Ucap Eka. “ Lalu apa yang kita lakukan?”dan salah satu orang itu membuka matanya, bersiborok dengan manic yang telah menghajarnya tadi. “ Siapa kalian?” Eka mendekat, menatap pria yang sepertinya masih hijau itu. “ Jangan hajar kami lagi! Kami hanya disuruh!” ucapnya bergetar. “ Siapa?” “ Kami tidak tahu, dia menemui kami saat bermain basket dan memberi kami uang.” “ Laki- laki atau perempuan?” “ Seorang laki- laki yang menghampiri kami dan kami menerima telepon dari seorang wanita dan menujukkan rumah ini.” “ Apa wanita itu mengatakan sesuatu?” “ Dia meminta kami menyampaikan pesan ‘Ini akan terus berlanjut. Nikmati saja!’ hanya itu. Apa kami akan dipenjara?” bocah yang masih hijau itu ketakutan. Eka menarik nafas panjang, Itu berarti kejadian ini akan terus berlanjut dan ini hanya peringatan awal, Eka masih bisa mengatasinya, selanjutnya Eka tidak tahu. Tapi apakah kejadian yang menimpa Rere kemarin juga sebuah peringatan. Lalu siapa sebenarnya pelaku dan mengejar siapakah mereka? Rere atau dirinya?
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD