Bab 12 Sikap Dingin Diego

1004 Words
Hari demi hari keduanya semakin dekat, Diego selalu mengunakan perihal kontrak untuk mengajak Sandra sekedar jalan ataupun makan siang. "Pria sepertimu harusnya memiliki satu mantan, apakah aku benar? " tanya Sandra sambil menjilati es krim di tangannya. Diego langsung menoleh kearahnya, menatap lekat wajah kekasih kontraknya itu. "Ya tentu saja, apa kamu cemburu baby? " goda Diego dengan senyuman tengilnya. Sandra mendengus jengkel, justru dia mengumpati Diego dengan kasar. Siang ini keduanya berada di pantai setelah pulang dari kantor. Sandra duduk di atas pasir sambil menikmati pemandangan indah di sekitar pantai. Gadis itu tampak cantik, dengan rambut di kepang ke belakang dan memakai dress floral panjang. "Pemandangan seperti inilah yang aku inginkan, dulu waktu aku kecil aku memiliki mimpi. Kelak saat aku dewasa nanti, aku ingin menikah dengan pria yang aku cintai lalu berbulan madu di negara Maldives nantinya. " ungkap Sandra dengan raut ceria. "Mimpi itu pupus sebelum terwujud, aku ingin bahagia bersama Felix namun hubungan kami telah kandas. " gumamnya. Diego menariknya hingga gadis itu langsung menoleh. "Percayalah suatu saat mimpimu itu pasti terwujud! Sandra mengerutkan kening, dia meminta penjelasam dari Diego namun pria itu sepertinya dengan tak ingin menjelaskan apa apa. Gadis itu hanya bisa menggerutu, Diego tersenyum tipis melihatnya. "Mendekatlah! " "Eh tapi? " Diego langsung menariknya hingga jatuh kepangkuan pria itu. Sandra merasa gugup, wajah mereka begitu dekat saat ini, apalagi posisi mereka saat ini begitu intim. Gadis itu sempat terkejut lala Diego membenamkan bibirnya di atas bibirnya, gadis itu membalas ciuman dari Diego. Ciuman itu berakhir, Sandra langsung mengalungkan tangan ke leher Diego dan menatapnya dengan lekat. "Kau sangat suka menciumku ya? " "Hm, bukankah kau juga menyukainya baby? " "Aku gak munafik, jika ya aku menyukai ciumanmu. " jawab Sandra dengan lembut. Diego tentu saja sangat senang mendengarnya. Pria itu memeluk pinggang Sandra dengan posesif. Sandra tak menyangka jika dirinya mungkin saja terbawa perasaan dengan sikap Diego barusan. Dia hendak bangkit namun sepertinya Diego tak membiarkan. Dirinya pergi begitu saja. Dering ponsel milik Sandra menyita perhatian mereka, gadis itu meraih ponselnya dan terdiam. Diego yang penasaran langsung merebutnya, rahang pria itu langsung mengeras melihat nama Felix yang menghubungi Sandra. Pria itu langsung melempar ponsel Sandra ke laut, Sandra tentu saja syok dengan tindakan Diego barusan. "Diego apa apaan kamu hah? " sentak Sandra yang langsung bangkit dan berniat mengambil ponselnya. Diego terbelalak, dia berlari mengejarnya, menarik kekasihnya menjauh dari air laut. Pria itu menatap tajam wajah sendu Sandra saat ini. "Apa kau sudah gila hah, kau bisa tenggelam nanti! "Kenapa kamu melempar ponselku Die? " "Aku enggak suka kamu berhubungan dengan mantan kekasihmu itu Sandra. " teriak Diego yang membuat Sandra tersentak kaget. Gadis itu langsung bungkam setelah mendengar pengakuan Diego barusan. Diego mengusap wajahnya kasar, hatinya sangat panas setiap kali Sandra berkomunikasi dengan mantan kekasihnya. Sandra menghela nafas kasar, mengontrol dirinya agar tak terpancing emosi nya. Dia menyentuh lengan Diego lalu mengusapnya dengan lembut. "Bukankah di antara kita di larang untuk jatuh cinta Die, apa kau lupa dengan kesepakatan kita kemarin. " ujar Sandra dengan tegas. Diego berdecih pelan, dia menariknya masuk ke dalam mobil. Suasana tampak dingin, Sandra memilih diam melihat sikap dingin dari kekasih kontraknya itu. Gadis itu berusaha membentengi hatinya, dia tak mau terluka hanya karena laki laki. Pria itu menepikan mobilnya lalu turun, tak lama dia kembali dan masuk. "Ini ponsel baru untukmu! Sandra menerimanya dalam diam, dia tak akan mendebat Diego saat ini. Sepanjang perjalanan tak ada obrolan apapun di antara mereka berdua. Setelah sampai keduanya langsung turun, gadis itu menatap nanar kepergian Diego yang masuk lebih dulu. Dia paham jika pria itu masih marah, tapi bukankah apa yang dia katakan memang benar bukan? Lalu di mana letak salahnya? "Ini sangat rumit. " gumamnya yang menyusulnya masuk ke dalam, Sandra memilih pergi ke ruang tengah sambil mengenggam ponsel barunya. Hanya ada kontak Diego dan orang tua pria itu yang ada di dalamnya. Teringat dengan nomor kedua sahabatnya, Sandra langsung menyimpan nomor Nessa dan Kate. Sementara Diego kini berada di ruangan kerjanya, dia mengalihkan pikirannya dari Sandra pada pekerjaannya. Dalam hati pria itu mengumpat kasar, bagaimana bisa dia jatuh dalam pesona yang di miliki Sandra. "Sialan. " umpatnya marah. Berulang kali dirinya menepis perasaan itu namun tetap saja tidak bisa, kini otaknya di penuhi sosok Sandra. Dan sore harinya, Sandra berinisiatif membuatkan kopi dan membawanya ke ruang tamu. Diego tetap fokus pada laptopnya, dia mengabaikan kehadiran Sandra di sekitarnya. Sandra hanya mampu menghela nafas dalam dalam, lalu menghembuskan secara perlahan. Dering ponselnya membuat perhatian Diego teralihkan, dia mengerutkan kening melihat nomor asing menghubungi dirinya. From xxx Hi Diego, kau masih ingat aku? Aku Nadira Dealova, mantan kekasih kamu baby. Kau tahu selama ini aku selalu memikirkan kamu dan selalu larut dalam penyesalan. Aku sangat merindukan kamu sayang, oh ya bisakah kita bertemu di hari minggu nanti di taman kota? Diego hanya membacanya tanpa mau membalas pesan dari Nadira. Sementara Sandra terus memperhatikan Diego sejak tadi, dia memilih menyerah dan pergi dari sana. Melihat sikap cuek Sandra barusan tentu saja membuatnya kesal, pria itu sangat berharap Sandra akan membujuknya namun semuanya hanya angan angannya. "Tunggu! Diego memintanya kembali, menyuruhnya duduk di dekatnya. Sandra hanya menuruti keinginan pria itu, Diego langsung menariknya ke dalam pelukan. "Huft kenapa kau tidak merayuku baby? " ujar Diego dengan ketus. "Oh come on Die, di antara kit.. " Diego membungkamnya dengam ciuman, pria itu tak ingin mendengar alasan apapun dari Sandra sekarang. Sandra berusaha memukul d**a pria itu agar berhenti, Diego melepaskan ciumannya. Dia mencium kening Sandra dengan lembut, gadis itu menatapnya dengan lekat. Sandra merasa Diego memperlakukannya begitu berbeda, tapi dia bukan gadis yang pantas untuk pria tampan seperti Diego El Mayer. Gadis itu tampak bingung dengan sikap Diego yang sering berubah ubah. Kini keheningan melanda keduanya. Sandra tak mengatakan apapun, dia merasa semuanya kian rumit.Gadis itu menghela nafas panjang, menyandarkan tubuhnya ke sofa. "Maafkan aku. " ucap Diego. "Katakan alasannya, kenapa kamu marah Diego? " "Tak usah bawel, kau hanya perlu menurut saja Sandra! " Sandra mendengus pelan. dia memilih mengalah dan tak lagi mengajaknya berdebat.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD