Sandra sendiri terpaksa menginap di kediaman keluarga Diego, gadis itu merasa bersalah telah berbohong pada orang tua Diego yang begitu baik padanya.
Saat ini gadis itu tengah membantu nyonya Rasya memasak di dapur, keduanya terlihat mulai akrab meski Sandra sendiri masih canggung.
"Oh ya tante, masa kecil Diego tuh
bagaimana? " tanya Sandra dengan penasaran.
"Huft putra tante itu dulu begitu pendiam!
Sandra menanggapi dengan senyuman, keduanya segera menyelesaikan acara memasaknya, lalu menyajikan ke meja makan. Setelah selesai nyonya Rasya meminta Sandra untuk memanggil Diego dan ayahnya untuk bergabung makan malam bersama.
Suasana makan malam kali ini terlihat ramai berkat kehadiran Sandra di tengah tengah mereka. Selesai makan, Diego mengajak Sandra bicara berdua. Nyonya Rasya yang melihatnya, memicingkan mata curiga pada sang putra.
"Ingat jangan kau rusak anak orang
Diego. " ujar Mommy dengan sorot tajam nya.
"Kami cuma ingin bicara saja mom, bukan mau membuatkan cucu untuk mommy. " balas Diego Frontal.Sandra langsung menabok lengannya, dia langsung menyeret pria itu pergi setelah meminta izin. Gadis itu melepaskan cekalan tangannya, saat ini keduanya berada di balkon.
Sandra langsung mengomeli kekasih kontraknya itu, Diego menghela nafas panjang lalu mengajaknya duduk. Dia menatap lurus ke depan, dia jadi teringat dengan kenangannya saat bersama Felix dulu. Mengingat mantan kekasihnya itu,kembali membuatnya bersedih. Menyadari perubahan ekspresi dari Sandra, membuat Diego penasaran dengannya.
"Ada apa, kenapa wajahmu bersedih? "
"Dulu aku dan Felix juga sering pergi ke balkon dan menghabiskan waktu bersama untuk menghitung bintang yang bercahaya terang. " ujar Sandra panjang lebar. Diego tak lagi bertanya, pria itu kini paham alasan Sandra yang berwajah sedih.
Diego berusaha mengalihkan pembicaraan, entah kenapa dia tak nyaman dengan ungkapan hati Sandra barusan.
"Setelah kontrak kita selesai, kau bisa kembali pada mantan kekasihmu itu. " ketus Diego. Sandra menghela nafas berat, hanya diam tanpa mengomentari nada bicara Diego tadi. Dia kembali menatap kearah depan, keheningan kembali menyelimuti keduanya.
Selesai berbicara keduanya kembali ke dalam dan pergi ke kamar masing masing. Sandra langsung mengistirahatkan dirinya di kamar tamu.
Pagi datang begitu cepat, Sandra tampak selesai berpakaian. Gadis itu langsung turun ke bawah dan menemui keluarga Diego di ruang tengah.
"Sering seringlah datang ke sini Sandra, anggap saja ini rumah kamu sendiri!
"Terima kasih tante. " jawab Sandra sambil tersenyum manis. Mereka langsung duduk di kursi masing masing, memulai sarapan dengan tenang dan suasana tampak menyenangkan. Diego memperhatikan interaksi antara ibunya dengan Sandra.
Diego POV
Pasti mommy akan sangat kecewa jika mengetahui kebenarannya, terlihat jika mommy begitu nyaman mengobrol dengan Sandra. Gadis itu bersikap hangat pada mommy namun berbeda saat berbicara denganku begitu ketus, dingin dan menyebalkan. Entah kenapa melihatnya tertawa seperti sekarang, membuatnya sedikit lega. Ada rasa asing yang tengah merasuki relung hatinya, namun aku tak tahu rasa itu. Jika dia tahu hal ini Sandra pasti akan besar kepala nantinya.
"Oh ya Diego, gimana kalau Sandra kamu jadikan sekertaris kamu di kantor!
Diego dan Sandra saling melempar lirikan satu sama lain, gadis itu memberi kode agar menolak. Pria itu justru mengabaikannya, dia kembali fokus menatap kearah sang mommy tercinta.
"Ide bagus Mom, aku setuju. "
Sandra terbelalak, gadis itu hanya mampu merutuki kebodohan yang di lakukan Diego barusan. Dia mana mungkin menunjukkan penolakannya di hadapan orang tua Diego.
"Ya sudah, kalian hati hati ya ke kantornya. " ujar mommy Rasya ada keduanya. Sandra mengangguk, dia memeluknya sekilas lalu mengajak Diego ke luar.
Sepanjang perjalanan, Sandra terus mengumpat kebodohan Diego. Diego hanya diam, dia memang sengaja membiarkan gadis itu terus mengomeli dirinya. Merasa lelah bicara, Sandra memilih diam dan menatap kearah luar kaca jendela mobil. Pria itu membawa Sandra ke pusat perbelanjaan, dia menyuruh gadis itu mengganti pakaiannya.
Setelah selesai keduanya melanjutkan perjalanan menuju ke perusahaan. Tiba di sana keduanya langsung turun, Diego menggandeng tangan Sandra dan memperkenalkannya pada karyawan. Sandra sendiri merasa canggung,dia merasa kerjasama mereka terlalu jauh.
Diego menunjukkan di mana ruangan gadis itu, tak lupa mengajari dan memberitahu tugas Sandra sebagai sekretarisnya.
"Sudah ngerti 'kan sekarang? " tanya Diego memastikan.
"Iya Tuan. " ucap Sandra dengan malas malasan. Diego langsung mengusirnya, Sandra berdecak pelan lalu segera ke luar dari ruangan Diego.
Dering ponselnya menyita perhatian Diego saat ini. Diego menekan tombol biru dalam layar ponselnya.
"Woy Die, udah denger belum? "
"Apaan!
"Nadira Dealova telah kembali, Nadira mantan kekasih kamu Diego. " ujar Alessandro menjelaskan panjang lebar pada sahabatnya. Diego tak bereaksi apapun, wajah pria itu tampak datar san terlihat tidak tertarik sama sekali.
Diego sendiri menghela nafas kasar, langsung menutupnya tanpa peduli sahabat nya pasti tengah mengumpat sekarang. Dia tak peduli jika wanita itu kembali lagi, namun yang pasti dia tak akan membiarkan dia menganggu hidupnya.
"Bagaimana kalau aku mengenalkan Sandra pada wanita itu, aku ingin lihat bagaimana reaksi Sandra nantinya!
Diego tersenyum penuh percaya diri, dia sangat yakin jika Sandra sebenarnya menyukai dirinya namun tetap gengsi. Tak lama Sandra datang, mengantarkan berkas laporan padanya. Raut wajah gadis itu tampak masam, Diego justru memperdulikannya sama sekali.
"Kalau begitu saya permisi Tuan Diego!
"Tunggu San, nanti kita pulang bareng. " ujar Diego tanpa mau di bantah. Sandra hanya mengangguk, gadis itu langsung ke luar dan kembali ke ruangannya.
Di dalam ruangannya, Sandra tengah menghembuskan nafas berat. Dia mengambil ponselnya dari dalam tas, mengirim pesan pada sang kakak ipar.
Me
Bagaimana kabar mommy dan daddy kak?
Kakak ipar Cia
Mereka baik baik saja Sandra, mereka rindu sama kamu dek.
Mata Sandra berkaca kaca membaca pesan balasan dari kakak iparnya, rasa rindunya pada kedua orang tuanya begitu menumpuk hingga terkadang membuatnya sesak nafas. Dia mengusap wajahnya kasar, kembali membalas pesan sang kakak ipar lalu menyimpan kembali ponselnya.
Sandra sebenarnya turut merindukan kedua orang tuanya. Terjadi salah paham dan kurangnya komunikasi di antara mereka. Gadis itu menyimpan ponselnya ke dalam tas dan melanjutkan pekerjaannya. Dia tak ingin di hari pertama dia bekerja, membuat kesalahan hingga membuat Diego marah nantinya.
"Maafin aku mom, aku pasti akan menemui mommy dan daddy setelah urusanku dengan Diego selesai. " gumam Sandra.
Sandra menghela nafas panjang, berusaha fokus pada pekerjaannya yang lumayan banyak hari ini. Dia ingin menunjukkan kemampuannya pada Diego, atasannya.
Huh
"Akan jadi hari yang melelahkan. " begitu pikir Sandra.
.