Chapter 7 – An Old Friend

806 Words
Joelle’s POV Akhir-akhir ini aku sering menggunakan ruang kerja Gentala, ada banyak buku-buku bagus di tempat kerja-nya sehingga aku biasanya menghabiskan 2 hingga 3 jam duduk menyendiri untuk membaca berbagai macam buku disini. Aku berjalan pada rak buku yang berada tepat dibelakang meja kerjanya, koleksi bacaan dia cukup berat juga pikirku.   Aku menelisik satu persatu buku pada rak buku tengah, hampir seluruh buku mengenai bisnis di rak ini, hingga tatapanku jatuh pada sebuah buku dengan sampul kulit, berbeda dengan buku-buku yang lain buku itu menarik perhatianku. Aku mengambil buku tersebut, menyentuh permukaan kulitnya yang mengkilap, jari-jariku ku arahkan pada pojok sampulnya yang memiliki cekungan dalam yang rapi tertulis Gentala Sunaryo dengan tulisan latin. Aku membuka satu per satu lebaran buku tersebut, sepertinya ini agenda Gentala, untuk tulisan tangan seorang laki-laki dia memiliki tulisan tangan yang sangat rapi dan indah. Ternyata dia suka menulis setiap kegiatan dengan rinci, Mr. Super organized berkebalikan denganku yang Ms. Chaos.     Hingga pada tengah halaman aku menemukan sebuah foto tua. Sebuah potret tua dari seorang anak laki-laki dan perempuan yang sedang berpegangan tangan, memberikan senyuman terlebar mereka. Aku membalikkan foto tersebut, aku melihat guratan tulisan tangan anak kecil berisi “Hara-ku yang cantik, tunggulah aku. LOVE Gentala”. Aku tau ini pasti tulisan tangan Gentala kecil, tapi mengapa kata-kata ini berhasil meremas hatiku, aku paham benar ini mungkin hanya sekedar cerita cinta monyet Gentala. Aku tatap sekali lagi wajah anak perempuan itu, hingga aku mendengar suara kaki. Dengan segera aku mengembalikan foto tersebut pada tempatnya semula.   “Bi Dina, ada apa?” sesaat Bi Dina memasuki ruang aku segera menyapanya. “Bibi mau buat Ayam kecap, mau ikut masak?” “Ah boleh tuh, yuk” aku membalas, dengan merangkul bahu Bi Dina, aku tau dia tidak nyaman jika aku terlalu santai memperlakukan dirinya, tapi mengapa harus begitu berjarak hanya karena di bekerja untukku.   Gentala’s POV   Hari ini cukup berat, pagi ini aku melakukan negosiasi yang cukup sulit, dan aku sedikit pesimis untuk bisa memenangkan tender ini. Hampir setengah hari aku habiskan hanya merenung dan berpikir mengenai rencana B jika negosiasiku pagi ini gagal.   Aku tidak bisa mengalihkan pikiranku mengenai kejadian pagi ini, sedikit menyesali bahwa ada beberapa poin dari negosiasi yang aku lewatkan. Moodku tidak benar-benar baik semenjak rapat pagi. Sesaat aku merasakan getar ponsel pada kantung celanaku. Nomer panti, tumben pikirku.   “Ya Halo Suster Beatrice?, apa kabar?” aku menyapa nya riang, berusaha membuang jauh-jauh akan mood ku yang buruk hari ini. “Halo Gentala anakku, gimana kabar mu nak?” “Baik suster, aku berharap suster juga” “Tentu saja. Ah apa kau sibuk hari ini nak? Apa kamu bisa ke panti hari ini?, ada yang ingin bertemu denganmu” “Ada apa?, apakah ada sesuatu yang sangat penting” “Mungkin tidak sepenting urusan bisnis mu, tetapi aku berjanji bahwa ini akan menjadi kejutan sempurna untuk mu?” “Baik suster, apapun untuk Suster Beatrice.” Aku membalas katanya-nya sebelum mengakhirinya. Sesaat aku berpikir mengenai kejutan yang Suster Beatrice maksud, dan tanpa perlu waktu lama aku segera menghubungi Bima untuk menjemputku.   Sesampainya di panti aku meminta Bima untuk segera memarkirkan mobil, dan segera aku langkahkan kaki ku menuju ruang suster kepala. Suster Beatrice sudah menjadi suster kepala mungkin kurang lebih lima tahun yang lalu. Aku mengetuk pintu ruang kepala.   “Masuk..” suara Suster Beatrice terdengar dari dalam. Aku memutar knop pintu pelan, dan mendorong pintu perlahan. Di depan meja Suster Beatrice, aku melihat seorang wanita tampak dari belakang sedang berbicara dengannya. “Suster Kepala..” sapa ku pelan. “Gentala masuklah.” Wajah Suster Beatrice begitu ceria, melambaikan tangannya memintaku untuk masuk. Aku melangkahkan kakiku pelan. “Ayo cepat kemari, berdiri disampingku!” tangan kiri Suster Beatrice menepuk meja, memburu ku untuk segera berada disampingnya. Segera setelah aku berada disampingnya, pergelangan tanganku dia tarik, dan dihadapkan pada tamu wanita di depannya.   “………..Hara?” aku menatap wajah wanita itu lekat-lekat, setiap gurat wajahnya, tidak tampak perubahan yang amat sangat, dia Hara yang aku kenal dalam tubuh yang telah dewasa. “Hi Gentala” wajah Hara tersenyum ramah, ekspresi yang sama yang aku lihat 25 tahun yang lalu, ketika dia memasuki pintu panti ini.   “Kamu tidak berubah banyak Hara” aku hampir tidak mengedipkan mata sama sekali, aku kaget, aku juga rindu tapi mungkin lebih tepatnya aku terpesona pada wajah dewasanya.   “Dan kamu amat sangat berubah Gentala, kamu memiliki kulit yang lebih cerah dari yang bisa aku ingat. Rambutmu sudah tidak merah termakan matahari seperti dulu, kamu terlihat tampan” suaranya merendah ketika memujiku.   “Haiii, apa kalain sadar kalau ada saya disini?” Suster Beatrice melambaikan kedua tangannya kearah wajah kami yang saling bertatap lama, kami hanya bisa tertawa lepas ketika Suster Beatrice mencoba mengalihkan pandangan kami satu sama lain.   “Jadi bagaimana caranya kamu bisa tiba-tiba muncul sekarang, padahal sudah hampir 10 tahun yang lalu aku mulai mencari mu kemana-mana, sampai aku benar-benar putus asa”   “Jika waktunya tepat aku akan menceritakan semua pada mu Gentala.”   “Lalu kenapa sekarang, kenapa tiba-tiba kamu muncul sekarang?”   “Kewajiban ku kepada keluargaku sudah selesai, alasan kedua, sama seperti alasanmu, aku igin bertemu denganmu” mata kami bertemu dan bertatap lama, tidak ada kata-kata yang bersaut lagi, kami hanya saling memandang dan tersenyum.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD