Mendekam di Sel Tahanan

1388 Words
Nayla menekuk sepasang lutut dengan pandangan kosong. Dagu menyandar di atasnya. Jari-jari tangannya saling terkait, menyangga telapak kaki. Sepasang mata teduh Nayla tertambat pada piring berisi tahu dan tempe goreng yang teronggok di atas nasi dan sayuran. Di sebelahnya segelas air telah ia teguk separuh. Selera makannya turun drastis sejak masuk sel tahanan ini pagi tadi. Ruangan tiga kali empat ini sedikit lebih besar dari kamarnya, bahkan makan minum tidak perlu membayar, diantar pula. Menunya pun lebih baik ketimbang nasi bungkus yang sanggup ia beli di luar sana. Di sini semua terjamin, tanpa perlu ia berpayah-payah mendapatkannya, seperti yang ia lakukan sejak remaja. Hanya saja, sebagus apa pun sel tahanan, tidak akan membahagiakannya. Nayla tidak habis pikir kenapa dirinya ditahan. Kenapa pimpinan dan teman-temannya juga ditangkap? Tuduhan terlibat radikalisme yang disangkakan kepadanya salah alamat. Ia bahkan tidak begitu memahami arti kata 'radikalisme' dengan baik. Gadis yang dibesarkan orang tua angkat seperti dirinya hanya tahu bagaimana caranya bertahan hidup, memastikan agar perutnya bisa tetap kenyang. Gadis miskin sepertinya hanya bisa mengkhayal akan dinikahi pangeran tampan ketika perutnya sedang lapar. Beberapa bulan belakangan ini Nayla memang sering mendengar kabar tentang banyaknya aktivis yang ditangkap. Mereka dituduh terlibat radikalisme karena sering melakukan kritik tajam kepada pemerintah. Kebanyakan mereka ditangkap dengan undang-undang ITE karena narasinya diduga menghasut orang lain dan menjelek-jelekkan tokoh-tokoh tertentu. Para aktivis mengkritisi kebijakan pemerintah yang dianggap tidak pro rakyat. Mereka menyuarakannya di media sosial. Sayangnya tidak sedikit dari mereka yang tidak berhat-hati dalam membuat narasi. Akibatnya mereka terjerat kasus hukum karena ucapan mereka sendiri. Masalahnya adalah, Nayla tidak merasa kalau ia dan perusahaanya terlibat radikalisme. Sepanjang ia bekerja di media itu, ia belum pernah melihat ada aktivitas atau gerakan tertentu yang melanggar hukum. Memang ia akui, media itu sangat tajam dalam melakukan investigasi terutama yang menyangkut kebijakan pemerintah. Namun menurutnya, semua itu masih dalan koridor hukum dan sesuai kode etik jurnalisme. Nayla tidak paham soal kebijakan pemerintah apakah pro rakyat atau tidak. Ia hanya ingin tetap bekerja di kantor redaksi dan hidupnya sejahtera. Paling tidak ada sesuatu yang bisa ia makan ketika lapar, juga bisa membayar biaya pengobatan ketika sakit. Mengingat kata 'sakit' membuat hati Nayla pedih. Ia mengkhawatirkan Mahdi, ayah angkatnya yang saat ini tengah sakit di rumah. Lelaki berusia lebih dari setengah abad itu telah menjadi ayah sekaligus ibu baginya. Ibu angkatnya telah lama meninggal. Dulu semasa kecil, saat kehidupan ekonomi keluarganya masih berkecukupan, mereka selalu berusaha mewujudkan setiap keinginannya, meskipun hidup dalam kesusahan. Kini, tinggal ayahnya yang tersisa setelah harta mereka satu per satu ludes dan ibunya meninggal dunia. Yang membuatnya sedih adalah kini kondisi kesehatan ayahnya semakin menurun dari waktu ke waktu. Sepasang mata Nayla berkaca-kaca, mengingat tidak ada makanan yang bisa mengganjal perut ayahnya di rumah. Ia belum memasak. Celakanya, ia belum tahu sampai kapan akan berada di sel tahanan ini. Lalu, besok, lusa, atau besoknya lusa, siapa yang akan menyediakan makan dan menjaga ayahnya yang sedang sakit? "Waktu makan habis!" Nayla mendongak. Seorang perempuan berseragam, memberi gestur agar ia mendorong baki ke dekat jeruji. Sebelum menurutinya, tahu dan tempe terlebih dulu Nayla ambil untuk ia makan nanti. "Makanya kalau disediakan makanan jangan dianggurin!" hardik penjaga tegas. "Besok lagi, manfaatkan dengan baik waktu makanmu!" Meskipun tidak punya selera makan tapi Nayla sadar tubuhnya membutuhkan asupan. Maka tanpa mempedulikan penjaga, segera ia menghabiskan tahu dan tempe dalam genggaman tangannya. "Anda butuh energi. Saran saya habiskan juga nasi dan sayurannya," hardik penjaga. Nayla terus mengunyah makanan di dalam mulut yang penuh. "Saya akan kembali lima menit lagi untuk mengambil piring dan baki." Penjaga tahanan berlalu dari hadapan Nayla. Nayla mengedarkan pandangan ke seluruh penjuru sel tahanan. Sejak mendekam di sini, ia hanya seorang diri. Ia penasaran, apakah tidak ada tahanan wanita lain di sini? Atau apakah mungkin ada sel tahanan lain? Tidak berselang lama seorang penjaga tahanan lain datang. Kali ini ia didampingi seorang pemuda yang mengenakan hem warna krem dan celana hitam. Nayla tertegun dengan pemuda tersebut. Wajahnya memancarkan kharisma, meskipun ia menduga lelaki itu mahal tersenyum. Ada rasa kagum pada pemuda itu, sampai ia tidak menyadari kalau penjaga baru saja membuka pintu sel tahanan. Sang pemuda mendekati pintu sel tahanan Nayla yang sudah terbuka. Nayla nyaris tidak berkedip, terus memandang pemuda tampan di depannya. Ia mengira pemuda itu seorang komandan atau pastinya memiliki pangkat tinggi. "Keluarlah!" suruh sang pemuda tampan kepada Nayla dengan lembut. Alih-alih keluar, Nayla tersenyum kagum dengan sepasang mata pemuda itu yang sangat bening dan berwibawa. Wajahnya tidak tersenyum sama sekali, tapi mampu membuat irama detak jantungnya tidak beraturan. "Cepat keluarlah sebelum saya berubah pikiran!" Suara si pemuda lebih lunak dari sebelumnya, tetapi penuh tekanan. Nayla seperti tersihir sorot bening mata sang pemuda. Ia bangkit dengan perasaan berbunga-bunga, bukan hanya karena dibebaskan dari tahanan saja, tetapi juga karena kagum dengan ketampanannya. Nayla keluar tahanan dengan pandangan terus tertambat pada sang pemuda. "Terima kasih, Pak!" "Ikuti aku!" suruh sang pemuda tampan. Ia berjalan tegap, menyusuri lorong sel tahanan. Nayla mengekor si pemuda tampan dengan perasaan senang bukan kepalang. "Saya mau dibawa ke mana, Pak?" "Iron, panggil aku begitu dan jangan membantah!" Pemuda tampan yang mengaku bernama Iron melirik Nayla dengan sorot mata angkuh. "Baik, Pak Iron!" Nayla mengangguk segan. Iron menghentikan langkah. Ia menoleh kepada Nayla dengan tatapan menusuk. "Apa telingamu bermasalah? Aku suruh kamu menyebutku 'Iron" saja. Jangan kasih embel-embel lain!" Nayla mengangguk segan. "B-baik, Iron!" Iron tersenyum puas. Matanya tetap menyorot tajam. "Siapa namamu?" Nayla beranikan diri untuk melirik wajah Iron. "Nama saya Nayla." Iron tak acuh dengan jawaban Nayla. Ia kembali meneruskan langkah, tanpa pamit kepada para petugas tahanan. Para petugas tahanan serempak mengangguk hormat kepada Iron. Nayla menjadi penasaran siapa sebenarmya pemuda tampan di sebelahnya, sehingga semua segan kepadanya. Iron berhenti di depan sebuah sedan Camry yang terparkir tepat di depan akses masuk gedung tahanan. Iron membukakan pintu untuk Nayla. "Masuklah!" Nayla bingung mendapatkan perlakuan bak seorang putri. Ia ragu untuk masuk ke mobil yang ia yakini sangat mahal Nayla sangat yakin, Iron bukan hanya orang kaya, tetapi juga seseorang yang memiliki pengaruh besar. Ia merasa tidak asing dengan wajah itu, tetapi ia tidak ingat pernah melihat di mana dan kapan? "Apa telingamu bermasalah?" Iron menjadi kesal karena Nayla hanya mematung saja, tidak segera menurutinya. Buru-buru Nayla masuk ke mobil. Perasaannya menjadi tidak nyaman. Ia takut akan mendapatkan perlakuan yang kemungkinan lebih buruk dari ditahan tanpa bersalah. *** Mobil masuk ke pelataran parkir kedai kopi. Iron menghentikan mobil di area VIP. "Turunlah!" Iron melepas sabuk pengaman. Nayla menurut. Ia keluar dari mobil. Sensasi menakjubkan berada di dalam mobil mewah bersama pemuda tampan membuatnya serasa tidak menapak bumi. Ia terpaku, masih tidak percaya bisa merasakan pengalaman indah di dalam mobil yang biasanya hanya bisa dirasakan oleh orang kaya dan pejabat saja. Iron menyerahkan kunci kepada petugas parkir. Selepas itu, tanpa basa-basi ia menggamit lengan Nayla. Gadis itu kaget, seketika menjadi canggung. Namun, ia akan menurut saja, meskipun tidak tahu apa yang akan terjadi padanya nanti. Iron dan Nayla disambut dua waitress. Satu orang menarik kursi untuk kedua tamunya. Satu orang lagi siap mencatat pesanan. "Kopi luwak hitam tanpa gula satu!" Iron menoleh kepada Nayla. "Kamu mau pesan apa?" "A-apa saja." Nayla menjawab dengan gugup akibat tertangkap basah sedang memandang Iron. "Kopi luwak hitam tanpa gula dua!" Iron merevisi pesanannya. "Pahit dong?" protes Nayla. "Tadi bilangnya apa saja!" hardik Iron. Ia kembali merevisi pesanannya. "Ralat, yang satu pakai gula!" Waitress mencatat pesanan. "Ada lagi, Pak?" "Itu aja dulu!" Sudah lama Nayla ingin merasakan nikmatnya kopi luwak hitam. Sayang, harganya mahal sehingga ia hanya bisa mengkhayalkannya. Sekarang tanpa diduga, ia akan menikmati minuman dambaannya tersebut bersama seorang pemuda tampan yang baru dikenalnya. Waitress mengangguk. "Baik, Tuan. Pesanan telah dicatat. Mohon menunggu." Pelayan mengangguk hormat kepada kedua pelanggannya, sebelum berlalu. Iron menatap Nayla lekat-lekat. "Kamu cantik!" Seketika wajah Nayla pucat pasi. Pipinya merona merah. Pujian dari lelaki sudah sering ia dapatkan, namun baru kali ini ia mendengar pujian sekaku itu, lugas, dan tidak ada nada romantisnya sama sekali. "Apa telingamu bermasalah?" Iron sedikit gusar karena pujiannya tidak mendapatkan respon. Nayla menggeleng canggung. "Maaf, saya hanya kaget saja." "Sebut diri kamu dengan 'aku" jangan 'saya" biar akrab." Iron mengulas senyum tipis. Ia berusaha mencairkan kekakuan. Dalam hati, Nayla mengeluh karena Iron ternyata menyebalkan. Bahkan urusan sebutannya saja harus sesuai keinginan lelaki itu. Iron kembali menatap Nayla. "Aku akan membuatmu semakin cantik!" Nayla mengerjap bingung. "Maaf?" Iron menggebah napas kasar. "Tidak sekarang sih?" 
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD