Sisca menjepit ponselnya menggunakan bahu dan telinga. Ia harus menahan pegal karena kepalanya miring dan bahunya terangkat. Sementara kedua tangannya sibuk berselancar di atas keyboard. Ia harus melakukan dua kegiatan sekaligus yang sama pentingnya, yaitu input data dan menerima panggilan telepon dari salah satu orang kepercayaannya.
"Halo, gimana?" tanyanya kepada Heri, anak buahnya yang sedang diberi tugas khusus.
"Tim saya sudah mendapatkan data lengkap tentang Nayla dan tempat kerjanya," lapor Heri.
"Good job!" Sisca tersenyum puas. Ia menghentikan pekerjaannya menginput data pada komputer dan fokus pada percakapan. Ponsel yang tadi terjepit kini ia pegang.
"Terima kasih, Bos." Heri merasa tersanjung. Ia melanjutkan laporannya. "Nayla tinggal bersama ayahnya yang sedang sakit, namanya Mahdi."
Sisca bangkit dari meja komputer. Ia melirik kasur empuknya. "Gimana kondisi rumahnya?"
"Mereka sangat miskin, Bos!"
Sisca berjalan menuju kasur. "Skip dulu soal keluarganya. Sekarang laporkan kegiatan sehari-hari Nayla."
"Nayla bekerja pada kantor redaksi Kerta Post. Itu media cetak sekaligus media online."
Sisca berbaring di atas kasur sambil menyilangkan kaki. "Sepertinya media abal-abal!"
"Benar, Bos!" timpal Heri. "Segmen koran mereka hanya pembaca lokal, tetapi media online mereka cukup populer karena mereka cenderung oposan pada pemerintah."
"Itu berita bagus!" Sisca memilin-milin rambut.
"Saya sudah mempelajari sepak terjang mereka. Kita punya satu celah buat mengkriminalkan mereka."
Sepasang alis Sisca terangkat bersamaan. "Apa itu?"
"Saya menemukan pada akun media sosial mereka beberapa postingan terdapat beberapa gambar dan video yang kemungkinan besar bisa kita olah buat menyudutkan mereka. Tentu saja kita harus disain sedemikian rupa."
"Baik kirimkan sekarang ke emailku video dan gambar mereka."
"Siap, Bos!"
Sisca meletakan ponsel sambil menyeringai. Ia bangkit dari tempat tidur menuju meja komputer. Ia sudah tidak sabar menunggu kiriman email dari Heri.
Tidak butuh waktu lama bagi Sisca untuk menunggu email dari Heri. Sebelum ia duduk sempurna di depan komputer, satu surat elektronik lebih dulu masuk inbox.
Sisca mengerjap puas ketika memeriksa file lampiran dari Heri. Serta merta ia memiliki ide.
"Kena kamu, Nayla!" Sisca menyeringai puas. Ia sangat bersemangat untuk segera merealisasikan idenya.
Sejak kemarin sore, Sisca menyuruh Heri untuk memata-matai pertemuan Amando dengan Sisca di Kafe Armenia. Meski tahu hubungan keduanya telah putus, tetapi ia yakin Amando, calon tunangannya masih mencintai Nayla.
Sisca tidak mau Nayla akan menjadi batu sandungan pada hubungannya dengan Amando. Ia harus menyingkirkan Nayla jauh-jauh dengan cara yang pedih.
Kalau hanya untuk sekadar menjauhkan Nayla dari Amando, sebenarnya ia tidak ingin terlalu banyak membuang waktu. Ini soal dendam.
Sudah sejak empat tahun Sisca menyukai Amando. Ia bahkan pernah mengungkapkan perasaannya, tetapi waktu itu Amando hanya meminta mereka berteman biasa. Meskipun itu membuat Sisca kecewa tetapi ia berusaha terus menaklukan sang pujaan hati.
Usaha Sisca menjadi sia-sia ketika tahu Amando jadian dengan Nayla. Panas hatinya karena kalah saing dengan seorang gadis miskin, tomboy pula.
Berbagai cara Sisca lakukan untuk memisahkan keduanya. Cara paling ampuh adalah dengan memanfaatkan posisi papinya yang seorang pimpinan sebuah partai besar di negeri ini. Berkat papinya, Sisca berhasil membujuk Amando untuk membuat sebuah kesepakatan, yaitu karir Amando akan diberi jalan mulus asalkan mau menikahi dirinya.
Menjadi politikus ternama adalah impian Amando. Sehingga ketika ada kesempatan bagus, ia tidak mau menyia-nyiakannya. Bahkan meskipun ia harus menyakiti hatinya sendiri dan hati Nayla.
Amando terpaksa memutuskan Nayla, meskipun itu membuat hatinya terluka. Demi karir politik, ia rela akan menikahi perempuan yang sama sekali tidak ia cintai.
Sisca sadar, Amando masih mencintai Nayla. Maka ia harus menjauhkan gadis itu dari calon tunangannya sekaligus akan memberi pelajaran pedih karena telah membuatnya kecewa selama tiga tahun belakangan.
Tidak tanggung-tanggung, Sisca akan membuat Nayla masuk penjara. Ia memanfaatkan kekuasaan papinya. Namun karena ia tidak menemukan celah hukum untuk mengkriminalisasikan Nayla, maka terpaksa ia akan menyeret perusahaan tempat Nayla bekerja dan menyeret semua pimpinan dan karyawannya.
Sisca sadar benar, apa yang ia lakukan terlalu mahal ongkosnya. Ia harus memanfaatkan posisi papinya dan melibatkan banyak pihak. Tetapi, hanya itu saat ini yang ada dalam benaknya.
***
Begitu turun dari angkot, Nayla langsung bergegas menuju kantor. Ia pikir dirinya akan terlambat. Tadi ia berangkat dari rumah pukul 06:47 wib, terlambat setengah jam dari biasanya. Namun sesampainya di depan kantor, ia melihat pintu gerbang masih digembok.
Merasa heran, Nayla melirik arloji pada pergelangan tangan: pukul 07:12. Seharusnya ia terlambat dua belas menit. Seharusnya sekuriti sudah membuka pintu gerbang lebar-lebar. Dan seharusnya sudah terlihat aktivitas.
Pandangan Nayla tertambat kepada pita kuning yang melintangi pintu gerbang. Ia berhenti dengan perasaan tidak enak. Ia curiga ada sesuatu yang telah terjadi.
Agak ragu Nayla berjalan lebih mendekat. Saat tinggal berjarak tiga langkah dari pintu gerbang, ia berhenti. Dari posisinya ia bisa membaca tulisan pada pita kuning tersebut: Garis polisi. Dilarang melintas.
"Ada apa ini?" gumamnya. Ia menyentuh pita kuning tersebut. Seketika firasatnya menjadi tidak enak.
"Selamat pagi!"
Reflek Nayla menoleh demi mendengar sapaan dari arah belakangnya. Serta merta alisnya terangkat melihat dua orang berseragam polisi, satu lelaki dan satu perempuan.
"Se-selamat pagi!" jawab Nayla, menatap dua polisi di depannya secara bergantian.
"Anda karyawan kantor Kerta Post?" tanya polisi lelaki.
"I-iya benar." Nayla tidak kuasa menahan gugup. Perasaannya semakin tidak enak.
"Siapa nama Anda?" tanya polwan. Ia lebih mendekat kepada Nayla.
"Nayla." Lidah Nayla terasa kelu mengucapkan itu.
Polwan menyisir penampilan Nayla dari atas sampai ke bawah. "Boleh kami memeriksa KTP Anda?"
Nayla mengambil KTP dari dalam dompet lalu menyerahkannya kepada sang polwan.
Polwan memeriksa data pada KTP Nayla. Ia mengangguk sekali, melirik Nayla sekilas, dan mengembalikan KTP.
"Mari saudari Nayla ikut kami ke kantor!" Polwan merengkuh bahu Nayla.
"Kenapa memangnya?" Nayla bingung.
Polwan sedikit mendorong Nayla agar jalan. "Nanti kami jelaskan di kantor."
"Sebentar!" Nayla menahan badannya agar tidak terdorong. "Aku harus tahu dulu, ini ada apa sebenarnya?"
"Silakan Mbak Nayla ikut saja agar proses ini cepat selesai!" Polisi lelaki menimpali.
"Proses apa ya?" Nayla semakin bingung. Ia menepis tangan polwan dari bahunya dengan halus.
Polwan tersenyum, menahan sabar. "Kami hanya menjalankan tugas untuk menjemput saudari Nayla. Kami membutuhkan keterangan Anda, tidak usah takut. Jadi kami mohon Anda untuk kooperatif."
"Apa aku akan ditangkap?" Nayla memandang kedua polisi bergantian, meminta penjelasan. "Kalau iya, mana surat penangkapannya?"
"Kami tidak menangkap Anda!" tegas Polwan. "Kami hanya meminta Anda untuk memberi keterangan karena pimpinan dan beberapa staf di kantor Anda sudah kami amankan karena diduga terpapar radialisme."
Nayla terhenyak. "Radikalisme?"
"Sekali lagi kami mohon saudari Nayla agar kooperatif. Ini demi teman-teman kerja Anda juga!"
Radikalisme? Dalam hati Nayla tertawa miris. Ia tidak mengerti kenapa kata itu disematkan pada pimpinan dan teman-temannya. Selama bekerja di kantor ini, ia sangat mengenal mereka dan sangat yakin dugaan polisi itu keliru.
"Saya yakin mereka menunggu kedatangan Anda, Saudari Nayla!" Gestur Polwan mengisyaratkan agar Nayla mau diajaknya.
Nayla bimbang. "Tapi aku nggak akan ditahan kan?"
"Kami tidak menahan orang sembarangan. Jika Anda merasa tidak terlibat, maka Anda aman. Tetapi jika nanti ternyata Anda terlibat bersama mereka maka kami akan melakukan langkah-langkah selanjutnya sesuai prosedur hukum." Polisi lelaki menjelaskan.
"Maka itu, kehadiran Anda sangat penting demi penegakan hukum. Bahkan jika Anda merasa pimpinan dan teman-teman Anda tidak bersalah, kesaksian Anda akan meringankan mereka." Polwan menimpali.
Nayla tidak mau ke kantor polisi, tapi dalam hati ia membenarkan kalimat polwan di depannya. Paling tidak ia akan tahu sebenarnya apa yang tengah terjadi.
"Mari, Saudari Nayla!" Tangan polwan menunjuk ke arah mobil yang terparkir tidak jauh dari posisi mereka berdiri.
Nayla mendesah tertahan. Mau tidak mau, suka tidak suka, ia harus ke kantor polisi. Lagi pula jika ia menolak pun pasti kedua polisi itu akan terus membujuknya, atau bahkan memaksanya.
Nayla melangkah ragu. Setiap jejak kaki yang ia daratkan di tanah rasanya berat sekali.
Nayla masuk ke mobil. Ia dibawa ke kantor polisi terdekat. Sampai di sana, ia disuruh menunggu pada sebuah ruangan kosong, hanya ada sebuah meja dan tiga kursi plastik. Ia menduduki salah satunya.
Selama beberapa menit, Nayla menunggu tanpa tahu bagaimana nasibnya selanjutnya. Ia bingung karena tidak ada pimpinan dan rekan kerjanya seperti yang kedua polisi tadi bilang.
Ketika seorang polisi masuk ke ruangan itu, Nayla menggunakan kesempatan itu untuk bertanya.
"Pak!" panggil Nayla kepada sang polisi.
Polisi mendekati Nayla. "Ada apa, Bu?"
Nayla mengernyit karena dipanggil dengan sebuatan 'Bu', tetapi itu bukan masalah penting. "Saya akan diapakan di sini?"
Polisi mengulas senyum ramah. "Tunggulah sebentar, nanti ibu akan dipanggil saat komandan kami datang."
Nayla belum puas dengan jawaban itu. "Tadi katanya pimpinan dan teman-teman saya ditangkap, tetapi saya tidak melihat keberadaan mereka."
"Mereka sedang menjalani proses penyelidikan," jawab sang polisi.
"Apa mereka ditahan?" Nayla penasaran.
Polisi tersenyum ramah, tanpa mengurangi kewibawaan. "Mohon maaf, saya belum bisa memberikan informasi perihal itu kepada ibu."
Polisi itu mengangguk ramah. "Baik, Bu, silakan tunggu saja. Saya masih ada pekerjaan lain. Jika butuh sesuatu, ibu bisa hubungi saya di depan pintu itu." Ia meninggalkan ruangan.
Lama-lama Nayla jenuh berada di sebuah ruangan sendirian tanpa televisi atau bacaan. Ia menyelonjorkan kedua kaki. Kepala ia sandarkan ke dinding.
Bayangan wajah ayahnya melintas. Ia mengkhawatirkannya. Tadi saat pamitan, ayahnya masih terbaring lemah, meskipun kondisinya mulai sedikit membaik ketimbang kemarin.
Pikiran Nayla menjadi kusut mengingat kini kantornya sedang tersangkut sebuah kasus. Entah bagaimana nasib pekerjaannya jika kantornya nanti tutup. Ia belum tahu mau kerja apa jika itu terjadi.
Tidak mau memikirkan hal buruk, Nayla mencoba bersenandung lagu Heal The World sampai matanya mulai terasa berat. Lama-lama ia mengantuk.
Nayla baru saja akan memejamkan mata ketika seorang polwan masuk.
"Saudari Nayla, mari ikut saya!" ajak sang polwan.
Nayla tidak tahu harus senang atau sebaliknya. Yang pasti ia merasa berdebar. Ia berdiri dan mengekor sang polwan keluar ruangan.
Nayla menyusuri sebuah koridor. Kesibukan di kantor polisi itu semakin terasa ketimbang di ruangan tadi. Perasaannya menjadi tidak enak ketika sang polwan menggandengnya.
"Kita mau ke mana, Bu?" tanya Nayla cemas.
Sang polwan tersenyum. "Nanti Anda akan tahu."
Meskipun pada benaknya berjubel berbagai macam pertanyaan dan hatinya diliputi rasa penasaran, Nayla memilih diam.
Sampailah mereka pada sebuah ruangan berjeruji. Sang polwan membuka gembok.
Nayla mundur selangkah. Ia tahu ruangan di depannya adalah sebuah sel tahanan. "Saya mau diapakan?"
Alih-alih menjawab, sang polwan menggandeng Nayla untuk masuk ke ruangan.
Nayla menolak. Sekuat tenaga mempertahankan badan agar tetap berada di tempatnya. "Saya nggak mau ditahan!"
Sekuat apa pun usaha Nayla, tenaganya kalah jauh dengan sang polwan yang terus mendorongnya sampai ia masuk sel tahanan.
"Sambil menunggu dimintai keterangan, Anda tunggulah di ruangan ini!" Sang polwan menutup pintu jeruji besi dan mengunci gemboknya.
Nayla menatap sang polwan bingung sekaligus kesal. "Salah saya apa?"