Serasa Sedang Bermimpi

1785 Words
Iron merasa lega setelah mendengar cerita Nayla soal kejadian tadi siang di kamar VVIP9.  Tadi selepas Sisca pergi dari kamar VVIP9, tidak lama kemudian Iron masuk. Ia duduk di atas tempat tidur. Sementara Nayla duduk di kursi, menghadap Iron.  "Jika benar pengakuan Sisca bahwa ia melakukan itu karena motif sakit hati soal asmara, berarti itu nggak ada kaitannya dengan rencana besar yang sedang aku kerjakan," ujar Iron kepada Nayla.  Nayla penasaran. "Memangnya kamu merencanakan apa?"  Iron mengambil bantal. Ia meletakannya di atas pangkuan untuk menyangga kedua lengannya. "Sebelum menjelaskannya sama kamu, ada baiknya kamu bertemu dengan bosku lebih dulu."  Nayla mengangkat kedua kakinya ke atas kursi. "Kalau begitu pertemukan aku dengannya."  "Nanti malam aku ajak kamu ke sana!" ujar Iron.  "Bos kamu laki apa perempuan?"  "Nanti kamu juga tahu!"  Nayla mendengus. "Yaelah main rahasia-rahasiaan!"  Iron menatap Nayla lekat-lekat. "Ini memang projek rahasia."  Nayla melengos. Selain karena sebal karena Iron selalu membuatnya penasaran juga karena ia tidak sanggup bertatapan mata dengan pemuda itu.  "Aku ingin bertanya soal pribadi sama kamu." Iron memain-mainkan bantal di pangkuannya. "Aku berharap kamu menjawabnya karena jika enggak, kamu belum bisa bertemu dengan bosku."  "Jadi yang kepo itu kamu apa bos kamu?" Nayla mengerjap.  "Bosku!"  "Bukan kamu?"  Iron menggeleng.  Nayla mendesah. Ia semakin penasaran siapa sebenarnya bos Iron.  "Aku tahu kamu bukan anak kandung Pak Mahdi," ucap Iron. "Pak Mahdi dan istrinya mengadopsimu dari sebuah panti asuhan."  Nayla tidak kaget karena sebelumnya Iron pernah bilang kalau pemudia itu sudah sejak lama mencari tahu identitasnya.  "Yang ingin aku tanyakan adalah seberapa banyak kamu mengetahui latar belakangmu sendiri," ucap Iron.  Nayla menatap Iron sekilas, sebelum akhirnya menunduk. "Ayah tidak pernah memberitahuku siapa orang tua kandungku."  "Jadi apa saja yang ayahmu pernah ceritakan padamu?"  Nayla mendaratkan pandangan ke bantal yang dipegang Iron. "Ayah dan ibu angkatku mengadopsiku sejak aku masih berusia dua tahun. Mereka merawatku layaknya anak kandung."  "Ayahmu enggak menceritakan latar belakangmu?"  Nayla menggeleng. "Ketika ayah mengadopsiku, pihak panti asuhan tidak memberitahukan identitas orang tua kandungku."  "Ayahmu tidak pernah cerita kalau kamu punya saudara kembar?" tanya Iron. Ia menunggu reaksi Nayla.  Nayla mematung sejenak. Sejurus kemudian ia mendesah panjang. "Sejak aku kecil, ayah memang memberitahuku kalau aku bukan anak kandungnya tapi beliau menyayangiku layaknya anak kandung. Waktu aku berusia tujuh tahun, beliau memberitahuku kalau aku punya saudara kembar."  Iron meletakkan bantal ke atas kasur sambil tetap menatap Nayla. "Terus apa reaksimu saat itu?"  "Mungkin karena waktu itu aku masih kecil, sehingga enggak begitu menggebu untuk mencari tahu siapa saudara kembarku. Keinginan itu mulai menggelisahkanku ketika aku kelas enam SD."  "Apa yang kamu lakukan saat itu?"  "Aku meminta kepada ayah untuk mempertemukanku dengan saudara kembarku."  "Apa reaksi ayahmu waktu itu?"  Nayla mengeluarkan desahan melalui mulut. "Ayah mengajakku ke panti asuhan tapi ternyata panti asuhan itu sudah tutup beberapa tahun sebelumnya. Aku sangat kecewa waktu itu tapi nggak bisa berbuat apa-apa."   "Jadi sampai sekarang kamu belum pernah tahu identitas saudara kembarmu?"  Nayla mengangguk berat. Hatinya pedih jika mengingat itu.  "Kamu atau ayahmu tidak berniat untuk mencari tahu identitas saudara kembar kamu?"  "Sering!" jawab Nayla. "Tanpa sepengetahuanku, ayah terus mencari informasi identitas saudara kembarku. Sambil bekerja, beliau mencoba mencari tahu alamat para pengurus panti. Sayangnya hingga sekarang beliau belum pernah bertemu dengan pengurus panti."  "Kalau ayahmu melakukan itu tanpa sepengetahuanmu, lalu kenapa kamu akhirnya bisa tahu?" selidik Iron.  Nayla melingkarkan lengan ke sepasang betisnya. Ia menumpukan dagu ke atas lutut. "Waktu kelas dua SMA, aku giat mencari informasi identitas saudara kembarku. Setiap hari aku menjelajahi Google dan situs jejaring sosial. Itu membuatku nggak pernah keluar rumah dan nggak pernah jajan karena uang sakuku habis buat beli kuota internet."  Iron menunggu kelanjutan cerita Nayla.  Nayla tersenyum pedih mengingat zaman itu. "Ayah khawatir karena aku selalu berada di rumah. Beliau bertanya apa aku punya masalah? Akhirnya aku jelaskan semuanya. Beliau memelukku erat sambil menitikkan air mata. Itu adalah kali pertama aku melihat beliau menangis."  Iron mematung, melihat mata Nayla sembab.  Nayla menyeka air mata yang belum sempat jatuh. "Beliau akhirnya cerita bahwa sudah bertahun-tahun mencari identitas saudara kembarku tapi belum berhasil."  Iron mengambil boks tisu dari atas meja. Ia menyodorkannya kepada Nayla.  Nayla menggeleng, menolak halus tawaran tisu dari Iron. "Aku sedih bukan karena belum berhasil menemukan saudara kembarku tapi karena waktu itu ayah mengutarakan penyesalannya kepadaku dan menyalahkan dirinya sendiri."  "Kenapa ayahmu menyesal dan menyalahkan dirinya sendiri?" Iron penasaran.  Nayla menatap Iron. Matanya kembali sembab. "Beliau selalu merasa kalau dirinya menjadi penyebab aku terpisah dengan saudara kembarku. Tentu saja aku menyanggahnya. Justtu aku berterima kasih karena beliau sudah membuatku memiliki orang tua sebaik ayah dan ibu."  Iron mengangguk haru. "Apa hingga sekarang beliau masih merasa bersalah?"  Nayla mengangguk. "Kadang-kadang. Aku sering melihatnya melamun sendirian sambil menatap fotoku ketika masih berada di panti asuhan."  "Foto itu masih ada?" tanya Iron.  "Iya," jawab Nayla sambil menyeka air mata menggunakan ibu jarinya.  "Boleh aku melihatnya?" Iron menatap Nayla dengan sorot memohon.  Nayla mengambil ponsel dari saku baju. Ia membuka situs jejaring sosial. Di sanalah ia menyimpan foto-fotonya sejak kecil hingga dewasa. Setelah menemukan foto yang dimaksud, ia menyerahkan ponsel kepada Iron.  Iron menerima ponsel dari Nayla. Pada layar terpampang sebuah foto bayi berusia dua tahun yang sedang digendong seorang perempuan berusia empat puluhan. Itu adalah momen hari terakhir Nayla berada di panti asuhan.  "Saudara kembarmu tidak ada dalam foto ini," ujar Iron.  "Kata ayah, waktu itu saudara kembarku sedang sakit cacar," timpal Nayla.  "Sebentar!" Iron membetulkan posisi duduk. Ia sangat antusias untuk menggali keterangan dari Nayla. "Ketika ayahmu mengadopsimu, saudara kembarmu masih berada di panti asuhan?"  Nayla mengangguk. "Itulah kenapa ayah selalu menyimpan rasa bersalah. Beliau menyesal karena gagal mengadopsi keduanya."  "Jadi ayahmu punya keinginan mengadopsi keduanya?"  "Iya, waktu itu ayah ingin mengadopsi keduanya tapi saudara kembarku sudah diadopsi orang lain."  Iron mengernyit bingung. "Tadi kamu bilang saat ayahmu mengadopsimu, saudara kembarmu masih berada di panti asuhan bukan?"  Nayla mengangguk. "Waktu itu saudara kembarku sudah secara resmi diadopsi orang lain tapi karena sedang sakit cacar, terpaksa harus dirawat dulu di panti asuhan sampai sembuh. Jadi, pada saat ayah datang ke panti dan berniat mengadopsi keduanya, status saudara kembarku sudah diadopsi orang lain."  Iron mengangguk paham. "Cuman yang aku nggak habis pikir adalah kenapa orang yang mengadopsi saudara kembarmu itu nggak mengadopsi kalian berdua dan hanya mengadopsi saudara kembarmu saja?"  Nayla menurunkan kedua kaki dari atas kursi. "Soal itu aku nggak tahu."  Iron mengangguk. Ada perasaan haru dalam hati mendengar penuturan Nayla, juga ada perasaan senang karena ia mendapatkan sebuah fakta yang akan memudahkan dirinya menjalankan sebuah rencana rahasia.  "Satu pertanyaan terakhir," ujar Iron. Ia menatap Nayla lekat-lekat. "Jika aku berhasil mempertemukanmu dengan saudara kembarmu, apakah kamu bersedia memenuhi satu permintaan dariku?"  Nayla mematung. Sejurus kemudian ia tersenyum geli. "Iron, aku perhatikan kamu selalu meminta imbalan setiap kali menolongku. Kali ini pun begitu. Bahkan sebelum kamu melakukannya sudah lebih dulu meminta imbalan!"  Iron tersenyum masam. "Aku hanya ingin kita saling membantu. Itu saja."  Nayla terkekeh. "Jangan khawatir, aku bukan orang yang tidak tahu berterima kasih. Aku juga akan bayar hutang-hutangku."  Iron mendesah tertahan. Ia menunduk cukup dalam selama beberapa detik. Suasana menjadi hening, hanya terdengar detak beraturan dari jam dinding. Ia kemudian turun dari tempat tidur dan berdiri di depan Nayla.  Nayla waspada. "Mau ngapain?"  Alih-alih menjawab, Iron berjongkok. Ia meraih pergelangan tangan Nayla. "Nay, maaf kalau aku sedikit arogan sama kamu. Aku tidak bermaksud begitu, hanya memang seperti itulah karakterku."  Hati Nayla kebat-kebit. Wajahnya merah padam. Ingin sekali ia melepaskan tangannya tapi rasanya berat. Dalam hati ia menyangkal pengakuan Iron. Di matanya, pemuda itu memang terkesan ketus tapi ia tidak menganggap Iron arogan.  Iron meremas jemari tangan Nayla. "Aku dan tim memang sangat membutuhkan bantuanmu. Namun sesungguhnya apa yang telah kami berikan kepada kamu dan ayahmu murni karena ingin membantu. Kami tidak mengharap balasan apalagi merasa memberi hutang budi."  Irama detak jantung Nayla menjadi tidak beraturan. Ia merasa risih diperlakukan seperti itu. "Iron, tolong bangun. Jangan begini!"  Iron bangkit dari jongkok. Ia melepas tangan Nayla dan kembali duduk di atas tempat tidur.  "Aku percaya sama kamu!" Kalimat itu meluncur begitu saja dari mulut Nayla.  "Terima kasih, Nay!" Iron tersenyum lega.  Nayla mengangguk. Irama detak jantungnya masih tidak beraturan. Ia tidak mengerti kenapa bisa begitu.  Tiba-tiba Nayla teringat ayahnya. "Ayahku dipindahkan ke mana?"  "Ayahmu berada di suatu tempat yang aman. Kondisi kesehatan beliau juga semakin membaik. Beliau sudah tidak membutuhkan infus lagi," jelas Iron.   Nayla menarik napas lega. "Syukurlah. Aku ingin bertemu dengannya."  Iron mengangguk. "Iya, nanti aku antar kamu ke sana."  ***  Mahdi bersyukur dirinya sudah tidak diinfus lagi. Kondisi badannya juga membaik secara signifikan. Hanya saja ia masih belum mengerti kenapa dipindahkan ke kamar ini.  Ruangan 6x5 ini lebih mirip sebagai kamar tidur ketimbang ruang perawatan. Mahdi yakin dirinya tidak sedang berada di rumah sakit.  Mahdi bosan berada di kamar ini. Ia ingin berjalan-jalan karena sudah merasa sehat. Ia pun bangkit dari rebahannya dan duduk di tepi kasur.  Tok! Tok! Terdengar suara pintu diketuk.  "Masuk!" sahut Mahdi. Ia merasa senang ada yang datang karena ia sudah jenuh berada di dalam kamar sendirian.  Daun pintu kamar terbuka lebar. Seorang perempuan cantik berhijab tampak sedang duduk di atas kursi roda. Senyumnya terkembang begitu melihat Mahdi. Ia memberi isyarat kepada asistennya untuk menjalankan kursi roda lebih dekat dengan Mahdi.  "Bu Nasima?" Reflek Mahdi berdiri meskipun sedikit sempoyongan. Ia mengangguk hormat. Reflek ia mencubit lengannya sendiri, memastikan bahwa dirinya tidak sedang bermimpi. Rasa sakit akibat cubitan menyadarkannya bahwa ia dalam keadaan sadar. Sungguhpun demikian ia sulit mempercayai bahwa yang sedang ada di hadapannya adalah ibu walikota.  "Silakan duduk, Pak!" pinta Nasima.  Mahdi kembali duduk dengan perasaan canggung.  "Di sini saja, Muna!" Nasima memberi isyarat kepada Muna, asistennya agar memarkirkan kursi roda.  Muna mengunci kursi roda agar tidak bergerak. Ia kembali standbye di belakang majikannya.  "Perkenalkan saya Nasima." Nasima mengangguk ramah.  "Iya, Bu Nasima, tentu saja saya mengenal Anda. Anda kan walikota saya." Mahdi tersenyum gugup. "Nama saya Mahdi dari desa Karangasem."  Nasima mengangguk-angguk. Ia menatap Mahdi lekat-lekat. Dalam hati ia sangat bersyukur bisa bertemu lelaki itu. Momen ini cukup membuatnya emosional.  "Bagaimana keadaan Pak Mahdi, sudah sehat?" tanya Nasima.  "Iya, alhamdulillah sehat," jawab Mahdi berusaha menetralisir kegugupannya.  "Syukurlah, pasti bapak jenuh berada di atas tempat tidur terus bukan?" tebak Nayla sambil terus mengembangkan senyum.  Mahdi tersenyum. "Ya begitulah, Bu."  "Sepertinya bapak butuh suasana segar," ujar Nayla. "Jika bapak berkenan, saya ingin mengajak bapak berjalan-jalan."  Mahdi kaget sekaligus senang. Rasanya ia sulit mempercayai pendengarannya sendiri kalau ia akan diajak jalan-jalan seorang walikota.  "Bapak sanggup berjalan bukan?" Nasima memastikan.  Mahdi mengangguk mantap. "Bisa, Bu!"  "Kalau merasa lelah, saya bisa menyediakan kursi roda dan seorang asisten untuk membantu bapak."  Mahdi menggeleng pelan. "Tidak usah, Bu. Terima kasih. Saya bisa jalan kok."  Nasima mengangguk senang. "Kalau Pak Mahdi berkenan, kita bisa mulai sekarang."  Mahdi mengatupkan bibir, terharu. Ia akan jalan-jalan bersama seorang walikota. Serasa ia sedang bermimpi saja. 
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD