Sisca melangkah pasti, menelusuri sebuah lorong rumah sakit di lantai sembilan. Ia sangat bersemangat untuk menemui Mahdi. Sebuah rencana jahat telah ia persiapkan dengan matang. Ia telah menanam beberapa orang di beberapa titik rumah sakit untuk memastikan Nayla sedang tidak berada di area situ.
Sisca sangat puas terhadap kinerja Heri yang berhasil menemukan keberadaan Mahdi. Sebuah rekaman video dari orang kepercayaannya itu membuktikan bahwa ayahnya Nayla tengah dirawat di kamar VVIP9.
Meskipun tahu bahwa video kiriman Heri asli, tapi Sisca tidak langsung mempercayainya begitu saja. Ia membuktikannya sendiri dengan bertanya kepada petugas di ruang informasi.
Setelah memastikan bahwa Mahdi benar sedang dirawat di kamar VVIP9, Sisca menempatkan beberapa orang untuk mencari tahu apakah Nayla berada di dekat ayahnya atau tidak. Ia sangat gembira ketika mendapatkan informasi kalau Nayla tidak sedang berada di rumah sakit. Maka ia pun segera mempersiapkan rencana jahatnya.
Maka di sinilah Sisca, berada di lantai sembilan, menelusuri lorong menuju kamar VVIP 9. Kepada Mahdi, ia akan mengaku sebagai teman Nayla. Ia yakin Mahdi belum tahu kalau rumah lelaki tersebut pernah digeledah polisi. Untuk itulah ia akan menceritakannya sekalian menunjukkan rekaman video ketika polisi melakukan penggeledahan.
Nanti Sisca akan berpura-pura menghibur Mahdi, padahal dalam hati ia berharap ayahnya Nayla akan shock, kondisi kesehatannya menurun, dan Nayla akan sangat sedih. Sungguh matang rencananya tersebut.
Sampai di depan kamar Mahdi, Sisca mengetuk pintu.
"Masuk!"
Sisca menyeringai, mendengar sahutan dari seorang bersuara lelaki yang ia tebak adalah Mahdi. Ia membuka pintu dan memasuki kamar.
"Permisi!" ucap Sisca sambil mendekati lelaki yang sedang berbaring miring dan tampak memunggunginya.
"Nayla?" tanya lelaki yang berbaring miring tersebut.
Sisca berhenti tepat di dekat tempat tidur. "Bukan, saya temannya Nayla."
Lelaki yang berbaring miring tersebut membalikkan badan secara perlahan. Ia tersenyum kepada Sisca. "Teman kerja Nayla?"
Seketika wajah Sisca meredup ketika sadar bahwa lelaki yang sedang berada di atas tempat tidur itu masih muda. Meskipun ia hanya tahu wajah Mahdi lewat sebuah foto saja tapi ia sangat yakin kalau lelaki yang ada di depannya bukanlah Mahdi.
Sisca mencium ketidakberesan. Ia curiga dirinya sedang dijebak. Sehingga ia harus segera pergi dari kamar ini.
"Maaf, sepertinya saya salah kamar." Sisca membalikkan badan.
"Memangnya kamu mau menjenguk siapa?" tanya Nayla yang berdiri di dekat pintu.
Wajah Sisca seketika pucat. Ia terperangah melihat Nayla sedang mendekat ke arahnya sambil menghunus tatapan sadis kepadanya.
Tenggorokan Sisca tercekat. Ia hanya bisa mematung sambil dalam hati mengutuk situasi yang membuatnya tidak berkutik ini.
"Kamu kaget karena ternyata ayahku nggak berada di kamar ini?" Nayla tersenyum sinis. "Kamu juga kaget karena ternyata aku berada di sini bukan?"
Lemas terasa lutut Sisca. Ia tidak habis pikir kenapa Mahdi tidak berada di kamar ini dan Nayla yang sebelumnya diinformasikan sedang tidak berada di rumah sakit tiba-tiba sekarang berada di hadapannya.
Sisca tidak tahu kalau dirinya sedang dijebak. Iron telah merencanakan jebakan ini dengan matang. Kemarin ia menyuruh anak buahnya untuk menempelkan sebuah kertas di pintu depan rumah Mahdi. Kertas itu bertuliskan: Mohon doa untuk kesembuhan Bapak Mahdi yang sedang dirawat di kamar VVIP9 Gerard Hospital.
Tujuan Iron menempelkan kertas tersebut adalah untuk memancing Sisca. Ia yakin tulisan itu akan dibaca anak buah perempuan itu dan akan diteruskan ke bosnya.
Pancingan Iron berhasil. Ia mendapatkan laporan ada salah satu anak buah Sisca yang mencari informasi kepada pihak rumah sakit tentang Mahdi. Iron pun menyusun rencana untuk mengantisipasi kemungkinan selanjutnya.
Iron memerintahkan anak buahnya untuk segera memindahkan Mahdi ke kamar lain. Salah satu anak buahnya berpura-pura menjadi Mahdi. Sementara itu Iron dan Asif mengantar Nayla kembali ke rumah sakit.
Dalam perjalanan menuju rumah sakit, Iron membeberkan rencananya kepada Nayla. Ia meminta gadis itu untuk terlibat dalam penjebakan terhadap Sisca.
"Sebenarnya apa yang sedang kamu rencanakan sehingga begitu jahat kepadaku?" Nayla menatap tajam kepada Sisca.
Kehilangan akal, Sisca memilih segera pergi ketimbang meladeni Nayla. Celakanya, ia tidak bisa membuka pintu karena sudah dikunci Nayla.
"Mau ke mana?" Nayla terkekeh sinis. Ia mendekati Sisca yang terperangkap di dekat pintu.
"Buka pintunya!" bentak Sisca geram. Tangannya terus memutar kenop pintu. "Kalau enggak aku laporkan kamu ke polisi dengan tuduhan penyekapan."
"Lapor saja!" tantang Nayla. "Nanti ketika polisi datang ke sini, kamu akan mendapatkan malu untuk yang kedua kalinya!'
Napas Sisca terengah-engah, menahan geram. Sekarang ia sadar, tidak mudah mengalahkan Nayla karena ia merasa yakin ada kekuatan besar di balik gadis tomboy itu.
"Apa salahku sama kamu, hah?" Nayla menyingkap poni Sisca sebagai bentuk intimidasi. Ia ingin menunjukkan kalau dirinya sedang berada di atas angin. "Sehingga kamu begitu keji memftinahku!"
Sisca sadar, meladeni Nayla tidak ada gunanya saat ini. Satu-satunya cara untuk menyelamatkan diri adalah dengan segera pergi. "Aku nggak ada urusan sama kamu!"
Nayla terbahak-bahak. "Aku bisa merasakan ketakutanmu, Nona Sisca Stefani binti Ferdy!"
Sisca melengos. Otaknya berpikir keras, bagaimana caranya keluar dari situasi ini.
"Karirmu bagus, Nona," sindir Nayla sambil tersenyum penuh intimidasi. "Karena ayahmu seorang sekjen, kamu bisa menjadi pengurus cabang. Kalau aku bongkar kebusukanmu kepada media, aku yakin mereka akan membuat headline: Seorang Anak Sekjen Partai Besar Mengkriminalisasi Gadis Miskin."
"Berani-beraninya kamu mengancamku!" hardik Sisca dengan nada bergetar.
"Aku bukanlah kamu yang bisa melakukan apa saja, menghalalkan segala cara, memanfaatkan posisi, dan pengaruh nama besar orang tua," sindir Nayla. "Tapi aku bisa membuatmu menyesal telah berurusan denganku, Nona!"
"Cuih!" Sisca meludah karena sudah tidak tahan menahan geram.
Nayla melirik bekas air ludah Sisca di lantai. "Air ludah itu bisa membuat namamu viral, Nona Sisca binti Ferdy!"
"b******k!" umpat Sisca kehabisan akal. Ia menunjuk muka Nayla. "Kamu akan menangung akibatnya karena telah berani mengancamku!"
"Kalimatmu barusan juga bisa viral, Nona!" Nayla terkekeh sinis. "Sisca Stefani binti Ferdy yang selama ini dikenal lembut dan ramah ternyata suka mengumpat. Hehehe!"
"Biarkan aku pergi!" bentak Sisca. Emosinya meluap-luap.
Nayla mendekatkan telinga ke arah Sisca. "Kamu ngomong apa barusan? Mohon maaf aku nggak bisa mendengarnya secara jelas."
Sisca membuang muka. Ia mengutuk situasi buruk ini yang telah membuatnya kehilangan harga diri di depan gadis miskin dan tomboy.
"Aku akan membukakan pintu lebar-lebar untukmu, Nona Sisca Stefani binti Ferdy, tapi katakan dulu apa motif kamu mengkriminalkan aku?" Nayla bersedekap. Tatapannya terhunus lurus ke arah Sisca.
Sisca membalas tatapan Nayla dengan sangat geram. Ia tidak sudi menuruti syarat dari Nayla. Ia punya penawaran tersendiri yang akan membuatnya merasa lebih hebat dari gadis miskin di depannya. "Aku akan memberimu lima juta rupiah kalau kamu membukakan pintu untukku."
Nayla terbahak-bahak. Nadanya meremehkan. "Jadi kamu masih berpikir uang bisa membeli segalanya? Oke, aku ikuti permainanmu. Berikan aku lima ratus juta dan dengan senang hati akan membukakan pintu untukmu!"
"Pemerasan!" hardik Sisca kesal.
"Aku enggak yakin kamu nggak punya uang sebanyak itu!" Nayla terkekeh.
Sisca menunjuk muka Nayla geram. "Kamu akan menyesal nanti!"
Kekehan Nayla seketika berhenti. Wajahnya berubah sadis. "Aku sudah merekam semuanya yang berlangsung di sini. Kalau kamu belum mau menjelaskan motif kamu mengkriminalkan aku, aku bisa menjual rekaman itu kepada media."
Gigi Sisca bergemeletuk, sudah sulit mengendalikan emosi. "Dasar gadis miskin tomboy yang nggak tahu diri!"
Nayla mengernyit. Mendengar kata 'tomboy' membuatnya teringat kepada mantan kekasihnya. "Tomboy? Apa jangan-jangan kamu ada kaitannya dengan Amando?"
Sisca melengos, mengutuk diri sendiri yang baru saja keceplosan.
Nayla menunjuk lelaki yang duduk di atas tempat tidur. "Kamu lihat orang itu? Ia telah merekam semua yang terjadi di sini sejak tadi. Media pasti berebutan ingin mendapatkan file-nya!"
Sisca menelan ludah. Ia kehabisan akal dalam menghadapi Nayla.
"Kalau kamu menelepon orang lain, atau kamu nggak mau menjelaskan apa motif kamu mengkriminalkan aku, aku bisa menjual rekaman itu kepada siapa pun yang aku suka!" ancam Nayla.
Sisca melirik ke arah lelaki yang sedang merekam menggunakan ponsel. Ia tidak punya pilihan lain selain harus menuruti kemauan Nayla. "Oke, aku akan menjelaskannya kepadamu tapi syaratnya aku akan sita ponsel itu dan kamu membiarkan aku pergi dari sini!"
"Deal!" sahut Nayla. "Tapi awas kalau kamu mengarang!"
Tangan Sisca teracung kepada lelaki yang sedang merekam video. "Berikan dulu ponselnya kepadaku, baru aku jelaskan. Bukankah aku juga baru bisa keluar setelah menjelaskan semuanya?"
Nayla memberi isyarat kepada lelaki itu untuk menyerahkan ponselnya. Lelaki itu mendekat kepada Nayla.
Nayla mengambil alih ponsel itu. Ia mengacungkannya kepada Sisca. "Jelaskan dulu sebagian, baru aku berikan ponsel ini. Setelah kamu menjelaskannya sampai selesai, kamu boleh enyah dari sini!"
Sisca menyeringai. "Oke, aku nggak suka bertele-tele. Aku benci sama kamu karena kamu telah merebut Amando dariku!"
Nayla terhenyak. Ia tidak menyangka kalau ini berkaitan dengan Amando. "Jadi kamu apanya Amando?"
Sisca membelalakan mata. "Aku sudah kenal Amando sejak lama. Kami sangat dekat. Semuanya menjadi hancur sejak kamu hadir dalam kehidupan Amando."
Nayla menyanggah. "Amando belum pernah punya kekasih saat kami jadian!"
"Memang benar!" sahut Sisca. "Aku nyaris mendapatkan Amando sampai kamu menggagalkannya!"
Nayla bersedekap. Ia menatap Sisca tajam. "Kamu nggak tahu kalau aku sudah putus dengan Amando?"
"Tahu, tapi aku nggak mau kalian masih berhubungan!"
Nayla tergelak sinis. "Naif sekali kamu, Nona. Bahkan setelah hubunganku dengan Amando berakhir pun, kamu masih menganggap aku sebagai ancaman. Kamu rela menghalalkan segala cara termasuk mengkriminalkan aku. Licik sekali kamu!"
Sisca melihat Nayla lengah. Ia segera menyambar ponsel dari tangan Nayla.
Nayla kaget. Ia berusaha merebut kembali ponsel itu, tapi Sisca berhasil mengelak.
"Aku sudah menceritakan semuanya!" hardik Sisca. "Jadi sesuai kesepakatan aku berhak atas ponsel ini!"
Nayla mendengus kesal. "Oke! Sekarang jelaskan kenapa kamu mengkriminalkan perusahaan tempatku kerja juga? Kenapa melibatkan mereka jika ini hanya tentang aku dan hubunganmu dengan Amando?"
Sisca menyeringai. Sekarang ia merasa aman karena ponsel perekamnya sudah dalam genggamannya. Ia bisa dengan leluasa mengatakan apa pun tanpa takut diancam. "Aku bisa melakukan yang lebih pedih dari itu. Jadi jangan pernah macam-macam sama aku!"
"Itu berarti kamu mengakui kalau kamu mengkriminalkan perusahaan tempatku kerja bukan?" desak Nayla.
Sisca mengangguk puas. "Tentu saja. Jangankan perusahaan di tempatmu kerja, kampungmu pun bisa aku binasakan!"
Nayla bertepuk tangan, bermaksud menyindir. "Hebat, hebat! Seorang Sisca Stefani yang terkenal lembut dan santun ternyata sekejam itu. Aku nggak nyangka!"
"Bukan urusanmu!" hardik Sisca. "Kamu urus saja hidupmu dan jangan pernah macam-macam kepada hubunganku dengan Amando. Kami akan bertunangan!"
Nayla mengangguk dengan ekspresi meledek. "Kamu nggak usah khawatir, Nona Sisca Stefani binti Ferdy! Aku nggak sudi kembali lagi sama Amando. Ia milikmu!"
"Baguslah kalau kamu sadar diri!" Sisca memasukan ponsel ke dalam tas. "Sekarang biarkan aku pergi!"
Nayla tersenyum puas. Sekarang ia sudah tahu motif Nayla mengkriminalkan dirinya. Ia merasa muak berlama-lama dengan Sisca.
"Buka pintunya!" hardik Sisca merasa di atas angin.
Nayla meletakkan anak kunci pintu ke dalam bekas air ludah Sisca. "Ambil saja sendiri!"
Wajah Sisca memerah. Ia geram sekali kepada Nayla.
"Kenapa? Jijik?" Nayla terkekeh. "Bukankah itu bekas air ludahmu sendiri. Hehehe!"
Meskipun jijik, mau nggak mau Sisca mengambil anak kunci pintu yang teronggok di dalam bekas air ludahnya sendiri. Ia membersihkannya menggunakan tisu.
"Urusan kita belum selesai!" ujar Sisca kepada Nayla. "Tunggu pembalasanku!"
Nayla mengedikkan bahu sambil tersenyum penuh kemenangan.
Sisca memasukkan anak kunci lalu memutarnya. Ia membuka pintu. Sebelum keluar, ia mengacungkan jari tengah ke arah Nayla.
Nayla tidak mau terprovokasi. Setelah memastikan Sisca pergi, ia melirik handycam yang ia tempatkan di atas lemari.
'Aku nggak sebodoh itu, Sisca!' gumam Nayla. Ia masih memiliki cadangan rekaman video lain yang siap dimanfaatkan nanti pada saat yang tepat.