Nayla bersedekap. Begitu memasuki ruangan ini ia langsung merasa kedinginan. Ia heran kenapa Iron begitu betah bekerja di ruangan sedingin ini.
Nayla mengedarkan pandangan ke setiap penjuru. Ruangan 8x10 ini terlihat wah. Lantainya tertutup karpet halus dan lembut. Aromanya sangat harum. Sebuah meja yang di atasnya terdapat sebuah laptop berada di pojokan. Nayla menebak itu adalah meja kerja Iron. Beraneka macam teratai menempel rapi di setiap sisi dinding. Selain itu terdapat juga beberapa pot berisi bunga yang Nayla tidak ketahui namanya.
Dalam ruangan ini terdapat juga satu set sofa yang sangat empuk. Salah satunya adalah yang sedang diduduki Nayla.
Nayla mendekap bantal sambil menyandarkan kepala ke sofa. Ia membayangkan betapa enaknya menjadi Iron: ruang kerjanya sangat nyaman, memiliki banyak anak buah, belum lagi fasilitas lainnya. Nayla memastikan gaji Iron pasti sangat banyak.
Tadinya Nayla berpikir, Iron pasti memiliki banyak kewenangan strategis karena bisa membebaskannya dari penjara. Pemuda itu juga membiayai perawatan rumah sakit ayahnya di sebuah rumah sakit bonafid. Namun setelah mendengar pengakuan Asif bahwa Iron adalah kepercayaan walikota. Itu membuat Nayla menduga, jangan-jangan semua itu atas suruhan walikota, bosnya Iron. Jika benar demikian, Nayla merasa penasaran apa motif walikota melakukan itu semua?
Nayla terkesiap ketika Iron keluar dari sebuah pintu di dalam ruangan itu. Pemuda itu tampak kasual, mengenakan kaos oblong dan celana sebatas lutut. Buru-buru Nayla membetulkan posisi duduknya.
"Sudah lama menunggu?" Iron duduk di sebelah Nayla.
Nayla menggeleng. Sejak pertama kali bertemu, ini kali pertama ia merasa gugup berada di dekat Iron. Ia yang biasanya bersikap sedikit ketus, kini seketika menjadi salah tingkah.
Nayla tidak mengerti dengan perasaannya sendiri. Pada awal perjumpaannya dengan Iron, ia sangat sebal kepada pemuda itu yang ketus, terkesan arogan dan suka mengatur-atur dirinya. Namun pagi tadi ia merasa ada sesuatu yang hampa. Ia berharap Iron akan mengajaknya sarapan, namun kenyataannya tidak. Sejak saat itu, ia mulai merasa ada yang aneh pada dirinya.
"Apa telingamu bermasalah?" Iron mengerjap.
Reflek Nayla tersenyum. Ia menyukai kalimat itu. Entah sudah berapa kali pemuda itu mengucapkannya, yang pasti ia merasa geli setiap kali mendengarnya, alih-alih tersinggung.
"Ditanya malah senyum-senyum!" keluh Iron. Ia menyambar remote kontrol pendingin ruangan dari atas meja. Ia mengurangi suhu ruangan. "Astaga, pantesan dingin banget!"
"Aku pikir kamu sudah terbiasa dengan suhu ini," ujar Nayla.
"Enggaklah, aku bisa beku kalau suhunya segitu!" Iron meletakkan kembali remote kontrol ke atas meja.
"Ada apa menculikku ke sini?" Nayla tidak mau berbasa-basi.
Alih-alih menjawab pertanyaan Nayla, Iron beranjak dari tempat duduknya. Ia mengambil dua botol orange juice dari kulkas, kemudian kembali duduk di sofa.
Satu botol orange juice, Iron berikan kepada Nayla. "Minumlah, itu akan membuatmu rileks."
Nayla menerima botol dari Iron, kemudian meletakkannya ke atas meja. "Kamu belum jawab pertanyaanku!"
Iron membuka tutup botol. Ia meneguk sedikit orange juice, lalu meletakkan botolnya ke atas meja.
"Apa telingamu bermasalah?" tanya Nayla, meminjam kalimat yang biasa Iron ucapkan kepadanya.
Iron terkekeh. "Itu kalimatku!"
Nayla menggeser badan ke tepi sofa. Ia menarik kedua kaki, kemudian duduk bersila dengan posisi menghadap ke arah Iron. "Maaf kalau aku kurang ajar. Aku cuman kedinginan."
"Santai saja. Aku nggak akan memasukkanmu ke penjara cuman gara-gara kakimu berada di atas sofa." Iron mengerjap.
Nayla mendengus. "Nggak lucu!"
Iron mengedikkan bahu. Ia meniru cara duduk Nayla, duduk bersila di atas sofa. Keduanya kini saling berhadapan.
"Aku mulai mendapatkan titik terang siapa dalang di balik kriminalisasi yang menimpamu," beritahu Iron. "Hanya saja masih terlalu dini untuk membuat kesimpulan."
"Sepertinya kamu ingin menceritakan temuan penting," tebak Nayla.
Iron mengerjap. "Kamu kenal Sisca?"
Nayla mengernyit. Otaknya berpikir keras, mengingat-ingat nama yang baru saja disebutkan Iron. "Sisca?"
"Nama lengkapnya Sisca Stefani, berusia dua puluh tujuh tahun." Iron membantu Nayla mengingat-ingat. "Papinya bernama Ferdy Rosadi, seorang sekretaris jenderal sebuah partai besar di negeri ini."
"Kalau Ferdy aku sering dengar namanya karena sering nongol dalam berita, tapi kalau Sisca kayaknya baru dengar sekarang," ujar Nayla.
Iron mengernyit. "Jadi kalian nggak saling kenal?"
"Aku nggak mengenalnya."
Iron mengatupkan bibir. Ia merasa heran atas pengakuan Nayla.
Nayla penasaran. "Kenapa memangnya?"
Iron mengambil ponsel dari saku celana. Ia mencari foto Sisca, setelah menemukannya, ia menunjukkan layar ponsel ke arah Nayla. "Ini orangnya, coba perhatikan baik-baik!"
Nayla memicingkan mata. Sekeras apa pun ia mencoba mengingat-ingat wajah itu, pada akhirnya ia tidak bisa mengingatnya. "Aku nggak mengenalnya."
"Perempuan ini melapor kepada polisi bahwa di rumahmu ada benda-benda mencurigakan yang berkaitan dengan terorisme. Namun setelah tim dari kepolisian menggeledah rumahmu, mereka nggak menemukan benda-benda yang dimaksud." Iron masih menunjukkan layar ponsel berisi foto Sisca kepada Nayla. "Kamu masih ingat kan ceritaku semalam?"
Nayla mengangguk. "Kamu bilang ada orang yang masuk ke rumahku membawa sesuatu tapi keluarnya nggak membawa apa-apa."
"Nah, malamnya tim dari kepolisian datang menggeledah rumahmu," beritahu Iron. "Setelah aku selidiki, ternyata itu atas laporan Sisca."
Nayla mengusap wajah menggunakan kedua telapak tangannya. Ia geram, kenapa ada orang sejahat itu kepadanya?
"Sebelum polisi datang, aku menyuruh seseorang untuk mengambil benda-benda itu dari rumahmu dan membakarnya," beritahu Iron.
Nayla menatap Iron haru. "Terima kasih."
Iron memasukkan kembali ponsel ke saku celana. "Kalau kamu nggak mengenal Sisca, kenapa perempuan itu ingin memfitnahmu sampai mempertaruhkan reputasinya sebagai salah satu pengurus partai cabang kota ini?"
Nayla mendesah perlahan. "Apa mungkin targetnya adalah perusahaan tempatku bekerja?"
Iron menggeleng. "Kalau menurut analisaku, justru perusahaanmu terkena kasus karena mereka ingin mengkriminalkan kamu."
Nayla terbelalak. "Kok bisa?"
"Mungkin karena mereka susah mencari kesalahan-kesalahanmu. Hidupmu lurus-lurus saja. Sedangkan perusahaan di tempatmu bekerja adalah sebuah media yang cukup kritis terhadap pemerintah." Iron memberikan analisa. "Dengan mengkriminalkan perusahaanmu, mereka berharap kamu akan tersangkut. Mereka terlalu memaksakan diri karena kamu hanyalah office girl di perusahaanmu. Itu memudahkan pengacaraku untuk membebaskanmu."
"Jahat banget!" ratap Nayla.
Iron menatap Nayla lekat-lekat. "Aku menjadi penasaran, kenapa mereka sampai segitunya ingin memenjarakanmu?"
Nayla memejamkan mata kuat-kuat. "Aku merasa nggak pernah menyakiti hati siapa pun. Aku selalu mengalah jika terlibat masalah dengan orang lain. Aku bekerja hanya ingin punya uang untuk bertahan hidup. Itu saja!"
"Kamu nggak merasa mengenal Sisca, tapi Sisca pasti mengenalmu!" ujar Iron. "Kalau enggak, bagaimana mungkin ia begitu keras ingin menghancurkan hidupmu?"
"Tapi aku ini cuman orang miskin. Profesiku juga cuman office girl. Jangankan dikenal orang seperti Sisca, di kantorku saja aku nggak begitu dianggap."
"Itulah letak keanehannya," desah Iron. "Aku akan terus menyelidikinya."
Nayla mengangguk. Ia merasa terharu. "Sekali lagi terima kasih ya?"
Iron tersenyum. "Jangan berterima kasih kepadaku. Aku hanya menjalankan tugas dari seseorang."
Nayla penasaran. "Siapa?"
"Besok pagi selepas sarapan, kamu akan aku ajak menemui beliau," ujar Iron.
Nayla merasa senang. Ia penasaran, siapa sebenarnya bos Iron?
"Sekarang kamu ikutlah Vee untuk memilih baju!" suruh Iron. "Setelah itu Asif akan mengantarkanmu kembali ke rumah sakit."
Nayla mendengus. "Baju apa lagi sih?"
"Kamu boleh memilih baju yang kamu inginkan untuk dipakai di rumah, tapi kamu jangan menolak beberapa baju pilihan Vee. Terima saja, jangan membantahnya. Nanti kamu akan tahu alasannya."
Nayla mengeluh. "Siapa yang menyuruh Vee?"
"Bosku!" jawab Iron. "Tolong lakukan demi beliau!"
Nayla menelan ludah. Mau tidak mau ia harus menerimanya demi bosnya Iron yang telah banyak membantunya.
***
Heri mendapatkan laporan dari anak buahnya kalau Mahdi dirawat di Gerard Hospital. Tidak mau melakukan kesalahan lagi, ia ingin membuktikan sendiri informasi tersebut.
Heri ke Gerard Hospital. Ia langsung menuju ke ruang informasi.
"Selamat siang, Mbak," sapa Heri sopan.
Seorang perempuan muda, petugas informasi mengangguk ramah. "Siang, Pak, ada yang bisa kami bantu?"
Heri mendekat ke petugas informasi. "Kakak saya dirawat di rumah sakit ini. Saya datang untuk menjenguk beliau. Bisa beritahu saya di mana kamarnya?"
"Atas nama siapa, Pak?"
"Namanya Mahdi, usia lima puluh tiga tahun. Beliau dari desa Karangasem." Heri sudah menghafal data tersebut sebelumnya sehingga lancar.
"Baik, saya periksa dulu datanya." Petugas mengetikkan nama Mahdi di kolom pencarian. Ia menoleh kepada Heri. "Pasien bernama Mahdi, usia lima puluh tiga tahun dari desa Karangasem, sekarang dirawat di kamar VVIP9."
Wajah Heri seketika cerah. "Di lantai berapa, Mbak?"
"Lantai lima, Pak."
Hati Heri membuncah. Jika ia berhasil menemukan Mahdi, ayahnya Nayla, itu akan memulihkan kepercayaan Sisca kepadanya. "Terima kasih, Mbak, atas informasinya."
"Sama-sama, Pak!"
Heri langsung bergegas menuju lift. Selama perjalanannya ke kamar VVIP9, hatinya berdebar-debar antara senang sekaligus cemas. Ia tidak boleh gagal lagi karena itu akan membuatnya kehilangan pekerjaan.
Sampai di lobi lantai lima, Heri segera mencari ruangan cleaning service. Ia sudah merencanakan sesuatu dengan matang. Ia hanya perlu menjalankannya dengan rapi dan hati-hati.
Pucuk dicinta ulam pun tiba. Di sebuah lorong, Heri melihat seorang lelaki muda berseragam cleaning service sedang berjalan sambil tangan menjinjing ember dan tangan kiri membawa lap pel.
Heri segera mengejar lelaki cleaning service tersebut.
"Mas!" panggil Heri ketika berhasil menjejeri langkah lelaki cleaning service.
Lelaki cleaning service menoleh. "Iya, ada apa, Pak?"
Mahdi menoleh ke sekitar, memastikan tidak ada yang sedang memperhatikan ke arahnya. Ia melangkah lebih dekat kepada lelaki itu. "Mas bisa bantu saya nggak?"
Lelaki cleaning service mengerjap. "Apa yang bisa saya bantu, Pak?"
"Mas tahu kamar VVIP9?" tanya Heri pelan.
"Iya, tahu."
"Mas bisa masuk ke ruangan itu sekarang?" tanya Heri berharap.
Lelaki cleaning service mengernyit bingung.
Heri memegang bahu kanan lelaki cleaning service. Ia mendekatkan bibir ke telinga lelaki tersebut. "Pasien di kamar VVIP9 adalah kakak saya. Beliau sedang tidak bisa dijenguk karena kata dokter harus beristirahat total. Nah, anak saya sangat merindukan pamannya tersebut. Tolong kamu masuk ke ruang itu dan merekam video."
Lelaki cleaning service menatap Heri curiga. "Kalau masuk ke ruangan itu saya bisa melakukannya tapi untuk merekamnya, saya nggak berani, Pak. Kalau itu ketahuan saya bisa kena marah supervisor."
Heri tersenyum. Ia mengambil spy camera dari saku baju lalu menunjukkannya kepada lelaki cleaning service. "Alat ini adalah perekam video tersembunyi. Mas bisa memakainya pada kancing baju. Tenang saja, saya jamin aman."
Lelaki cleaning service menggeleng. "Maaf, saya nggak berani!"
Heri mendekatkan bibir ke telinga lelaki cleaning service tersebut. "Saya kasih imbalan lima ratus ribu. Tolong, Mas, demi anak saya."
Lelaki cleaning service bimbang. Uang lima ratus ribu baginya cukup banyak, tapi ia takut dengan resikonya.
Mengetahui lelaki di depannya bimbang, Heri segera mengambil uang sebesar lima ratus ribu yang telah disiapkan pada saku jaketnya, lalu menggenggamkannya kepada lelaki tersebut. "Nggak lama, cuman beberapa menit saja. Lagipula kamera ini nggak bakal kelihatan. Namanya kamera tersembunyi."
Lelaki cleaning service mulai terbujuk. Ia membutuhkan uang. Sekarang kesempatan itu datang.
"Saya jamin aman, Mas!" bujuk Heri. "Kalau ketahuan, saya yang akan bertanggung jawab."
Lelaki cleaning service melirik uang di tangannya. Hatinya mulai luluh, apalagi lelaki di dekatnya itu siap bertanggungjawab.
"Kalau kamu berhasil, saya akan tambah lagi seratus ribu."
Perasaan bimbang Lelaki cleaning service semakin luntur. Uang enam ratus ribu akan ia dapatkan cukup dengan melakukan sesuatu yang hanya membutuhkan waktu beberapa menit saja.
"Gimana?" desak Heri berharap.
Akhirnya lelaki cleaning service tersebut mengangguk.
Wajah Heri semringah. "Kalau begitu kita ke toilet buat memasang spy camera-nya."
Heri dan lelaki cleaning service ke toilet. Di sana Heri memasang spy camera ke baju seragam lelaki cleaning service sambil memberi arahan apa yang harus dilakukan.
Sesuai rencana, lelaki cleaning service menuju kamar VVIP9 sambil menjinjing ember berisi air dan lap pel. Spy camera dalam mode merekam. Heri mengawasinya dari belakang. Sampai di depan pintu, si lelaki cleaning service mengetuk pintu tapi tidak ada respon. Ia mengulanginya sampai tiga kali, hasilnya sama saja.
Heri memberi instruksi agar lelaki cleaning service masuk saja tanpa menunggu dipersilakan.
Lelaki cleaning service menuruti instruksi dari Heri. Ia masuk ke kamar Mahdi, tetapi ayahnya Nayla itu sedang tertidur pulas.
Sambil berpura-pura mengepel lantai kamar, lelaki cleaning service mengarahkan spy camera ke wajah dan tubuh Mahdi. Saat ia mendekat ke tempat tidur, Mahdi terbangun.
Lelaki cleaning service sedikit gugup, namun ia berusaha tenang. Ia mengangguk sopan kepada Mahdi. "Maaf, tadi bapak masih tidur ketika saya mengetuk pintu."
Mahdi tersenyum. "Nggak papa. Cuman kenapa dipel lagi ya Mas? Tadi pagi sudah dipel kok."
"Oh, maaf berarti saya salah masuk kamar," ujar lelaki cleaning service bersandiwara. "Saya disuruh ke VVIP9, ke kamar atas nama pasien Pak Syahdan."
"Benar ini VVIP9, tapi nama saya Mahdi, bukan Syahdan," ujar Mahdi meluruskan. Ia sama sekali tidak curiga.
"Kalau begitu saya coba cek ke kamar sebelah." Lelaki cleaning service mengambil ember dari lantai. "Mohon maaf atas ketidaknyamanannya."
"Nggak papa," ujar Mahdi.
"Kalau begitu saya permisi."
"Silakan!"
Lelaki cleaning service keluar kamar dan langsung menuju ke toilet. Heri mengekornya. Sampai di toilet, Heri melepas spy camera dari baju seragam lelaki cleaning service.
Heri memberikan selembar uang pecahan seratus ribuan. "Ini tambahan yang tadi saya janjikan. Terima kasih ya?"
Lelaki cleaning service menerima uang tersebut dengan perasaan senang sekaligus merasa bersalah.