Satu Kesempatan Lagi

1806 Words
Wajah Sisca ditekuk sedemikian rupa. Ia mondar-mandir di depan meja kerjanya sambil menanggung perasaan geram kepada Heri. Selama hidup, belum pernah sebelumnya ia merasa semalu ini. Semuanya gara-gara Heri gagal melaksanakan tugas darinya dengan baik. Sisca bisa saja meluapkan amarahnya kepada Heri lewat telepon, tapi ia merasa belum puas jika tidak langsung menunjuk muka orang kepercayaannya itu sambil menumpahkan kata-kata kasar. Sehingga ia menunggu kedatangan Heri di ruangannya. Tujuh menit sudah Sisca menunggu. Emosinya semakin menggelegak. Ia sudah tidak bisa menahan kesabaran lebih lama lagi. Maka diteleponnya Heri. "Kamu sampai di mana?" Sekuat tenaga Sisca berusaha meredam emosinya. Ia tidak akan menumpahkannya sekarang. "Ini sudah sampai parkiran, Bos!" ujar Heri dengan nada bergetar karena sudah memiliki firasat akan mendapatkan marah dari bosnya. "Langsung ke ruanganku!" suruh Sisca dengan suara pelan tapi penuh tekanan. "Siap, Bos!" Dengan sadis Sisca mengakhiri panggilan teleponnya. Ia melempar ponsel ke atas meja, kemudian menghempaskan pantatnya ke sofa. Puncak kegeraman Sisca mencapai ubun-ubun karena untuk ke sekian kalinya usaha untuk mengkriminalkan Nayla gagal lagi. Tadinya ia yakin sekali rencananya akan berhasil ketika mendapat laporan bahwa anak buah Heri telah meletakkan benda-benda yang berkaitan dengan terorisme ke dalam rumah Nayla. Sisca telah menyiapkan rencananya dengan matang. Selepas mendapat laporan dari Heri, ia segera menelepon temannya yang seorang polisi. Kepada teman polisinya tersebut ia meminta agar rumah Nayla digeledah karena diduga ada benda-benda yang berkaitan dengan terorisme. Teman polisi Sisca meneruskan laporan tersebut kepada penyidik yang menangani kasus Nayla. Malam itu juga, mereka mengirimkan tim ke rumah Nayla untuk menindaklanjuti laporan tersebut. Tim tersebut menggeledah rumah Nayla, namun mereka tidak menemukan benda-benda seperti yang dilaporkan Sisca. Sisca yang ikut menyaksikan penggeledahan tersebut serta merta merasa malu. Ia pun meminta maaf kepada tim dari kepolisian sambil dalam hati menahan geram kepada Heri karena telah membuat dirinya kehilangan muka. Tok! Tok! Terdengar pintu diketuk. "Masuk!' suruh Sisca. Heri memasuki ruang kerja Nayla. Kepalanya tertunduk. Wajahnya memerah. Setiap langkah yang ia jejakan terasa berat. Ia berhenti tepat di depan meja bosnya. "Ada apa, bos memanggil saya?" tanya Heri parau. Lututnya gemetar karena sadar dirinya telah melakukan kesalahan besar. Sisca menatap wajah Heri dengan sorot marah. "Tatap mataku!" Meskipun takut, Heri terpaksa memberanikan diri menatap Sisca. "Kamu nggak bisa menebak apa alasanku memanggil kamu?" Sisca terus menghunus tatapan tajam. Heri menggeleng kaku. "Enggak, Bos." Sisca mendengus. "Duduk!" Heri duduk di kursi. Pandangannya tertambat ke meja, alih-alih menatap Sisca. "Tatap mataku!" bentak Sisca. Heri menatap Sisca dengan takut. "Kamu bisa lihat nggak wajahku memerah? Kamu bisa lihat nggak wajahku ditekuk sedemikian rupa?" Heri menunduk. "AKU BILANG, TATAP MATAKU!" Sisca mulai kehilangan kesabaran. Mau tidak mau, Heri kembali menatap mata Sisca yang sorotnya terlihat mengerikan. Sisca bangkit dari kursi. Ia duduk di tepi meja sambil terus menghunus tatapan tajam ke arah Heri. Ia menunjuk mukanya sendiri. "Kamu sudah mencoreng mukaku di depan orang-orang dari kepolisian! Reputasiku bisa hancur gara-gara kebodohan kamu!" Heri menelan ludah. Baru kali ini ia melihat Sisca semarah itu. "Kamu bilang sudah meletakkan benda-benda itu ke dalam rumah Nayla." Sisca turun dari meja. Ia berjalan memutar di belakang Heri. "Nyatanya apa? Polisi tidak menemukan sesuatu yang mencurigakan di sana!" Heri juga tidak menyangka kejadiannya akan seperti itu. Anak buahnya telah berhasil meletakkan benda-benda itu ke dalam kamar Nayla. Sehingga ia pun heran kenapa benda-benda itu tiba-tiba tidak ada ketika polisi mengeledah rumah Nayla. Sayangnya, ia sadar kalau Sisca tidak akan peduli seandainya ia menjelaskan perihal tersebut. Bagi bosnya, ia harus menjalankan tugas dengan baik, bagaimanapun caranya. Sekarang yang bisa ia lakukan adalah berharap agar dirinya tidak dipecat. Ia siap dimarahi sekerasa apa pun, asal tidak kehilangan pekerjaan. "Aku curiga kamu enggak benar-benar serius setiap kali mendapatkan tugas dariku," ujar Sisca menahan geram. "Kamu hanya pintar menyuruh anak buah tapi nggak mau memastikan pekerjaan mereka beres atau enggak." Lutut Heri serasa lemas ketika Sisca berdiri tepat di belakangnya. Aroma parfum yang biasanya membuatnya b*******h itu kini membuatnya merasa terintimidasi. "Percaya kepada anak buah itu perlu, tapi kamu juga harus memastikan mereka bekerja sesuai instruksimu. Kalau perlu kamu bahkan harus turun sendiri ke lapangan." Sisca membungkuk agar bisa menempelkan bibir ke telinga kanan Heri. "Jangan hanya rebahan di atas kasur ditemani perempuan seksi yang menggerayangi tubuhmu saja!" Heri menelan ludah. Ia kaget dari mana Sisca bisa tahu kalau dirinya sering pijat plus plus di rumahnya. Sisca bergeser. Sekarang bibirnya menempel ke telinga kiri Heri. "Menikmati desahan dan rabaan perempuan seksi itu hakmu, tapi pastikan dulu pekerjaanmu beres. PAHAM!" Heri nyaris limbung karena kaget akibat bentakan Sisca terdengar sangat menggelegar di telinganya. Belum puas, Sisca semakin bersemangat untuk memarahi Heri. Ia menjewer Heri sambil tetap menempelkan bibirnya ke telinga orang kepercayaannya itu. "NAMA BAIKKU HANCUR, HER! AKU KEHILANGAN MUKA DI HADAPAN TEMEN-TEMEN POLISIKU. SEMUA GARA-GARA KAMU! JIKA MEDIA SAMPAI TAHU KEJADIAN ITU, TAMAT RIWAYATMU!" Heri merasakan seolah baru saja mendengar gelegar petir. Bentakan Sisca membuat telinganya mendengung. Kepalanya terasa pusing. Sisca kembali duduk di kursinya. Separuh emosinya telah ia luapkan. Namun ia belum puas. Darahnya mendidih jika teringat betapa malunya ia ketika para petugas polisi tidak menemukan sesuatu yang mencurigakan di rumah Nayla seperti yang telah dilaporkannya. Sisca menatap Heri dengan ekspresi muak. "Setelah beberapa kali kamu gagal menjalankan tugas, bahkan telah membuatku malu, sekarang katakan apakah menurutmu aku layak memberimu kesempatan?" Heri menunduk dalam-dalam. "Maafkan saya, Bos. Beri saya kesempatan lagi." "AKU NGGAK MENDENGAR SUARAMU!" bentak Sisca. Wajahnya memerah. "KALAU NGOMONG, TATAP WAJAHKU!" Heri memberanikan diri menatap wajah Sisca. Mimiknya menyiratkan permohonan. "Tolong beri saya kesempatan, Bos!" Sisca melengos sambil mendengus. "Berikan alasan yang tepat, kenapa aku harus memberimu kesempatan?" Heri menatap Sisca penuh permohonan. "Belakangan ini saya memang selalu gagal tapi sebelumnya saya selalu menjalankan tugas dari bos dengan baik. Saya akan perbaiki kesalahan-kesalahan itu. Saya janji!" Sisca menyeringai kepada Heri. "Sudah berapa lama kamu bekerja kepadaku?" "Tujuh tahun, Bos," jawab Heri pelan. Sisca mendekatkan wajah ke arah Heri. "Nayla telah bekerja di perusahaannya selama delapan tahun. Ia begitu setia dengan bosnya meskipun selama delapan tahun itu nggak pernah naik jabatan dan terus menjadi office girl. Gajinya juga hanya naik sedikit setiap tahunnya. Sedangkan kamu, baru bekerja selama tujuh tahun tapi sudah aku jadikan orang kepercayaan. Gajimu juga lima kali lipat lebih banyak dari Nayla." Heri menunduk, dibanding-bandingkan dengan Nayla. "Apakah kamu merasa kesetiaanmu padaku itu sesuatu yang hebat?" Sisca terkekeh sinis. "Seharusnya kamu malu sama Nayla. Kalian sama-sama bekerja demi uang, tapi bedanya ia bekerja dengan integritas tinggi, sedangkan kamu apa?" Heri menunduk. Ia gelisah, takut Sisca tidak akan memberinya kesempatan. "Kamu punya banyak anak buah tapi kurang cakap dalam memimpin," hardik Sisca. "Sepertinya aku telah salah menjadikanmu orang kepercayaan." Heri menunduk semakin dalam. Nasibnya di ujung tanduk. "Kamu belum layak memimpin anak buah, Her!" Intonasi Sisca meninggi. "Tapi aku bukan bos yang tidak tahu balas budi. Kuakui kamu paling setia dibandingkan dengan yang lain. Jadi, demi mempertimbangkan apa yang sudah kamu dedikasikan, aku akan memberimu satu kesempatan lagi. Itu kesempatan terakhir!" Heri menarik napas lega. Wajahnya menjadi cerah. "Terima kasih, Bos!" Sisca mengacungkan telunjuk ke muka Heri. "Tapi jika kamu gagal sekali saja, aku nggak akan memberimu kesempatan lagi." Heri mengangguk-angguk senang. "Siap, Bos!" Sisca mendengus sebal. "Enyah dari hadapanku!" Heri mengangguk. "Baik, Bos." Ia melenggang dengan perasaan lega. *** Nayla merasa sebal karena baju yang Iron sediakan untuknya tidak ada satu pun yang sesuai dengan keinginannya. Sungguhpun begitu, ia tetap harus memilih salah satunya. Tidak mungkin baju kemarin sore ia pakai lagi. Maka itu tadi setelah mandi pagi ia terpaksa memilih salah satunya. Nayla memilih kemeja dan celana yang modelnya 'perempuan sekali'. Pakaian itu dari merk terkenal yang langsung terasa nyaman pada tubuhnya. Itu sedikit mengurangi rasa sebalnya. Selepas mandi dan berganti pakaian, Nayla pikir Iron akan mengajaknya sarapan bareng, seperti kemarin petang ketika lelaki itu mengajaknya makan malam bareng. Pagi ini sarapan untuknya sudah tersaji di dalam kamar ayahnya. Jarang-jarang, Nayla bisa sarapan bareng ayahnya. Biasanya ia selalu sarapan di kantor karena jam enam pagi ia sudah harus sampai di tempat kerja. Sebelum berangkat ia lebih dulu menyediakan sarapan untuk ayahnya. Selepas Nayla sarapan bareng ayahnya, seseorang lelaki berusia tiga puluh lima tahun menemuinya. "Maaf, Nona Nayla, saya Asif, diperintahkan Pak Baeni untuk menjemput Nona," beritahu Asif dengan penuh hormat. Ada perasaan senang dalam hati Nayla. "Mau ke mana?" "Ke kantor beliau," jawab Asif. "Jauh?" "Kalau jalanan enggak macet, paling lama sekitar sepuluh menit dari sini." Nayla melirik Mahdi. Ia tidak tega meninggalkan ayahnya itu seorang diri di rumah sakit. "Turuti saja!" ujar Mahdi, memahami kegelisahan anak gadis semata wayangnya. "Tapi ayah nggak papa aku tinggal sendirian?" Nayla merasa cemas. "Nggak papa, ayah akan baik-baik saja," jawab Mahdi. "Jangan kecewakan bos kamu itu. Beliau sudah banyak membantu kita." Nayla mengatupkan bibir. Meskipun dalam hati merasa senang akan bertemu dengan Iron namun ia tidak sampai hati membiarkan ayahnya sendirian. "Sudah jalan sana! Jangan biarkan bos kamu menunggu lama!" suruh Mahdi. Nayla mengecup kening Mahdi. "Ya sudah, aku jalan dulu ya?" Mahdi mengacak rambut Nayla. "Kamu semakin cantik pakai kemeja itu." Nayla tersenyum. "Ayah juga semakin ganteng pakai baju itu." "Ini dari bos kamu kan?" tanya Mahdi. Nayla mengangguk. "Sampaikan ucapan terima kasih ayah untuk beliau," pinta Mahdi. Nayla tersenyum. Ia bangkit dari duduknya. "Ayah jangan lupa makan siang ya?" Mahdi mengangguk. "Tentu saja. Makanan di sini lezat-lezat." Nayla terkekeh. Ia berlalu dari hadapan ayahnya menuju pintu. "Silakan!" Asif membukakan pintu untuk Nayla. "Terima kasih, Pak Asif," ucap Nayla. Asif mengangguk. Ia berjalan mendahului Nayla. "Kita pakai lift di sana!" Nayla dan Asif menuju ke sebuah lift khusus yang tidak diperuntukkan untuk umum. Di depan lift, Asif menekan sebuah tombol. Hanya berselang kurang dari dua menit, pintu lift terbuka. "Silakan!" Asif mempersilakan Nayla untuk masuk lebih dahulu. Nayla melangkah ke dalam lift. Seumur-umur, baru kali ini ia berada di dalam lift. Asif melangkah masuk dan menekan sebuah tombol pada panel. Pintu pun tertutup secara otomatis. Hentakan halus menimbulkan sensasi tersendiri pada perut Nayla. Ini pengalaman pertamanya menggunakan lift. Ia memperhatikan panel. Terdapat beberapa angka dan tombol lain yang ia belum tahu fungsinya. Sebuah ide baru saja mendarat dalam benak Nayla. "Pak Asif," panggil Nayla kepada Asif yang berdiri di dekatnya. "Iya, Non," sahut Asif. "Ada yang bisa saya bantu?" "Pak Asif sudah lama bekerja pada Iron?" tanya Nayla canggung. "Saya bekerja pada keluarganya Pak Baeni sekitar tujuh tahunan, sejak beliau masih kuliah, tapi menjadi sopir walikota baru sekitar tiga tahunan," jawab Asif. Nayla terkejut. "Pak Asif sopir walikota?" Asif mengangguk sopan. "Iya, Non." Nayla menjadi penasaran. "Lalu apa hubungan Iron dengan walikota?" Asif tersenyum sopan. "Beliau orang kepercayaan walikota." Kini Nayla paham kenapa Iron begitu dihormati banyak orang di rumah sakit ini. Hanya saja ia masih belum mengerti kenapa pemuda tampan itu begitu peduli kepada dirinya dan ayahnya. "Jadi sekarang kita akan ke kantor walikota?" tebak Nayla. "Lebih tepatnya ke rumah dinas walikota." Asif menjelaskan. Nayla mengangguk paham. Rasa penasarannya semakin sulit dibendung. Ia ingin segera mendapatkan penjelasan dari Iron kenapa dirinya begitu diperhatikan pemuda itu. 
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD