Baju Ganti

1959 Words
Suapan terakhir baru saja Nayla masukkan ke mulut Mahdi. Ia merasa senang karena ayahnya mau menghabiskan satu piring nasi berikut sayurnya. "Ayah makannya lahap. Hehehe!" Nayla meletakkan piring ke atas meja. "Ayah kan sehat, masih punya selera makan." Mahdi berkata sambil mengunyah makanan di mulutnya. Nayla mengangguk saja, merespon pengakuan Mahdi. Nayla sudah terbiasa dengan sikap ayahnya yang selalu mengaku sehat, padahal Nayla tahu itu hanya cara agar dirinya tidak sedih. Padahal jelas sekali tadi dokter menjelaskan kalau tekanan darah Mahdi sangat tinggi. "Ayah mau minum sendiri!" pinta Mahdi. Nayla mengambil gelas air minum dari atas meja. Ia memberikannya kepada Mahdi. Mahdi meneguk separuh isi gelas. Nayla melihatnya dengan perasaan sedih campur bahagia. Ia sedih karena ayahnya selalu memaksakan diri untuk melakukan sesuatu sendiri padahal kondisi kesehatan ayahnya kurang sehat. Namun ia juga bahagia karena selama seminggu terakhir, baru kali ini ia melihat ayahnya makan dengan lahap. Mahdi memiringkan badan agar bisa meletakkan gelas ke atas meja. Melihat itu, buru-buru Nayla mencegahnya. "Ayah kenapa nggak nyuruh aku sih?" Nayla menggerutu sambil mengambil alih gelas dari tangan Mahdi. Ia meletakkannya ke atas meja. Mahdi melengos. Ia mengeluh. "Kamu selalu saja memperlakukan ayah seperti orang sakit!" "Iya, ayah sehat tapi kan posisiku lebih dekat meja. Ayah bisa menyuruhku." Nayla membetulkan selimut Mahdi. "Kamu belum mandi kan?" tanya Mahdi. "Mandi dulu gih biar segar." "Baju gantinya ada di rumah," dalih Nayla. "Masa mandi nggak ganti baju?" "Ya sudah kamu pulang ambil baju. Sekalian bawain baju ganti buat ayah." "Nanti siapa yang nemenin ayah?" "Ayah nggak papa sendirian, kan ada perawat di sini." Mahdi menunjuk sebuah alat pemanggil perawat. "Kalau butuh sesuatu ayah bisa mencet alat itu." Nayla mengerjap. "Oke, kalau begitu aku pulang dulu." Mahdi mengangguk. "Kamu juga belum makan bukan?" "Iya, nanti sekalian beli nasi bungkus di dekat rumah." Nayla mengecup kening Mahdi. "Ayah jangan genit-genit sama perawat ya?" Mahdi terkekeh mendengar ledekan Nayla. "Hati-hati di jalan!" Nayla mengangguk. Ia keluar dari ruangan perawatan Mahdi. Saat membuka pintu, ia dikagetkan sesosok lelaki tampan yang sedang berdiri di depan pintu. "Pak Baeni?" Nayla menutup pintu. "Panggil aku Iron!" sergah Iron sebal. "Jangan pernah memanggilku dengan sebutan Pak Baeni kecuali nanti." "Nanti?" Nayla terkekeh. "Anda yakin sekali kalau kita akan bertemu lagi." Iron mendengus. Ia memasukkan kedua tangan ke saku jaket. "Aku telah membebaskanmu, ingat?" Nayla mengacak rambut pendeknya sambil tertawa geli. "Iya, iya, maaf aku lupa kalau semua itu nggak gratis: membebaskanku dari tahanan polisi, menraktirku kopi di kafe, dan mengantarkan ayahku ke rumah sakit. Aku juga nggak mau berhutang budi, berhutang uang, atau hutang apa pun. Aku pasti akan membayarnya." Iron menatap Nayla tajam. "Bagus kalau kamu sadar diri." Dag dig dug hati Nayla ditatap Iron. Namun ia tidak mau terlihat salah tingkah. "Meskipun aku miskin tapi aku nggak pernah punya hutang. Baru kali ini aku punya hutang sama Anda. Itu pun aku nggak pernah memintanya!" Tatapan Iron terus terhunus lurus ke sepasang mata Nayla. "Aku percaya itu!" Perasaan Nayla menjadi tidak menentu, bukan hanya karena kesa dengan sikap menyebalkan Iron saja, melainkan juga karena ia kesulitan untuk menyembunyikan salah tingkahnya. "Kamu mau ke mana?" tanya Iron curiga. "Pulang!" jawab Nayla lugas. "Tolong beri aku jalan!' Alih-alih memberi jalan kepada Nayla, Iron semakin mendekati gadis di depannya. "Jangan pulang, bahaya!" Nayla mengernyit. "Tenang aja, aku nggak bakalan kabur. Aku cuman mau mandi, makan, dan ambil baju." "Berhenti memanggilku dengan sebutan 'Anda'. Kita ngobrol dengan sebutan aku dan kamu saja." Iron mendekatkan wajah ke wajah Nayla. "Dengarkan aku, rumah kamu nggak aman. Jadi kamu nggak usah pulang dulu sementara waktu." Nayla tertawa. "Sok tahu!" Ia melangkah ke samping Iron, bermaksud melewati hadangan lelaki itu. Buru-buru Iron mencekal lengan Nayla sebelum gadis itu menjauh. "Lepasin!" Nayla meronta, berusaha melepaskan cekalan lengan Iron. Sayang, tenaganya kalah kuat, sehingga alih-alih bisa lepas, dirinya malah terhuyung ke arah Iron. Badan mereka sempat berbenturan ringan, sebelum akhirnya Iron mendekap Nayla erat-erat. Kedua pasang mata mereka saling bersirobok selama beberapa detik. Nayla tidak kuat menatap Iron berlama-lama. Reflek ia menunduk. Tangan Iron menyangga dagu Nayla ke atas. "Jangan pulang ke rumah dulu. Ada pihak yang ingin menghancurkan hidupmu. Jadi kalau mau aman, turuti kata-kataku." Nayla melepaskan tangan Iron dari dagunya. Hatinya kebat-kebit, tidak keruan. Namun ia gengsi untuk terlihat gugup. Ia beranikan diri membalas tatapan Iron. "Siapa kamu sebenarnya sampai bisa tahu itu? Padahal aku sendiri nggak tahu." "Aku akan jelaskan asal kamu janji kepada dirimu sendiri akan mendengarkan dan mengindahkan kata-kataku." Tidak ada pilihan lain, Nayla merasa harus mendengarkan kata-kata Iron. Ia harus tahu semuanya. "Bagaimana?" desak Iron. Nayla mengangguk ragu. "Kuanggap itu sebagai kesepakatan dan itu artinya kamu berjanji kepada dirimu sendiri akan mendengarkan kata-kataku." Nayla melengos. "Sekarang jelaskan semuanya padaku!" "Oke, ikut aku!" Iron melepaskan Nayla. Ia meninggalkan gadis itu, berjalan menyusuri koridor tanpa menoleh. Nayla masih mematung di tempatnya. Iron telah berjalan menjauh darinya. Terpaksa ia berjalan cepat, menyusul lelaki itu. Nayla melihat Iron memasuki sebuah ruangan. Ia pun ikut masuk. Sekarang ia berada di sebuah ruangan yang cukup luas. Tidak ada benda-benda di sana kecuali hamparan karpet. Iron duduk bersila di atas karpet. Ia memberi isyarat agar Nayla duduk di dekatnya. "Kita mau ngapain di sini?" Meskipun bingung, Nayla duduk bersila di dekat Iron. Alih-alih menjawab, Iron bertepuk tangan sekali. Tahu-tahu Vee muncul dari sebuah pintu sambil membawa sebuah kopor. Vee mengangguk hormat kepada Iron dan Nayla. "Semua keperluan Non Nayla ada di kopor ini." Nayla mengernyit bingung. "Keperluan?" Sebelum Vee sempat menjawab, Iron lebih dulu menjelaskan. "Di dalam kopor itu ada beberapa pakaian dan perlengkapan mandi buat kamu dan ayahmu. Peralatan kebutuhan khusus buat wanita juga ada." "Tapi bagaimana kalian tahu ukurannya?" Nayla semakin bingung. "Aku banyak tahu tentangmu." Iron membuka kopor. "Silakan kalau mau melihatnya!" Nayla mendekati kopor. Ia memeriksa satu per satu pakaian wanita yang berada di dalamnya. Wajahnya langsung mendung ketika sadar, semua itu tidak ada yang sesuai dengan keinginannya. "Nggak ada kaos atau celana jeans?" "Ada, aku sudah menyiapkannya, tapi di rumah sakit ini, kamu nggak bisa memakainya,' jelas Iron. "Aku telah menyiapkan semua baju untuk segala situasi dan acara buatmu." Nayla mengernyit. "Buat apa kamu menyiapkan itu semua?" Iron tersenyum. "Aku akan jelaskan semuanya sambil kita makan malam. Sekarang kamu boleh mandi dulu." "Mari saya antar Nona ke kamar mandi!" ucap Vee. Nayla mengerjap kesal karena tahu setelah mandi ia harus memakai salah satu baju dalam kopor itu. *** Seumur-umur baru kali ini Nayla mengenakan cardigan. Ia merasa aneh dengan dirinya. Tadi sehabis mandi, Vee telah memilihkan cardigan dan setelannya untuk Nayla. Tentu saja Nayla menolak, namun karena Vee memohon dengan embel-embel bahwa perempuan gemuk itu bisa kena masalah kalau tugasnya tidak berjalan dengan baik, maka Nayla terpaksa mengalah. Ia melakukannya bukan demi Iron tapi demi Vee. Namun Nayla enggan memakai highheels dan menolak make-up. Vee tidak bisa memaksamya lebih jauh. Maka Nayla mengenakan setelan cardigan dipadukan sandal jepit ketika menemui Iron di sebuah ruangan yang disulap menjadi tempat makan malam. Melihat kedatangan Nayla, Iron tersenyum puas dengan penampilan gadis itu, meskipun ia merasa geli karena Nayla memakai sandal jepit. Iron menyambut Nayla. Ia menarik kursi dan mempersilakan Nayla duduk. "Ini makan malam tidak resmi, jadi santai saja." Nayla terus memasang wajah mendung karena sebal harus memakai baju yang tidak sesuai dengan keinginannya. "Penampilanmu lumayan buat gadis tomboy sepertimu." Iron duduk di kursi. "Tadinya aku pikir Vee bakal gagal membujukmu." Nayla memasang senyum masam. "Kenapa sih semua orang menginginkan aku menjadi perempuan?" "Aku enggak!" sanggah Iron. "Aku menghargai kamu apa adanya." "Buktinya kamu nyuruh Vee agar aku make gaun ini!" sergah Nayla sebal. "Kalau ia nggak memohon sambil mengatakan dirinya akan kena masalah kalau aku menolaknya, aku pasti nggak mau." "Aku nggak akan memecat Vee gara-gara gagal membujukmu pakai gaun itu," ujar Iron. "Lagipula mulai sekarang kamu harus terbiasa menjadi perempuan yang seutuhnya." Nayla mendelik. "Aku tetap perempuan normal meski nggak suka pakai baju perempuan!" Iron memgangguk paham. "Oke, kita bahas soal baju itu nanti saja. Sekarang kita nikmati dulu menu makan malam ini." Sebenarnya Nayla merasa lapar, tapi suasana hatinya sedang tidak baik, sehingga selera makannya turun. Iron menyantap nasi uduk dan ayam geprek kesukaannya. Ia makan dengan lahap seperti orang kelaparan. Namun, ia menghentikan makannya ketika sadar Nayla belum menyentuh makanan apa pun. "Ayo makan!" suruh Iron. "Apa menunya nggak ada yang kamu suka?" Nayla menggeleng malas. "Semua menunya tampaknya lezat, tapi aku belum merasa tenang sebelum kamu menjelaskan kenapa kamu tiba-tiba menjadi pahlawan bagiku dan ayahku?" "Oke aku jelaskan sambil makan!" Iron memberi solusi. Terpaksa Nayla makan meskipun sedikit. "Yang pertama harus kamu ketahui adalah, ada seseorang yang menginginkanmu masuk penjara," beritahu Iron. Nayla kaget. Ia merasa tidak pernah pumya musuh. "Siapa?" "Aku sedang mencari tahu!" ujar Iron sambil bersiap menyuapkan nasi ke mulut. "Kupikir kamu tahu semuanya!" keluh Nayla. Iron mengurungkan diri untuk menyuapkan makanannya. Ia meletakan sendok ke aras piring. "Saya sudah mendapatkan informasi dan ada dua terduga yang pantas dicurigai. Hanya saja aku nggak mau gegabah meneruskan informasi itu kepadamu sebelum valid." Nayla berusaha memahami alasan Iron. "Lalu apa motif dari pelakunya?" "Motifnya baru bisa diketahui setelah jelas siapa pelakunya," dalih Iron. Nayla mengangguk-angguk. Ia berusaha untuk menahan rasa penasaran dalam hatinya. "Sejujurnya aku punya tim khusus untuk menyelidiki profil kamu," beritahu Iron. Nayla terperangah. "Buat apa? Aku hanya orang miskin!" "Nanti kamu tahu alasannya. Sekarang kita bahas soal kemananmu dulu," ujar Iron. "Kalau belum bisa menjelaskannya sekarang seharusnya kamu nggak usah bikin aku penasaran," keluh Nayla sebal. Ia kehilangan selera makan. Sendok dan garpu ia letakkan ke atas piring yang masih tersisa banyak makanan. Iron meraih telapak tangan Nayla. "Aku pasti akan menjelaskannya semua, tapi harus bertahap dan kronologis. Jadi bersabarlah!" Nayla melepaskan telapak tangan dari pegangan Iron. "Oke, lanjutkan saja penjelasanmu." "Tim yang aku bentuk untuk mencari tahu profilmu bukan detektif yang bisa seenaknya masuk ke dalam kehidupanmu. Mereka menghargai privasimu," jelas Iron. "Mungkin karena nggak terlalu dalam masuk ke ranah privasimu, sehingga mereka kecolongan." Nayla mengerjap. "Kecolongan?' "Iya, mereka nggak mendeteksi adanya potensi bahaya yang mengancammu. Mereka tahu-tahu mendapatkan informasi kalau kamu dan perusahaanmu tersangkut kasus hukum. Sebelum terlambat, aku turun tangan dan mengerahkan pengacara untuk mengeluarkanmu dari tahanan." Nayla menahan napas selama beberapa detik. Ia masih belum paham kenapa Iron menyelidiki profilnya dan repot-repot membantunya keluar dari tahanan. Namun ia harus bersabar sampai pertanyaan dalam hatinya terjawab. "Aku menyuruh tim ke rumahmu untuk memastikan keluargamu juga aman. Mereka mendapati ayahmu terbaring lemah di kamar. Lalu aku mengirimkan ambulans dan tim medis untuk membawa ayahmu ke rumah sakit." "Kalau tahu ayahku sakit, kenapa kamu nggak memberitahuku?" gugat Nayla kesal. "Karena saat aku menjemputmu di sel tahanan, ayahmu sedang dievakuasi ke rumah sakit. Itulah kenapa aku mengajakmu ke kafe dulu agar nggak panik." Nayla mendesah, tidak tahu harus memelihara perasaan kesal atau merasa berterima kasih kepada Iron yang telah membantunya keluar tahanan dan membawa ayahnya ke rumah sakit. "Beberapa jam lalu aku mendapatkan informasi kalau rumahmu dimasuki dua orang. Mereka masuk dengan cara menjebol pintu belakang," beritahu Iron. Nayla kaget. "Apa?" "Mereka masuk membawa sesuatu dan keluar tanpa membawa apa-apa," lanjut Iron. "Itu indikasi kalau mereka nggak berniat mencuri. Hanya saja aku curiga apa yang mereka letakkan di dalam rumah kamu. Setelah mereka pergi, timku bergegas masuk dan menemukan setumpuk buku yang berkaitan dengan radikalisme. Selain itu mereka juga meletakkan sebuah bendera yang menjadi simbol salah salah satu teroris di negeri ini." Serasa jantung Nayla berhenti berdetak. Ia kaget sekaligus geram kenapa ada orang yang berniat sejahat itu kepadanya. "Jadi saranku sebaiknya untuk beberapa hari ke depan jangan pulang dulu karena alasan keamanan," ucap Iron tegas. "Lalu rumahku bagaimana?" Nayla cemas. "Memang sih nggak ada barang berharga di dalamnya tapi aku takut orang-orang jahat itu masuk rumahku lagi." Iron tersenyum, berusaha menenangkan Nayla. "Aku sudah menempatkan beberapa orang untuk menjaga rumahmu." Nayla menarik napas lega. "Terima kasih, tapi aku sama ayah harus pulang ke mana?" Iron tersenyum penuh arti. 
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD