Ponsel Heri berdering ketika punggungnya sedang dipijat seorang perempuan seksi yang hanya mengenakan tanktop dan celana pendek ketat.
Herry memberi isyarat kepada perempuan seksi di dekatnya itu agar menghentikan pijatannya. Masih dalam posisi tengkurap, ia mengambil ponsel dari atas meja di sebelahnya, lalu menempelkannya ke telinga. "Ada apa?"
"Lapor, Bos!" ucap salah satu anak buah Heri.
"Awas kalau laporanmu nggak bermutu, aku lagi pijat!" ancam Heri.
"Mmhh, maaf, Bos, mengganggu, tapi ini sangat penting."
"Nggak usah bertele-tele!"
"Iya, Bos. Rumah Nayla sepi sejak siang."
"Dari mana kamu tahu kalau rumah itu sepi?"
"Aku sudah masuk dan memeriksanya ke dalam. Nggak ada siapa-siapa di sana!"
"Kamu masuk rumah itu?"
"Iya, Bos!"
"Kapan?"
"Jam sepuluhan, Bos!"
"Sekarang jam berapa?"
"Jam lima sore, Bos."
"Masih sepi?"
"Iya, sejak jam sepuluh aku sama temen-temen terus mantau. Rumah itu masih sepi sampai sekarang."
"Kamu nggak nyari informasi kenapa rumah itu sepi?"
"Ada seorang tetangga yang melihat ayahnya Nayla dibawa ambulans, sekitar jam sembilanan. Kalau Nayla belum diketahui keberadaannya."
Heri bangkit dari rebahan. Ia duduk bersila di atas kasur. "Ayahnya Nayla di bawa ambulans ke mana?"
"Aku sudah mencari informasi ke dua rumah sakit dan tiga klinik, tapi ayahnya Nayla nggak berada di sana."
Heri mendengus kesal. "Cari di rumah sakit lain!"
"Iya, Bos. Ada dua orang kita yang terus mencari informasi di rumah sakit lain, bukan hanya di kota ini saja tapi juga ke daerah lain."
"Apa yang mereka dapatkan?"
"Mereka belum lapor aku, Bos."
"Bodoh!" maki Heri. "Kamu harus aktif meminta laporan mereka!"
"Siap, Bos!"
"Ingat, kamu itu tangan kananku!"
"Iya, Bos."
Heri memberi isyarat kepada perempuan seksi di dekatnya untuk menyingkir jauh darinya.
"Aku juga sudah mendapatkan informasi orang yang membebaskan Nayla dari tahanan," beritahu anak buah Heri.
"Siapa?"
"Namanya Iron, Bos!"
Heri mengernyit. Baru kali ini ia mendengar nama itu. "Kamu nggak salah denger?"
"Enggak, Bos. Namanya memang Iron."
Heri curiga Iron adalah nama samaran. "Nama lengkapnya siapa?"
"Maaf, aku belum mendapatkan informasi nama lengkapnya."
"Ciri-cirinya seperti apa?" Heri penasaran.
"Badannya tinggi kekar. Rambutnya lurus rapi. Ia datang menggunakan mobil Camry hitam."
"Iron itu pengacara?"
"Bukan, Bos."
"Polisi?"
"Bukan juga, Bos."
"Tentara?"
"Juga bukan."
"Lalu apa?"
"Belum tahu, Bos."
Heri mendengus. "Cari tahu siapa Iron!"
"Masih aku selidiki, Bos."
Heri memindahkan ponsel dari telinga kanan ke telinga kiri. "Kamu masih mengawasi rumah Nayla?"
"Masih, Bos."
"Kamu sama berapa orang?"
"Satu, Bos."
"Terus awasi rumah itu. Jangan pernah lengah sedetik pun!"
"Siap, Bos!"
Heri mengakhiri panggilan teleponnya. Ia menarik napas panjang. Anak buahnya belum mendapatkan informasi yang penting. Itu membuatnya bingung bagaimana harus melaporkannya kepada Sisca.
Baru saja Heri berniat untuk mengembalikan ponsel ke atas meja, Sisca meneleponnya. Buru-buru ia menjawab panggilan telepon tersebut.
"Kamu ditelepon sibuk terus sih?!" gerutu Sisca begitu panggilan teleponnya terjawab.
Heri menelan ludah. Meski sudah terbiasa dengan tabiat Sisca yang temperamental namun ia tetap saja kesal karena sering mendapatkan perlakuan begitu.
"Maaf, Bos, tadi anak buah saya laporan," dalih Heri.
"Ada informasi apa?" Nada Sisca masih tinggi.
"Rumah Nayla sejak jam sepuluh sepi. Nggak ada orang di dalamnya hingga sekarang. Nayla dan ayahnya belum diketahui keberadaannya," lapor Heri.
"Sepi?" Intonasi Sisca sedikit melunak. Sebuah ide jahat baru saja mendarat di benaknya.
"Iya, Bos. Anak buah saya masih memantau rumah itu."
"Kamu nggak tahu kenapa rumah itu sepi?"
"Menurut salah satu tetangganya, ayahnya Nayla dibawa ambulans. Saya sedang mencari informasi dibawa ke mana. Saya sudah kerahkan anak buah saya ke berbagai rumah sakit dan klinik di dalam kota ini dan kota-kota sekitar. Mereka masih belum menemukan ayahnya Nayla dirawat di mana."
"Sebenarnya nggak begitu penting di mana keberadaan ayahnya Nayla tapi kamu terus cari informasinya," suruh Sisca.
"Siap, Bos!"
"Yang paling penting adalah cari tahu siapa orang yang membebaskan Nayla!" lanjut Sisca. "Sama satu lagi: pastikan rumah itu masih sepi. Aku punya rencana!"
"Baik, Bos!"
"Sekarang kamu cari simbol atau benda yang sekiranya berkaitan dengan radikalisme lalu letakkan ke rumah itu secara diam-diam. Pokoknya jangan ada yang tahu!"
Heri menangkap maksud Sisca. "Baik, Bos. Saya punya gambaran benda-benda tersebut."
"Apa?"
Heri memeras otak dengan cepat. "Mmhh, misalnya buku-buku, kaos, dan bendera, Bos."
"Boleh juga!"
Heri merasa tersanjung idenya mendapatkan sambutan baik dari bosnya. "Pokoknya segala sesuatu yang akan membuat Nayla diduga terpapar radikalisme."
"Tumben otak kamu encer!"
Hidung Heri kembang kempis. Jarang-jarang dirinya mendapatkan pujian dari bosnya.
"Lakukan secepatnya sebelum mereka balik ke rumah. Setelah itu laporkan kepada polisi biar rumah mereka digeledah," suruh Sisca. "Ingat, jangan sampai ada yang mengetahuinya. Aku nggak mau kamu gagal lagi kali ini!"
"Iya, Bos!"
"Lakukan sekarang!"
"Siap, Bos!"
***
Dua lelaki yang menyamar sebagai petugas pencatat meteran listrik memarkir sepeda motor di depan rumah Nayla. Dengan kondisi mesin motor masih menyala keduanya berpencar. Satu orang berpura-pura memeriksa boks meteran listrik, padahal ia sedang mengawasi sekitar. Satunya lagi menuju ke pintu belakang sambil membawa sebuah buntalan kain. Mereka adalah anak buah Heri yang sedang mendapatkan tugas dari Sisca untuk memfitnah Nayla.
Pintu belakang sudah lapuk dan terdapat sebuah lubang yang hanya ditutupi tripleks tipis. Anak buah Heri dengan mudah mencongkel tripleks tersebut menggunakan obeng. Melalui lubang tersebut tangannya menelusup ke dalam, memutar engsel. Daun pintu pun terbuka.
Anak buah Heri mengawasi sekitar, memastikan tidak ada satu pun orang yang melihat aksinya. Setelah memastikan situasi aman, ia masuk rumah.
Anak buah Heri memeriksa setiap ruangan. Ia memasuki sebuah kamar yang ia yakin milik Nayla. Ia membuka buntalan kain.
Dari buntalan tersebut terkuak beberapa eksemplar buku-buku dan sebuah kaos lengan panjang. Anak buah Heri memasukkan itu semua ke dalam lemari.
Kain yang dijadikan sebagai pembuntal itu adalah sebuah bendera. Anak Buah Heri merentangkannya di sebuah sisi dinding kamar, lalu memakunya. Buku-buku, kaos, dan bendera adalah benda-benda yang berkaitan dengan terorisme. Ia meletakkannya di dalam kamar Nayla atas perintah Heri.
Setelah tugasnya selesai, anak buah Heri keluar melalui pintu belakang. Tidak lupa ia menguncinya kembali, lalu berjalan santai menuju sepeda motornya. Ia memberi isyarat kepada temannya untuk segera pergi.
Kedua anak buah Heri meninggalkan rumah Heri dengan santai, seolah ia tidak pernah melakukan sebuah kejahatan.
Kedua anak buah Heri tidak menyadari kalau aksi mereka sejak tadi diawasi seseorang dari dalam mobil yang terparkir di seberang rumah Nayla. Ia adalah Asif, salah satu anak buah Iron yang ditugaskan mengawasi rumah Nayla.
Asif sejatinya adalah salah satu sopir pribadi walikota. Ia serba bisa. Selain mahir dalam mengemudikan mobil, ia jago beladiri dan terlatih untuk mempertahankan diri dari berbagai situasi buruk yang mengancam keselamatan majikannya.
Asif telah merekam video aksi kedua anak buah Heri. Ia segera mengirimkan file video tersebut kepada Iron.
Tidak lama kemudian Iron menelepon Asif.
"Asif, kamu perhatikan nggak, orang yang masuk ke rumah Nayla lewat pintu belakang itu?" tanya Iron.
"Perhatikan, Pak?" jawab Asif.
"Kamu mendapati hal aneh enggak?"
"Iya, Pak," jawab Asif. "Orang itu masuk membawa sebuah buntalan kemudian keluar tanpa membawa apa-apa."
"Itu artinya apa?" tanya Iron menguji kecakapan Asif dalam menganalisa sebuah kejadian.
"Itu artinya orang itu meninggalkan sesuatu ke dalam rumah itu," analisa Asif. "Saya yakin motif mereka masuk rumah itu bukan untuk mencuri tapi merencanakan sesuatu yang jahat."
"Analisamu logis!" puji Iron puas. "Aku menduga itu berkaitan dengan kriminalisasi terhadap Nayla."
"Iya, Pak, saya juga menduga demikian."
"Kalau begitu kamu awasi sekitar," suruh Iron. "Pastikan tidak ada orang yang sedang mengawasi rumah itu. Kalau kamu menemukannya, sikat orang itu, paham?"
"Siap, Pak!"
"Lakukan sekarang dan segera laporkan kepadaku. Aku sedang mengirim satu orang untuk mengambil barang-barang yang mereka letakkan di dalam rumah itu."
"Baik, Pak!"
Panggilan telepon berakhir. Asif keluar dari dalam mobil. Ia berjalan-jalan ke sekitar rumah Nayla sambil berpura-pura menelepon seseorang.
Asif curiga pada salah satu sepeda motor yang terparkir di depan mushola. Ia segera memasuki mushola dari sisi tempat wudhu wanita. Dari tempat itu ia melihat seorang lelaki berjaket hitam sedang berdiri di dekat kaca jendela samping mushola.
Asif curiga kenapa pandangan orang itu mengarah ke rumah Nayla. Ia menduga orang itu sedang mengawasi rumah Nayla. Ia harus menyingkirkan orang tersebut jauh-jauh.
Asif kembali ke ke halaman depan mushola. Dengan mengendap-endap, ia mendekati sepeda motor yang ia duga milik orang yang mencurigakan itu. Ia mengambil sebuah lidi bekas batang korek api yang tergeletak di atas tanah. Ia menggunakan batang bekas korek api tersebut untuk mengempesi ban dengan cara menekan penonjok p****l. Sedikit demi sedikit angin keluar dari dalam ban.
Butuh waktu beberapa menit bagi Asif sampai berhasil mengempeskan ban belakang sepeda motor tersebut. Meskipun demikian ia merasa puas karena aksinya aman. Ia pun dengan santainya memasuki mushola melalui serambi.
"Assalamu alaikum!" ucap Asif ditujukan kepada lelaki berjaket hitam yang terus mengarahkan pandangan ke arah rumah Nayla.
Lelaki berjaket hitam itu menoleh. "Wa alaikum salam."
"Maaf, apa sepeda motor di depan itu milik bapak?" tanya Asif memasang sikap sopan.
"Iya, benar."
"Sepertinya ban belakangnya kehabisan angin," ujar Asif.
"Masa?" Lelaki berjaket hitam tidak sepenuhnya percaya.
"Iya, Pak. Mumpung masih jam segini bapak bisa memompanya di bengkel pojok kampung!" Asif memberi saran tapi sebenarnya berniat mengusir.
Lelaki berjaket hitam menatap Asif curiga, sebelum akhirnya berlalu menuju sepeda motornya.
Asif tersenyum puas. Ia pergi ke tempat wudhu. Ia membasuh muka, tangan, dan kaki sambil mengawasi lelaki berjaket. Setelahnya ia melakukan gerakan sholat agar dikira sedang sholat betulan, padahal ia sudah sholat sejam lalu.
Selesai salam, Asif menengok ke arah halaman mushola. Ia melihat lelaki berjaket hitam itu tampak sedang menelepon seseorang, alih-alih membawanya ke bengkel.
Selesai teleponan, lelaki berjaket hitam mendorong motornya keluar dari halaman mushola.
Asif bangkit dan mengawasi lelaki berjaket itu yang terus mendorong sepeda motornya. Ia segera menelepon Iron.
"Halo, Pak!"
"Ada apa, Sif?"
"Tadi ada orang mencurigakan. Saya menduga orang itu sedang mengawasi area rumah Nayla dari balik kaca jendela mushola. Orang itu sudah saya bikin pergi," lapor Asif.
"Bagus!" puji Iron. "Aku sedang mengutus orang ke sana. Posisinya sudah dekat dengan rumah Nayla. Ia akan masuk rumah itu dan mengambil benda-benda yang tadi diletakkan orang misterius tadi."
"Iya, Pak, sekarang apa yang harus saya lakukan?"
"Kamu awasi area sekitar rumah Nayla. Pastikan orang suruhanku aman."
"Siap, Pak," ujar Asif. "Kalau boleh tahu, apa ciri-ciri orang suruhan bapak itu?"
"Perempuan berhijab, mengenakan seragam kantor Nayla," beritahu Iron. "Aku kirimkan fotonya sama kamu."
"Iya, Pak."
Panggilan telepon berakhir.
Iron mengirimkan foto. Asif membukanya dan memperhatikan foto perempuan tersebut secara seksama. Setelah merasa hafal dengan ciri-cirinya, ia keluar dari mushola.
Asif kembali ke dalam mobil. Dari situ ia bisa mengawasi sekitarnya dengan aman dan leluasa.
Setelah menunggu selama hampir tiga menit, seorang perempuan baru saja memarkirkan sepeda motor di depan rumah Nayla. Ciri-cirinya sama persis dengan foto yang dikirimkan Iron.
Asif mengedarkan pandangan ke sekeliling. Bersamaan dengan itu, perempuan berhijab itu masuk ke dalam rumah Nayla melalui pintu depan. Asif menduga perempuan itu dibekali kunci duplikat.
Asif terus mengawasi keadaan. Beruntung situasi mendukung. Kampung ini sangat sepi kalau siang karena mayoritas warganya adalah buruh pabrik yang baru pulang ke rumah menjelang maghrib.
Enam menit sudah perempuan berhijab itu masuk ke dalam rumah Nayla. Asif gelisah ketika melihat dari kejauhan lelaki berjaket hitam kembali dengan sepeda motornya. Ia memarkirkan sepeda motornya di halaman mushola.
Asif berniat mengabarkan situasi ini kepada Iron agar menahan orang suruhannya tetap berada di dalam rumah. Namun sebelum ia sempat menelepon, perempuan berhijab itu keluar dari dalam rumah. Dengan tenang perempuan itu menutup dan mengunci pintu, seolah itu rumahnya sendiri.
Asif segera mendekati perempuan berhijab itu. "Mbak Nayla mau pergi ya?" tanyanya sambil mengerlingkan mata kiri, mengajak untuk bersandiwara. Ia melakukan itu agar lelaki berjaket hitam mengira perempuan berhijab itu adalah Nayla.
"Iya, aku mau ada meeting sama bos baru," jawab perempuan itu sambil mengerjap, memberi kode kalau dirinya paham dengan situasi.
"Tapi ayah kamu ada di rumah kan?" tanya Asif masih bersandiwara. "Aku ada perlu sama ayahmu sebenarnya."
"Ayah sedang dirawat di Gerard Hospital."
Asif berlagak terkejut. "Memangnya ayah kamu sakit apa?"
"Nggak papa, cuman capek aja," jawab perempuan berhijab. "Maaf, saya buru-buru."
"Silakan," ujar Asif. "Kirim salam buat ayah kamu ya?"
Perempuan berhijab itu segera menaiki sepeda motor, menyalakan mesin, kemudian menarik gas kencang.
Asif segera ke mobil. Ia menyalakan mesin lalu mengawal perempuan berhijab itu.
Dari dalam mushola, lelaki berjaket menelepon Heri.
"Halo, Bos, Nayla barusan masuk ke dalam rumahnya dan sekarang pergi lagi," lapor lelaki berjaket hitam.
"Kamu yakin itu Nayla?" tanya Heri kurang percaya.
"Iya, tadi ada orang yang menyapanya dengan sebutan Nayla."
"Belum tentu itu Nayla!" hardik Heri kesal. "Memangnya ciri-cirinya seperti apa?"
"Orangnya cantik dan berhijab."
Heri mendengus kasar. "Nayla nggak berhijab, Bodoh!'
Lelaki berjaket terperanjat.
"Sekarang kejar perempuan itu!" suruh Heri kesal.
"Tapi nanti siapa yang mengawasi rumah itu, Bos?"
Heri semakin kesal. "Kalau aku suruh kejar ya kejar!"
"Baik, Bos!"