Nayla langsung memeluk ayahnya begitu masuk ruang perawatan Mahdi. Tangisnya pecah. Ia menangis tersedu-sedu sampai badannya terguncang-guncang. "Maafin aku Ayah, maafin aku!"
Mahdi mengelus rambut Nayla. "Kamu sudah pulang?"
Nayla mengangguk sambil terus menangis. Ia tidak mungkin cerita kalau dirinya sempat masuk tahanan polisi. Ia melepas pelukannya. Ditatapnya Mahdi dengan perasan menyesal karena baru mengetahui ayahnya masuk rumah sakit. Yang membuatnya heran adalah kenapa tetangganya tidak ada yang mengabarinya, begitupun pihak rumah sakit. Yang lebih membuatnya semakin heran adalah kenapa Iron bisa tahu kalau ayahnya masuk rumah sakit?
"Siapa yang nganterin ayah ke rumah sakit?" tanya Nayla penasaran?
Mahdi menggeleng. "Ayah tidak tahu."
Nayla mengedarkan pandangan. Ini adalah ruang perawatan VIP. Hanya ada satu pasien, yaitu ayahnya. Di pojok juga ada sebuah tempat tidur berukuran lebih kecil dan meja kursi. Itu membuatnya semakin heran. Ia yakin ini semua ada campur tangan Iron.
"Tadi siang, tahu-tahu ada seorang perempuan pakai baju mirip dokter meminta ayah agar mau dirawat di rumah sakit," cerita Mahdi. "Ia didampingi dua orang lagi yang siap membawa ayah."
"Hah?" Nayla mengerjap.
"Tentu saja ayah nggak mau karena kondisinya sudah mulai membaik," tutur Mahdi, melanjutkan cerita. "Tapi perempuan itu mengatakan kalau ini atas suruhan bos kamu."
"Apa?" Nayla menjadi semakin bingung, meskipun keyakinannya semakin kuat, semua ini karena campur tangan Iron.
"Perempuan itu terus membujuk, membuat ayah tidak bisa menolak." Seulas senyum terkembang dari sudut bibir Mahdi. "Sampai di sini, perempuan itu meyakinkan ayah, katanya kamu akan datang sebelum sore."
"Perempuan itu menyebutkan nama?"
Mahdi menggeleng. "Sejak itu ayah belum bertemu dengannya lagi."
Nayla meraih tangan Mahdi lalu mengecup punggung telapak tangan lelaki itu. Ia bersyukur ayahnya tidak kenapa-napa, bahkan wajahnya tidak sepucat tadi pagi saat ia berpamitan.
"Bos kamu baik sekali!" puji Mahdi.
Nayla mengernyit. Ia tidak tahu siapa 'bos' yang dimaksudkan ayahnya. Hanya saja ia yakin pasti itu bukan bos di tempatnya kerja. Lalu siapa?
"Kalau bertemu dengannya, sampaikan ucapan terima kasih dari ayah." Mahdi membetulkan poni Nayla lembut.
"Ayah belum bertemu dengannya?"
"Belum!" jawab Mahdi. "Tapi tadi ayah sempat bertanya kepada perempuan yang membawa ayah ke rumah sakit. Ayah tanya siapa nama bos kamu itu."
Nayla penasaran. "Lalu perempuan itu menjawab apa?"
"Katanya bernama Pak Baeni."
Nayla menggigit bibir sendiri. Begitu mendengar nama 'Baeni' pikirannya langsung tertuju pada Iron. Tadi di kafe ia sempat mendengar Vee menyebut nama itu pada Iron. Dalam hati ia bertanya-tanya, apa sebenarnya yang diinginkan lelaki itu? Setelah membebaskannya dari tahanan, lelaki itu membawa ayahnya juga ke rumah sakit.
Zaman sekarang tidak ada yang gratis, begitu pikir Nayla. Ia yakin Iron menginginkan sesuatu darinya sebagai imbalan. Jika benar, lalu imbalan apa yang akan diminta lelaki itu? Ia tidak memiliki apa-apa. Ia juga tidak punya keahlian apa-apa selain menjadi office girl pada sebuah kantor redaksi media massa.
Seorang perawat masuk. Ia mengulas senyum ramah kepada Mahdi dan Nayla.
"Saya akan memeriksa tekanan darah pasien," ujar perawat. Ia merogoh saku baju. Diambilnya secarik kertas lalu memberikannya kepada Nayla. "Ada pesan dari Pak Baeni buat Mbak Nayla."
Nayla menerima kertas tersebut. Penasaran ia langsung membuka lipatannya: Nayla, temui aku di depan pintu, sekarang.
Nayla melirik ayahnya yang sedang diperiksa tekanan darahnya. "Ayah, aku keluar sebentar."
Mahdi mengangguk.
Nayla keluar kamar. Benar saja, ia mendapati Iron berada di dekat pintu sambil bersedekap. Kali ini pemuda itu mengenakan jaket kulit berwarna cokelat.
"Aku sudah bilang kan, ikuti saja sopir akan membawa kamu!" gerutu Iron, menyalahkan.
"Hanya karena kamu sudah membebaskanku dari tahanan dan membawa ayahku ke rumah sakit, lalu kamu seenaknya mengatur-atur kehidupanku!" Nayla tidak kuasa menahan kesal yang ia pendam sejak tahu ayahnya dibawa ke rumah sakit tanpa satu orang pun meminta izin kepadanya, atau paling tidak memberitahunya.
Alih-alih merespon, Iron memasukkan kedua tangan ke saku jaket. Ditatapnya Nayla dengan senyum geli. Ia memaklumi kekesalan gadis di depannya itu.
"Aku disuruh ayah nyampein ucapan terima kasih ke kamu." Nayla mengatakan itu sambil menahan perasaan kesal yang masih menguasai hati.
"Iya, sampaikan kembali terima kasihku pada beliau yang sudah merawat gadis cantik di depanku."
Nayla merasa geli mendengar candaan Iron yang diucapkan tanpa senyum sama sekali. "Memangnya siapa kamu sampai harus berterima kasih begitu?"
Iron mengeluarkan tangan kanan dari saku jaket. Sebuah ponsel mahal tergenggam. Ia memberikannya kepada Nayla.
Keruan saja Nayla semakin kesal karena sudah dua kali Iron seolah tidak menanggapi sikap dan ucapannya.
Pada saat kekesalan Nayla hampir mencapai puncak, Iron menggenggamkan ponsel ke telapak tangan Nayla "Ponsel ini buat kamu. Sudah ada SIM Card di dalamnya. Jangan bagikan nomor itu ke siapa pun kecuali ayahmu!"
Nayla menatap ponsel di tangannya dengan penuh keheranan. Sungguh ia masih belum mengerti dengan ini semua; dibebaskan orang tidak dikenal, ayahnya dibawa ke rumah sakit, dan sekarang diberi ponsel mahal. "Ini maksudnya apa?"
Lagi-lagi Iron tidak menanggapi Nayla. Ia bahkan mendekatkan bibir ke telinga Nayla. "Charger-nya menyusul!" Selepas membisikkan kalimat itu ia berlalu begitu saja dari hadapan Nayla.
Nayla bengong, masih bingung dengan apa yang terjadi sejak pagi tadi. Ia memandangi punggung Iron yang terus bergerak menjauh, menyusuri koridor. Di sebuah belokan, sosok itu menghilang.
"Permisi!"
Nayla menoleh. Ia mendapati perawat yang tadi memeriksa ayahnya berada di ambang pintu. Ia baru sadar, dirinya menghalangi jalan sang perawat. Maka ia menggeser badannya. "Silakan!"
"Terima kasih." Perawat mengulas senyum sambil melenggang pergi.
Nayla mengusap-usap layar ponsel berharga belasan juta rupiah. Entah mimpi apa ia semalam sehingga hari ini ia mengalami berbagai macam peristiwa aneh. Tadi pagi tanpa tahu kesalahannya apa, dirinya dibawa ke kantor polisi dan sempat masuk sel tahanan selama beberapa jam. Siangnya, seorang pemuda tampan yang belum dikenalnya tiba-tiba membebaskannya. Kini pemuda tampan itu memberinya ponsel mahal.
Peristiwa hari ini membuat Nayla mengambil pelajaran bahwa batas nasib buruk dan baik kadang sangatlah tipis. Ia hanya harus menerimanya dengan lapang karena menurutnya semua takdir yang menimpanya patut disyukuri.
***
Brakk! Sisca menggebrak meja, membuat Heri tersentak.
"Kenapa Nayla bisa bebas, hah?" Sisca bangkit dari duduknya dengan menanggung perasaan marah. Ia berdiri di depan Heri. Ia menunjuk muka orang kepercayaannya itu. "Memenjarakan Nayla saja nggak becus!"
Heri menunduk semakin dalam. "Ada seseorang yang menangguhkan penahanannya."
Jari lentik Sisca mengangkat dagu Heri. "Aku mendapat laporan kalau Nayla masih berstatus saksi. Jadi jangan coba-coba ngibulin aku!"
Heri menelan ludah. "Nayla sempat dimasukkin ke sel tahanan. Sebelum perempuan itu dimintai keterangan penyidik, seseorang keburu mengeluarkannya."
"Itu karena kamu gagal memberikan bukti yang memberatkannya, sehingga penyidik melepaskannya!" hardik Sisca.
"Buktinya cukup, Bos." Heri beranikan diri menatap Sisca. "Bos dan staf Kerta Post ditahan."
"Bodo amat sama bos dan staf mereka!" sergah Sisca. "Aku cuman mau Nayla ditahan!"
Heri mengangguk. "Iya, Bos!"
Mata Sisca melotot. "Aku nggak mau tahu bagaimana caranya. Kamu buatlah Nayla ditahan secepatnya!"
"Siap, Bos!"
Sisca memberi gestur agar Heri berlalu dari hadapannya.
Heri mengangguk. "Saya pamit, Bos!" Ia berlalu dari hadapan Sisca.
Sisca kembali ke kursinya. "Tunggu!"
Langkah Heri terhenti tepat di ambang pintu. Ia menoleh kepada bosnya.
Sisca menyilangkan kaki, membuat pahanya yang mulus terkuak. Rok mini yang ia kenakan sangat pendek. "Siapa yang telah membebaskan Nayla?"
Heri mendekati Sisca. "Saya belum mendapatkan informasinya, tapi saya duga ia bukan orang sembarangan."
Sisca mendengus. Kekesalan yang sempat turun kini naik lagi. "Jadi kamu nggak tahu?"
"Maaf, Bos, saya belum tahu," jawab Heri takut. "Penyidik nggak mau memberitahukannya."
"BODOH!" Suara Sisca melengking tinggi. "Tentu saja penyidik nggak bakalan ngasih tahu. Mereka bekerja sesuai SOP. Harusnya kamu mencari tahu!"
"Iya, Bos. Orang-orang saya sedang mencari tahu."
"Besok pagi, kamu harus sudah melaporkan sama aku siapa orang yang membebaskan Nayla dan kenapa ia melakukan itu!" ultimatum Nayla. "Kamu masih mau kerja sama aku kan?"
Heri mengangguk. "Baik, Bos!"
Sisca menggerakan telapak tangannya sebagai isyarat agar Heri berlalu dari hadapannya.
Heri mengangguk. Ia berlalu dari hadapan Sisca.
Sisca mendengus kesal. Ia sudah keluar uang banyak untuk mengkriminalisasi Kerta Post, khususnya Nayla, tapi hasilnya sangat mengecewakannya.
Yang membuat Sisca sangat kesal adalah Nayla dibebaskan seseorang. Ia yakin yang melakukan itu pasti bukan orang sembarangan. Jika keyakinannya benar, maka pasti Nayla berada di balik kekuatan yang tidak main-main. Itu akan membuat usahanya menyengsarakan Nayla semakin sulit.
Sisca tidak habis pikir, kenapa ada orang yang mau repot-repot membebaskan Nayla. Apa hebatnya gadis miskin itu? Atau jangan-jangan, itu ulah lawan politik papinya?
Sisca khawatir, orang di balik kebebasan Nayla adalah salah satu lawan politik papinya. Ia bukan hanya akan kesulitan untuk menyengsarakan Nayla, tapi kemungkinan akan menghadapi kekuatan di luar kemampuannya. Jika urusan politik, maka itu hanya bisa dilakukan papinya.
Sisca meraih ponsel dari atas meja. Ia segera menelepon Ferdy, papinya.
"Ada apa, Sayang?" tanya Ferdy, menjawab panggilan telepon Sisca.
"Pi, masih inget soal rencanaku buat ngasih pelajaran Nayla nggak?" tanya Sisca.
"Nayla ... mmhh ...." Ferdy berpikir, mengingat-ingat sesuatu.
"Itu lho, Pi, mantan pacarnya Armando!"
"Aduh, papi nggak inget, Sayang!"
Sisca mendengus sebal. "Ih, papi pelupa!"
Ferdy terkekeh, memaklumi sikap anak gadis semata wayangnya itu. "Maaf, papi susah mengingat orang nggak penting seperti itu. Memangnya ada apa, Sayang?"
"Nayla itu bisa membahayakan hubunganku sama Armando, Pi!"
"Bukannya ia sudah menjadi mantannya Armando?"
"Justru itu, Pi!" sergah Sisca. "Aku khawatir Armando masih mencintai perempuan miskin dan tomboy itu!"
"Nayla miskin dan tomboy?"
"Iya."
"Terus apa yang harua dikhawatirkan?"
Sisca makin sebal kepada Ferdy. "Tapi Armando mutusin Nayla secara terpaksa. Aku yakin mereka masih saling mencintai!"
"Armando akan bertunangan denganmu. Kamu nggak usah khawatir. Anak itu nggak bakalan berani macam-macam sama papi." Ferdy berusaha meyakinkan Sisca.
"Yang aku khawatirkan bukan Armando tapi Nayla!"
"Astaga, Sayang! Kamu bilang Nayla gadis miskin dan tomboy. Apa yang bisa ia lakukan buat merebut Armando darimu?"
"Papi nggak paham-paham dah!" gerutu Sisca.
"Sayang, kamu fokus saja sama acara pertunangan, nggak usah buang-buang waktu dan energi buat sesuatu yang nggak penting."
Sisca semakin sebal kepada Ferdy. "Papi nggak tahu sih kisah cinta Armando sama Nayla."
"Sudahlah, Sayang, banyak hal yang lebih penting dari itu," nasehat Ferdy. "Armando nggak bakal berpaling darimu. Papi jamin ia hanya akan memilihmu dan nggak bakalan berani macem-macem!"
"Tapi, Pi!'
"Sayang, kuncinya itu sama Armando!" potong Ferdy. "Kalau ia setia sama kamu, seribu perempuan pun nggak bakalan bisa membuatnya berpaling."
Sisca mendengus. Niat hati ingin agar papinya mau membantu, apa daya malah dinasehati agar tidak mengurusi Nayla.