Tak mau bergelung dalam rangkaian kejadian yang selalu terulang, kuputuskan untuk fokus saja kepada hidup dan nafkah kedua anakku. Sore itu kami sampai di depan rumah, kami turun dan langsung membongkar bagasi tetangga yang kebetulan melihat kami langsung kaget ketika menatap Mas Imam juga turun dari mobil yang sama. Tetangga nampak kali membisiki dan berkomentar. Aku paham betul bahwa mereka sedang membicarakan ketidakkonsistenanku dalam mengambil keputusan.m Ya, aku sudah dianiaya dan menuntut namun tiba-tiba membawa si pelaku pulang ke rumah, itu mengejutkan dan tidak bisa habis dipikirkan. "Silakan masuk Mas,"suruh ku ketika melihatnya yang masih terpaku mencengkeram kuat tas miliknya. "Kamu yakin mau ngajakin aku masuk?" "Memangnya Mas mau tidur di luar?" Wajah suram Mas Imam y

