“Kamu ini bagaimana sih! Dapat lelaki kaya di tolak? Dia banyak uang lho!” Atikah berkata seolah menyuruh adiknya untuk memikirkan ulang niatnya menolak lelaki bernama Bambang.
Ningsih hanya mampu menghela napasnya. Dia sebenarnya tidak yakin. Jika kakak pertamanya ini bisa membantu atau justru akan semakin membuatnya tertekan. Ningsih mendaratkan bokongnya di kursi ruang tamu dengan kasar.
“Kak, ini bukan masalah uang tapi soal perasaan!” Ningsih berkata dengan geram sambil mengaruk kepalanya.
Atikah tertawa sumbang. Dia mengelengkan kepala tanda tidak habis pikir cara berfikir adiknya.
“Ningsih … Ningsih! Siapa yang suruh kamu suka sama Bambang? Bapakkan cuman menikahkan kamu. Setelah nikah beres cinta urusan belakangan yang penting dapat suami orang kaya. Pasti hidupmu akan bahagia!” Atikah menasehati adiknya seolah menikah itu sesuatu yang gampang dan sepele.
Ningsih hanya mampu mengelengkan kepalanya. Dia tidak habis pikir dengan jalan pikiran orang di rumahnya. Kenapa tidak ada yang bisa memahami perasaannya.
“Pokoknya aku akan berusaha untuk mengagalkan pernikahan ini titik!” putus Ningsih dengan perasaan kesal pada Atikah-Kakaknya.
Atikah terkejut mendegar ucapan Ningsih. Padahal tadi saat dia tahu akan memiliki adik ipar orang kaya. Dia sudah bahagia dan merencanakan sesuatu yang menguntungkan untuk dirinya dan suami.
“Jangan digagalkan, awas kalau sampai itu terjadi! Kakak akan buat kamu menyesal seumur hidup!” ancam Atikah dengan wajah yang menyiratkan amarah dan kebencian.
Ningsih yang menatap wajah Atikah. Dia merasa takut dan membuat nyalinya menciut, selama ini kakaknya selalu baik. Meskipun, Atikah orangnya suka teriak-teriak dan ikut campur masalah orang lain serta suka memerintah Ningsih semauanya.
Tetapi, rasa takut itu coba Ningsih kembalikan dengan baik. Dia kali ini harus melawan.
“Aku tidak takut!” jawab Ningsih tegas.
Atikah marah dan beranjak dari duduknya. Dia berjalan mendekat pada adiknya yang masih duduk.
“Kamu berani melawan perintah kami semua? Sekali lagi, Mbak peringatkan jangan mencoba melawan kalau kamu masih sayang sama nyawamu!” Atikah menarik kuat rambut Ningsih hingga gadis itu mendongakan kepalanya. Atikah wanita bertubuh sedikit berisi itu terlihat menakutkan di mata Ningsih saat ini.
“Kak, sakit! Kamu jangan kasar begini!”
Ningsih dapat melihat jelas bagaimana raut wajah penuh amarah dari kakaknya. Wanita itu bicara dengan penuh penekanan dalam setiap kata yang dia ucapkan. Membuatnya bergedik ngeri.
Tiga hari telah berlalu. Ningsih lebih banyak diam dan mengurung diri di dalam kamar. Semua orang menyadari perubahan sikap Ningsih. Tapi, mereka soal cuek dan tidak perduli.
Hari ini, Pak Andi berencana akan mengurus surat pengantar nikah di desanya. Setelah pulang dari pasar. Andi bergegas membersihkan diri dan berpakaian rapi.
Andi melangkah keluar dari kamarnya. Dia menuju lemari yang berada di ruang tamu. Andi berkali-kali membuka map yang hanya ada di dalam lemari. Dia sampai pusing mencari dan mengingat di mana letaknya kartu keluarga.
“Kemarin, sudah kembalikan dan simpan rapi di sini. Kenapa sekarang nggak ada?” gumam Andi sambil mengaruk kepalanya.
“Bu! kamu lihat tidak di mana kartu keluarga kita?” Andi berteriak pada istrinya yang sedang berada di dapur.
Romlah yang merasa di panggil menghampiri suaminya.
“Bukannya kemarin sudah di simpan di lemari,” jawab Romlah sambil mengambil posisi berdiri di samping Andi-suaminya.
“Bapak, sudah mencarinya dari tadi. Tapi, tetap nggak ketemu!”
“Coba di ingat-ingat lagi. Mungkin, Bapak lupa menaruhnya lagi di map,” Romlah mencoba menenangkan suaminya yang terlihat pusing mencari kertas berwarna biru muda dengan lambing burung garuda besar di tengahnya.
“Bapak, yakin banget sudah menyimpan kembali di lemari!” jawab Andi dengan sedikit meninggikan suaranya.
Karena, kesal tidak menemukan apa yang di carinya. Pak Andi mengambil posisi duduk di samping istrinya. Andi masih saja memikirkan apa dia lupa menyimpan atau ada yang mengambilnya.
“Mungkin, Ibu memindahkan kartu keluarga?” tanya Andi.
“Buat apa, Ibu ngurusin KK? Kerjaan Ibu sudah banyak jadi nggak sempat ngurus itu!” Romlah menjawab dengan suara meninggi karena ucapan suaminya.
Suaminya yang lupa menyimpan. Kenapa jadi dia yang di tuduh.
“Bapak, hanya bertanya. Kenapa jawabnya ketus begitu,” Andi menjawab dengan lemah lembut agar istrinya tidak marah.
Romlah yang kesal pada suaminya memalingkan wajah dan melipat kedua tangan di d**a.
“Coba, Bapak tanya anak kesayanganmu. Mungkin dia yang menyembunyikan agar tidak jadi menikah dengan Bambang!” usul Romlah.
Entah mengapa dia curiga putrinya yang menyembunyikan. Karena, Ningsih beberapa hari ini terlihat menurut dengan apa yang mereka ucapkan.
Sedangkan di dalam kamar Ningsih sedang merebahkan tubuhnya. Sebenarnya dari tadi Ningsih mendengarkan percakapan kedua orang tuanya. Dia hanya tersenyum dan sangat yakin. Jika saat ini Bapaknya sedang pusing. Karena tidak menemukan apa yang di carinya.
Andi mencoba memikirkan usul istrinya. Beberapa saat kemudian, dia membenarkan apa yang di ucapkan Romlah. Dengan langkah lebar dan wajah yang tampak kesal Andi menuju kamar putrinya yang tidak jauh dari ruang tamu.
Dengan kasar Andi membuka pintu kamar Ningsih.
“Sih! Kamu jangan pura-pura tidur. Cepat katakan di mana kamu menyembunyikan kartu keluarga?” bentak Pak Andi pada putrinya.
“Bapak, ada apa?” jawab Ningsih yang terkejut.
“Sudah! Kamu nggak usah bersandiwara di depan, Bapak, cepat kembalikan KK itu sekarang!” sarkas Pak Andi.
Ningsih berusaha menetralkan rasa takutnya. Dia sudah bertekat akan menyembunyikan rahasia ini sampai kapanpun. Karena hanya ini kesempatan terakhir yang dia miliki.
“Ning, nggak tau sama sekali soal kartu keluaga, Pak!”
Ningsih menatap wajah Bapaknya dengan berani, sebagai bukti kalau dia tidak mengetahui apapun.
Pak Andi mengeledah lemari pakaia dan tempat tidur putrinya. Tapi, dia tidak menemukan apa yang di cari. Wajah Pak Andi nampak memerah karena kesal.
“Sekali lagi, Bapak tanya di mana kamu menyembunyikan!” bentak Pak Andi kembali.
Kali ini kesabarannya sudah habis. Dia sekarang yakin pasti Ningsih yang menyembunyikan.
“Ning, nggak tahu sama sekali, Pak.”
Gadis yang duduk di sisi ranjang menjawab dengan tegas. Agar Pak Andi tidak curiga padanya. Saat Pak Andi kembali akan bicara dia di kagetkan dengan terika istri dari belakang rumah.
“Bapak! Coba ke sini lihat ini kelakuan anak kesayanganmu.”
Andi sedikit berlari menghampiri istrinya. Dia penasaran apa yang di maksud Romlah-istrinya.
Begitu sampai dapur mata Pak Andi membulat sempurna. Wajahnya merah dengan napas yang memburu.
“Lihat ini, Pak! Siapa lagi yang tega melakukan kalau bukan Ningsih!” Romlah bicara dengan marah sambil menunjukan apa yang dia temukan.
Dia kesal dan tidak habis pikir dengan tindakan nekad yang dilakukan Ningsih-putrinya.
“Ibu menemukan itu di mana?” tanya Pak Andi setengah putus asa menatap barang yang di maksud istrinya.
Tubuh Pak Andi lemas seakan tak bertulang menerima kenyataan yang membuatnya bersedih.
“Tadi ibu ingin menghidupkan tungku untuk memasak air. Saat itu menarik kayu tidak sengaja benda ini ikut tertarik keluar,” jelas Romlah.
“Bagaimana ini, Bu, waktu pernikahan sebentar lagi. Sedangkan kita tidak punya KK!” tutur Pak Andi dengan nada putus asa.
Romlah hanya diam dan menghampiri suaminya yang duduk lemas di kursi dapur. Romlah menyerahkan apa yang dia dapat dari tungku pada suaminya. Andi menerimanya dengan tangan bergetar dan tidak lama kemudian dia kehilangan kesadaran.