Melihat suaminya yang pingsan membuat Romlah berteriak memangil putrinya.
“Ningsih … Ningsih, bantu Ibu!”
Ningsih yang sejak kepergian Bpaknya hanya duduk melamun. Dia kaget saat mendengar teriakan Ibunya. Dengan berlari dia menuju dapur. Jantung Ningsih seaakan berhenti berdetak. Ketika melihat tubuh Bapaknya tergeletak dilantai dekat kursi dengan posisi duduk.
“Bapak, kenapa, bu?” tanya Ningsih dengan wajah yang tampak panik.
“Ini semua ulahmu. Kenapa pakai tanya segala?” bentak Romlah masih dengan posisi menahan tubuh suaminya agar tidak tersungkur di lantai.
Tidak ingin membuat suasana semakin memanas dan sadar semua ini karena ulahnya. Ningsih mencoba membantu memapah tubuh Pak Andi dengan bantuan Bu Romlah. Mereka susah payah membawa tubuh gempal lelaki paruh baya itu menuju kamar orang tuanya. Dengan perlahan ke dua wanita itu merebahkan tubuh Pak Andi di atas ranjang.
“Ning, kamu buatkan minuman hangat sama jangan lupa balsem bawa ke sini,” perintah Romlah yang saat ini setia duduk di sisi suaminya.
Tanpa menjawab Ningsih pergi ke dapur. Perasaan bersalah menyelimuti gadis itu. dia tidak menyangaka akan berakhir seperti ini. Awalnya Ningsih mengira dia tidak akan ketahuan dengan melakukan hal ini. Ternyata dia salah. Karena kecerobohanya membuat dia ketahuan dan dalam masalah besar.
Tadi pagi, saat dia selesai memasak terlintas dipikiran Ningsih untuk membakar kartu keluarga KTP miliknya. Ningsih berpikir dengan melakukan hal itu dia dapat mengagalkan pernikahannya.
Ningsih mengambil KTP di dalam dompetnya dan mencari KK yang selalu di simpan orang tuanya di dalam lemari. Setelah kedua benda itu di tangannya, dengan cepat Ningsih membawa ke dapur dan meletakkannya di dalam bara api yang sedang menyala dan berwarna merah.
“Maafkan, Ning, Pak!”
Dengan berurai air mata dan rasa bersalah di dalam hatinya dia menangisi apa yang baru saja dia lakukan.
Saat Ningsih tengah asik menatap KK dan KTP yang dia bakar. Dia dikejutkan dengan ke datangan adik dari Bapaknya. Sehingga membuat Ningih lupa memastikan apa yang dia lakukan tadi sudah aman atau belum.
Bibinya meminta Ningsih untuk membantunya menjaga anak lelakinya yang berusia dua tahun. Karena, terlalu asik bermain dengan bocah itu Ningsih melupakan apa yang tadi dia lakukan. sehingga sekarang dia harus menerima kenyataan bahwa usahanya gagal.
Ningsih membawa teh hangat dan balsam yang di minta Ibunya. Tanpa diperntah Ningsih mengudapkan balsam ke perut Bapaknya dan menghirupkan aroma balsam ke hidung Pak Andi. Beberapa saat menunggu akhirnya Pak Andi tersadar. Andi menatap nyalang putrinya.
“Kenapa kamu senekad ini, Ning?” tanya Pak Andi dengan suara dingin.
Ningsih dibuat bergedik takut dengan wajah pucat. Kali ini Ningsih tidak tahu hukuman apa yang akan diberikan untuknya. Ningsih harus menerima konsekuensi atas kesalahan yang dia lakukan.
“Maafkan, Ning!”
Hanya itu yang kalimat yang mampu dia ucapkan dengan menundukan wajahnya.
“Kamu kenapa masih saja membantah permintaan kami?” Tanya Romlah dengan marah.
“Ning, nggak mau nikah!” bantah gadis itu sambil terisak.
Pak Andi berusaha mengendalikan emosinya. Saat ini dadanya bergemuruh tangannya terkepal kuat dikedua sisi tubuhnya.
“Kamu sudah, Bapak berikan pilihan. Kamu hanya tinggal memilih bukan bertindak seperti ini!” geram Pak Andi.
“Ning, nggak bisa memilih! Dua-duanya berat buat Ningsih,” jawab gadis itu lagi dengan memelas disertai tangis.
Tubuh Ningsih luruh ke lantai dia bersujud di kaki Romlah-ibunya dan memohon.
“Ibu, tolong kali ini jangan paksa Ningsih!”
Andi beranjak dari duduknya. Amarahnya kembali tersulut mendengar penolakan untuk kesekian kalinya dari Ningsih. Dengan tangan besarnya Pak Andi menyeret Ningsi dan membawanya ke dalam kamar gadis itu. Ningsih hanya diam dan pasrah mengikuti ke mana Bapaknya membawanya.
Pak Andi melepar tubuh Ningsih ke atas kasur di dalam kamarnya.
“Bapak, sudah habis kesabaran denganmu, Ning! Kamu mau atau tidak minggu depan tetap harus menikah dengan Bambang. Kalau kamu sampai menolak atau mengagalkan, Bapak akan memilih mati saja dari pada memiliki anak yang tidak berbakti pada orang tuanya!” ancam Pak Andi sambil mengacungkan jari telunjuknya.
Ningsih yang merasakan sakit di punggungnya hanya mampu diam dan sedikit meringis. Dia dapat melihat dengan jelas wajah Bapaknya penuh amarah. Dia juga terkejut mendengar ancaman dari Bapaknya.
“Jangan, Pak, jangan bicara begitu. Ning akan menurut,” pinta Ningsih dengan terisak dan terpaksa menyetujui keinginan orang tuanya.
Andi tersenyum di dalam hati mendengar jawaban dari putrinya. Di dalam hatinya, kenapa tidak dari awal dia mengancam putrinya saja. sehingga dia tidak perlu mengeluarkan emosi dan tenaga.
“Bapak, pegang janjimu!”
Setelah mengucapkan itu Pak Andi keluar dan menutup pintu kamar Ningsih dengan kuat. Membuat Ningsih yang masih menangis berjengkit kaget.
Pak Andi dengan senyum lebarnya menghampiri istrinya.
“Bu, kita berhasil,” kata Pak Andi dengan penuh semangat sambil memeluk tubuh wanita yang begitu dia cintai.
“Syukurlah, jadi kita tidak usah repot lagi membujuknya!” jawab Romlah senyum kelegaan.
“Sekarang, cepat, Bapak ke kantor desa dan urus semuanya secepat mungkin. Jangan sampai gagal!” perintah Bu Romlah.
Pak Andi terdiam tanpa menjawab. Dia bingung bagaimana cara mengurus pengantar nikah, jika tidak ada KTP dan KK.
Romlah dibuat bingung dengan sikap suaminya yang masih diam berdiri di tempatnya.
“Kenapa masih diam aja? Cepat pergi ke balai desa nanti keburu tutup!” perintah Romlah dengan kesal.
“Bagaimana mau ngurus KTP dan KK jika sudah terbakar gitu,” jawab Andi santai.
Romlah mengelus dadanya pelan. Dia bingung dengan cara berpikir suaminya.
“Bapak, kan bisa bawa sisa KK ke desa dan bilang apa adanya,” ujar Romlah. “Nanti, Bapak, telpon Bambang dan minta tolong dia,” sambung Romlah kembali.
“Oh iya, kenapa Bapak nggak kepikiran,” Pak Andi bicara tanpa rasa bersalah.
Romlah hanya tersenyum sambil mengelengkan kepalanya dengan sikap suaminya.
“Ya sudah, Bapak pergi dulu,” pamitnya.
Andi bersemangat pergi dari rumahnya dengan menaiki motor tua kesayangannya. Begitu sampai di kantor balai desa dia segera masuk dan menemui petugas jaga.
“Pak, saya mau bikin KK dan KTP baru,” kata Pak Andi pada petugas.
“KK yang lama mana, Pak?” tanya petugas.
Andi menyerahkan sisa dari benda yang terbakar. Petugas jaga terkejut dan matanya melotot saat melihat benda yang hanya tingal sebesar telapak tangan milik Pak Andi.
“Kenapa bisa begini?” tanya petugas heran.
Pak Andi menjelaskan kejadian yang sebenarnya. Dengan sedikit dia tutupi.
“Waduh, susah kalau mau bikin baru di sini,” kata petugas. “Bapak, lebih baik langsung ke Dinas Kependudukan dan Catatan sipil saja,” kembali petugas menjelaskan.
Pak Andi di buat semakin bingung dan pusing. Selama ini hanya putrinya-Ningsih yang selalu dia minta tolong jika mengurus surat-menyurat.
“Saya minta tolong sama, Bapak, apa nggak bisa?” pinta Pak Andi.
“Kami hanya bisa memberikan pengantar. Bapak bisa mengurus sendiri kesana,” jawab petugas.
Pak Andi terdiam, dia teringat pesan istrinya jika dia mengalami kesulitan. Maka, Pak Andi harus minta tolong dengan Bambang. Segera dia merogoh kantong celana untuk mengambil ponsel jadul miliknya. Pak Andi menekan nomor calon menantu.
“Bang, bisa temui Bapak di kantor desa sekarang?” pinta Pak Andi melalui sambungan telepon.