***
Loki berada di ruang tamu yang amat luas di dalam rumah Ragil.
Ruang tamu tanpa meja dan kursi.
Hanya beralaskan karpet coklat terang yang dihamparkan dari ujung ke ujung.
Di dinding rumah itu, nampak beberapa foto yang dibingkai dengan pigora putih.
Salah satunya ada foto lima orang bocah SMP yang sedang berswafoto di dalam penjara sambil menghisap rokok.
Lima orang tengil.
Lima orang yang solid.
Lima orang dijuluki Pandawa Tan Kena Kinaya Ngapa.
Cukup lebay dan berlebihan sebenarnya.
Namun, mau dikata apa.
Begitulah julukan yang disematkan kepada lima orang yang memiliki cita-cita dan kehidupan masing-masing.
Walaupun hanya dua orang, mengingat pertemuan tak terduga Loki dengan Ragil di Kota Anggur ini, tak menyurutkan suasana haru yang masih menyelimuti suasana di dalam rumah yang temaram ini.
Hanya ada empat orang yang duduk dengan suasana keakraban yang kental akan tali pertemanan rasa persaudaraan.
Nampak Loki duduk bersebelahan dengan Ragil sambil menghisap rokok santai.
Sedangkan di depannya sudah duduk seorang pria paruh baya berambut gondrong, dan seorang wanita yang sebelum lomba tali tambang membawa sapu.
“Kapan datangnya, Nak Loki?”
“Gimana kabarmu, Le?”
“Ki, tinggal di mana kamu?”
Berondongan pertanyaan dilayangkan langsung untuk Loki, yang langsung tersedak asap rokoknya sendiri.
“Uhuk! Uhuk!” Loki mengambil air minum dingin yang disediakan, meneguknya cepat. “Satu-satu, dong.”
“Hehehe.” Ketiga orang itu hanya tertawa dan tersenyum.
“Aku datangnya tadi siang, Bulek. Aku ya gini-gini aja, Paklek. Dan aku tinggal di depan gang ini, depannya lagi, 10 meter setelah lapangan.” Loki menjawab beruntun dengan sekali tarikan nafas panjang.
Menghisap rokoknya lagi, Loki menatap ke arah langit-langit rumah.
Suasana yang hangat seperti ini sudah lama tak dirasakan olehnya.
Sudut hatinya perlahan retak tatkala mengingat kenangan lamanya bersama keluarganya sendiri.
Kepingan demi kepingan ingatannya menuntun untuk disatukan, membentuk sebuah kilas balik.
Saat itu….
***
Flashback On
Loki kecil saat itu sedang merayakan ulang tahunnya yang ketujuh, tepat saat dirinya masuk sekolah di hari pertama.
Kue ulang tahun, bingkisan kado dari orang-orang terdekat, juga kecupan hangat dari kedua orang tua, kakak, dan adiknya.
Semuanya itu dirasakan oleh Loki kecil sebagai anugrah terindah yang diberikan semesta.
Sampai tibalah kejutan yang dijanjikan oleh sang ayah kepadanya.
Sebotol arak, lengkap dengan gelas kaca kecil di atasnya yang disolasi rapi.
“Loki, putra Ayah tersayang. Selamat ulang tahun. Dan selamat atas bertambahnya umur. Semoga sehat selalu.” Sang ayah memberikan ucapan, sambil menyerahkan botol minuman ke tangan Loki kecil.
“Ini apa, Ayah?” Loki kecil bertanya polos.
“Ini … jamu.”
“Loki.” Sang ibu mengelus punggung Loki kecil lembut. “Selamat ulang tahun, Sayang. Minum boleh, mabuk jangan. Mengerti?”
“Loki nggak ngelti. Tapi Loki janji nggak mabuk.” Loki kecil menjawab dengan logat suaranya yang belum fasih berbicara “R”.
“Nggak pa-pa. Nanti setelah Loki besar pasti mengerti maksud Ibu.” Penuh kesabaran, sang ibu memberikan pesan yang teramat dalam.
“Adikku yang manis, panjang umur, ya! Dikurangi nakalnya, lo!” setelah mengatakan itu, sang kakak memeluk tubuh Loki kecil. “Kakak selalu menyayangimu.”
“Maacih, Kakak.”
Setelah sang kakak melepaskan pelukannya, kini berganti sang adik yang berada di hadapan Loki kecil sambil membawa dua buah permen lolipop. “Ini buat Kak Loki.”
Loki kecil mencubit-cubit pipi sang adik gemas. “Maacih, Adikku yang imut.”
Hanya itu.
Hanya sebatas itu Loki kecil mengingat kehangatan terakhir yang didapatkannya.
***
Flashback Off
Jlek!
Crash!
Listrik tiba-tiba padam ketika Loki sedang hanyut dalam lamunannya.
Panik.
Loki cepat-cepat berdiri.
“Eh? Mati lampu, ya?” Loki bergumam.
Loki berkata demikian untuk ditujukan kepada ketiga orang yang sedang bersamanya.
Namun, tak ada jawaban.
Bahkan Ragil yang selalu menyahuti lawakannya pun tidak terdengar berkicau.
“Lo? Pada ke mana orang-orang ini?” Loki panik sendiri. Dicobanya untuk membuka ponsel. Namun, sial, ponselnya lowbatt. “Astaga. Malah matek HP-ku.”
Di tengah-tengah kepanikannya, Loki mencoba berpikir positif.
Mungkin saja Ragil dan kedua orang tuanya mencari lilin.
Dan benar saja.
Dari arah ruang tengah yang menghubungkan ruang tamu, nampak beberapa lilin yang menyala.
Tapi, tunggu dulu!
Loki belum boleh bernafas lega.
Lilin-lilin itu ternyata bukan lilin biasa.
Belum sempat Loki bersuara, tiab-tiba terdengar bunyi terompet yang memekakkan telinga.
Dan sedetik, terdengar suara yang familiar.
“Happy birthday to you!”
“Happy birthday to you!”
“Happy birthday, happy birthday … happy birthday, Loki!”
“Horeeee!”
What a surprise!
Loki refleks menutup mulutnya dengan lengan kanan.
Air matanya perlahan mengalir.
Di kegelapan yang gulita, dan hanya ada cahaya dari lilin yang menyinari, sesuatu yang tidak terduga kembali hadir setelah 10 tahun lamanya di hidup seorang Loki G. Pradana.
Loki bahagia, senang, sedih, dan bingung.
Satu hal yang Loki ketahui adalah … dia merasa hidup!
“Loki.” Ternyata yang membawa kue dengan lilin di atasnya adalah Ragil. “Tiup lilinnya dulu.”
Loki maju, melangkah dengan hati-hati, sampai memutus jarak dengan Ragil.
“Eits! Sebelum niup lilin, berdoa dulu, Ki.” Ragil menambahkan.
“Hahaha. Ya Tuhan! b******k kamu, Gil.” Loki tertawa bercampur tangis mengatakan itu.
Sejenak, suasana tiba-tiba hening.
Hanya terdengar suara rintik hujan yang mulai turun di luar.
“Amin.” Loki menutup doanya.
“Kamu doa biar nggak jomblo, kan, Ki? Hehehe.” Ragil bercanda sambil cekikikan.
“Nggak. Aku berdoa biar hujan reda.” Loki membalas tak kalah konyol.
“Oke, oke. Sekarang tiup lilinnya.”
Loki maju selangkah.
Dan … HUHHHH!
Delapan buah lilin satu persatu mulai padam, tergantikan asap dari api yang perlahan menguap di udara.
“Horeeee!”
PROK! PROK! PROK!
Tepuk tangan langsung menyambutku ketika lilin sudah padam.
Walau dalam keremangan, namun dapat terlihat gurat haru di wajah Ragil, dan dia menjadi orang pertama yang maju memberi selamat kepada Loki. “Selamat ulang tahun, Ki. Semoga kamu bisa jadi lebih baik dari sebelumnya, ya!” sambil memelukku penuh kasih sayang persahabatan.
“Makasih, Gil. Aku nggak tahu harus ngomong apa. Pokoknya, makasih.” Loki balas memeluk, isak tangisnya tersedu-sedu.
Rohman—yang berada di belakang Ragil langsung memeluk Loki. “Sugeng ambal warso, bocah tengik. Semoga segala apa yang kamu inginkan tercapai, ya!”
“Makasih banyak, Paklek.” Loki menepuk-nepuk punggung Rohman.
“Selamat ulang tahun, Nak Loki. Mau nambah lagi ndak? Hihihi.” Ambar berucap nyeleneh dengan berbisik di dekat telinga Loki, kemudian memeluk Loki sampai kedua payudaranya yang besar bak papaya itu menempel ketat di d**a Loki.
Loki nyengir. “Makasih banyak, Bulek. Nambah apa dulu, nih?”
Masih dalam keremangan cahaya, Ambar hanya mengulas senyum simpul.
Walaupun ini suasana haru, seketika Loki jadi sedikit bernostalgia.
Tentang bagaimana ekspedisi lendirnya ketika bersama ibu dari sahabatnya itu.
Loki terkekeh geli sendiri mengingat-ingatnya.
“Ngomong-ngomong, kamu kok tahu sekarang hari jadiku, Gil?” Loki bertanya, dengan masih berdiri.
“Sahabat mana yang lupa sama ulang tahun sahabatnya?” Ragil tersenyum cerah mengatakan itu.
“Makasih … hiks … makasih banyak, Gil, Paklek, Bulek, aku … aku ….” Loki kian berderai air mata, tangisannya semakin menjadi-jadi.
Semua orang langsung memeluknya bersamaan.
Pelukan hangat layaknya seorang keluarga.
Loki menikmati suasana penuh luapan emosi kebahagiaan ini.
Puk! Puk!
Rohman menepuk punggung Loki. “Nangis-nangisnya sudahi dulu. Sekarang waktunya apa?!”
“PESTAAAAA!”