Tiara masih terbaring di bangsal rumah sakit, unit gawat darurat. Luka di kepalanya telah ditangani dengan baik. Semua dalam keadaan normal, tak perlu cemas yang berlebihan. Bahkan menurut Dokter, dia tak perlu menjalani rawat inap. Cukup melakukan cek up beberapa hari kedepan, atau jika ada keluhan yang mengkhawatirkan.
Syukurlah!
Rayyan bisa bernafas lega.
Hanya tinggal menunggu Tiara siuman dan menghabiskan cairan infus berisi obat yang mengalir melalui Vena nya.
Rayyan masih setia menemani Tiara yang berbaring lemah di ranjang rumah sakit. Dia terdiam tanpa kata, tanpa bahasa, ataupun ungkapan lain atas kekacauan di dalam hatinya. Hanya sesekali ia mengusap lengannya yang masih terasa sedikit kebas.
Entah kenapa Rayyan harus menaruh rasa empati pada Tiara. Pedahal dia bukan siapa-siapanya gadis itu. Apakah Mungkin itu hanya bentuk solidaritas seorang teman, saat teman yang lainnya sedang sakit.
Namun saat ia menatap mata cantik yang sendu itu, tak dapat dielakkan, ia seolah melihat seseorang yang begitu dekat dengannya. Hanya saja dirinya tak mampu mendeskripsikan, mata milik siapa yang sama seperti itu.
Dipandangi dengan iba, wajah sendu yang terbaring lemah dihadapannya. Wajah penuh rasa sakit, yang selalu di sembunyikan dari tatapan umum. Wajah yang biasanya tegar berhias senyum, seolah mengejek semesta yang tengah mempermainkan dirinya. Mengatakan pada dunia bahwa dia tetap baik-baik saja, bahwa ia tak pernah terpengaruh pada buruknya kenyataan yang selalu berusaha menyiksa.
"Wali dari adik Mutiara?" Seruan seorang perawat, mengagetkan Rayyan yang tengah di buai rasa letih dan kantuk yang datang menyiksa.
"Saya!"
Rayyan bangkit, mengikuti kemana arah menghilangnya perawat itu. Di tangannya terdapat beberapa dokumen rekam medik milik Tiara, serta sebuah resep dokter yang harus ditebus di apotik rumah sakit.
--
Tiara perlahan mulai membuka mata. Entah sudah berapa lama dia tak sadarkan diri. Kepala bagian belakang masih terasa berdenyut nyeri, membuatnya harus meringis kesakitan.
Sayup-sayup nampak bayangan sosok Rayyan yang buram, lama-kelamaan berangsur menjadi kontras. Tapi rasa nyeri itupun makin menguat, memaksanya memejamkan mata lebih rapat.
"Tiara!" panggil Rayyan, cemas bercampur bahagia nampak jelas di wajah letih itu. Dia menangkap pergerakan Tiara yang sedari tadi terdiam membeku.
"Masih sakit?" tanya Rayyan pelan. "Kalau masih, aku minta rekomendasi dokter untuk rawat inap. Proses kepulanganmu akan ku cancel!"
Tiara tidak mampu menjawab, meskipun hanya sekedar menggelengkan kepala. Tiara hanya membuat kode gerakan menolak menggunakan tangannya. Dia masih saja berkata semua baik-baik saja.
"Wali dari adik Mutiara!" Seorang Perawat kembali memanggil Rayyan. Administrasi pengobatan dan proses kepulangan Tiara memang belum selesai. Ia diminta untuk menunggu proses yang cukup lama tersebut.
"Istirahatlah! Aku tinggal dulu!" Rayyan bangkit, meninggalkan Tiara yang kini tengah menangis menahan nyeri.
Bukan hanya nyeri di fisik saja. Tapi nyeri di dalam hatinya juga. Memang di depan orang lain Tiara bisa bersikap tegar, tapi tidak saat dia benar-benar sendiri. Dia mampu menahan sesak di dalam dadanya dalam keramaian, tapi tidak ketika kesunyian menyelimuti.
Rayyan telah menyelesaikan administrasi rumah sakit. Ia kembali ke ruangan tempat Tiara berbaring. Untuk membantu mempersiapkan kepulangan gadis tegar itu. Cairan infus yang menggantung hampir habis, sesaat sebelum Rayyan tinggalkan. Dia telah melapor ke petugas yang berjaga. Perawat akan segera datang membantunya melepas selang infus itu.
Rayyan terbelalak menatap ranjang UGD yang tadi dia tunggui. Tempat Tiara berbaring itu kosong tak berpenghuni.
Kemana dia?
Beberapa menit lalu ia masih terbaring disana, tak berdaya sama sekali. Rayyan berlari menelusuri lorong rumah sakit. Mengedarkan pandangan ke setiap sudut ruangan, berharap dapat menemukan sosok yang kali ini benar-benar membuatnya cemas.
Kemana dia?
Tidak mungkin dia mampu pergi jauh dengan kondisinya seperti itu. Tapi dimana dia?
Pandangan mata Rayyan tertuju pada kursi taman di halaman rumah sakit, tampak seorang gadis berseragam putih abu tertunduk disana. Diantara rimbunnya pohon, mekarnya bunga warna-warni yang indah, serta gemericik air mancur yang jatuh ke tengah kolam. Beberapa ekor ikan kecil berwarna terang berenang kesana kemari, menikmati dunianya meskipun lebih sempit dari habitat alamnya.
Tiara, gadis itu sepertinya sedang menangis. Tangannya tertangkup di muka. Bahunya beberapa kali tergoncang. Haruskah dia bersedih di tempat seceria ini?
Dan haruskah ia mendekat, menghampirinya?
Terjadi pergolakan di dalam batin Rayyan.
Setelah menimbang, akhir dia memutuskan untuk duduk di samping gadis bermata sendu itu. Membiarkan Tiara melampiaskan rasa sesak di dadanya. Dengan sabar Rayyan menanti dalam diam.
Tiara mengangkat wajahnya, saat merasakan kehadiran seseorang disampingnya. Di hapusnya jejak aliran kesedihan di wajah pucatnya. Baginya, cukup dia di anggap kotor dan rendah, tapi tidak ingin dianggap lemah.
"Kamu disini Ray!" Tiara berusaha berucap seceria mungkin. Senyum yang terasa sangat dipaksakan. Pedahal tak perlu dia berakting seperti itu di depan Rayyan.
Rayyan tau, pasti terasa sangat berat, memakai topeng yang tak sesuai dengan kondisi hatimu yang sesungguhnya.
Sesekali Tiara nampak mengerutkan keningnya. Matanya terpejam menahan sakit akibat luka di kepalanya yang sesekali masih berdenyut nyeri.
Rayyan mengangguk, ditepuknya pundak Tiara dengan lembut.
"Lepaskan saja. Tak perlu malu ada aku. Kalau perlu, aku akan menutup mata dan telingaku." ucap Rayyan. Dia memejamkan mata dan menutup telinga menggunakan kedua tangannya. Tak ingin kehadirannya membuat rasa sakit di hati Tiara tak terbuang sempurna.
Tangis gadis itu kembali pecah, pedahal sebelumnya dia tak pernah terlihat sesedih ini. Ia menuntaskan kesedihannya, menangis hingga tersedu-sedu, seperti seorang anak kecil yang telah kehilangan mainan kesayangan miliknya.
Di samping Tiara, Rayyan masih menutup mata dan telinga, berusaha menjaga harga diri gadis disampingnya. Harga diri yang bahkan tidak pernah di lihat oleh semua orang di sekelilingnya.
"Sudah?" tanya Rayyan setelah beberapa menit berlalu.
Rayyan membuka mata, mencari tau keadaan gadis bermata sendu itu.
Tiara membenahi diri. Kedua mata dan hidungnya memerah. Sesekali dia berusaha tersenyum ke arah Rayyan.
"Kamu tidak terganggu harus berteman dengan ku Ray?" tanya Tiara di sela isak tangisnya.
Rayyan diam tak menjawab, hanya menatap Tiara. Telinganya memang masih dia tutupi, jadi dia tidak mendengar apapun yang Tiara katakan. Hanya mampu membaca pergerakan bibir, yang tak sepenuhnya dapat diartikan.
Tiara meraih kedua tangan Rayyan, menariknya turun ke bawah.
"Apakah mataku merah?" tanya Tiara, ekspresinya nampak begitu lucu. Bukan hanya mata saja, hidungnya pun begitu merah.
Rayyan mengangguk, sembari tersenyum.
"Hidung juga," ucap Rayyan, seraya mencolek ujung hidung gadis dihadapannya.
Tiara tersenyum, lalu menoleh ke arah lain, wajahnya pasti sangat jelek saat ini.
"Ray, Semua berlaku tidak adil padaku! Kenapa kamu masih berada di sisi tempatku berada? Kamu bisa mengabaikanku sekali saja. Aku tetap akan mengingatmu sebagai temanku yang baik. Mereka benar, aku lah yang tidak baik, menyembunyikan siapa sebenarnya diriku," ujar Tiara panjang lebar, berharap suatu saat nanti Rayyan bisa benar-benar acuh padanya.
"Siapapun dirimu, jadilah yang terbaik." sahut Rayyan.
"Bagaimana bisa aku menjadi yang terbaik, sedangkan aku berasal dari sesuatu yang tidak baik." Air mata Tiara kembali menggenang, siap untuk ditumpahkan. akh, kenapa dirinya menjadi secengeng ini!
"Lakukan sesuatu yang membuat dirimu di masa depan, berterima kasih pada dirimu yang sekarang."
"Kau boleh pergi Ray! Jangan pernah memihakku lagi. Jangan membuat diriku semakin merasa terhina karena harus kamu kasihani." Tiara bangkit dari tempat duduknya. Ingin rasanya dia berlari menghilang dari sana saat itu juga. Tak perlu menerima tatapan iba dari Rayyan.
Rayyan menangkap tangan Tiara, menahannya dari melarikan diri. Rayyan bangkit dari duduknya, menarik lengan itu, hingga tubuh si pemilik lengan terjerembab di dadanya yang bidang.
"Katakan padaku jika kau butuh tempat bersandar."
Tiara kembali tersedu-sedu dalam pelukan Rayyan. Dia menghabiskan semua energi negatif dalam dirinya disana. Hingga semua tak tersisa.
Rayyan hanya diam mematung. Tak memeluk, atau sekedar menepuk-nepuk lembut untuk menenangkan.
"Kuras saja semuanya, itu lebih baik. Daripada memendam rasa sakit itu sendirian, dan terus menerus," bisik Rayyan di telinga Tiara.
Mata dan hidung Tiara kembali memerah, sama merahnya dengan lukisan di langit senja. Matahari yang begitu tegar seharian pun menjadi malu-malu di ufuk barat. Sadar eksistensinya sebentar lagi akan terganti.
"Pulang yuk!" ajak Tiara setelah reda. Diraihnya lembaran tissue basah mini-pack dari sakunya. Lalu di sapukan ke seluruh wajahnya yang sembab, mempersiapkan diri untuk bergegas pulang. Ini sudah sangat terlambat. Tiara khawatir Bunga sudah bersiap untuk pergi meninggalkan rumah lagi.
"Aku anter!" Rayyan menawarkan diri. Di balas gelengan kepala Tiara.
"Aku udah baikan kok. Aku bisa pulang sendiri."
"Yakin?" Rayyan memastikan.
Tiara mengangguk. Dia juga tak ingin Rayyan mengetahui dimana tempat tinggalnya.
Baru beberapa langkah meninggalkan tempat sebelumnya, Tiara memegangi tengkuk kepala yang terasa berdenyut hebat. Dia berjongkok agar tak jatuh.
"Tuh kan! Untung masih di sini!" Rayyan memegangi bahu Tiara. Dia segera memesan sebuah taxi untuk mereka tumpangi.
---
Taxi berhenti di tempat yang di tunjukkan Tiara.
‘Dia tinggal disini? Tapi yang mana rumahnya?' gumam Rayyan dalam hati. Pandangannya menyapu sekitarnya, menebak sebelah mana kira-kira rumah Tiara. Yang terlihat hanya hamparan tanah pekuburan.
Kenapa Tiara membawanya kesini?
"Aku turun disini saja!" ucap Tiara sambil memberikan lembaran uang ke supir taxi dari arah belakang. Ia membuka pintu mobil, bergegas keluar tanpa memperdulikan tatapan Rayyan yang ingin memprotesnya.
"Makasih Ray, oia besok kasih rincian tagihan rumah sakitnya ke aku ya. Aku ganti uangnya." Tiara segera menjauh dari mobil agar tidak terjadi percakapan selanjutnya.
Tiara belum melanjutkan langkahnya. Masih mematung, hingga taxi itu menghilang dari pandangan matanya. Kemudian ia mengambil jalan memutar.
Ya! Dia memberikan alamat palsu pada supir taxi itu. hanya karena tidak ingin Rayyan mengetahui dimana dia tinggal.
***
Ceklek!
Tiara memutar tuas pintu tanpa menggunakan anak kunci. Dia berharap Bunga belum berangkat pergi kerja. Benar saja, pintu itu terbuka. Artinya Bunga masih ada di dalam.
Nampak Bunga sedang menikmati kepulan asap rokok di jari lentiknya, sembari menikmati sajian acara televisi. Begitu mendapati kehadiran Tiara, Bunga mematikan rokok yang baru setengah terbakar. Bunga paham, Tiara tidak menyukai bau asap rokok.
"Belum berangkat kerja?" tanya Tiara. Dilabuhkannya tubuh letih itu di sofa sederhana, tepat disamping Bunga. Di letakkannya kepala yang masih berdenyut itu di sandaran sofa, berusaha meredam rasa sakit yang masih saja menyerang.
"Enggak, aku ambil libur cuti." jawab Bunga. Pandangannya masih tertuju pada layar kaca di hadapannya. Tiara tertawa geli.
"Cuti? Kayak pejabat aja pake cuti," ledek Tiara.
"Iya, aku lagi haidh, jadi ambil cuti."
"CUTI HAIDH!!" jerit Tiara dan Bunga bersamaan, lalu di akhiri tawa keduanya.
"Emang kalau haidh gak boleh kerja?" tanya Tiara.
"Boleh seh. Tapi klien jadi nggak puas." jawab Bunga.
Tiara menatap Bunga dalam-dalam. Apakah tidak ada pekerjaan lain yang bisa dilakukan wanita paruh baya di depannya ini. Dia berharap Bunga bisa segera berhenti dari pekerjaan malam seperti saat ini. Memulai sesuatu yang baru, yang lebih normal dan dapat di sebut sebagai sebuah pekerjaan.
Meskipun usianya sudah tidak muda lagi, Bunga masih memiliki wajah dan tubuh yang tidak kalah dari gadis berusia di bawahnya. Kencang, menawan dan terawat. Itulah kenapa Mira masih saja memakainya bekerja di sana. Bunga masih memberikan keuntungan yang banyak untuknya.
Bunga sudah bekerja pada Mira sangat lama, hubungan mereka sudah dekat seperti sahabat. Saat Bunga haidh, Mira selalu mengabulkan permintaan cutinya. Berbeda dengan yang lain, harus tetap bekerja meskipun hanya menemani tamu di bar ataupun menari diskotik.
"Bunga,"
"Hmm,"
"Enggak tanya kenapa aku baru pulang?" pancing Tiara. Matanya tak berani menatap Bunga. Khawatir akan ada kebohongan yang terbaca di sana.
Kalaupun seandainya Bunga bertanya, dia takkan mampu menceritakan semua kejadian hari ini. Semoga Bunga tidak melihat luka di belakang kepalanya. Perban penutup lukanya telah ia cabut paksa sebelum tiba di rumah.
Bunga menoleh sekilas pada Tiara lalu tersenyum, kembali fokus pada acara TV didepannya.
"Kamu sudah besar, aku tidak perlu menginterogasimu seperti kepada anak TK yang terlambat pulang."
Tiara bernafas lega mendengar jawaban bunga.
"Sudah, mandi sana! Nanti kita cari makan malam bersama di luar." Bunga mendorong tubuh Tiara untuk bangkit.
“Apakah aku bau?” Tiara mengendus bajunya.
Apakah aroma keringat dari tubuh Tiara menusuk hingga ke hidung Bunga?
Bajunya memang belum di ganti sejak pagi tadi. Selain keringat, bau alkohol dari tempat kerja Bunga serta bau obat-obatan dari rumah sakit bercampur baur di pakaiannya.
“Nggak sadar ya?” cibir Bunga. “Sana mandi sana!”
"Janji ya, kita makan malam diluar!" tagih Tiara.
"Iya, kita makan diluar. Aku nggak masak, badanku sakit semua." terang Bunga. Entah sakit karena pengaruh menstruasinya atau karena hal lain.
"Jangan ninggalin ya!" Tiara kembali memastikan.
"Iya udah buruan sana! Keburu males, nanti delivery aja loh!"
"Janganlah, Bunga! aku mau sekalian jalan-jalan. Kan sudah lama kita nggak jalan bareng!" bujuk Tiara. Alisnya dimainkan ke atas dan ke bawah.
Bunga tersenyum, menyadari bahwa Mutiara berharganya kini telah tumbuh begitu cepat menjadi gadis remaja.
'Ku harap kau tak kan pernah mengambil jalan hitam seperti yang aku lakukan.' Bunga bergumam dalam hati. Anak matanya mengekori kepergian Tiara hingga menghilang di balik pintu kamar mandi.