Jangan benci Ayahmu!

1789 Words
Dua wanita yang saling menguatkan itu, nampak begitu menikmati kebersamaan mereka. Makanan yang mereka pesan beberapa menit yang lalu, hampir habis. Ritme makan mereka mulai melambat, seolah tak rela jika waktu berkualitas itu lekas berlalu begitu saja. Alunan musik lembut, menemani jamuan makan malam mereka. Pencahayaan yang diatur sedemikian rupa menambah kenyamanan dan rasa betah pengunjung yang datang. "Pelan-pelan makannya, sampai belepotan begitu!" tegur Bunga. Dia tersenyum mendapati adanya bekas minyak dan bumbu di sudut bibir Tiara. "Aku tidak sedang menikmati makanannya, Bunga," jawab Tiara sambil terus mengunyah. pipinya gembung terisi penuh oleh makanan. Kening Bunga berkerut. "Aku sedang menikmati kebersamaan kita yang mahal ini." Terang Tiara. Mereka berdua saling melempar senyum. "Habiskan cepat, aku ke toilet dulu ya. Sekalian mau bayar bill-nya ke kasir." Bunga bangkit dari kursinya. Tiara mengangguk cepat, tapi masih fokus pada makanan di hadapannya. Makanan itu memang enak dan mahal karena mereka sedang makan di sebuah restaurant yang cukup berkelas. Setiap kali cuti, Bunga selalu membawanya makan di tempat yang spesial. Itu adalah cara Bunga untuk menebus waktu yang terlewati bersama Tiara. Walaupun hanya pergi makan, ataupun sekedar berjalan-jalan untuk mengakrabkan diri. Saling berbagi cerita, atau meluahkan isi di hati, Bunga ingin memberikan kenangan indah kepada Tiara. Bahwa tentang dirinya, tidak hanya seseorang yang selalu meninggalkan Tiara. Bahwa dirinya begitu menyayangi Tiara. Di depan cermin toilet, Bunga mengusap bulir bening di sudut matanya. Ia berusaha memperbaiki moodnya yang berantakan, diterpa rasa sedih di dalam hatinya. Dia harus meyakinkan dirinya sendiri, bahwa Tiara adalah gadis kuat. Lebih kuat dari yang dia pikirkan. Belakangan ini Bunga merasa sedikit mellow, mungkin karena perubahan hormonal, menjelang siklus menstruasinya. Terasa ada sebuah tangan lembut dan dingin menyambut bahu Bunga. Lalu meremasnya sedikit kasar. 'Tiara? Tiara kah itu?' Bunga mendongakan kepala, menatap pantulan sosok pada cermin di hadapannya, mencari tahu siapa si pemilik tangan yang menempel di bahunya itu. Kening Bunga berkerut, matanya menyipit, berusaha lebih memfokuskan indranya pada sosok yang seperti tidak ia kenal di belakangnya. Sosok wanita paruh baya itu, menatap ke arahnya dengan penuh amarah. Nampak jelas dari sorot matanya yang begitu tajam, menusuk bak pedang terhunus. Dadanya naik turun seperti menahan amarah yang bergejolak di dalam sana. Bunga membalikkan tubuh dan ..., Plaak!! Sebuah tamparan mendarat di pipi sebelah kirinya. Ish! Rasa perih menjalar seketika dari sudut bibirnya. Mungkin bibir itu pecah, terasa sedikit aliran darah dengan bau khas dari sana. Bunga masih terdiam, tak bereaksi. Dia mengangkat kepala dengan angkuh, menatap wanita asing yang terlalu berani di depannya itu. Berusaha menampilkan diri setenang mungkin. "Anda siapa? Kenapa tiba-tiba ...," Plak!! Plaak!! Belum juga Bunga menyelesaikan ucapannya, dia telah mendapatkan dua hadiah lanjutan dari wanita asing di hadapannya. Bunga sedikit terhuyung. Sepertinya wanita itu adalah isteri dari salah satu kliennya. Tapi entah yang mana, isteri laki-laki m3sum yang mana. Bunga kembali mengangkat kepalanya, memasang wajah angkuh berkelas. Rasa sakit di kedua pipinya tak lagi dia hiraukan. Begitulah hatinya dan hati Tiara. semakin di tempa, maka akan semakin terbentuk. Sama seperti saat kau menempa sebuah besi dan akhirnya menciptakan sebuah pedang atau keris yang indah dan kokoh. "Dasar wanita tidak tau malu! Masih berani kamu memasang wajah menjijikan itu hah!" Wanita itu bersiap menerkam tubuh Bunga. Disaat yang bersamaan datang dua orang wanita lainnya. Satu diantaranya masih belia, sepertinya itu putrinya. Yang satu lagi berusia tidak berbeda jauh dari wanita yang menghadiahkan tiga tamparan padanya. Mungkin wanita yang itu adalah adiknya. Mereka berdua menahan amarah tubuh wanita itu, dari mengamuk lebih hebat pada Bunga. "Lepaskan aku, Dik! Aku ingin memberi pelajaran pada wanita kotor ini!" Wanita itu meronta dalam kungkungan kedua wanita di sampingnya. Bunga mengambil tissue, dengan santai membersihkan sisa darah di bibirnya, bekas tamparan pertama yang diterimanya. Bunga tersenyum sinis pada wanita yang tengah dikuasai amarah itu. "Jangan menatapku seperti itu wanita kotor! Murahan! Dasar rubah betina!" "Mam, sudah Mam. Jangan seperti itu!" bujuk gadis yang merupakan anaknya itu. Dia memeluk tubuh ibunya, dengan setengah menangis. "Iya mbak, nggak usah di ladeni wanita seperti itu. Dia memang tidak tau malu! yang ada, nanti kita malu jadi tontonan orang." Wanita satunya memberi nasihat. "Biar aku potong-potong dulu tubuhnya Dik, sakit aku melihatnya." Wanita itu meronta sebisanya. Tangannya menggapai-gapai berusaha menyentuh Bunga. Bunga menyudahi urusan toiletnya. Seolah tidak terjadi apa-apa, dia menginjak tuas pembuka tempat sampah dengan tenang. Melemparkan tissue bekas darah dari bibirnya ke dalam sana. Tak lupa melemparkan semua kemarahan dan semua perasaan negatif yang berkecamuk dalam dadanya. Sudah menjadi resiko profesinya. Dia harus siap menghadapi isteri para klien yang mengenalinya di luar. Menerima amukan atas kepuasan servicenya pada suami mereka. Bunga berjalan melewati ketiga wanita itu dengan anggun juga angkuh. Membuat amarah wanita yang menamparnya tadi kian menjadi. Dia terus meronta dan berteriak sejadi-jadinya. Bunga telah kembali di mejanya. Tiara telah selesai dengan makanannya. Tiara memperhatikan Bunga yang berusaha bersikap senormal mungkin, seolah tidak terjadi apa-apa. Mata Tiara terfokus pada sudut bibir Bunga yang nampak sedikit lebam dan bengkak. Tapi tak juga melayangkan pertanyaan. Dia mulai dewasa, mengetahui bagaimana rasanya saat tidak baik-baik saja, tapi orang bertanya hanya sekedar menggali informasi. Sadar sedang di perhatikan Tiara, Bunga memandang ke arah Tiara. Tiara tersenyum menyambut tatapan itu. "Toiletnya penuh?" tanya Tiara. Sebenarnya bukan itu kalimat yang ingin melompat dari bibirnya. "Lumayan antri. Kenapa? Mau ke toilet juga?" Tiara menggeleng. "Enggak, pantes lama." jawab Tiara. "Kamu udah selesai makannya?" Tiara mengangguk. "Ya udah yuk, kita pergi dari sini! Mari kita jelajahi tempat yang lainnya " Bunga bangkit, menggandeng tangan mungil putri cantiknya. Membawa Tiara segera berlalu dari restoran itu. Dia tidak ingin jika keluarga yang menamparnya tadi berbuat kasar kepada Tiara. "Kita mau kemana lagi?" tanya Bunga. Mereka berjalan saling berangkulan di sepanjang trotoar jalanan besar. "Kita ke taman aja yuk!" ajak Tiara. "Cuma ke taman?" tanya Bunga memastikan. Tiara mengangguk. "Aku punya uang banyak loh! serius cuma mau ke taman?" Tiara tergelak. "Uangnya disimpan aja. Suatu saat nanti kamu harus bawa aku jalan-jalan ke luar!" seru Tiara. Dia berjalan mundur di hadapan Bunga. Tangannya di rentangkan, kepalanya mengahadap ke atas, seperti sedang terbang. "Ke luar?" tanya Bunga. Luar mana yang dimaksudkan Tiara? Dunia luar seperti apa yang ingin dikunjungi putri kecilnya itu? Tiara mengangguk. "Luar negeri! Aku ingin menikmati hujan Bunga Sakura di Jepang bersamamu. Bermain lempar bola salju di eropa sana, bersamamu!" Senyum Tiara merekah, membayangkan kebahagiaan yang sedang di idam-idamkannya. "Kalau cuma ke Jepang, sekarang juga bisa!" Tiara menggeleng, jangan sekarang. Tunggu aku menghasilkan uang dan menanggung biayaku sendiri." Kali ini Bunga yang tergelak. "Kita tidak hanya ke Jepang saja. Kita ke sungai Nil di Mesir, berkunjung ke Menara Eiffel di Paris, Taj Mahal di India, dan masih banyak! Nanti aku akan buatkan list untuk semua itu," ucap Tiara bersemangat. "Kamu ingin menghabiskan semua uang kita?" Bunga menarik ujung hidung Tiara gemas. Mereka tertawa bersama. "Atau kita akan mengunjunginya satu persatu setiap tahunnya." Tiara masih bermimpi. Bunga tersenyum mendengar kastil impian milik Tiara. Mereka duduk di sebuah bangku taman yang panjang. Tiara merebahkan kepalanya di pangkuan Bunga. Matanya menatap Bunga dalam-dalam seolah ada permintaan besar yang ingin dia kemukakan. "Kenapa?" tanya Bunga seolah mengetahui keinginan hati Tiara. "Bisa kah kau berhenti dari pekerjaanmu Ibu?" tanya Tiara perlahan. Bunga mengelus lembut rambut Tiara. "Kenapa? Kau malu pada pekerjaanku?" Tiara menggeleng. "Bukan. Aku hanya terlalu sayang padamu Bu!" Tiara tak tega jika harus mengatakan bahwa dia mengasihani Bunga. “Kau adalah ibu periku. Mana mungkin aku malu. Suatu hari nanti aku akan menggenggam tanganmu, berjalan mengangkat kepala tinggi-tinggi di hadapan mereka semua Bu! Memperkenalkan peri cantik yang kumiliki.” Bunga tersenyum, ada getaran yang setengah mati berusaha dia sembunyikan dari Tiara. "Aku juga menyayangimu Tiara. Biarkan aku tetap begini." Ada hal yang tak dapat dijelaskan oleh Bunga pada putri kecil kesayangannya itu. "Tapi Bu! tidak bisakah ...," "Satu lagi, jangan pernah memanggilku dengan kata Ibu. Apalagi kita sedang di luar begini." Bunga mencubit kedua pipi Tiara. Air mata Tiara mengalir ke samping sudut kedua matanya. "Kamu kenapa? Apakah orang-orang di sekolah menyulitkanmu?" tanya Bunga membaca kesedihan mendalam yang Tiara simpan, Dan berusaha dia sembunyikan. Tiara menggelengkan kepalanya. "Ucapan, sikap, tingkah laku mereka, tidak berarti apa-apa untukku selama kamu ada di sampingku, Bunga." Tiara membenamkan wajahnya di perut Bunga. Mencari kedamaian disana. "Kamu kenapa? Ingin masuk lagi ke perutku?" "Apakah bisa?" Mereka tergelak bersama. 'seandainya bisa, maka aku tak perlu menanggung semua rasa sakit ini Bu!' gumam Tiara dalam hati. 'seandainya bisa, aku memilih tidak akan melahirkanmu, dan memberi semua keadaan buruk ini!' gumam Bunga. Mereka terdiam, hanya pikiran mereka yang masing-masing berbicara. Saling menyalahkan keadaan. "Bu," panggil Tiara. "Sudah kubilang, jangan panggil aku seperti itu!" Bunga memperingatkan Tiara dengan serius. Dia tidak ingin hal buruk akan menimpa Tiara, jika orang tau bahwa mereka adalah ibu dan anak. Tapi mereka memang ibu dan anak. Hanya saja takdir dan keadaan yang mempermainkan mereka dengan kehidupan yang malang. "Bunga, siapa sebenarnya Ayah ku?" Tiara menatap langit yang menghitam. Tak berbintang maupun bulan. Hanya hamparan hitam yang kosong, seperti hatinya saat itu. "Kenapa tiba-tiba bertanya soal itu?" Bunga melemparkan pandangannya jauh ke arah lain. Tak ingin beradu pandang dengan Tiara. "Aku hanya ingin tau. Seperti apa dia. Apakah dia tampan, Bunga?" "Dia baik, juga tampan. Lihat saja wajahmu Bunga, kau mewarisi kulitnya. Kedua mata cantik ini juga milik Ayahmu." Bunga mengusap kelopak mata Tiara. Tiara menghela nafas panjang. "Bunga, haruskah aku membenci ayahku?" "Kenapa?" "Dia telah memberikan kehidupan yang buruk ini untuk kita." Bunga tersenyum. "Kebaikan seorang ayah lebih tinggi daripada gunung, dan kebaikan seorang ibu lebih dalam dari laut." "Tapi dia sama sekali tidak memberikan kebaikan. Maksud ku, lihatlah kita. Jika saja dia tidak pernah datang dalam hidupmu, maka tidak akan ada kehidupan menyedihkan yg kita miliki ini. Kau bisa bebas tanpa adanya diriku." cecar Tiara. "Apakah kau merasa hidupmu menyedihkan?" "Tidak Bunga, selama kau bersamaku, selama yang mereka hina dan sakiti bukan dirimu, aku tidak pernah merasa sedih." "Jangan pernah membenci Ayahmu, Ra!" Tiara bangkit dari pangkuan Bunga. "Bukankah dia telah tiada Bunga? kalaupun masih ada, aku akan tetap menganggapnya telah tiada. Tidak akan ada kesedihan tentang dirinya." Bunga meremas jari Tiara. Memberi kekuatan semampu yang bisa dia lakukan. "Ayahmu sangat mencintaimu, Tiara." ucapnya lembut, berharap putri kecilnya dapat memahami keadaan yang rumit itu. "Cukup Bunga!" "Tiara, kita tidak akan tahu rasa cinta orang tua kita, hingga kita menjadi orang tua." Tiara bangkit, tak terima Bunga menyanjung lelaki yang tidak pernah sama sekali memberikan kasih sayang kepadanya itu. Lelaki yang tidak pernah menampakkan batang hidungnya, sejak ia mampu mengenali wajah, hingga kini. "Ayo kita pulang Bunga! Aku kedinginan." Tiara berlalu, meninggalkan Bunga yang masih duduk terdiam di bangku taman. Semua salahnya, seandainya dia tak pernah tergiur cinta sesaat itu. Seandainya saja ia tak pernah mempercayai kekuatan dan keajaiban cinta, tentu semua tidak akan seperti ini. 'Maafkan aku Tiara!' ucap Bunga, lirih. Matanya basah dipenuhi air mata penyesalan.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD