Sidang

2150 Words
Pada hari berikutnya, Tiara hadir di sekolah seperti tidak pernah terjadi apa-apa. Dia berjalan lurus dengan tatapan yang sama, dan masih dengan desas-desus yang sama. Semua terus berhembus seperti angin yang tidak dapat di kendalikan. Mengalir seperti aliran air yang tak pernah ada hilirnya. Kau tidak akan bisa mengendalikan hati dan mulut orang lain, tapi kau bisa mengendalikan milikmu sendiri. Tiara meletakkan tas di bangkunya, lalu duduk bersandar melemaskan leher yang masih terasa berat, efek kejadian kemarin masih sangat terasa. Di sampingnya, Rayyan menatap Tiara sesaat. Lalu kembali melanjutkan membaca buku yang sedari tadi ada di tangannya. "Kenapa nggak istirahat aja?" tanya Rayyan mendapati wajah Tiara masih pucat. "Aku udah baikan kok, tinggal nyeri sedikit saja.” Tiara meringis. “Oia, bill pembayaran rumah sakit mana? Biar aku ganti uangnya." Pinta Tiara. Diulurkan telapak tangannya pada Rayyan. "Nggak perlu." Jawab Rayyan cuek. "Kenapa? yang sakitkan aku!" Seru Tiara. Rayyan menoleh ke arah Tiara, pandangan mereka saling beradu. Entah kenapa Rayyan merasa sakit juga saat melihat gadis keras kepala di hadapannya itu kesakitan. Haruskah dia mengatakan tolong jangan sakit, tolong baik-baik saja? "Struknya ketinggalan di rumah." Rayyan beralasan. "Ya udah, berapa totalnya? Nanti kalau uangku kurang, aku tambahin besok." Tiara mengeluarkan dompetnya. "Lupa." Tiara menghela nafas, kecewa. "Ya udah, nanti aku singgah di rumah sakit." "Nggak usah!" cegah Rayyan. "Kenapa? Aku nggak mau berhutang sama siapapun." "Aku nggak anggap itu hutang." Rayyan kembali menyibukkan diri dengan buku pelajaran. "Tetap aja, artinya aku hutang budi sama kamu. Dan aku nggak mau!" tegas Tiara. Rayyan menatap Tiara, kembali menghela nafas berat menghadapi sifat keras kepala gadis disampingnya. Mau tidak mau, dia mengambil tas miliknya di laci meja. Rayyan membuka saku kecil di dalam tasnya. Mengeluarkan kertas putih berisi rekam medis, tindakan, serta besaran nominal atas obat dan jasa kesehatan yang di gunakan kemarin. Tiara membacanya dengan seksama, lalu mengeluarkan beberapa lembaran uang di dompetnya. Di letakkannya di depan meja Rayyan. "Nggak ada kembalian." ucap Rayyan. Tiara mengobrak-abrik dompet dan isi tasnya mencari uang kecil agar bisa mencukupi nominal yang tertera di struk tersebut. "Pas!" jerit Tiara kegirangan. Digesernya uang pecahan kecil itu ke depan meja Rayyan. Rayyan tersenyum memperhatikan pecahan kecil uang Tiara yang kusut dan kumal. "Nih!" Rayyan mengembalikan seluruh uang pecahan kecil itu. Hanya lembaran bernilai ratusan ribu yang dia ambil. "Loh kok!" protes Tiara. "Itu kembalian uang taxi kamu yang kemarin." "Taxi?" "Iya, Aku juga nggak mau berhutang sama kamu!" "Bohong, nggak mungkin pas segini kembaliannya." "Kalau nggak percaya, cari aja taxi yang kemarin. Tanya berapa nominal argo-nya. Terus di hitung selisihnya sama uang yang kamu kasih, " balas Rayyan cuek. Ia pura-pura membuka buku bacaannya. Tiara tersenyum kecut. Mau tidak mau Ia mengambil kembali uang itu. Tidak mungkin juga kalau dia pergi mencari supir taxi kemarin. Nomor keanggotaan berapa? Bahkan wajah supirnya saja dia tidak mengingatnya. Rayyan tersenyum penuh kemenangan. Akhirnya gadis itu menyerah. *** Jam istirahat, Tiara menghabiskan waktu di dalam kelas. Ia terlalu malas menghadapi semua tatapan aneh yang selalu memburunya, seperti moncong kamera reporter yang sibuk berburu berita panas harian. Bella datang menghampirinya, masih dengan tatapan penuh kemarahan dan rasa tidak suka. "Bisakah kau tidak membawa-bawa namaku saat persidangan besok!" seru Bella. Entah dia sedang menggertak atau meminta tolong. Tangannya berkacak pinggang, sedangkan keningnya nampak terlipat. "Apa kau sedang menggertakku?" tanya Tiara. Matanya menatap tajam ke arah Bella. Bella tertunduk tak berani membalas tatapan itu. "Tt--tiddak, bukan begitu. Aku--aku minta tolong." Gadis superior itu tiba-tiba tergagap, tidak seperti ia yang biasanya. "Apakah orang tuamu mengajari meminta tolong kepada orang dengan cara seperti itu?" Bella tersenyum kecut. Segan rasanya untuk mendekat pada Tiara ataupun bermurah kata. Tapi dia tak ingin orang tuanya harus mendapat panggilan dari sekolah, karena kasus yang dia ciptakan. "Tiara, aku mohon!" Akhirnya Bella duduk di kursi dan menghadap Tiara. Menampilkan ekspresi memohon. Diraihnya telapak tangan Tiara dan di tangkupkan di depan wajah. memohon dengan etika yang baik. Sedangkan didalam hati merutukki perbuatannya sendiri saat itu. Kenapa dia harus memohon kepada gadis kotor di hadapannya. "Biar hukum sekolah yang berjalan Bel!" "Aku mohon Tiara! Tolong, aku tidak ingin mengecewakan orang tuaku." pinta Bella. Membuat Tiara akhirnya luluh. "Sudahlah, kamu nggak perlu seperti ini. Aku bahkan tidak berniat untuk mengadukan pada Dewan Sekolah." jawab Tiara. "Bukan kamu?" tanya Bella terkejut. segera menarik tangannya. "Apa?" Tiara balik bertanya. "Yang melapor pada Dewan Sekolah, bukan kamu?" "Apa yang sedang kamu bicarakan Bella?" Bela bangkit dari tempat duduk, mendorong kasar tubuh Tiara. "Jadi kalau bukan kamu, siapa yang mengajukan sidang Dewan Sekolah hari sabtu besok!" Bella mendengus kesal, “Bahkan aku harus mengemis didepanmu!” Bella bergidik seperti jijik. Lalu mengelap kedua telapak tangannya pada sebuah tissue, kemudian berbalik, pergi meninggalkan Tiara. Tiara memandangi kepergian Bella dengan tatapan penuh tanda tanya. Teman-teman Bella menyambutnya di depan pintu kelas. Merangkul dan menepuk-nepuk punggung gadis itu. Menyalahkannya kenapa harus bersikap baik pada Tiara. Tiara memang tak perlu melakukan hal itu. Karena dia memang bukan tipe pencari masalah. Mencari teman saja setengah mati susahnya, untuk apa menambah musuh? --- "Kamu yang ngajuin Sidang Dewan Sekolah Ray?" tanya Tiara, begitu Rayyan duduk di bangkunya. Rayyan tak menjawab, dia hanya menyiapkan buku pelajaran selanjutnya yang akan di kaji bersama setelah jam istirahat. "Kamu nggak perlu melakukan itu Ray!" seru Tiara. Braak! Tiara terperanjat, kaget setengah mati. Rayyan membanting bukunya di meja, lalu bangkit meninggalkan Tiara tanpa sepatah katapun. Rayyan merutuki Tiara dalam hati. Kenapa gadis itu begitu lemah! Memberi kesempatan semua orang untuk menindasnya tanpa mau melawa.! Bukankah ini adalah kesempatan yang baik bagi Tiara untuk membalikkan keadaan? Rayyan kesal melihat sikap Tiara yang terlampau baik. Apakah dia tidak ingin membalas mereka sekali saja? Tiara syok mendapati kemarahan Rayyan. Baru kali ini dia bersikap seperti itu. Apakah dirinya telah melakukan sebuah kesalahan yang memancing amarah Rayyan? Apakah dia akan kehilangan satu-satunya orang yang mau berteman dengannya? *** Sabtu pagi. Sidang Dewan Sekolah dilakukan secara tertutup. Ternyata benar, Rayyan yang membuat laporan kepada Kepala Sekolah. Kepala Sekolah, Wakil Kepala Sekolah, Wali Kelas, Ibu Mita, Bella beserta teman-temannya, Rayyan, Tiara, dan beberapa wakil dari Wali Murid telah duduk kursi yang di sediakan pada ruang rapat. Hampir semua yang hadir menatap tidak suka pada Tiara. Entah aura apa yang dimiliki gadis itu sehingga setiap orang yang melihatnya harus memasang ekspresi rasa tidak suka. Kesalahan apa yang telah ia lakukan sehingga diinya harus menanggung semua ini? "Saya sebagai Kepala Sekolah berharap permasalahan ini dapat diselesaikan secara kekeluargaan." Kepala Sekolah membuka Sidang. "Saya sangat menyayangkan kejadian seperti ini harus terjadi di lingkungan kita. Menimbang selama ini tidak pernah terjadi kasus separah ini," Lanjut Kepala sekolah. "Benar, selama ini kami mengetahui reputasi sekolah ini sangat baik." Seorang wali murid berkomentar. "Iya betul sekali!" Yang lain mengiyakan dan mengangguk mengamini. "Jadi masalahnya disini pasti dianya. Kami tau benar Ibu guru Mita itu seperti apa. Baru kali ini melakukan kesalahan seperti ini. Pasti ada alasannya." Seorang wali murid membela Ibu Mita dan menjatuhkan Tiara. "Iya, betul! Pasti karena anak itu!" "Iya, tidak mungkin Ibu Mita tiba-tiba seperti itu," Lihatlah, dimana keadilan untuk Tiara? Disemua tempat, dia yang selalu disalahkan. Tanpa tau apa kesalahannya. "Tolong tenang!" Kepala sekolah menertibkan Sidang. Menatap Ibu Mita dan Tiara bergantian. "Ibu Mita, ananda Tiara mungkin ingin menyampaikan sepatah kata pembelaan atau klarifikasi?" tanya Kepala Sekolah. Tidak ada yang angkat bicara, baik Tiara maupun Ibu Mita. Semua masih bungkam, tak ingin membuat semua semakin runyam. "Yang salah memang Tiara kok!" Bella angkat bicara. Kembali terjadi keriuhan di Ruang Sidang. Semua menyerang dan menjatuhkan Tiara. "Saya saksi dari Tiara, sekaligus yang mengajukan kasus ini kepada Kepala Sekolah!" Rayyan yang sedari tadi hanya diam dan memperhatikan, mulai jengah. Dia berdiri menyuarakan isi hatinya. Tak memperdulikan semua mata yang saat itu menghunus tertuju kepadanya. "Saya sangat mengetahui bagaimana keseharian Tiara di lingkungan sekolah. Dia tidak pernah sama sekali berbuat onar. Bahkan tidak pernah membalas sedikitpun, perlakuan tidak manusiawi kalian semua kepadanya setiap hari." "Nak Rayyan, kami paham. Kamu pindahan dari luar negeri bukan? Mungkin kamu belum menahami cara bergaul di Indonesia saja. Tidak pernah ada perundungan di sekolah ini. Itu hanya cara bergaul mereka saja." Kepala Sekolah mencoba menerangkan. "Dengan menyebar fitnah? Sindiran? Hinaan? Cemoohan? Saya tidak mengerti apakah ini memang cara pergaulan yang sehat di sini? what's up with all of you? Ini sesuatu yang biasa? Are you kidding me?" Rayyan mengeluarkan semua emosi dalam dirinya. Tak mampu menahannya lagi. "Tapi tidak perlu sampai mengadakan sidang seperti ini." sahut salah seorang perwakilan wali murid. Mereka paham, seperti apa efek yang akan timbul dan di terima oleh pihak yang bersalah di sidang. "Seperti itukah? Oke, sekarang saya tanya. Bagaimana jika hal itu terjadi pada putra atau putri anda di sekolah. Masih bisakah kalian berbicara seperti itu?" "Sudahlah Rayyan." Tiara mencoba mendinginkan suasana. "Saya rasa tidak perlu di perdebatkan seperti ini. Saya yang terlibat langsung dalam kasus ini, meminta maaf yang sebesar besarnya atas kehebohan yang terjadi." Tiara malah minta maaf pada semua yang hadir. Membuat Rayyan kecewa, tak puas hati. "Sebenarnya masalahnya dimana? Bisakah Ibu Mita jelaskan!" tanya Kepala Sekolah. "Saya mendapati Tiara dan Bella bertengkar. Saat konseling, saya hanya bertanya apa pekerjaan ibunya hingga dia bisa marah dan membuat keributan." Ibu Mita membuka suara. "Dia tidak menjawab pertanyaan yang membuat semua murid dan guru di sekolah selalu bertanya-tanya tentang kabar miring yang beredar. Dia mengabaikan saya, kesalahan saya hanya tidak mampu mengontrol diri saat dia tak menghargai saya. Saya minta maaf." Ibu Mita terisak, menyadari karirnya kini di ujung tanduk. "Bisakah dia menjawab pertanyaan itu?" serang seorang wali murid. "Iya, jawab saja supaya tidak perlu terjadi keributan lagi gara-gara hal seperti ini!" "Benar!" "Iya!" “Bukankah dia murid yang tidak jelas asal-usulnya itu?” “Iya, kenapa sekolah harus mempertaruhkan nama baiknya untuk satu orang murid seperti dia.” Terjadi keributan diantara peserta sidang. "Harap tenang!" Kepala sekolah mengingatkan. "Maaf, sudah menjadi hak Tiara, untuk tidak menjawab pertanyaan yang dia rasa tak perlu untuk dijawab. Kenapa kita hanya egois memikirkan rasa keingintahuan kita tanpa mempertimbangkan perasaan Tiara sendiri. Apakah dia salah?" ujar Rayyan membungkam seluruh peserta Sidang. Tiara memandangi Rayyan. Sedari tadi, hanya Rayyan yang membela dirinya. Tapi dia bahkan tidak mendukung usaha Rayyan. Sidang terasa begitu alot dan memakan waktu cukup lama, hingga akhirnya keputusan harus dibuat oleh Kepala Sekolah. "Sebenarnya, kami sangat berat menimbang dan memutuskan perkara ini. Kami tahu betul, ibu Mita dan ananda Tiara adalah sosok yang baik. Tapi kami sadari adanya kesalahan yang telah di perbuat oleh ibu Mita sehingga menimbulkan cidera pada Ananda Tiara. Kami atas nama yayasan, meminta maaf yang sebesar-besarnya kepada ananda Tiara.” "Dengan ini kami berikan kesempatan kepada ananda Tiara untuk memutuskan. Apakah ibu Mita perlu diberikan sangsi pemecatan atau diberikan kesempatan kedua?" Kepala sekolah selaku pemimpin sidang melempar wewenang kepada Tiara. "Saya akan mengundurkan diri, dan menerima pemecatan ini!" Jerit ibu Mita. Dia bangkit dari kursinya. Tak ingin takdirnya di putuskan oleh anak kotor seperti Tiara. "Tolong duduk sebentar ibu Mita!" Kepala sekolah menenangkan. Tiara menarik nafas panjang, berharap keputusan yang dia berikan baik untuk semuanya. "Saya tidak menginginkan pemecatan atas Ibu Mita. Saya telah memaafkan beliau, jauh hari sebelum sidang ini dimulai. Saya berharap keputusan ini adalah keputusan yang terbaik untuk semua pihak." "Yang harus pergi itu dia, bukan Ibu Mita!" Bisik wali murid disamping Tiara. Yang lain mengangguk setuju. Kekecewaan tergambar di raut wajah Rayyan atas keputusan Tiara. "Baik, terimakasih Tiara atas kebesaran hatinya. Kami berharap kedepannya dapat terjalin komunikasi yang baik diantara kita semua. Ibu Mita, kami harap Ibu dapat menahan diri. Jangan sampai kejadian serupa terulang kembali. Ananda Bella dan teman-temannya, jalinlah pertemanan yang sehat. Semoga dapat diterima oleh semua pihak. Dengan begitu, Sidang ini kami tutup!" Kepala sekolah menutup sidang dengan perasaan lega. Dia pun tak ingin kehilangan stafnya hanya karena seorang murid seperti Tiara. Yang lain bersorak atas tidak jadinya pemecatan pada Ibu Mita. Mereka bergegas meninggalkan ruang sidang. Setelah sebelumnya memberi selamat pada Ibu Mita. "Tiara!" jerit Ibu Mita sebelum Tiara melewati pintu. Tiara ingin segera meninggalkan ruang rapat seperti halnya Rayyan, Kepala Sekolah dan wakilnya, yang juga telah meninggalkan ruang sidang. Ibu Mita, yang tak puas karena dipermalukan di depan semua orang, berjalan ke hadapan Tiara. "Kenapa kamu tidak memberikan keputusan pemecatan saja! Kamu pikir aku akan menjadi iba kepadamu? Kamu salah besar! Aku tidak butuh rasa kasihanmu!" ucap Ibu Mita dengan nada penuh rasa tidak suka. Tiara tersenyum sinis, benci jika mengingat Ibu Mita telah menjelek-jelekan Bunga. "Kalau Ibu pikir saya kasihan sama Ibu, itu salah besar. Sepertinya telalu mudah kalau Ibu langsung pergi dan tidak melihat saya lagi. Saya tau, Ibu sangat membenci saya." "Bagus kalau kamu sadar diri!" "Karena itulah saya menahan Ibu. Saya ingin Ibu menyaksikan kesuksesan saya disini. Saya tidak perlu membalas Ibu dengan sesuatu yang kotor dan kasar. Bukankah dengan melihat saya bahagia, itu akan terasa sangat menyiksa bagi kalian yang membenciku tanpa alasan?" Tiara mengakhiri percakapannya, pergi meninggalkan mereka semua yang kesal pada dirinya. Seperti Bunga, Tiara pun pergi dengan angkuh dan anggun. Membuat hati-hati yang membara itu semakin berkobar rasa tidak sukanya.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD