Malam Minggu

1823 Words
Tiara kembali ke kelas. Disana Rayyan duduk terdiam, tak menghiraukan kedatangan gadis yang mati-matian ia bela. Pandangannya hanya fokus pada buku yang terbuka dalam pegangan. Mungkin dia kesal dengan keputusan yang diambil oleh Tiara. Setidaknya setelah apa yang telah dia lakukan untuk membantu gadis itu. "Maafin aku Ray! Aku tau kamu pasti kecewa," ucap Tiara pelan. Dia merasa tidak enak pada Rayyan. "Its ok, No Problem." jawab Rayyan singkat. Mungkin dia yang terlalu berlebihan soal hal ini. Bukankah Tiara sendiri yang merasakan semua hal yang dia anggap penderitaan. Jika Tiara menganggapnya itu hal sepele, kenapa dia harus bersusah payah menganggap itu masalah besar. Kelak Rayyan hanya perlu membantu sewajarnya saja, tanpa harus masuk lebih dalam. "Makasih ya!" ucap Tiara lagi. "What's for?" "Semuanya." Rayyan menghela nafas panjang, memutar bola matanya. "Kau harus membayarku!" seru Rayyan dengan nada serius. Ditutupnya buku di tangan. Percuma membaca, pikirannya pun tidak dapat fokus kesana. "Bayar?" "Iya, kamu pikir lawyer itu gratis? Coba cek berapa tarif lawyer di luar sana!" Tiara tersenyum, dia mengerti maksud Rayyan. Rayyan menjadi pengacaranya yang hebat di sidang tadi. "Ok, bayarnya traktir di kantin aja ya!" tawar Tiara. Rayyan tersenyum, mengangguk menyetujui. "Siapkan dompetmu! Aku akan memilih banyak makanan hari ini," ucapnya sambil tersenyum sinis. "Kalau banyak-banyak jangan hari ini." Tiara berusaha melobi. "Kenapa?" "Hari ini aku nggak bawa banyak uang. Jatah mingguanku, sudah habis dipakai bayar rumah sakit kemarin," jawab Tiara sambil cengengesan. Rayyan menghela nafas panjangnya. "Kalau begitu, jangan dulu." "Ok! Minggu depan ya!" "Malam minggu? Atau hari minggu?" Rayyan mengerutkan keningnya. "Bukan! Minggu depan, diantara hari senin sampai sabtu." Tiara berusaha menjelaskan. "Malam Minggu atau hari Minggu nggak bisa?" "Enggak, itu sudah ada yang punya." jawab Tiara. Pikirannya melayang pada Bunga. Hari Minggu adalah hari bersama mereka sebelum akhirnya berpisah kembali saat malam tiba. Rayyan tersenyum kecut, ish, apa yang dia pikirkan. Tentu saja malam minggu atau hari minggu itu milik orang yang spesial bagi Tiara. Teman dekatnya, atau bahkan pacarnya. Benarkah Tiara telah memiliki pacar? Syukurlah jika masih ada yang memandang dan menerima dia dengan baik. "Kamu kenapa?" Tiara menegur Rayyan yang termangu. Rayyan tersentak lalu menggelengkan kepala. "Nggak apa-apa." jawab Rayyan sedikit gugup. *** Sabtu sore. Masa cuti Bunga telah usai. Kini ia tengah bersiap untuk kembali bekerja. Dia tengah memadu padankan makeup di wajah cantiknya. Foundation, concealer, lipbalm, lipstik, eyeliner, eyeshadow, blush-on dan lainnya. Sebenarnya peralatan makeup itu hanya menegaskan kecantikannya saja. Tanpa itu semua, penampilan Bunga pun sudah sempurna dan paripurna. "Tiara, aku pergi ya! Mungkin besok aku pulang sore. Mira mengajakku pergi ke suatu tempat," teriak Bunga dari arah kamarnya. "Aku nggak diajak?" tanya Tiara. Kepalanya menyembul di pintu kamar, melangkah masuk dan merebahkan tubuhnya di tempat tidur dengan memasang wajah cemberut. "Aku belum tau Mira mau bawa kemana. Takutnya ke tempat yang antimainstream," jawab Bunga sambil tersenyum. Tiara paham, jika Bunga berkata seperti itu pasti tempat yang tidak baik untuknya. Mungkin itu tempat berkaitan dengan pekerjaan Bunga. "Jadi kita nggak jalan-jalan minggu ini?" Tiara mengerucutkan ujung bibirnya. Bunga tersenyum menghadapi sifat kekanak-kanakan Tiara. "Kan kemarin sudah, beberapa hari kita sudah menghabiskan banyak waktu bersama. Anggap saja, waktu kita hari esok itu di tabung untuk dinikmati pada hari libur selanjutnya." Bunga mencoba memberi pengertian. Tiara mengangguk, dia mengantarkan kepergian Bunga sampai ke depan pintu. Melepasnya dengan senyum termanis yang ia miliki. Lalu kembali duduk di sofa ruang tengah sederhana yang merangkap sebagai ruang tamu, setelah mobil jemputan khusus Bunga menghilang dari pandangan matanya. Masa bersenang-senangnya bersama Bunga pun telah usai. Dia akan kembali ke kehidupannya yang sepi. Bertemu dengan Bunga hanya sesaat sebelum ia berangkat sekolah, dan sore hari sesaat sebelum akhirnya Bunga berangkat ke tempat kerjanya lagi. Karena kalaupun mereka bertemu siang hari selepas Tiara pulang sekolah, dia akan mendapati Bunga tertidur dengan lelapnya seperti seorang bayi. Kesepian itu akan lenyap hanya di hari Minggu atau hari libur sekolah. Dia bisa menghabiskan waktu seharian bersama Bunga miliknya. Selepas kepergian Bunga, Tiara mengulang beberapa mata pelajaran di sofa sambil menyalakan TV. Selalu seperti itu untuk menghabiskan waktu malam minggunya. Tak jarang ia belajar hingga terantuk dan tertidur di sofa. Membuat lehernya sedikit terasa kaku ketika terbangun karena salah posisi tidur. Tok, tok, tok! Suara pintu di ketuk. Tiara terperanjat,lalu termenung, berusaha meresapi. Apakah benar-benar ada tamu yang datang atau hanya sekedar mimpinya. Tok, tok, tok! Suara ketukan pintu Kembali terdengar. Tiara bangkit dari tidurnya di sofa. Menggosok matanya, berjalan ke arah pintu setelah nyawanya benar-benar terkumpul. "Siapa?" Tiara membuka pintu. Semerbak wangi parfum maskulin cowok menyergap di hidungnya. Matanya yang baru terbuka dan masih sensitif cahaya, dipaksa fokus menyaksikan siapa yang berdiri di depan pintu rumahnya. Terlebih lampu teras rumahnya memang belum dinyalakan. "Mas Danu?" jerit Tiara, kaget. Tak menyangka Danu benar-benar mendatanginya malam ini. Tuk! Danu menghadiahi sebuah ketukan di kening Tiara. "Sudah dibilangin, jangan panggil Mas!" protes Danu. Tiara meringis sambil mengusap keningnya yang sakit. "Ngapain? Cari Bunga?" tanya Tiara. Danu menghela nafas. sepertinya Tiara lupa, soal janji untuk membayar jasa antarnya menuju ke sekolah beberapa hari yang lalu. "Nggak dipersilahkan masuk dulu neh?" tanya Danu yang hanya berdiri di depan pintu. "Ups!" Tiara nyengir, dan mempersilahkan Danu masuk. "Duduk, maaf bukunya berserakan. Tadi aku habis belajar, terus ketiduran." Tiara mengumpulkan buku-buku dan alat tulis yang berserakan. "Maaf ganggu tidur kamu!" seru Danu. Tiara yang sedang menguap, langsung menghentikannya di tengah jalan. Danu tersenyum melihat reaksi Tiara. Sikap tersipu itu, membuatnya berkali lipat nampak lebih menggemaskan. "Cari Bunga? Bunga sudah pergi dari tadi." Tiara kembali menanyakan maksud kedatangan Danu. "Enggak, aku cari kamu kok!" "Aku?" Danu mengangguk. "Aaaa hmmmm." Tiara salah tingkah, mencoba mencari topik pembicaraan yang bisa mencairkan suasana. "Kok bisa tau tempat tinggalku disini?" "Jelas taulah! Kalau supir nggak ada, aku suka antar atau jemput Bunga." "Oooo, Bunga aja?" "Enggak, sama yang lain juga." Tiara hanya manggut-manggut. "Kamu nggak siap-siap?" tanya Danu. "Hah? Siap-siap apa?" Tiara balik bertanya. "Beneran lupa atau pura-pura lupa?" Danu memasang muka ngambek. "Apa seh?" Keduanya malah saling melempar pertanyaan. "Katanya mau bayar ojek keren yang hari itu." "Ojek? Keren?" Tiara mencoba mengingat. "Aaaaa!" pekik Tiara, tangannya tertangkup di mulut. Baru teringat soal Danu yang mengantarnya ke sekolah dari tempat kerja Bunga. "Sudah ingat?" tanya Danu. Tiara mengangguk. "Aaah aku belum mandi!" jerit tiara penuh sesal. “Mana bau keringat, baru bangun tidur!” Danu mendelik. Jadi dia sudah bersiap-siap sedemikian rupa, dengan penampilan paripurna, hanya untuk pergi bermalam mingguan dengan gadis baru bangun tidur dan belum mandi? Danu menggaruk kepalanya yang tidak gatal. "Ya sudah ganti baju aja sana! Biar nggak bau iler." Danu menyuruh Tiara bersiap. "Ish, sembarangan. Mana ada aku tidur ngiler!" sungut Tiara. "Nggak percaya!" "Beneran!" "Ya udah nanti aku buktiin, kalau kamu tidur beneran ngiler nggak!" goda Danu. "Hah!" raut wajah Tiara berubah. Sepertinya ada yang salah dengan kalimat Danu. "Mm ... maksud aku enggak gitu. Eh..," Danu salah tingkah, mencoba menjelaskan. Sadar bahwa dirinya sedikit berlebihan dalam berucap. "Aku nggak seperti mereka," ucap Tiara pelan. "Maaf, maksud aku bukan begitu Tiara." Sesal Danu. "Nggak apa-apa. Ya sudah, aku siap-siap dulu ya!" Tiara beranjak dari tempat duduknya. "Beneran kamu nggak marah?" Danu memastikan. "Enggak, santai aja." Tiara mengulum senyum. "Kalau enggak marah, aku kok nggak di kasih minum!" ucap Danu setengah berteriak, karena Tiara hampir menghilang di pintu kamarnya. "Ambil sendiri di kulkas ya! Anggap aja rumah sendiri!" teriak Tiara dari balik pintu. Di iringi tawanya yang ceria. Danu memutar pandangan ke sekitar. Tidak ada yang istimewa dari perabotan yang dimiliki bunga dan Tiara. Pedahal pendapatan bunga lumayan besar di banding wanita milik Mira yang lainnya. Dia telah mendapat kepercayaan dari Mira maupun pelanggan kelas VIP nya. Pedahal dari segi usia banyak yang berada jauh di lebih muda darinya. Tiara dan Bunga bahkan hanya tinggal di sebuah kontrakan kecil, kumuh dan terpencil. Kemana penghasilan bunga selama ini? Danu yakin jika mereka mau mereka bisa memiliki kelas kehidupan sosial yang lebih tinggi. Menutupi kelamnya jenis pekerjaan mereka. Tiara keluar kamar dengan wajah lebih segar. Riasan ringan dan natural, semakin menampakkan kecantikan alami yang dimilikinya. Dia sangat mirip dengan Bunga. Cantik, tak pernah membosankan untuk di pandang. "Hei!" Tiara mengejutkan Danu yang terpaku memperhatikan wajah Tiara dengan pikirannya sendiri. "Kamu mandi?" tanya Danu. Semerbak aroma wangi tubuh Tiara menerpa hidung Danu. Tiara mengangguk. "Malu kalau nanti ketemu cowok cakep, terus aku nya ketahuan belum mandi, hehe." jawab Tiara asal, sambil tertawa kecil. Danu mencebik. 'Jadi dia tidak melihatku sebagai cowok?’ gumam Danu. Tangannya melonggarkan kerah blouse yang tiba-tiba terasa mengecil. "Kita mau kemana?" tanya Danu. "Terserah, aku nggak tau tempat yang bagus untuk main di malam Minggu." jawab Tiara. Yang dia tau adalah tempat asyik untuk menghabiskan waktu bersama Bunga. "Ya sudah, kita makan dulu ya!" "Ok!" Mereka berhenti di sebuah restoran bintang lima. Aroma kemewahannya sudah terhirup sejak dari parkiran. Tiara terperangah, bukan karena terpana pada banyaknya skor bintang di restoran itu. Tapi pada isi dompet yang harus dia kuras malam itu untuk sebuah jasa ojek. Dia mulai menyesali kenapa tidak memesan taxi saja saat itu. "Kenapa?" tanya Danu. "Ee--enggak apa-apa. Kayaknya aku salah bawa tas." ucap Tiara. Dia meringis, berharap memiliki alasan untuk tidak jadi masuk ke dalam sana. "Udah, tenang aja. Aku yang traktir kok!" Danu merangkul tangan Tiara untuk memasuki restoran. Membayangkan keromantisan yang akan tercipta saat candle light dinner bersama Tiara di dalam sana. Tiara mengeraskan lengannya, enggan mengikuti Danu. Danu menghentikan langkahnya, berbalik dan menatap, meminta penjelasan. "Kenapa?" tanya Danu menangkap keraguan di wajah Tiara. "Maaf Danu, tapi aku merasa kurang nyaman kalau disini," ujar Tiara hati-hati. Tak ingin Danu kecewa. "Tadi katanya terserah aku?" Danu memandang tiara. "Iya sih, tapi enggak di sini juga!" seru Tiara memasang wajah tidak enak. "Sekarang kamu maunya di mana?" Danu mengalah. "Kita ke pusat kuliner di taman kota aja, suasananya juga nggak kalah ciamik. Kamu pasti suka!" ajak Tiara bersemangat. Danu membulatkan matanya. "Masa sih!" Tiara mengangguk. "Ada lampunya dengan sinar temaram?" Tiara mengangguk "Ada pohon-pohon yang rindang dan menyejukkan?" "Iya di sana banyak pohon besar, sejuk, keren banget deh pokoknya! Kamu pasti suka!" "Ya udah ayo kita ke sana!" Mereka pun kembali menyalakan mesin sepeda motor, lalu beranjak menuju ke sana. Ternyata benar meskipun banyak penjaja makanan kaki lima, suasananya tak kalah dengan bintang 5. Lampu-lampu menghiasi setiap sudut taman. Menciptakan suasana romantisme di dalamnya. Hanya saja minim privasi bagi mereka yang tidak suka keramaian. "Suka?" tanya Tiara pada Danu. Dia sendiri begitu menikmati suasana yang tersaji di depan indranya. Menghirup dalam-dalam sejuknya udara diantara rimbunnya pepohonan. Danu menyapu pandangan ke sekitar, menikmati sajian natural di hadapannya. Menoleh memandang Tiara dan mengangguk. Menyetujui ide Tiara dalam memilih tempat. 'Aku lebih menyukai yang saat ini kupandang,' gumam Danu dalam hati. "Lumayan, tapi terlalu ramai. Aku lebih suka yang sedikit tenang, dan penuh privacy," komentar Danu. Tiara tertawa. "Kamu biasa mainnya di tempat yang sepi seh! jadi disini e nggak nya ma n," Tiara melanjutkan kalimatnya dengan ragu. Sadar salah ucap, saat melihat perubahan ekspresi wajah Danu. "Hmm, maaf ..., Maksudku, maksudku ...," Tiara tergagap. Andai ada cara untuk menarik sebuah ucapan.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD