Bermimpilah!

1741 Words
"Nggak apa-apa Ra, aku paham. Memang pekerjaanku seperti itu kok," ucap Danu ingin menenangkan Tiara. Dia paham Tiara merasa tidak enak hati. Danu memandang lurus ke langit, lagi-lagi hitam dan kelam. Hanya beberapa bintang redup yang sudi menghiasinya. Seperti tengah menatap kehidupan miliknya sendiri. Dirinya lah langit yang gelap itu. Dan cahaya yang menerangi itu, siapakah mereka? Bisakah Danu menjadikan gadis dihadapannya ini seberkas cahaya yang melekat di langit pekatnya? Tapi melihat pekerjaan kotornya, adilkah untuk gadis itu? Apakah dia egois jika menginginkan gadis sesuci Tiara, sedangkan dirinya bergelimang penuh dosa! Kenapa baru dia sadari, selama ini dirinya sendirilah, yang mematikan cahaya di sekeliling hidupnya. Dia sendiri yang memilih kegelapan sebagai teman setianya. Tak menyadari bahwa ada dunia lain yang jauh lebih indah bermandikan cahaya bak di surga. "Kamu sudah sering ke sini ya?" tanya Danu. Tiara menggeleng. "Enggak pernah, biasa cuma lewat aja sama Bunga." "Ooo gitu. Aku kira kamu sering kesini kalau malam minggu." "Kan sudah pernah aku bilang, malam Minggu itu aku tidur cepat." Tiara memperbaiki roknya yang sesekali berayun tersingkap oleh tiupan angin. "Kenapa?" tanya Danu. "Karena aku ingin bangun pagi-pagi sekali, menyambut Bunga di depan pintu. Dan menghabiskan waktu bersama dengannya seharian." "Oo, pantas kalau Minggu sore Bunga kelihatan letih, kamu tidak membiarkannya istirahat!" Danu tersenyum dan mencolek hidung Tiara. "Hah! Benarkah?" Tiara melongo. Selama ini dia tidak pernah berpikir sejauh itu. Benar juga, selama ini dia terlalu egois. meminta waktu istirahat Bunga untuk menemaninya dan bisa menghabiskan waktu bersamanya. Tiara tertunduk sedih. "Kok jadi sedih?" tanya Danu, membuyarkan lamunan Tiara. "Aah, nggak apa-apa.” jawab Tiara “Kita jadi pesan apa?" Tiara berusaha mengalihkan pembicaraan. "Nasi goreng aja deh!" Danu menatap gerobak penjual nasi goreng tak jauh dari tempat mereka duduk. "Hahaha, mau berapa porsi? Kalau di sini aku sanggup traktir." Tiara bangkit mengambil buku menu dari meja sebelah. "Ish, dasar! Jadi nggak mau disana karena itu?" Tiara tertawa kecil. "Mmm, bukan karena itu seh, disini emang lebih nyaman aja." Danu memandangi wajah cantik Tiara. Di bawah sinar temaram, pesona itu terasa bertambah berkali-kali lipat. Memang terasa berbeda disini, dibanding restauran berbintang itu. Tempat berkelas yang biasa dia datangi bersama para wanita pemuja kenikmatan sesaat yang menyewanya. Dari sana mereka menjalin kedekatan dan keakraban, sebelum akhirnya deal untuk menggunakan jasa yang lainnya. "Tiara," panggil Danu, pelan sekali. "Ya!" Tiara menoleh ke arah Danu. Sorot matanya begitu bercahaya, terang menyilaukan untuk Danu yang selalu berteman dengan kegelapan. "Kamu nggak punya pacar?" Tiara menggeleng sambil menikmati suapan batagor miliknya. "Kenapa?" "Nggak apa-apa, cuma ingin fokus belajar. Lagian siapa juga yang mau dengan gadis seperti ku." Danu menatap Tiara dalam-dalam. "Memangnya kenapa?" tanya Danu penuh keheranan. Tiara menghela nafas berat. "Siapa yang mau menerima seorang putri penjaja tubuh sepertiku? Untuk dekat denganku saja, mereka enggan. Seperti sedang melihat seonggok kotoran yang penuh najis." "Kamu tidak memiliki teman di sekolah?" Tiara menggeleng. "Tidak ada satupun? Dari total keseluruhan murid di dalam sekolah itu? Seburuk itukah perlakuan mereka terhadapmu?" cecar Danu tak percaya. Emosinya seakan ikut dipermainkan, mendapati wanita sempurna di depannya, terlihat begitu hina di mata orang lain. Ternyata seberkas cahaya itu pun selalu sendirian. "Ada satu, hanya ada satu." ujar Tiara. Pikirannya melayang pada Rayyan yang selama ini selalu membantunya, menemaninya. Meskipun terkadang Rayyan terlampau cuek padanya. 'Sedang apa dia malam ini?' gumam Tiara lirih. Pasti dia sedang bersama orang terkasihnya. Atau mungkin sama dengan dirinya? Selalu berteman dengan kesepian. Buktinya di sekolah dia tak memiliki banyak teman juga. Hanya selalu bersama Tiara, pendiam dan penyendiri. Mungkin Rayyan sedang berkencan dengan tumpukan buku juga. "Hanya satu?" tanya Danu tak percaya. Tiara mengangguk. "Pasti dia juga pribadi yang bermasalah." Danu asal tebak. Tiara melirik tajam ke arah Danu. Ada rasa tidak suka, mendengar Rayyan di jelek-jelekan seperti itu. Terlebih Rayyan memang sempurna di matanya, tak ada cela. "Sok tau!" "Lalu?" "Dia keliatannya dari keluarga baik, berkelas." "Waw!! kenapa mau berteman sama kamu?" Tiara mendengus, apakah Danu pikir dia tidak berhak berteman dengan siapapun? "Mungkin karena dia anak pindahan, jadi sedikit tertutup dari murid yang lain." "Pindahan?" "Iya, dia tinggal di luar negeri sejak kecil. Dan baru datang kembali beberapa tahun lalu." Tiara menjelaskan. "Waw! jadi kalian bicara pakai bahasa Inggris donk? Asyik neh punya teman bule." “Ha ha ha,” Tiara tertawa. "Enggak, dia fasih berbahasa Indonesia kok. Dia besar di lingkungan berbahasa Ibu." "Aaah... begitu." Danu tak jadi kagum. Tiara mengangguk. "Ra, kapanpun kamu butuh teman, kamu bisa menghubungi aku. Aku akan siap untuk kamu. Jangan pernah merasa sendirian," Danu menepuk bahu Tiara. Tiara mengerutkan keningnya. "Kapanpun?" tanya Tiara ragu. "He...em!" Danu mengangguk. "Khususnya malam Minggu seperti sekarang. Aku akan mengambil waktu liburku setiap malam Minggu." Tiara tertawa, sepertinya Danu belum paham maksud pertanyaannya. "Kamu bilang kapanpun?" ulang Tiara. "Iya!" jawab Danu menegaskan dengan gemas. "Meskipun saat kamu sedang bekerja? Sedang bersama tante-tante yang sedang mendesah di bawahmu itu?" Tiara menelan rasa ingin tertawanya, tak ingin Danu menganggap dirinya sedang membuat lelucon tentang profesinya. Dia tau hal itu membuat Danu sungkan padanya. Danu mendengus kesal, dia menarik sudut bibirnya ke kanan dan ke kiri. “Dari mana kamu tau kalau mereka mendesah di bawahku?” Danu balik menyerang Tiara. “Hah, eh – anu ...,” Tiara salah tingkah mau menjawab apa. “Biasa mereka di atasku kok kalau sedang bermain gayaa --! Atau bahkan di sampingku kalau sedang model --! Atau di depanku kalau –“ Danu sengaja memenggal kalimatnya pada setiap kata yang berkonotasi sensitif. Tiara syok mendengar penuturan Danu. Pikirannya pasti sedang traveling menurut fantasinya sendiri. Danu hanya tertawa mendapati ekspresi geli Tiara. “Iiiih! Kamu!!” jerit Tiara. Kedua tangannya menutupi telinga tak ingin mendengar apapun lagi. Bagaimana bisa Danu berbicara fulgar seperti itu padanya. Akh, salahnya juga memancing Danu tadi. Danu tersenyum, lalu mengulurkan jari tengah dan jari telunjuk kanannya membentuk huruf V. Yang berarti damai! Lalu hening sejenak, tak ada percakapan dari keduanya. “Hhhh!!” Danu mengembuskan nafasnya kasar. Nampak kekesalan dari raut wajahnya. “Kenapa?” tanya Tiara. Suasana diantara mereka sudah cair kembali. Danu terdiam, lalu berkata. "Ah, aku lupa soal itu." Danu mengacak-acak rambutnya. "Soal apa?" "Soal statusku, soal pekerjaan ku," sesal Danu. "Aku merasa sangat kotor di depanmu Ra." ujar Bara minder. "Jangan merasa diri rendah seperti itu!" Tiara mencoba membangkitkan semangat Danu. "Kenyataannya memang seperti itu." Danu putus asa. "Lalu apa bedanya dengan aku? Asalku, seluruh daging yang tumbuh, darah yang mengalir dan hidupku semua terisi dari hasil pekerjaan itu. Apa bedanya aku dengan kamu." Tiara mencoba tertawa, menertawakan ironi kehidupannya. "Jangan pernah terjerumus di dunia ini Ra." "Hah!" "Berusaha lah berpegangan di atas sana, meskipun dengan susah payah. Karena sekali saja terjerumus, kau tidak akan mampu untuk keluar dari jerat lubang itu." Hhhhfftt! Tiara menarik nafas panjang, dadanya tiba-tiba terasa sesak. Mungkin itulah sebabnya Bunga tidak pernah mau melepas pekerjaannya. Tepatnya dia tidak bisa terlepas dari pekerjaannya. "Kamu tak ingin berhenti dari pekerjaanmu, Nu?" tanya Tiara. Danu menggeleng. "Tidak, belum untuk saat ini," "Kenapa?" "Aku masuk kedalam sana dengan sebuah alasan. Aku butuh alasan juga untuk bisa keluar dari sana." "Alasan?" "Ya." "Alasan seperti apa yang kamu butuhkan?" "Entah, akupun belum memikirkan nya." Tiara tersenyum. "Ah sudahlah, lupakan saja. Kita nikmati kehidupan yang hanya sekali ini," Tiara bangkit, membayar semua makanan yang telah di pesan. "Cukup nggak?" tanya Danu memastikan. Tangannya merogoh dompet di saku celana. "Tenang, semua aman terkendali," jawab Tiara. Seulas senyum selalu terpancar dari bibir merekah miliknya. "Kita mau kemana lagi?" tanya Danu. "Pulang!?" "Kok pulang, kamu sudah ngantuk?" "Sedikit, biasanya jam segini sudah tidur." "Hish, aku belum bisa tidur jam segini!" "Kumbang malam!" cibir Tiara. "Ya! Aku memang kumbang malam. Jadilah bungaku malam ini." goda Danu. Alisnya dipermainkan naik dan turun. Tiara mengepalkan tangannya ke udara memberi peringatan pada laki-laki di depannya. Danu kembali tertawa mendapati ekspresi jutek gadis di depannya. --- "Kelak kamu ingin jadi apa Ra?" Danu melemparkan pertanyaan. Kali ini mereka sedang duduk di teras kontrakan Tiara. "Apakah mimpi itu milik orang sepertiku Nu?" Tiara balik bertanya. "Tentu saja, semua orang berhak atas mimpinya sendiri." "Kurasa aku hanya perlu tidur saja untuk bisa bermimpi." Tiara mengakhiri kalimatnya dengan tawa kecil. "Kamu terlalu merendah Tiara! Berusahalah menatap mimpimu. Itu yang akan menjadi kekuatanmu saat hidup ini berlaku tidak adil." Pernahkah hidup ini adil padanya? Melihat perlakuan semua orang padanya, dimana letak keadilan itu? Menyaksikan kebahagiaan keluarga yang sempurna milik orang lain, dimana keadilan untuknya? *** Epilog “Nu,” “Ya!” “Pernahkah kau merasa, kehidupan tidak berlaku adil kepadamu?” Danu menghela nafas panjang dan berat. Di ikuti kepalanya yang mengangguk. “Bagaimana caramu, mengatasi hatimu ketika sedang tidak baik-baik saja?” Tiara memperhatikan wajah Danu dengan seksama. Berharap mendapatkan sedikit pencerahan dari sosok yang dia anggap sebagai Kakak itu. Ya jarak usia mereka hanya terpaut sekitar lima tahun, dan Tiara Adalah si sulung yang selalu kesepian. Tak ada kakak sebagai panutan, juga tak memiliki adik sebagai tujuan kasih sayang. “Pernahkah kamu melihat, sebuah pohon yang berbuah sangat lebat?” tanya Danu. Tiara mengangguk. “Tapi apakah kamu memperhatikan bahwa setiap buah memiliki waktu matangnya sendiri.” Tiara terdiam, mendengarkan maksud yang ingin disampaikan Danu. “Meskipun mereka tumbuh bersama, di pohon, batang, bahkan ranting yang sama ..., Tapi proses matangnya berbeda. Jadi, Jangan pernah bandingkan prosesmu dengan proses milik orang lain. Karena setiap orang memiliki prosesnya masing-masing. Dan di matangkan dengan bentuk dan cara yang berbeda-beda. Ada yang berukuran lebih kecil tapi sudah matang, dan ada yang lebih besar tapi belum menunjukkan tanda-tanda ia akan matang. Bahkan ada yang harus di petik terlebih dahulu, lalu melalu proses pemeraman buatan ...,” Tidak ada tanggapan dari Tiara. Danu menoleh ke tempat Tiara berada, sebelum melanjutkan kata-kata bertuah miliknya. Tiara tengah bergulat dengan rasa kantuknya. Kepalanya sampai terantuk beberapa kali. Danu tersenyum geli. Biasanya wanita tidur di hadapannya disebabkan letih karena pergumulan yang panas. Kali ini seorang gadis tertidur saat mendengarkan petuah bijaknya. Hish, kapan pula gadis itu akan matang? Dan kapan juga masanya untuk matang? Danu mencolek hidung mancung Tiara. Membuat pemiliknya terperanjat, mengerjapkan matanya beberapa kali untuk mengusir rasa kantuknya. “Tidurlah Tiara, aku akan pulang.” “Akh, maaf Nu, aku tertidur!” sesal Tiara. “Tidak apa-apa. Memang waktunya bagiku untuk pulang. Masuk lah!” Danu berusaha mengelak agar Tiara tidak merasa sungkan padanya. Tiara melemparkan senyum manis miliknya sebelum akhirnya menghilang di balik pintu, meninggalkan Danu yang sebenarnya masih ingin menikmati malam bersamanya. ‘bermimpilah Tiara, buatlah mimpi yang tinggi dan kokoh. Agar tidak ada lagi kesempatan atau alasan atas kegagalanmu.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD