Setelah merapikan pulasan makeup yang memudar selama perjalanan, Bunga melangkahkan kaki menuju Bar. Berharap sumber rezekinya yang selalu bersembunyi di dalam sana dapat di telisik.
Dia berjalan masuk diantara hilir mudik orang dari berbagai kasta. Dengan pakaian yang bermacam-macam gaya. Ada yang casual dengan celana jeans panjang dan kaos sebagai atasan. Tak sedikit juga tampil lebih berani, seksi dan terbuka.
Hal yang seronok bukanlah aib di sini. Menggunakan rok mini, pakaian dengan punggung terbuka atau dadanya terdedah bebas, dan banyak lagi model pakaian kurang bahan demi menarik perhatian lawan maupun kawan.
Pencahayaan lampu memang redup temaram, menina bobokan jiwa-jiwa yang seperti kerasukan.
Lampu disko tampak berputar di tengah ruangan. Sorot lampu aneka warna yang menembak ke sana kemari, mengikuti irama alunan musik happy dengan hentakan yang sangat keras.
Diantara deru musik yang bagai gempa di d**a, semua mencari kesenangan dengan caranya sendiri. Beberapa tangan memegangi gelas berisi minuman yang melenakan. Sedangkan tangan yang lainnya saling berangkulan mencari mangsa demi sebuah lembaran.
Aroma parfum, kepulan asap rokok, serta hembusan nafas berbau alkohol, sesak, menyengat memenuhi ruang nafas.
Jika kau belum terbiasa, pasti mengatakan kami semua orang gila. Yang menikmati dunia yang memekakkan gendang telinga, dan menganggapnya sebagai surga dunia. Surga bagi penikmat kehidupan malam.
Bunga mengedarkan pandangan ke segala arah, mencari mangsa yang siap untuk di jarah. hingga salah seorang kaki tangan Mira datang menghampirinya. Dia bahkan berteriak di telinga Bunga, agar pesan dari Mira dapat tersampaikan.
"Mira menunggu di lobi karoke."
Bunga mengangguk, mengiyakan. Lalu pergi mengekori mereka dari belakang.
'Kenapa Mira memintaku datang ke sana? Kenapa tidak di sini saja?' gumam Bunga dalam hati.
-
-
"Ada apa mencariku?" tanya Bunga dengan nada santai. Dia telah bekerja dalam waktu yang lama pada Mira. Mereka sudah seperti teman, tidak lagi ada perasaan takut atau segan seperti saat pertama kali Bunga bekerja sebagai wanita malam milik Mira.
"Kau sudah datang Bunga?" Mira menyambut Bunga di lobi karaoke.
Bunga mengangguk, membanting tubuhnya di sofa, berhadapan dengan Mira.
"Tumben nyuruh ke sini. Enggak ke atas aja?" tanya Bunga. Biasanya tamu yang diberikan kepada Bunga akan dipertemukan di meja bar, atau di lantai dansa oleh Mira.
"Ini permintaan konsumen." Mira tersenyum sambil mengepulkan asap rokoknya ke udara.
"Lagian kalau disana aku capek. Bicara aja harus teriak-teriak," lanjut Mira, di akhiri dengan tawa yang memperlihatkan deretan giginya yang berkilau hasil veneer dan treatment kecantikan lainnya.
"Kamu punya tamu siapa untukku malam ini?" tanya Bunga tanpa sungkan.
"Orang lama, entah kamu masih ingat atau sudah lupa."
"Orang lama? Waaw! Berarti dia sudah tau kualitasku dalam melayani." Bunga meraih rokok Mira. Direkatkan sebatang rokok lainnya untuk dia bakar.
Mira tertawa.
"Kenapa nggak minta korek saja!"
Bunga menggeleng, “Aku tidak suka memantik api. Lebih baik memanfaatkan yang ada.”
"Hish! Sok filosofis!"
Bunga tertawa, kepulan asap tebal ikut terlempar dari mulutnya.
"Kamu beneran sudah bersih kan?" Mira menanyakan soal tamu bulanan Bunga.
"Aman! Dijamin no komplain!" Bunga meyakinkan. "Mana seh Orangnya?"
Mira mengedarkan pandangannya, mencari sosok yang akan mengisi kantong-kantong miliknya malam ini.
"Ya sudah, biar aku yang nunggu disini. Kamu urus yang lain aja." Bunga mempersilahkan Mira pergi. Tapi Mira menolak.
"Nggak apa-apa, aku juga pengen ketemu dia. Yang lain sudah diurus anak buahku. Akupun telah lama merindukannya."
Jika Mira bersikeras bertahan, berarti tamu kali ini benar-benar spesial. Siapa dia?
"Maaf, telah membuat kalian menunggu." Sebuah suara berat penuh wibawa, penuh aura kejantanan mendekat. Meluncur dari bibir seorang laki-laki berpakaian jas lengkap. Garis wajah tak membohongi usianya. Menyiratkan kenangan masa lalu yang tak ingin terbuka kembali.
Mereka seumuran, hanya saja perjalanan takdir yang membuat mereka berbeda. Mira terjerat dan terperangkap oleh pesona lama milik tamunya itu.
"Kau tidak pernah berubah Alex, masih saja tampan seperti dulu," puji Mira. Pandangannya tak lepas dari rahang tegas dan penampilan berkelas milik Alex. Lekukan roti sobek milik Alex bahkan sudah terbayang, tembus melewati kemeja dan jas yang dia kenakan. Tampilan laki-laki berdarah campuran Turki-Indo itu menggetarkan hati Mira. Dia menggigit gemas bibir bawahnya menahan deru rasa dari bagian tubuhnya yang lain.
"Kalian juga masih tetap terlihat cantik seperti yang kulihat terakhir kali." Alex mengembalikan pujian Mira.
Mira beranjak, mempersilahkan Alex dan Bunga bernostalgia dan menghasilkan uang untuknya.
"Bebas ya, mau booking in atau out. Nanti registrasi saja seperti biasa." pesan Mira sebelum meninggalkan Alex dan Bunga.
Tak lupa di coleknya dagu Alex, lalu mendaratkan kecupan penuh menggoda di pipinya. Alex tersenyum, tapi tak menahan tubuh itu pergi.
“Apakah tidak ada potongan khusus untukku, sebagai apresiasi atas kedatanganku?” seloroh Alex.
“Apakah kau ingin membayar murah untuk mendapatkan sesuatu yang berkelas Alex? Tentu tidak bukan!” balas Mira tak mau rugi. "Bunga, ingat! Besok pagi kita bertemu lagi di sini." Mira mengingatkan janji temu mereka esok hari, sebelum menghilang diantara tubuh para tamu yang menyesaki rumah hiburan Alexa.
Tatapan mata Alex dan Bunga beradu. Bukan karena rindu tentang masa lalu. Melainkan ada cerita sendu yang berusaha disembunyikan agar tak terhidu.
---
"Bagaimana, Anda sudah puas?" tanya Bunga yang masih berbaring hanya berbalut selimut hotel.
"Hmmm ... seperti yang sudah-sudah. Kau sangat menggairahkan! Dan hebat dalam urusan yang satu ini." Alex memuji. Dibaringkan tubuh letih yang penuh peluh di ranjang empuk, samping Bunga.
"Tapi selalu saja harus menggunakan ini!" Protes Alex sambil melepaskan pengaman dari benda miliknya.
Bunga menyeringai.
"Tentu saja, aku tidak ingin ada benih yang tumbuh di sana."
"Tapi kau berikan kesempatan benih lain tumbuh di sana!" sindir Alex. Di tatapnya langit-langit hotel. Pandangannya menghitam karena berkali-kali mencapai puncak pendakian.
Bunga bangkit dari tempat tidurnya. Berjalan menuju balkon, menikmati fajar yang baru saja muncul di ufuk timur. Lukisan Sunrise yang cukup indah dari kamar hotel berbintang lima dengan ketinggian 30 lantai.
"Tak perlu kau singgung lagi soal itu! Kau hanya perlu menikmati pelayananku, membayarnya. Dan segera pergi seperti yang lainnya." Bunga menyulut rokoknya. Di semburkannya asap itu kuat-kuat, berharap semua mood negatif dalam hatinya ikut terhempas.
Alex bangkit menyusul Bunga dengan tubuh sama-sama tanpa busana. Dipeluknya tubuh Bunga dari belakang, di raihnya rokok di tangan Bunga, lalu dia matikan.
"Apa kau sudah lupa, aku benci melihat wanita merokok!"
Bunga tersenyum kecut.
"Maaf, Kau bisa mengurangi pembayaranku sebagai kompensasi."
Alex menggelengkan kepala.
"Tidak mungkin aku melakukan itu. Aku minta nomor rekeningmu, agar bisa memberikan tips yang sesuai kepadamu. Karena kepuasanku atas pelayananmu."
"Kenapa tidak titip di Mira saja!"
Alex tersenyum.
"Aku tau bagaimana liciknya rubah betina satu itu. Aku tidak mau mencurangimu."
Alex membalikkan tubuh Bunga. Mencoba mengecup bibir yang tidak pernah membuatnya bosan, selalu gairahnya yang bangkit.
"Aku ada janji bersama Mira! Aku harus bergegas!" Bunga memalingkan muka, berusaha menolak. Dia bergerak untuk meloloskan diri, tapi Alex menahannya.
"Kenapa terburu-buru, mari kita bermain satu kali lagi."
"T-tapi Mir-mira ...,"
"Dia akan menunggumu. Aku akan memberikan bonus yang setimpal untukmu." Bisik Alex di telinga Bunga. Dilanjut dengan serangan pada bibirnya.
Mereka saling terengah-engah dalam aktivitas pembuka. Tak berselang lama tubuh Bunga telah melayang keatas springbed dengan ukuran besar dari suite class. Alex kembali mengulang kerinduannya pada wanita idamannya di masa lalu. Sedangkan Bunga melaksanakan kewajibannya sebagai pelayan kamar demi upah dan bonus yang dijanjikan.
“Terima kasih untuk semua pelayananmu, kau memang profesional dan totalitas. Selalu bisa memenuhi imajinasi liarku di alam nyata! Bahkan lebih dari itu. Aku suka gaya barumu, Bunga. Semua kerinduanku yang tertumpuk selama bertahun-tahun terbayar sudah, hanya dalam permainan kita yang singkat ini." Alex berbicara sambil bangkit menuju kamar mandi.
Hatinya masih menginginkannya, tapi fisiknya sudah tidak mampu. Pedahal dia sudah menjaga kebugaran selama beberapa minggu terakhir demi bertemu dengan bunga malam idamannya.
Lagi pula dia masih harus menyelesaikan urusan lainnya.
Bunga melemparkan pandangannya ke arah balkon.
'permainan singkat katanya! Aku sampai kepayahan, tidak diberi waktu istirahat sejak malam tadi, dia bilang singkat!' Bunga mendengus dalam hati.
Direbahkan punggungnya, lurus di atas ranjang, mencoba menetralisir rasa pegal di seluruh tubuhnya. Juga rasa nyeri di tubuh bagian lainnya. Dia bisa beristirahat sebentar sambil menunggu Alex selesai menggunakan kamar mandi.
Dreeet, Dreeet, Dreeet!
Belum sempat Bunga menutup matanya dengan nyenyak, handphonenya yang ada di atas nakas tepat di samping ranjang bergetar. Membuyarkan keinginannya untuk terlelap sebentar saja. Dengan malas Bunga meraih ponselnya.
"Mira!" ucap Bunga lirih. Malas untuk mengangkatnya. Bukankah perjanjiannya dengan Mira masih satu jam kedepan.
Mira melemparkan ponselnya ke atas ranjang. Namun karena tak juga berhenti, mau tidak mau dia mengangkatnya juga.
"Hmm, ada apa Mira? Bukankah pertemuan kita masih satu jam kedepan? Aku ingin istirahat dulu." pinta Bunga, dia paham betul batasan fisiknya.
Terdengar suara tawa renyah milik Mira di ujung sana.
"Kau main berapa ronde Bunga? Jangan rakus! Sampaikan pada Alex untuk segera menemuiku. Akupun ingin merasakan miliknya. Sudah lama sekali aku tak mengecapnya." pinta Mira tanpa malu-malu. Bahkan Bunga saja tidak pernah sevulgar itu.
"Dia sedang membersihkan diri. Akan kusampaikan nanti. Aku ngantuk. Mau tidur dulu."
"Baiklah, kuberi waktu tigapuluh menit. Setelah itu bergegas kemari. Aku tidak mau menunggu lama!"
Bunga terbelalak, Mira hanya memberikan waktu tigapuluh menit saja. Sedangkan seluruh tubuhnya terasa remuk redam. Tapi biarlah, daripada tidak sama sekali.
"Baiklah, aku tutup dulu telponnya. Mataku sudah tidak kuat!"
Terdengar suara tawa dari ujung telpon.
Klik!
Bunga menutup sambungan telpon, meletakkan ponselnya di ranjang. Disusul matanya yang ikut terpejam, tak dapat di tolerir lagi.
Selepas membersihkan diri, Alex bersiap untuk pergi. Dia berpakaian rapi kembali seperti sediakala, seperti saat sebelum memulai pertarungannya dengan Bunga.
Alex tersenyum memandangi wajah letih Bunga. Wajah yang sedianya ingin dipersuntingnya sejak dulu. Meskipun bukan menjadi yang pertama. Tapi dia pernah menjanjikan bahwa Bunga akan dijadikan miliknya yang utama.
Alex mengecup kening Bunga, membuat Bunga sedikit terperanjat dan tersadar dari mimpi indahnya.
"Maaf aku mengganggu tidurmu." sesal Alex.
"Akh, kau sudah selesai." Bunga mencoba membuka matanya yang terasa diberi perekat.
"Istirahat lah! Jangan paksakan dirimu." Alex memberi nasehat.
"Seharusnya itu kau katakan sejak tadi malam. Saat kau sudah mencapai puncak beberapa kali." keluh Bunga.
Alex tertawa.
"Maaf, tapi rindu ini bertumpuk kian menggunung. Membuatku menjadi gila sejak tadi malam." Alex mengusap lembut kepala Bunga. Tidak ada lagi nafsu seperti sebelumnya. Yang ada hanya rasa sayang yang tulus dan sedikit iba, melihat kehidupan Bunga yang seolah tidak ada kemajuan. Entah sampai kapan dia akan menjalani profesinya sebagai Dewi Malam.
"Aku pergi dulu! Beristirahat lah! Aku akan segera mentransfer bonusmu selagi di perjalanan nanti." Alex bangkit dari pinggiran ranjang. Dia tak ingin mengganggu waktu istirahat Bunga.
"Alex!" seru Bunga. Dia hampir terlupa pesan Mira untuk Alex.
"Ya?" Alex membalikkan tubuhnya yang tinggal selangkah lagi menghilang di balik pintu. Berharap wanita di atas ranjang itu menahan kepergiannya kali ini.
"Mira ingin kau mendatanginya. Hampir saja aku lupa!"
Alex tersenyum, mengacungkan ibu jari dan jari telunjuk yang terhubung dan membentuk simbol OK, kemudian berlalu. Menghilang di balik pintu.
Bunga melirik penunjuk waktu di ponselnya.
'sepuluh menit, beri aku waktu sepuluh menit lagi. Setelah itu aku akan segera bersiap.' Bunga sedang bernegosiasi dengan waktu. Berharap sepuluh menit itu cukup untuk mengisi ulang tenaganya hingga utuh.
Kesadaran Bunga semakin mengambang dan akhirnya terlena. Bunyi notifikasi dari M-banking miliknya sudah tidak di tangkap indera pendengarannya lagi. Seperti janjinya, Alex mentransfer Bonus Bunga secepat kilat.
Bunga melanjutkan mimpinya melancong ke Jepang bersama Tiara. Menikmati hujan salju dan badai bunga sakura di sana. Kebahagiaan jelas terpancar dari wajah Tiara, puteri kecil kesayangannya. Bunga pun menikmati kebahagiaan itu. Karena sejatinya kebahagiaan Tiara pasti menjadi kebahagiaan miliknya juga.
Bahkan Bunga tersenyum dalam tidur nyenyaknya.