"Kak El nggak papa telat ke kantor?" Tanya Taris. "Nggak papa, udah sana masuk. Istirahat yang banyak ya." Balas El lembut, ia mengelus puncak kepala Taris. Sudah menjadi kebiasaannya, dan hal itu juga salah satu yang Taris sukai dari perlakuan El. "Nanti mau Taris anterin makan siang?" "Kamu nggak capek?" "Enggak papa, mau enggak?" "Mau deh." Balas El menunjukkan senyum lebarnya. "Mau Taris buatin apa nanti?" "Terserah kamu. Apapun aku makan." Taris tersenyum, entah kenapa sikap El terlihat lebih manis dari biasanya. Padahal baru kemarin mereka bertengkar hebat, satu minggu tidak saling menghubungi, dan sekarang semuanya tampak normal hanya karena malam itu. Malam dimana Taris menyerahkan semuanya pada El. "Yaudah Taris masuk ya, Kak. Ati-ati nyetirnya." El mengangguk, ia menciu

