Nine

2892 Words
pada rapat kali ini. Jari-jari tangan kirinya mengetuk-ngetuk meja rapat itu sambil menunggu peserta rapat lainnya. Tugas Edwin kali ini adalah melihat sejauh mana persiapan peluncuran produk baru perusahaan milik ayah Edwin itu. Dia menunggu devisi operasional dan Marketing selaku petugas persiapan acara yang akan di laksanakan satu Minggu kedepan. Yah akan ada Samara nantinya, akan seperti apa gadis itu setelah pertengkaran mereka hari ini. Flashback on "Masuk-masuk wajah jelek banget, berantem sama menantu papah!", Cibir pak Lewis saat melihat Edwin masuk ke ruangannya dan mendudukkan dirinya ke sofa. "Apaan sih, nggak!". "Tuh, tuh, jangan dijelek-jelekin lah wajah yang warisan dari papah itu", goda pak Lewis. Edwin hanya berdecih kesal mendengar ucapan ayahnya, sungguh dia masih dalam mood yang sangat buruk hingga tidak terpengaruh dengan becandaan ayahnya. "Ed, hari ini kamu pimpin rapat buat peluncuran produk Minggu depan, undangan jam satu ya, kamu yang tanggung jawab juga acara itu nanti". Pinta pak Lewis pada putranya. "Aku belum setuju kerja disini kalau papa lupa!". Ketus Edwin. "Eh, ini ibu negara minta ditemenin ke reuni Ed, kamu berani nolak hah!". "Ah ok!", Sungguh Edwin tidak bisa menolak permintaan dari papanya itu jika mamanya yang jadi alasan. Flashback off Edwin menatap arloji yang ada di tangannya. Jarum panjang sudah berhenti pada angka dua belas, dan jarum pendek di angka satu. "Mulai sekarang", perintah Edwin pada Bara, asisten ayahnya. "Tapi devisi Operasional belum lengkap pak, mereka yang akan presentasi". Jelas Bara. "MULAI SEKARANG !", Kata Edwin dengan nada yang keras pada Bara, yang membuat peserta yang sudah ada disana seketika diam dan suasana hening. Bara yang mendapat perintah itu hanya mengangguk dan segera mengambil microphone untuk memulai rapat hari itu. Dilain tempat. Tok tok tok "Mbak samara maaf gue langsung masuk", Lian masuk kedalam ruangan Samara. "Eh mbak, elo udah di tunggu di ruang rapat". kata Lian yang kaget melihat Samara masih duduk di sofa nya sambil melihat kotak bekal makan siangnya. Samara mendongak melihat ke arah Lian, "eh iya Li, elo duluan aja, bawa laptop gue, disana materinya, gue bersih-bersih bentar, ntar gue nyusul" Lian mengangguk lalu beralih ke meja Samara dan mengambil laptop ber logo apel itu di meja bosnya. Sedangkan Samara, gadis itu langsung ke toilet yang ada diruang nya lalu membasuh wajahnya dan memberikan tambahan make up di wajahnya agar tidak terlihat berantakan. Setelahnya, gadis itu meninggalkan ruangan untuk menuju ruangan rapat yang ada di lantai di atasnya. Ruang Rapat. Bara mendekat ke arah Edwin Lalu membisikkan sesuatu, "setelah ini giliran devisi operasional yang akan menyampaikan materi, tapi kita tunggu dulu pak, karena ibu Samara belum hadir disini". "Lo tau nggak, itu buang-buang waktu om, nggak becus kerja emang". balas Edwin bukan berbisik, sehingga semua orang di ruangan itu mendengarnya. Tok tok tok "Permisi", semua mata melihat kearah pintu masuk. Ada Lian disana yang masuk terlebih dahulu membawa laptop milik Samara. Dan tak lama Samara masuk keruangan itu dengan gaya khasnya yang selalu terlihat luar biasa. Tak sengaja mata Edwin bertemu dengan mata gadis itu, namun keduanya langsung membuang muka. "Oh, ibu Samara silahkan sekarang giliran devisi ibu yang menyampaikan konsepnya". Bara sedikit bernafas lega melihat manajer devisi operasional itu telah hadir diruangan itu. Dan samara langsung saja mengkode Lian untuk menyiapkan laptopnya agar bisa di sambungkan dengan proyektor. Dan samara sendiri mengambil posisi di depan, untuk menyampaikan konsepnya untuk acara peluncuran produk itu. Edwin ikut menghadap kearah Samara yang sedang berdiri didepan sana. Dia berusaha mencerna apa yang Samara sampaikan, merasa diperhatikan seperti itu Samara sedikit grogi namun dapat dia tutupi dengan gestur tubuhnya yang selalu sempurna. Samara masih dengan penjelasannya saat Edwin tiba-tiba menyela, "nggak menarik, ganti!". Ucapnya. Semua orang diruang itu diam sejenak dan mengalihkan pandangannya pada Edwin. Gila saja, ini konsep yang dibuat Samara sangat spektakuler, bahkan seisi ruangan itu sempat terkagum kagum dengan apa yang di sampaikan oleh manajer operasional itu. Samara menarik nafasnya dalam dan menutup matanya sejenak, " Mohon maaf pak Edwin, konsep ini sudah saya diskusikan dengan pak Lewis sebelumnya, dan beliau sudah setuju". "Pak Lewis sudah menyerahkan acara peluncuran itu pada saya, jadi saya yang menentukan konsep yang anda buat itu bisa di pakai atau tidak ibu manajer", kalimat Edwin kali ini sangat dingin khas seperti atasan kepada bawahannya saat tidak bekerja dengan baik. "Baik, saya akan buatkan konsep yang baru pak". Putus Samara lalu menarik kursi dan duduk di tempat yang sudah disiapkan untuknya sebagai manajer operasional, yang kebetulan sangat dekat dengan tempat duduk Edwin. "Ok, saya rasa pertemuan kali ini bisa di akhiri. Namun sebelumnya saya hanya ingin memperingatkan, saya sangat tidak mentolerir sikap tidak disiplin, telat masuk kerja, telat masuk rapat itu hal yang sangat tidak baik untuk kelangsungan perusahaan ini, jadi mohon kerjasama nya, bisa di mengerti ibu manajer". Samara menoleh ke arah Edwin yang duduk dekat dengannya, tatapannya sungguh tidak bersahabat untuk Edwin, "bisa di pahami!". Ulang Edwin lagi. "Sangat bisa pak Edwin". Jawab Samara dengan tegas. * * * Samara melempar, nametagnya di sofa ruangnya. Emosinya meledak saat itu juga. "Edwin sialan, apa sih maunya dia, sok kepinteran banget bilang konsep gue nggak bagus, emang tau apa dia hah". Samara memaki laki-laki itu dalam hatinya. Samara kembali membuka laptopnya, menggeser krusor beberapa kali dan mulai menyusun konsep untuk peluncuran produk mereka. "Mbak maaf, gue masuk nggak ngetok pintu", Lian memberanikan diri untuk menemui Samara karena saat ini jam pulangnya sudah lewat lebih dari satu jam. "Mbak, ada yang bisa gue bantu nggak, kalau nggak ada gue boleh minta izin", Lian mengatakan itu sambil menunduk Karana rasa nggak enak dan takutnya. Samara melihat arlojinya, " oh udah jam segini ya Li, Lo pulang aja ya, gue bisa handle kok, kasian anak Lo dirumah, sorry ya buat Lo pulang telat!". "Eh iya mbak, gue duluan mbak". Pamit Lian lalu mendapatkan anggukan dari Samara. Samara kembali berkutat dengan laptopnya, tidak diragukan lagi gadis itu memang sosok yang cerdas. Idenya untuk acara Minggu depan itu sudah tertuang di laptopnya itu. Bahkan gadis itu tidak hanya membuat satu konsep tapi dua, dan lengkap dengan visualnya. Matanya mengerjap beberapa kali, menyandarkan tubuhnya pada kursi kebesarannya. "Oh s**t, gue lupa, audit dari kantor pajak", Samara memijat pelipisnya. "Makan sama sholat Maghrib dulu apa ya", gumam Samara. "Hallo pak, tolong pesenin mi ayam sama es teh ya, ini saya Samara, tolong dianter keruangan saya aja pak, oiya bapak sama temen bapak sekalian pesen ya pak, sama anak-anak marketing yang lagi rapat di bawah pesenin sekalian ya". Samara menghubungi satpam untuk memesankan makanan di warung mie ayam yang ada disamping gedung itu, yang merupakan langganan dari pegawai dikantor itu. Samara segera mengambil air wudhu dan menunaikan sholat Maghrib di ruangannya. Setelah itu Samara menyempatkan untuk melihat aplikasi w******p miliknya, menggulir kebawah untuk mencari nama mamanya. ""Mah, kangen". Ketiknya. "Idih, manja". Balas mama Sania. "Aaaaa mamakuhhhh". "Maem belum kak, ini mama papa sama Kenzie lagi maem ayam goreng lho". "Baru selesai sholat ma, bentar lagi deh kayaknya". "Yaudah, take care yah, anakkuhhh seyeng". "Iya mamahkuuuuh suyungggg". Balas Samara sambil tersenyum. Moodnya tiba-tiba membaik setelah menghubungi ibu sambungnya itu. * * Pak Lewis dan ibu Farah masuk gedung Lew's group malam itu. "Kok turun dari lift, emang diatas masih ada siapa pak?", tanya pak Lewis saat melihat satpamnya keluar dari lift. "Oh, ada devisi dan ibu Samara pak lagi lembur diatas, oiya pak Lewis ada yang ketinggalan, apa perlu saya ambilkan?". Pak Lewis dan ibu Farah saling pandang, "oh Hp saya ketinggalan, saya ambil sendiri aja". Sebelum keluar dari lift khusus direktur, pak Lewis melihat rombongan anak-anak marketing yang baru menunggu di depan lift khusus karyawan yang bersebelahan dengan lift pak Lewis "Malam pak buk", sapa anak marketing serempak saat melihat bis mereka. "Malam, baru selesai meeting ya?". "Iya pak". "Udah makan malem belum kalian?". tanya pak Lewis lagi, bos diperusahaan itu memang sangatlah ramah. "Udah pak, kebetulan mbak Samara lagi lembur, kita di traktir deh!". jelas salah satu marketing disana. "Lembur buat audit besuk mungkin ya, tapi kok nyampe larut banget", "Kayaknya lembur konsep launching buat Minggu depan pak, yang di presentasikan tadi siang di tolak sama pak Edwin, padahal keren banget pak, mana waktunya udah mepet lagi". Tambah Dirga supervisor di devisi marketing. Ting ,pintu lift terbuka. Semua anak marketing masuk kedalam lift itu setelah berpamitan, meninggalkan orang tua Edwin disana. "Padahal konsepnya keren banget loh mah, dasar Edwin!', pak Lewis berdecih sebal. "Keruangan mantu kita pah". Ibu Farah menarik tangan suaminya. Samara berdiri di bufet yang menyimpan data-data fisik keuangan perusahaannya sambil memegang buku dengan tebal yang lumayan saat pak Lewis dan ibu Farah masuk ke ruangannya. Tok tok, "Ya masuk". Samara tidak melihat saat mempersilahkan orang yang mengetuk pintunya. "Samara", panggil ibu Farah. Samara menoleh dan kaget saat melihat ibu Farah dan pak Lewis ada di ruangannya saat ini. "Ra, saya denger Edwin nolak konsep kamu yang kemarin ya?, Kenapa di tolak sih!", Samara langsung diberondong pertanyaan oleh pak Lewis. "Eh duduk dulu pak Bu!", Sopan Samara saat melihat pasangan suami istri yang notabenenya adalah bos di perusahaan ini. Ibu Farah menarik tangan Samara dan mengajak gadis itu untuk duduk, "bentar deh pah, nggak usah di tanya dulu, nih belum makan juga, sendirian uuuu sayang, kasihan banget mantu mama". Samara membolakan matanya lalu menggaruk tengkuknya yang tiba-tiba gatal melihat sikap ibu Farah padanya. "Iya pak, pak Edwin nolak, tapi aman pak, saya udah buat dua konsep lagi, semoga pak Edwin puas", jawab Samara dengan sopan. "Bener-bener anak itu minta dihajar emang", gerutu pak lewis. "Ini udah selesai belum sayang?". tanya ibu Farah lagi. "Ohh, ini saya baru ngerjain bahan buat audit besuk Bu, rencananya sih mau dikerjain tadi, tapi lupa gara-gara tadi habis meeting langsung ngerjain konsep Bu". Pak Lewis menggelengkan kepalanya beberapa kali, "papa ambil HP dulu di ruangan papa ya mah". Pak Lewis langsung saja keluar dan menuju raungannya untuk mengambil ponselnya. * * * Edwin memainkan gitar dibalkon apartemen pribadinya, tempat tinggalnya selama ini. Pria itu mengalunkan lagu Risalah Hati dari band Dewa 19. Dert Dert Daddy is calling..... "Hai pah". "Balik ke kantor kamu". terdengar judes dan sangat keras, bahkan Edwin menjauhkan ponsel itu dari telinganya. "Pah, jam berapa pah, arlojinya minta ganti tuh". "Papah nggak bercanda Edwin, COME HERE RIGHT NOW", Teriak pak Edwin lebih tegas lagi. "Iya pah iya, kenapa sih?" tanya Edwin lagi sambil mematikan sambungannya. Edwin meletakkan gitarnya lalu nyalakan rokok sebelum benar-benar pergi, Dertt dertt Mommy is calling..... Belum sempat Edwin menyapa ibunya itu, "kamu apaain mantu mamah ha?". "Apaan sih mah, ngapain Edwin nggak ketemu suami mbak Risa juga", kilah Edwin karena tiba-tiba mamanya menyembur menuduh Edwin. "Belagak nggak tau, mantu cewek mama, Samara!". "Oh, kenapa emang?", Edwin berlagak tidak perduli. "Kalau ada masalah selesaikan, nggak di bales di kerjaan gini". Bentak ibu Farah seketika. "Kamu kesini sekarang, bawain makan malem juga, dia beli mie ayam tapi udah kelamaan nggak enak". Perintah ibu Farah pada putranya. Edwin membuang puntung rokoknya lalu menginjak agar mati. Berdecak kesal namun tetap menuruti ibunya. Empat puluh menit kemudian Edwin sudah sampai di gedung kantornya. Edwin naik ke lantai dimana Samara berada dengan membawa sate kambing kesukaan Samara. Edwin masuk ke ruangan Samara dan melihat orang tuanya juga ada disana. "Tu dia orangnya!", Pak Lewis berkata dengan nada yang menyebalkan saat melihat Edwin datang. "Temenin Samara, tanggungjawab udah bikin mantu mama lembur". Perintah ibu Farah pada putranya. "Yaudah sayang, mamah papah pulang dulu ya, gantian Edwin yang nemenin ya!", Farah memeluk Samara lalu mencium rambut gadis itu. "Oiya Bu, sebenarnya Samara sendiri nggak papa sih". "Kok Bu lagi, panggil mama oke", protes ibu Farah. Samara hanya mengangguk kecil mendengar protes dari ibu Farah. Setelah kepergian pak Lewis dan istrinya dari ruangan itu, tinggal dua orang yang masih dalam mode musuhan itu dalam ruangan itu. Samara kembali duduk di sofa nya dan kembali membuka bahan laporan keuangan yang akan disiapkan untuk audit besok. "Nih, sate kambing" , Edwin meletakkan bungkusan makanan favorit Samara tepat di depan gadis itu. Samara melihat sekilas, "nggak butuh". Jawabnya. "Kalau nggak disuruh mama gue juga nggak mau beliin itu, dan satu lagi, gue nggak Sudi datang kesini, buang-buang waktu", teriak Edwin pada Samara. "Lo bisa pergi sekarang, bawa sekalian makanan elo, gue nggak butuh", balas Samara tak kalah keras. Edwin diam sejenak, dia mengambil ponselnya yabg bergetar di saku celana. "Ya mah". "Iya, ini temenin Samara". "Iya mamah". Edwin menyerahkan ponselnya ke tangan samara, "mama mau ngomong". "Iya Bu". "Kok Bu lagi. Sayang, Edwin nemenin kan?".tanya ibu Farah dari ujung telvon. "Iya mah, ini masih disini kok". "Kalau macem-macem lapor ke mama aja ya, awas aja itu anak kalau berani sama kamu", omel ibu dari Edwin itu. Ada sedikit ide yang melintas di benak Samara, lumayan juga ngerjain orang yang paling nyebelin sedunia itu. "Tapi tadi Edwin galak sih mah, aku di bentak-bentak, ngasih makan malem aku sambil di lempar, sakit hati aku mah", adu Samara pada ibu Farah. Mendengar itu Edwin yang tadinya hanya berdiri memperhatikan Samara menjadi mendekat. "Ehh, nggak ada kaya gitu mah, siniin hpnya!", Protes Edwin sambil berusaha mengambil ponselnya namun ditangkis Samara. "Tuh kah mah, denger sendiri galak banget!", suara Samara seolah-olah sangat sedih. "Kasih hpnya ke Edwin sayang!", perintah ibu Farah pada Samara. Samara melotot pada Edwin, "nih", ujarnya setengah berbisik "Awa sakit Edwin", ujarnya keras. "Gue nggak ngapa-ngapain elo Samara", teriak Edwin. "Kamu kasar banget sih, tangan aku sakit", yah akting Samara memang perlu di perhitungkan. "Edwin, ngapain Samara hah?, Minta maaf sekarang". "Nggak mah, apaan, Edwin nggak ada ngapa-ngapain Samara" kilah Edwin. "Minta maaf sekarang!". "Apaan nggak". "Minta maaf!" "Iya mah iya, ya Ampun, ntar minta maaf". "Sekarang mama mau denger". Arghh, siapa sih yang anaknya. Kenapa mamahnya sangat menyebalkan malam ini. Sungguh menyedihkan sekali si Edwin ini. "Ra, gue minta maaf ya!", Kata Edwin agak keras. "Aku selalu maafin kamu sayang, meskipun kamu kasarin aku, selingkuhin aku, aku selalu maafin kamu", Jawab Samara dengan keras dan nada memelas. "Kamu pernah selingkuh dari Samara Ed, anak kurang ajar, awas aja kamu". Omel ibu Farah sejadi-jadinya, membuat Edwin menjauhkan ponsel nya dari telinga. "Iya mah, udah Edwin mau baikan dulu sama Samara ya, aku matiin ya", Edwin mematikan panggilannya. Samara tertawa terbahak-bahak dengan skakmat yang dia berikan pada Edwin. Lalu dia kembali hening dan fokus pada kertas-kertas nya. "Beneran drama queen", Edwin menggelengkan kepalanya lalu kembali duduk. "Lo boleh pergi sekarang, nggak guna", ketus Samara lagi. "Kalau nggak karena nyokap gue, ogah juga gue disini, sesuka itu nyokap gue ke elo yang muka dua gini, hah". "Yayaya, up to you, daripada nganggur Lo bisa lihat konsep yang gue buat untuk launching produk, ada dua tuh di laptop Lo pilih, kerjaan gue bukan cuma itu kalau Lo mau tau, kalau Lo nggak suka bisa cari IO aja biar Lo puas". Edwin mengedikkan bahunya lalu duduk di kursi kebesaran milik Samara, dan melihat konsep yang Samara maksud pada laptop gadis itu. Samara melirik Edwin dengan ekor matanya, ada desiran halus di hatinya. Ada rasa nyaman yang terselip disana karena kehadiran lelaki itu. "Gue pilih yang pertama aja", Edwin mengatakan hal itu tanpa melihat Samara. "Maksudnya?". "Yang tadi siang elo presentasi, yang itu aja!", Katanya. Oh tidak, apa coba maksud dari Edwin ini. "Maksud Lo apa hah?". Samara berdiri dan menggebrak meja didepan Edwin. "Lo dendam sama gue karena tadi gue tonjok?", Sulut Samara dengan tatapan tajamnya. "Hei, nggak ada masalah pribadi di sini, dari tiga yang Lo buat, yang pertama emang terbaik, itu distandar elo aja, nggak ada yang lain ini, lagian launching juga udah deket", Edwin masih dengan sikap tenangnya. "Elo ya Ed bener -bener". "Udah nggak usah emosi, lanjutin kerjaan elo, gue capek!", Samara hanya mendengkus kesal mendengar itu lalu berbalik ke Sofanya. Edwin menahan tawanya, seneng juga mengerjai gadisnya itu, tapi wait Edwin melihat mi ayam dan sate kambing yang ada di meja Samara belum tersentuh sedikitpun, sedangkan ini sudah lewat jam makan malam. "Ngapain Lo duduk disini?", Samara melotot ke arah Edwin yang tiba-tiba duduk disampingnya. "Apaan, gue cuma mau makan sate Kambing pak Jeger, emmmyummi, Lo nggak mau kan?", Samara melihat sebentar ke arah bungkusan yang mulai dibuka oleh Edwin. "Paling juga dari resto kemarin, bukan pak Jeger!", gumamnya namun masih didengar Edwin. "Eits, nggak lah mana ada resto kemarin take away nya di bungkus koran, emmm mayan masih anget", Edwin mencium aroma Sate itu dengan gaya lebaynya, seolah menggoda Samara. Dan ya, Samara sangat tergoda namun gengsinya lebih dari segala-galanya. Dia hanya menelan ludahnya karena tiba-tiba penuh di rongga mulutnya. "Gue punya mie ayam, endulll juga, wekkk". "Gih dimakan , mie udah kaya gitu, kalau kata kamu, iyuuuuuuuh", Edwin pake kata 'kamu', Blush. Pipi Samara memerah mendengarnya. Apakah ini artinya Edwin mulai mengibarkan bendera putihnya. Samara mengambil ponselnya, pura-pura menghubungi seseorang. "Mama Farah, ini satenya di makan Edwin sendiri, hiks", katanya sambil terisak. "Ehhh, beraninya ngadu ya, hem!". Edwin mengambil ponsel Samara. "Tapi bo Ong", Samara tertawa lebar dihadapan Edwin, seolah hari ini tidak terjadi apapun. "Buka mulut buruan, sama kerjain itu biar cepet kelar", Edwin menyuapkan sate kambing kesukaan Samara ke mulut gadis itu, dan Samara kembali mengerjakan laporan untuk audit besok pagi. Kedua orang itu tersenyum dalam hatinya, sungguh sebenarnya mereka saling mencintai sejak belasan tahun yang lalu. *** Demi apapun ini nyampai 2863 kata. Huftttt, perjuangan yang panjang. Konflik nya belum done ini ya, karena dengan besar hatinya mereka memaafkan satu sama lain tanpa mengingat percekcokan mereka sebelumnya. Utayangtayangtayang. Vomen kalau berkenan. Write and edit on 18 - 19 Juni 2021. Published on 20 Juni 2021. Love and hug you. DyahK8
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD