Rivka bangun agak siang hari ini, karena ia hari ini masih cuti. Beruntung juga ia menikah karena ia bisa mendapatkan cuti selama tiga hari, saat ini ia sedang haid sehingga tidak perlu bangun subuh-subuh untuk shalat. Wanita itu memilih tetap bergelung dengan nyamannya di dalam selimut tebal meskipun saat ini jam sudah menunjukkan pukulan sembilan pagi. Tadi, ia sempat terbangun sebentar untuk melihat jam dengan mata setengah terbuka, tetapi begitu melihat waktu yang masih menunjukkan pukul tujuh, ia kembali memejamkan matanya dan melanjutkan tidurnya.
Berbeda dengan Rivka yang memilih melanjutkan tidur, Rendy bangun pagi-pagi sekali. Laki-laki itu sudah bangun sejak pukul lima sore tadi, ia langsung mandi agar tubuhnya lebih segar. Usai mandi ia melakukan ritual rutinnya, apalagi kalau bukan merawat kulitnya agar tetap mulus? Serangkaian skincare wajah Rendy pakai di mukanya yang putih dan mulus itu. Sangat berbeda sekali dengan Rivka yang malas sekali memakai skincare, ia saja terpaksa memakai riasan saat pergi ke kantor, selebihnya kalau tidak ke kantor, maka ia tidak peduli kalau penampilannya dekil dan tak menarik. Rivka adalah orang yang cuek dengan penampilannya, sedangkan Rendy adalah orang yang begitu teliti dengan penampilannya sendiri. Laki-laki itu suka terlihat rapi dan bersih, ia tidak suka adanya kotoran dan Rivka malah sebaliknya. Perilaku mereka memang sangat terbalik, seperti sebuah sinetron yang mungkin saja mereka memerankannya dalam dunia nyata tanpa ada naskah segala.
Saat melirik ke arah Rivka yang masih tertidur dengan pulasnya, Rendy tersenyum sekilas. Merasa beruntung karena menjadi suami Rivka, seorang sahabat yang selalu ada bersamanya. Rendy kembali menatap cermin, memperhatikan kulit mulusnya yang sudah ia olesi dengan skincare.
Tok ... tok ... tok ....
Hingga sebuah ketukan pintu membuat Rendy mengalihkan pandangannya ke arah pintu yang tertutup.
"Iya, sebentar!" teriak Rendy.
Laki-laki itu langsung menutup mulutnya saat Rivka terdengar bergumam pelan, ia langsung menuju pintu kamar kemudian membuka pintunya pelan-pelan. Saat pintu terbuka, di depan ada Mbak Kia yang merupakan seorang manager Rendy, dengan beberapa orang yang sedang memegang kamera.
"Mbak Kia, ada apa pagi-pagi ke sini?" tanya Rendy bingung.
"Ren, fans lo banyak tuh yang pada minta vlog pagi pertama lo di hari pertama jadi suami. Gue sama tim punya ide nih, gimana kalau kita bikin prank pagi buat istri lo?" Mbak Kia langsung mengatakan maksud dan tujuannya.
"Prank pagi?"
"Itu loh, yang biasanya dilakuin sama orang-orang kebanyakan. Gue yakin pasti bakalan banyak yang nonton vlog lo ini, gimana? Mau nggak?" Rendy terdiam, pria itu melirik ke dalam kamar di mana Rivka sedang terhidang dengan nyenyaknya.
"Tapi Rivka lagi tidur, Mbak," ujar Rendy.
"Justru dia lagi tidur bisalah kita mulai prank-nya, Ren, pasti bakalan seru banget." Rendy menatap Mbak Kia dan juga timnya, merasa ragu karena ia tidak tega membuat Rivka terbangun. Apalagi Rivka terlihat sangat nyaman dalam tidurnya.
"Ayolah, Ren, buat kali ini aja. Ini juga buat fans lo, anggap aja ini hadiah lo buat mereka." Mbak Kia nampak membujuk Rendy.
"Iya, Ren, seru loh ini. Ikutan aja," sambung salah seorang timnya yang memakai topi.
"Ya udah deh iya, jadi aku harus apa?" Akhirnya Rendy setuju membuat semua tim yang mendengarnya pun senang.
Mbak Kia berbicara pelan mengenai rencana mereka untuk mengerjai Rendy, Rendy sudah bersiap-siap dengan rencana mereka, beserta kamera tersembunyi yang sudah dipasang oleh timnya. Saat mendapat kode dari Mbak Kia kalau ia harus memulainya, Rendy mengangguk kemudian masuk ke kamar Rivka.
Perlahan, Rendy duduk di tepi ranjang, sebelum memulai ia kembali melirik ke arah Rivka.
"Shhh, aduh, sakit!" keluh Rendy berpura-pura merasakan sakit di perutnya.
"Rivka, bangun, perut Rendy sakit," ujar Randy meringis sambil menggoyangkan lengan Rivka.
"Eum, Rendy ... lo jangan gangguin gue, gue masih ngantuk," gumam Rivka yang enggan membuka kedua matanya.
"Rivka, bangun, perut Rendy beneran sakit. Tolongin aku," ujar Rendy kembali merengek seperti bayi yang minta minum súsu.
"Rendy, apaan sih lo? Jangan gangguin gue bisa nggak? Gue capek banget tahu!" bentak Rivka dengan mata yang terpaksa terbuka karena kesal pada Rendy.
"Perut Rendy sakit, Rivka. Shhh ...." Rendy meringis, seakan ia benar-benar merasakan sakit luar bisa di perutnya.
Hal itu membuat Rivka mau tidak mau terdidik, wanita itu menguap kemudian menatap Rendy yang masih kesakitan.
"Kalau sakit perut ya tinggal ke kamar mandi BAB, udah kelar tuh urusan lo. Kenapa ngadu ke gue?" Rivka menatap Rendy sinis, nampak kesal karena laki-laki itu mengganggunya.
"Perut Rendy sakit bukan karena mau BAB, Rivka, tapi nggak tahu ini perutnya Rendy sakit banget."
"Jam berapa sih ini? Emangnya tadi lo makan apaan?" tanya Rivka.
"Sekarang udah jam sembilan, subuh tadi Rendy ke dapur cari makanan. Di kulkas tadi Rendy ambil kue hijau-hijau isi kelapa parut coklat yang rasanya manis karena lapar, terus Rendy makan. Abis itu Rendy belum makan apa-apa lagi," jawab Rendy.
"Barusan lo tadi bilang apa? Lo makan kue hijau yang ada di kulkas?" tanya Rivka mencoba memastikan.
"Iya."
"Rendy! Lo makan kue dadar gulung kesukaan gue!?" maki Rivka.
"Maaf, Rivka, Rendy nggak sengaja. Rendy tadi—"
"Rendy! Lo emang minta gue kasih pelajaran ya!" Rivka langsung menimpa tubuh Rendy dengan tangan yang seakan ingin mencekik leher Rendy.
"Rivka, perut Rendy masih sakit. Kenapa diginiin? Jangan cekik Rendy, Rivka. Rendy masih mau hidup." Tenaga Rendy jelas saja kalah dengan Rivka yang tenaganya bagaikan kuda.
"Biarin, gue nggak peduli sama sakit lo itu! Balikin nggak kue gue? Lo harus tanggung jawab! Baru aja sehari lo jadi suami gue, lo udah bikin kesal gue. Lo bukannya tahu gue nggak suka kalau ada yang ngambil sesuatu yang gue suka! Lo malah ngelakuin itu, Rendy. Rasanya pengen banget lo gue bunuh beneran!" Mbak Kia yang mendengar teriakan dari luar bersama dengan timnya pun menggaruk belakang kepalanya, mereka saling pandang seakan menyiratkan pikiran yang sama 'Perasaan bukan begini, tetapi seharusnya ada adegan romantis, kenapa malah di luar ekspektasi?' Kira-kira itulah isi kepala mereka.
"Cut! Surprise! Happy morning prank pasangan pengantin baru!" teriak Mbak Kia saat membuka pintu kamar pasangan itu dan muncul bersama timnya.
"Apa? Jadi ini prank?" tanya Rivka yang masih menindih Rendy.
"Rendy, apa-apaan ini, hah!? Gue nggak pernah setuju ya mau ikut masuk ke dalam konten lo!" Rivka nampak marah.
"Rivka jangan marah, Rendy cuma mau sekali aja Rivka ada di channelnya Rendy. Boleh ya?" Rendy memasang wajah imutnya, berusaha merayu Rivka.
Namun, tiba-tiba saja perutnya benar-benar sakit, kali ini bukan bohongan. Rendy yang tidak bisa menahan sakit perutnya pun mendorong tubuh Rivka hingga hampir terjengkang kemudian berlari menuju kamar mandi.
"Rendy, apa-apaan ini!? Untuk gue nggak jatuh!"
"Maaf, Rivka, perut Rendy sakit!" Rivka malah tertawa mendengarnya.
"Rasain lo! Kualat beneran lo karena ngibulin gue!" tukas Rivka nampak puas.
Mbak Kia dan timnya geleng-geleng kepala melihat tingkah pasangan luar biasa ini, ini baru hari pertama mereka menikah. Tidak yakin kalau pernikahan mereka akan baik-baik saja di hari selanjutnya, melihat hari pertama saja sudah begini.