Rahang Frank berdenyut-denyut. Padahal, ia baru saja merasa bahagia. Ia bisa terus melihat Kara, makan bersama, dan bahkan memeluknya lagi. Namun sekarang, perasaan itu musnah. "Tidak bisakah kau membiarkan aku mencintaimu?" tanyanya lirih. "Tidak." Kara menggeleng cepat. "Saya tidak ingin dicintai oleh pria yang akan menikahi perempuan lain. Pernikahan itu suci, Tuan. Anda tidak boleh mencemarinya dengan ego." "Haruskah aku membatalkan pernikahan?" Kara menghela napas pasrah. Perdebatan mereka seperti berputar-putar pada lingkaran yang sama. Jika dibiarkan, mereka tidak akan pernah menemukan jalan keluar. "Kalau begitu," desah Kara getir, "saya tidak akan pernah menampakkan diri di hadapan Anda lagi." Frank bertambah muram. Namun, sebelum ia sempat bicara, Kara menyela, "Kita sud

