(Bagian 1: Kehancuran yang Membutakan)
Setelah konferensi pers itu, hidup Maya berubah menjadi neraka dalam semalam. Semua kontrak kerjanya diputus, teman-teman sosialitanya menjauh, dan dia menjadi musuh publik nomor satu. Namun, bukannya menyesali perbuatannya, rasa iri di hati Maya justru bermutasi menjadi kegilaan yang murni. Dia merasa jika dia tidak bisa memiliki kehidupan yang mewah, maka aku pun tidak boleh memilikinya.
Malam itu, di apartemen baruku, suasana sebenarnya sangat tenang. Bimo sudah tidur lelap setelah seharian bermain di taman bermain gedung. Aku sedang duduk di ruang tamu, membaca beberapa dokumen yayasan sosial yang baru dibentuk, saat tiba-tiba bel pintu berbunyi berkali-kali dengan sangat kasar.
Saat aku melihat melalui kamera keamanan, jantungku seolah berhenti. Di sana berdiri Maya dengan pakaian yang kusut, rambut berantakan, dan mata yang merah. Dia tidak sendirian; dia membawa sebuah jeriken kecil yang baunya sangat menyengat bahkan dari balik pintu. Bau bensin.
(Bagian 2: Ancaman Maut)
"KELUAR KAU, ARINI! KELUAR!" teriaknya histeris. Suaranya bergema di lorong apartemen yang sunyi. "Kau sudah mengambil semuanya dariku! Kau mengambil uangku, kau mengambil harga diriku, dan sekarang kau ingin hidup bahagia dengan Tuan Sanjaya? Tidak akan kubiarkan!"
Aku segera menelepon keamanan gedung dan Adrian, namun aku tahu mereka butuh waktu untuk sampai ke lantai atas. Aku melihat melalui kamera, Maya mulai menyiramkan bensin di depan pintu kayu jati apartemenku. Tangannya memegang sebuah korek api gas yang apinya sudah menyala.
"Maya, hentikan!" aku berteriak melalui interkom. "Kau akan masuk penjara jika melakukan ini! Pikirkan Ibu!"
"Ibu?" Maya tertawa melengking, suara yang terdengar sangat tidak waras. "Ibu sekarang hanya bisa menangis memanggil namamu! Dia tidak peduli lagi padaku! Jika aku harus hancur, kita semua harus hancur bersama!"
(Bagian 3: Detik-Detik yang Menegangkan)
Aku segera berlari ke kamar Bimo, membangunkannya, dan membawanya ke balkon belakang sebagai jalan keluar darurat. "Bimo, dengarkan Kakak, apa pun yang terjadi jangan lepaskan peganganmu di sini, ya?" bisikku sambil mencoba menenangkan adikku yang gemetar ketakutan.
Tiba-tiba, aku mendengar suara brak! Pintu depan ditendang paksa. Bukan oleh Maya, melainkan oleh tim keamanan gedung yang akhirnya sampai. Namun, terlambat. Maya sudah menyulut api. Asap hitam mulai masuk melalui celah-celah pintu, memenuhi ruang tamu yang mewah itu.
Dalam kepanikan, aku melihat sosok tinggi menerobos masuk melalui pintu darurat balkon. Itu Adrian. Wajahnya penuh keringat dan kekhawatiran yang luar biasa. Dia tidak memedulikan asap; dia langsung menerjang ke arahku dan Bimo.
"Cepat keluar dari sini!" teriak Adrian sambil menggendong Bimo di satu tangan dan menarik tanganku dengan tangan lainnya.
(Bagian 4: Akhir dari Sebuah Obsesi)
Saat kami berhasil keluar ke lorong, aku melihat Maya sudah diringkus oleh polisi. Dia meronta-ronta di lantai, berteriak-teriak menyebut namaku dengan penuh kebencian. Api di depan pintu berhasil dipadamkan dengan cepat oleh sistem sprinkler otomatis gedung, meninggalkan bau hangus dan genangan air di mana-mana.
Adrian membawaku menjauh dari kerumunan, memelukku dengan sangat erat hingga aku bisa merasakan detak jantungnya yang tidak beraturan. "Aku hampir gila saat mendengar dia ada di sini, Arini. Aku tidak akan pernah membiarkanmu tinggal sendirian lagi."
Aku menatap Maya yang kini diborgol dan dibawa masuk ke lift oleh polisi. Tidak ada lagi rasa dendam di hatiku, yang tersisa hanyalah kekosongan. Maya telah menghancurkan dirinya sendiri karena obsesinya. Dia tidak pernah mengerti bahwa kebahagiaan tidak bisa dibangun di atas penderitaan orang lain.
Malam itu, saat kami mengungsi ke rumah utama Adrian, aku menyadari satu hal. Perang fisik mungkin sudah selesai dengan dipenjaranya Maya. Tapi sekarang, tantangan baruku adalah menyembuhkan trauma Bimo dan memulai hidup yang benar-benar baru, jauh dari bayang-bayang masa lalu yang beracun.
Kata Terakhir untuk Si Ular
Saat polisi menyeret Maya menuju lift, aku meminta mereka berhenti sejenak. Adrian sempat menahan lenganku karena khawatir, tapi aku memberinya isyarat bahwa aku baik-baik saja. Aku melangkah mendekat ke arah Maya yang wajahnya kini sudah basah oleh air mata dan sisa-sisa bensin yang terciprat.
"Kau puas, Arini?" desis Maya, suaranya parau karena berteriak. "Kau puas melihatku seperti ini? Kau selalu ingin menjadi yang paling suci, kan? Sekarang lihat, gara-gara kau, aku akan membusuk di penjara!"
Aku menatapnya dengan pandangan yang sangat tenang, sebuah ketenangan yang justru membuat Maya makin ketakutan. "Aku tidak pernah mengirimmu ke penjara, Maya. Kau sendiri yang melangkah masuk ke sana sejak kau memutuskan untuk memfitnahku sepuluh tahun lalu. Penjara itu sudah ada di dalam kepalamu sejak lama."
Aku menarik napas panjang, mencium bau hangus yang masih menyengat di udara. "Kau bilang aku mengambil semuanya darimu? Tidak, Maya. Aku hanya mengambil kembali apa yang selama ini kau curi dariku. Kedamaianku, harga diriku, dan masa depan Bimo. Sekarang, kau tidak punya apa-apa lagi untuk dicuri, karena kau sudah kehilangan jiwamu sendiri."
Maya hendak meludah ke arahku, namun dia segera ditarik paksa oleh polisi ke dalam lift. Pintu lift tertutup, dan untuk pertama kalinya dalam sepuluh tahun, lorong itu terasa benar-benar sunyi. Tidak ada lagi ancaman, tidak ada lagi bayang-bayang Maya yang menghantuiku.
Aku berbalik ke arah Adrian yang sejak tadi menjagaku dari belakang. "Sudah selesai, Adrian. Semuanya benar-benar sudah selesai."
Adrian mengusap pipiku lembut, menghapus noda debu yang menempel di sana. "Belum, Arini. Ini bukan akhir. Ini adalah halaman pertama dari cerita kita yang sebenarnya. Dan kali ini, tidak akan ada antagonis yang bisa menuliskan bab selanjutnya untuk kita."
Puing yang Membebaskan
Setelah lorong kembali sepi, aku melangkah masuk kembali ke dalam apartemenku yang kini berantakan. Genangan air dari sistem pemadam otomatis membasahi karpet bulu yang mahal, dan bau hangus masih tertinggal di udara. Aku menatap pintu depan yang kini gosong dan rusak parah. Ironis sekali, tempat yang seharusnya menjadi perlindungan baruku justru hampir menjadi makam bagi kami karena kegilaan Maya.
Namun, anehnya, aku tidak merasa sedih. Aku justru merasa seperti baru saja melewati ritual penyucian. Api yang dinyalakan Maya seolah-olah membakar sisa-sisa trauma masa laluku yang masih menempel di dinding hatiku. Semua barang mewah yang rusak ini bisa diganti, tapi kedamaian yang kurasakan setelah melihat Maya dibawa pergi adalah sesuatu yang tak ternilai harganya.
"Arini, jangan berdiri di situ terlalu lama. Asapnya masih bisa mengganggu pernapasanmu," Adrian mendekat dan menyampirkan jasnya ke bahuku.
Aku menoleh padanya dan tersenyum tipis. "Aku hanya sedang berpikir, Adrian. Selama sepuluh tahun aku takut pada bayang-bayang Maya. Aku takut dia akan datang dan menghancurkan kebahagiaanku. Sekarang, dia sudah datang, dia sudah mencoba yang paling ekstrem, dan aku masih berdiri di sini. Rasa takut itu... benar-benar sudah hilang."
Adrian menggenggam tanganku, menuntun aku keluar dari reruntuhan itu menuju kehidupanku yang sebenarnya. Aku menatap Bimo yang sudah tenang di gendongan asisten Adrian, lalu aku menatap pria di sampingku ini. Malam ini, di antara bau asap dan sisa kehancuran, aku menyadari bahwa rumah bukanlah sebuah bangunan dengan pintu yang kokoh, melainkan pelukan orang-orang yang siap mati demi melindungimu. Aku sudah benar-benar pulang.